[FANFICTION] Sparkling Pixie – (Chapter 1) Lightening Dance

CHAPTER I

LIGHTENING DANCE

Cast: Jung Yunho (DBSK), Kim Jaejoong (DBSK), Cassandra (OC), Cylla (OC)

Genre: Romance/Fantasy

Warning: Yaoi/Shounen Ai, complicated grammar, a bit of vulgar words

Dislcaimer: The plot of fairy was taken from Wicked Lovely by Melissa Marr. The rest is mine.

Dahulu kala, saat manusia masih meramal dengan posisi bintang di langit, hiduplah seorang putri yang terperangkap dalam gelapnya menara.

Tiap malam, dia hanya mampu berdoa dan bernyanyi, berharap secercah cahaya datang menyinari matanya.

Dia hidup dengan kegelapan sejak dia menghirup nafas pertama ke dunia.

Dia bahkan tidak tahu bagaimana rupa nya sendiri.

Suatu hari, Amora—nama putri itu, melihat sebuah cahaya di dalam gelap kamar menaranya.

Dia hampir saja pingsan. Tidak pernah melihat cahaya seindah itu sebelumnya.

Amora mengikutinya.

Cahaya itu menuntun Amora ke sebuah tempat dengan musik dan tarian.

Suatu tempat tanpa kesedihan.

Hanya candu memabukkan yang membuat semua manusia rela menukar jiwanya.

Cahaya itu berubah menjadi sesosok makhluk rupawan dan membuat Amora lupa akan segalanya.

Makhluk itu mengulurkan tangannya.

Membahasakan sekumpulan frase yang tidak dimengerti Amora.

Tapi, dia mengerti.

Makhluk itu mengajaknya ikut menari.

Amora menyambut uluran tangannya.

Dia pun menari.

Terus menari.

Tanpa akhir.

Dengan cahaya tiada habisnya….

And they lived happily ever after….” Cassandra menutup bacaan wajib yang selalu diminta putrinya setiap malam. Cerita tentang seorang putri yang hilang. Cerita biasa dan berakhir dengan seharusnya. Sebuah klimaks yang cukup diakhiri dengan kata ajaib itu. Happily ever after. Dan mantra yang juga sangat dibenci Yunho.

“Ma, sampai kapan sih ngeracunin otak Cylla sama cerita-cerita aneh itu?” Yunho duduk di samping Cassandra yang tengah menutup buku dengan khidmat.

“Ini bukan cerita aneh, Yun. Ini juga cerita yang dulu selalu kamu minta sama Mama.”

“Aku yakin saat itu Mama bikin racun yang lebih kuat buat menghipnotis aku dan ngangguk-ngangguk aja kayak Cylla.” Yunho kembali mencibir.

“Iih, Kakak. Aku ga ada diracunin Mama kok. Ceritanya juga bukan cerita aneh. Ini cerita tentang….. bla-bla-bla…” Bukannya author yang males buat nulis ceritanya. Tapi otak Yunho sudah terlalu sering mendengar cerita kebanggaan adik perempuannya itu. Makanya, otaknya merespon intonasi penuh penekanan dari Cylla sebagai angin lalu.

“Ya, ya, ya, adikku yang manis. Tunggu sampai kamu nonton SAW 7, pasti kamu bakal nyesel pernah muji-muji dongeng karangan mama itu.” Yunho mengacak rambut coklat ikal milik Cylla.

“Hey, itu bukan karangan Mama, Yun. Itu cerita nyata. Nenek kamu ngaku pernah lihat sendiri lentera yang terbang buat nyari Amora, nama putri itu. Dan, jangan kamu berantakin rambut adik mu lagi. Kamu ga tau seberapa perjuangan Mama buat ngerapiinnya.” Cassandra mengambil sisir lagi dan kembali merapikan rambut Cylla yang sudah tidak karuan bentuknya.

“Well, berarti itu cerita karangan nenek kan? Sudahlah, Ma. Suatu saat nanti, Cylla bakal dewasa dan ga bakal inget sama cerita itu.”

