[FF] For The Last Time

FOR THE LAST TIME

Cast:

Choi Siwon

Agnes Monica

Dylandia

Pairing: WonNezia

Category: Drama, Sad Romance

Summary:

Siwon tidak pernah mencintai Agnes.

Jam sudah menunjukkan waktu dimana manusia seharusnya mengistirahatkan tubuhnya. Melupakan tentang pekerjaan dan ramah-tamah dengan manusia lain. Bersua dengan mimpi tanpa beban yang selalu menggantung tiap hari. Waktu, dimana seharusnya, mereka, dua manusia di ruang keluarga itu saling memadu cinta dan rindu.

Tidak.

Mereka tidak melakukan itu.

Malah, aura yang lebih berat dari pekerjaan terasa di tiap syaraf tubuh mereka.

Aura cinta terakhir yang mungkin mereka rasakan. Segumpal pahit yang akan kembali mereka teguk. Setelah bulan-bulan melelahkan penuh pertengkaran. Akhirnya, mereka sampai pada titik ini. Saat mereka harus rela bahwa mereka tidak lagi harus mempertahankan kepura-puraan ini.

Silence cuts as a knife as we pretend…

Sepertinya Tuhan merancang drama ini dengan sangat cermat, bahkan kata hati mereka melagukan nada yang sama. Seakan mereka memang ditakdirkan bertemu untuk berpisah. Bercinta untuk melukai.

“Sampai disini saja?” Suara perempuan yang duduk di sofa panjang memecah sunyi yang terpisah dari dunia nyata antara mereka.

Yang lelaki, di sofa seberangnya, menatap nanar dengan dua tangan menutupi muka. Seolah tidak ingin melihat kenyataan yang menamparnya dengan telak.

“Apa yang kau harapkan dari hubungan ini, Agnes?” Lelaki itu membalas dingin, lelah, dan menyerah.

“Hmm…” Agnes tersenyum sedih dan ironik. “Entahlah. Mungkin sedikit pengertian. Sedikit perhatian. Masa depan yang bahagia. Bukankah itu yang dulu sekali kau inginkan, Siwon?”

Siwon tersenyum lebih manusiawi daripada Agnes. “Dulu. Long time ago. Once upon a time. Bagaimana kau bisa membayangkan masa depan bahagia jika sekarang saja kau tidak pernah berusaha untuk itu?”

Agnes mulai mendengus marah. Namun, dia pasrah. Tiap malam selalu dilalui dengan pertengkaran. Dia pasrah. Dia lelah. Sama seperti Siwon, dia menyerah. Malam ini mungkin akhir dari segalanya selama 6 bulan yang sia-sia ini. Dan dia tidak akan melewatkan malam terakhir ini dengan teriakan satu sama lain. Untuk malam ini saja. Biarkan kami menemukan apa yang sebenarnya salah. Bisik Agnes. Pada jarum jam yang terus berdetik tanpa henti dan tidak memberinya kesempatan untuk sekedar mengambil jeda dan kembali dicintai Siwon. Tidak lagi. Lelaki itu terlalu lelah dengan cinta mereka. Dia tidak akan melukai Siwon lebih dari ini.

“Maaf. Aku tidak tahu bagaimana harus berusaha. Kau selalu diam. Dan aku selalu berteriak. Itu bukan komunikasi yang sehat. Aku tahu. Tapi, aku lupa bagaimana dulu kita saling mencintai. Bahkan, apa memang kau pernah mencintai ku?” Pertanyaan Agnes terakhir tadi, mau tak mau, menghujam hulu dadanya. Keluar begitu saja.

Biarlah. Batin Agnes. Untuk kali terakhir, biarkan dia mendengar bahwa Siwon memang pernah mencintainya.

Siwon terdiam. Mukanya datar. Angin tak wajar menyapa tubuh Agnes. Dia menggigil. Jawaban Siwon selanjutnya, akan menjadi keputusannya, haruskah dia terus mencintai Siwon walau hati lelaki itu sudah tidak untuknya atau berbalik menjadi pembencinya.

“Aku tak tahu.”