“Cylla maasih 4 tahun, Yun. Masih banyak waktu buat dia percaya sama cerita yang kata kamu sampah itu. Kamu pikir Mama ga tau apa yang kamu sembunyiin?” Cassandra mengerling ke arah Yunho.

“Ma-maksud Mama?” Yunho menyembunyikan mata onyx nya dari sepasang mata hijau milik sang Mama. Mata yang juga diwarisi Cylla dan membuat Yunho iri setengah mati.

“Kakak, ga usah ganggu kami, deh. Kalo ga percaya, ya udah. Jangan nyalahin Mama. Kakak sih, hobinya nonton film yang berdarah-darah. Makanya kebal sama dongeng Amora itu.” Cylla menarik mafas sejenak. Melihat tanda Cylla akan melanjutkan omelannya lagi, Yunho langsung mengecupnya di kening dan beranjak dari tempat tidur.

“Iya, deh. Kakak pergi. Jangan salahin Kakak ya kalau besok ada makhluk imut di kamar mu..” Yunho menyeringai licik.

PLUK..

Segepok bantal melayang ke arah nya.

“Kakak… Jangan nyelundupin tikus ke kamar ku lagi…..!” Teriakan cempreng Cylla memenuhi seantero rumah berlantai dua dan berlokasi di pinggir danau itu. Menghancurkan kesunyian yang disenangi sebagian makhluk malam, dan Yunho sendiri.

^SparklingPixie^

Yunho memandang langit yang dibatasi oleh horizon berwarna hitam pekat. Langit yang menjadi sahabatnya selama 2 tahun ini. Karena selalu di tempat inilah, di jendela, inilah Yunho membiarkan pikirannya berkelana dan merasakan kembali kasih sayang yang dulu terenggut darinya.

Ah, mungkin bukan hanya langit. Tapi segala sesuatu yang tertangkap oleh retina mata Yunho menjadi saksi, seberapa hancurnya dia setelah rumah ini resmi menjadi miliknya. Danau, pohon, bintang, bulan, bahkan hembusan angin menjadi satu-satunya hal yang Yunho percayai di dunia ini. Mereka hanya diam dan membiarkan Yunho menangis sejadi-jadinya. Menurut Yunho, itu lebih baik. Daripada pura-pura menyayanginya dan peduli terhadap luka yang pernah dia rasakan.

Seperti yang orang itu lakukan…

Yunho menggeram pelan. Sudah lewat 2 tahun. Tapi hatinya tidak menunjukkan tanda-tanda akan memaafkan dan melupakan dendam ini. Dendam yang turut mengambil andil mengapa dia tidak pernah percaya dengan konsep happily ever after itu.

Dulu sekali, Yunho pernah merasakan rasanya tertawa lepas tanpa kekhawatiran apapun. Pikiran polosnya merasa semua itu akan berlangsung tanpa akhir. Hanya ada tawa, bahagia, cinta, tanpa air mata. Happily ever after…

Happily ever after…

Happily ever after..

Happily ever after..

Happily ever after…” Yunho berbisik sedikit keras.

Ting… Tiba-tiba, sesuatu melayang di depannya. Yunho tersentak dan langsung melongokkan kepala di jendela. Tidak hanya melayang, namun juga bercahaya seterang matahari.

“Apa itu?” Yunho melihat ke kanan, tempat benda itu melayang tadi. Tidak ada apa-apa disana. Hanya pohon pinus yang gelap karena bulan telah tertutup awan.

Yunho menggaruk kepalanya bingung. Merasa yakin bahwa itu memang benar-benar nyata, bukan halusinasinya semata. “Sepertinya aku mengantuk..” Desah Yunho menyerah.

Happily ever after..” Sebuah bisikan yang sangat halus membuat Yunho langsung menolehkan kepalanya ke jendela.

“Siapa disitu?” Yunho sedikit berteriak melawan kerasnya angin yang memukul-mukul ranting kayu di pinggir danau. Bulu kuduknya berdiri. Teringat olehnya kisah-kisah seram tentang danau legendaris yang selalu dipandanginya dan memantulkan bayangan langit serta pohon-pohon di belakang rumahnya.

“Ah, aku pasti sudah gila jika benar-benar mempercayai cerita sampah itu.” Yunho menghibur dirinya sendiri.

Tapi, rasa penasarannya mengalahkan perasaaan takut dan gentar. Dengan gerakan amat perlahan, Yunho melangkahkan kakinya ke jendela.

Hihihi…” Suara itu benar-benar halus. Sehalus denting bel di gereja. Suara yang dibarengi dengan… kepak sayap? Yunho mengernyitkan dahinya. Merasa tidak yakin sekaligus tertantang untuk melihat siapa yang berani mengganggunya selarut ini dengan bunyi-bunyian aneh.

Tap…

Tap..

Dua langkah lagi. Yunho berusaha menjejak lantai dengan efek suara sepelan mungkin.

Tap..

Satu langkah lagi…

Tap..

SRET!

Dengan sekali sentakan, gorden putihnya terbuka dan menampakkan….. lentera? Yunho melongo dengan muka bodoh *plak* selama beberapa detik. Lentera itu melayang di hadapannya. Berkedip-kedip dengan gerakan teratur seperti bernafas dan hidup. Lentera dengan sinar lembut berwarna kuning menyinari kamar Yunho yang remang-remang.

Selama beberapa detik, Yunho terpana. Hampir yakin bahwa dia tengah bermimpi.

Entah digerakkan oleh kekuatan mana, tangan Yunho menyentuh lentera itu.

Zing…

Lentera itu tiba-tiba menjauh. Hanya beberapa meter dari tangan Yunho yang tergantung di udara. Tapi cukup membuat Yunho membelalak kaget.

Dia kembali menarik tangannya. Berharap setengah mati agar lentera itu kembali mendekat padanya. Entahlah. Perasaan Yunho mengatakan dia akan penasaran seumur hidup jika tidak menyentuh lentera itu walau sepersekian detik.

Tik. Tik . Tik. Jam terus menggulirkan detik. Membuat Yunho frustasi karena lentera itu tidak beranjak dari tempatnya….

Cahaya di lentera itu kian menguat. Cahaya kuning nya perlahan berubah menjadi jingga. Terus dan terus. Seakan ada tangan tak kasatmata yang mengontrol lentera itu, pendar merah mulai menyelimuti lentera. Yunho memicingkan matanya. Getar di lentera itu amat sangat halus. Namun mata tajam Yunho mampu mendengar dengung yang dihasilkannya. Pelan tapi pasti, getarannya mulai menghebat. Seolah menyiapkan kekuatan untuk menjauh dari hadapan Yunho.

“Tidak akan ku biarkan kau pergi…” Yunho berbalik dan segera menyambar jaket hitamnya. Kakinya berlari menjejak lantai kayu dengan gerakan tergesa. Sungguh, saat ini dia sangat mengharapkan keajaiban membuatnya terbang dan langsung mengambil lentera itu untuk menyinari kamarnya..

Yunho menuruni tangga yang menuju langsung ke halaman belakang. Aroma musim semi jelas tercium. Campuran tanah basah, jamur yang membusuk, tanaman hawtorn, bunga lili, grass scent, dan berbagai macam bau lainnya menyergap paru-paru Yunho. Tapi, saat ini dia sedang tak ingin bernostalgia dengan semua itu. Ada urusan hidup dan mati yang harus dituntaskannya.

Yunho mendongak ke atas.

Tampaklah disana, lentera misterius tadi, seolah menunggu kedatangan Yunho. Pendar merah yang hanya terlihat sekilas di kamar Yunho tadi, menghipnotis Yunho. Dia tidak bisa memikirkan apapun lagi. Hanya lentera itu, malam, dan angin yang berpacu dalam melodi darah dan jantungnya. Yunho seolah terpisah dari waktu. Berada di pinggir cengkeraman takdir. Lentera gaib itu, berhasil menjungkir-balikkan dunia Yunho hanya dalam waktu beberapa menit.

Seakan tahu apa yang diharapkan Yunho, lentera itu melayang turun. Semakin menghujani tanah dengan cahaya emas dan pendar merahnya. Mata onyx Yunho memantulkan kilau emas dari benda itu. Benang-benang merah menyelimuti iris hitam Yunho.

Dia tersenyum. Entah kenapa..

Ikut aku….

Sebuah bisikan halus menyelip di antara desau angin yang lewat menerpa tubuh namja tegap itu. Bisikan dengan harmoni terindah yang pernah didengarnya. Seperti phoenix yang terobsesi akan cahaya, Yunho mengikuti kemana lentera itu melayang. Sekelompok denting aneh mengiringi langkah kakinya. Tawa-tawa merdu terdengar dari semak hawtorn.

Lentera itu menuju hutan lebat di samping danau. Tempat yang katanya pernah menjadi saksi peristiwa angker puluhan tahun silam. Yunho mengabaikan perintah dari logikanya untuk berbalik. Dia tetap mengikuti cahaya itu. Pendar emas membelah kegelapan di depan mereka. Menyesuaikan ritmenya dengan langkah pelan Yunho. Hijaunya daun dan hitamnya tanah jelas terlihat, namun jauh berbeda dengan suasana siang hari. Seakan jalan yang ditempuhnya sekarang bukanlah jalan yang dilalui manusia.

Mereka sampai di depan segerombol bunga berwarna ungu dengan cahaya biru di sekelilingnya. Lentera di depan Yunho berhenti sebentar.

“Tempat apa ini?” Tanya Yunho entah pada siapa.

Kau akan tahu nanti…

Sebuah bisikan lagi-lagi membalasnya. Dia mulai terbiasa dengan bisikan yang datang dari seseorang. Sesuatu di luar nalarnya telah bermain dengan logika yang selama ini selalu dia pegang teguh.

Yunho takut untuk berkedip. Segala hal di sekitarnya memerintah untuk terus menatap lentera dan gerombolan bunga ungu itu. Tiba-tiba, cahaya biru di sekeliling nya terkoyak. Gerombolan daun dan bunga tersibak. Kali ini, Yunho hampir menutup matanya dari jutaan partikel cahaya berwara-warni yang menyerang retinanya.

Srek..

Kres..

Duk..

Duk..

Bang..

Bang..

Ting..

Ting..

Sesuatu yang hampir terdengar seperti musik mengiringi terbukanya gerbang menuju dunia yang selama ini disangkal Yunho..

Dan…

Sebuah lapangan besar, sangat besar, bahkan mata manusia normal tidak dapat mendeteksi batas dari lahan terbuka itu. Makhluk-makhluk aneh, namun menawan dan rupawan berseliwiran di depan Yunho. Ada beberapa yang mengerikan. Dengan ukiran abstrak di muka maupun di seluruh badan mereka. Yang lainnya bahkan terlihat rupawan sekaligus menakutkan. Makhluk yang memakai gaun dengan warna cerah dan diselubungi cahaya berbeda-beda.

Dia melupakan lentera yang tadi membawanya ke tempat ini. Cahaya kuning dengan pendar merah tadi seakan tidak ada apa-apanya dengan pemandangan menakjubkan di depan Yunho. Mereka tampak seperti manusia. Hanya ditambah dengan sulur-sulur aneh di sekeliling tubuh dan cahaya memabukkan. Menghipnotis Yunho untuk terpana dan terus membuka matanya.

Ada satu lagi hal istimewa dari tempat ini. Musik. Tidak. Ini bukan musik. Musik tidak pernah mempunyai kekuatan mantra seperti ini. Tabuhan gendang, denting piano, gesekan biola, petikan gitar, melodi tinggi rendah, tidak ada kata dalam dunia manusia yang bisa mengungkapkan betapa indahnya semua harmonisasi musik ini. Semua makhluk di depannya menari. Bukan dengan tarian biasa. Namun tarian erotis, saling menggigit, mengulum, mencium, memeluk, dan cumbu disana-sini.

Yunho merasakan magnet kuat menariknya untuk terus melangkah ke depan. Dia bergidik, mengerahkan segenap ketenangan yang ia andalkan bila hal-hal terlihat terlalu aneh.

Srek..

Kriet..

Anehnya, dia tetap mendengar bunyi langkahnya di antara musik membahana di tempat itu.

Krak..

Retakan selanjutnya, musik dan tarian berhenti. Makhluk di depannya membeku. Udara bahkan terasa ikut memadat.

Yunho hampir saja tersentak mundur. Namun pandangan makhluk-makhluk disana memaku kakinya di tempat. Mata mereka hampir terlihat seperti kucing. Tapi keinginan purba tersirat di setiap kilatan mata mereka. Keinginan purba yang membuat Yunho takut, untuk pertama kalinya.

“Err, maaf mengganggu pesta kalian. Aku.. akan pergi sekarang..” Yunho bahkan tidak yakin dengan suaranya sendiri.

Yunho mengambil ancang-ancang berbalik.

Pelan. Intuisinya memperhitungkan langkah yang diambil. Pelan. Dia mulai mengangkat kakinya.

“Kemarilah…..” Sebuah suara menghentikan pandangan membunuh dari makhluk-makhluk itu. Suara yang terdengar sangat manis. Arah datangnya suara itu mengeluarkan semacam aura berwarna merah samar, mengirimkan sebuah aroma yang memikat Yunho. Tanpa berpikir dua kali, dia langsung maju ke depan. Seperti laut yang dibelah Musa, kerumunan makhluk bercahaya itu membuka jalan untuk Yunho.

Yunho terus berjalan. Mengikuti sesuatu yang mengontrol otaknya kini. Cahaya di depan sana lebih terang dari sekelilingnya. Berwarna biru, . Sepersekian detik kemudian, berubah menjadi kuning. Yunho mulai pusing memperhatikan pergantian warna-warna cerah itu.

Lalu, di depannya, sesosok makhluk berdiri dengan agungnya. Lebih menawan dan indah dari makhluk lain disana. Dia tidak hanya bercahaya. Namun, dialah cahaya itu. Dialah yang memberikan cahaya pada makhluk-makhluk itu. Matahari kecil seakan terperangkap di bawah kulitnya. Membuatnya menjadi bintang, bulan, dan matahari sekaligus. Pendarnya, kelipnya, sinarnya, Yunho tidak mampu merasakan tubuhnya lagi. Jiwanya melesat ke angkasa. Dia merasa sangat…bahagia. Hanya dengan menatap kumpulan cahaya dari sesosok tubuh di depannya.

Dia semakin mendekat. Bibir nya yang merah jelas terlihat. Mata nya berwarna hijau secerah emerald. Dia merasa akrab dengan kilau hijau itu. Hidungnya seakan dipahat oleh seniman legendaris, ah tidak, bukan dia tidak pantas disandingkan dengan manusia. Dalam hal apapun.

Kulitnya seputih mutiara. Semakin menegaskan kilau samar seolah ada batu membara di dalam dirinya. Rambutnya yang sebatas leher berpendar-pendar bagai tirai tembaga yang bisa mengiris kulit manusia.

Dia tidak mengenakan baju. Hanya sulur-sulur yang menutupi sebagian tubuhnya. Sulur yang terus bergerak dan berubah warna.

“Akhirnya kau menemukan tempat ini, Yunnie…” Makhluk itu akhirnya bersuara. Aroma itu datang lagi. Kini lebih kuat. Bau bunga-bunga liar, lumut spagnum, harumnya sakura, bahkan aroma hujan yang selalu membius Yunho.

Yunnie..? Tanya Yunho dalam hati.

“Yang kau lihat ini adalah para Pixie. Kami telah lama menunggu kedatanganmu.”

“Siapa kau?” Yunho akhirnya menemukan suaranya.

“Aku?” Bibir merah itu tersenyum.

“Hero. Nama ku Hero, Yunnie.”

Hero…

Hero..

Yunho terus melafalkan nama itu. Takut terlupa dan tidak bisa lagi menemukan makhluk yang katanya Pixie itu..

Hero mengulurkan tangannya ke arah Yunho.

Shall we dance..?” Bisiknya.

Untuk pertama kalinya, Yunho merasa tidak berdaya. Dia terkejut saat tangannya menyambut tangan Hero. Tiba-tiba, seorang Pixie mendekat ke arah mereka dan memberi gelas dengan hiasan rumit di tepinya.

“Minuman sebelum berdansa.” Katanya.

Yunho mengambil gelas itu dan menyesapnya. Rasanya luar biasa, campuran berbagai benda yang seharusnya tidak memiliki rasa. Cahaya matahari dan serat gula yang dibotolkan, siang hari yang terik dan matahari terbenam yang melumerkan, angin panas dan janji-janji yang membahayakan, rindu dan firasat yang mengendap di sudut hati. Ditenggaknya minuman itu sampai habis.

Kaki Yunho terasa goyah. Dia menerima saja saat Hero merengkuhnya dan membawanya ke tengah arena. Musik kembali dimainkan. Bahkan lebih gila dari sebelumnya. Alunan romantis nan memabukkan mengisi seluruh sel-sel tubuh Yunho.

“Apa sebenarnya kau ini? Perempuan atau laki-laki?” Pertanyaan yang sedari tadi mengusik benaknya akhirnya dikeluarkan Yunho.

Hero tersenyum lagi. “Bagaimana menurut mu, Yun? Tidak ada batasan lelaki atau perempuan di dunia Pixie. Semuanya dihubungkan oleh takdir. Bukankah kami semua rupawan? Bukannya cantik atau tampan seperti kiasan di duniamu?”

Yunho tertegun sesaat. “Bagaimana aku bisa masuk kesini? Kenapa kau berpikir aku manusia, dan berbeda denganmu?”

“Karena memang begitu adanya, Yun. Ada beberapa hal yag harus kau ketahui nanti. Sekarang, nikmati musik indah ini dan menarilah bersama ku.” Mata Hero berkilat. Aura kemarahan terlihat sekilas dari rona mukanya. Namun, dia segera tersenyum. Menghapus jejak aneh itu dari penglihatan Yunho.

Ragu-ragu, Yunho meraih pinggang ramping Hero. Dia bisa merasakan tonjolan otot disana-sini. Anehnya, dia tidak terkejut. Di dunia manusia, Hero mungkin adalah seorang lelaki. Tapi, bukankah dia berkata tidak ada istilah lelaki atau perempuan disini? Yunho tidak perlu takut dicap tidak normal atu predikat buruk lainnya.

Dia hanya sejengkal jauhnya dari mata emerald Hero. Pixie itu mulai berputar. Membawa Yunho memasuki kerumunan tanpa koreografi sama sekali. Mulai dari waltz sampai tarian modern. Yunho tidak peduli dengan berbagai macam hiruk-pikuk di sekelilingnya. Yang penting dia bahagia. Dan dia merasa Pixie lain tengah menggemakan kegembirannya.

Yunho merasakan panasnya tubuh Hero. Tubuh mereka berdua laksana penghantar panas raksasa dan memaksa Yunho untuk terus menempel erat pada tubuh menggoda milik Hero. Wajah-wajah asing berkelebat dan berputar. Tapi hanya muka menawan Hero yang membuat Yunho lupa akan segalanya.

We’re gonna dance. Till the end….” Bisik Hero. Melayangkan harap Yunho jauh di antara bintang yang mengintip malu di atas mereka…

TBC

One comment on “[FANFICTION] Sparkling Pixie – (Chapter 1) Lightening Dance

  1. Pingback: Fanfiction – ^Sparkling Pixie^ – Summary « Fairytale Beyond Reality

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s