Blesss…. Vonis telah dijatuhkan. Walau dia sudah menduga, Agnes tidak tahu rasanya akan sesakit ini. Lalu, apa arti tawa Siwon saat Agnes bersamanya? Apa arti senyumnya saat Agnes mati-matian memasak untuk Siwon? Bagaimana mungkin Siwon tidak mencintainya jika tiap malam, sebelum 6 bulan seperti neraka itu, Siwon memeluknya dan mengatakan berkali-kali bahwa dia mencintainya? Kenapa Siwon harus memberikannya kejutan kecil tapi manis jika semua itu bukan karena cinta? Untuk apa Agnes meninggalkan kariernya di Indonesia dan meninggalkan dunia kecil bahagianya? Agnes benar-benar tidak mengerti cinta macam apa yang ada dalam dunia Siwon. Bagian kecil dalam dirinya masih berharap bahwa dia juga menjadi salah satu cinta yang dimengerti Siwon tersebut. Sayangnya, Agnes memang bukan gadis yang beruntung.

“Ku rasa, aku hanya kagum padamu. Dan aku ingin membahagiakanmu. Tapi, aku tidak pernah merasakan kebahagiaan yang kau rasakan itu. Awalnya, aku bertahan. Namun, saat ku sadar perasaan ku semakin berat ditambah dengan jadwal kita yang semakin padat, pertengkaran, perkelahian, teriakan, jeritan, dan air mata, aku sadar semua ini bukan cinta. Karena cinta seharusnya mentoleransi pasangan masing-masing. Sedangkan aku? Aku sudah membahagiakan mu. Salahkan aku jika aku hanya minta sedikit penghargaanmu?”

Air mata Agnes tumpah tanpa dia sadari. Hatinya diremas. Kata demi kata yang keluar dari mulut Siwon seolah mencabut satu per satu pembuluh darahnya. Jantungnya  berdetak dengan sangat cepat. Seolah siap meledak dalam waktu sepersekian detik lagi. Habis sudah. Dia memang bukan untuk Siwon. Cinta Siwon memang tidak pernah tersentuh siapapun. Tidak olehnya. Entah untuk siapa.

“Mari kita hentikan disini.” Agnes berkata dengan bibir gemetar. Ya, cepat atau lembat, dia tahu semua ini harus dihentikan.

“Apa?”

“Kita harus berpisah.” Kali ini, suara Agnes terdengar sedikit tegar.

“A-aku…” Siwon kehilangan kata.

“Siwon, untuk apa kita bertahan hanya untuk saling menyakiti?” Pandangan Agnes melembut.

Lelaki yang masih dicintainya itu tiba-tiba saja gelisah. Tidak menyangka Agnes akan mengambil keputusan senekat ini. Apa dia siap untuk berpisah dengan Agnes? Berpisah dengan segala kesempurnaan wanita itu?

Agnes berdiri dan mengitari meja bundar di depannya. Lalu berjongkok di depan Siwon. Dia mengambil nafas sebentar. Kedua tangannya meraih tangan Siwon. Matanya menatap ke dalam mata lelaki itu.

Walau masih dengan air mata, Agnes berusaha tegar.

“Dengar, aku akan selalu mencintaimu. Sekarang atau nanti. Kau adalah anugerah Tuhan paling indah untukku. Aku tidak pernah menyesal pernah mengenalmu dan menjadi bagian dari hidupmu. Mungkin, aku akan terus menangis nanti. Tapi, kau tidak usah khawatir. Aku hanya sedih karena kau tidak akan ada lagi untukku.” Mata Siwon membulat. Sungguh, dia sangat ingin memeluk Agnes dan mengatakan bahwa hal ini juga melukainya.

“Saat aku sembuh nanti, aku akan mendatangimu. Dan datang sebagai teman yang selama ini selalu kau lakukan untukku. Aku akan membuatmu bahagia. Sebagai teman yang akan kau sayangi, tidak hanya kau kagumi. I’ll be fine, Siwon.”

“Agnes…” Satu kata itu membawa Agnes ke pelukan Siwon. Tanpa dia inginkan, tangan kekarnya telah memeluk tubuh mungil Agnes. Entahlah. Untuk terakhir kali, biarkan dia berpura-pura dengan cinta semunya ini.

Agnes menangis kembali di bahu Siwon. Bahkan, Siwon ikut menitikkan air matanya.

“Bolehkah, malam ini aku memelukmu lagi? Untuk yang terakhir kali?” Bisik Siwon.

Agnes semakin tersedu. “Tentu saja, Siwon. For the last time, I am yours..”

Siwon melepas pelukan mereka. Dia memandang Agnes dengan terluka. Sekaligus lega. Paling tidak, besok dia tidak harus berpura-pura lagi. Wanita itu selalu cantik. Seperti biasanya. Walau ada jejak air mata disana.

Lalu, pandangan Siwon berhenti di bibir Agnes. Bibir yang dulu dia yakin akan selalu jadi miliknya. Ternyata, dia sendiri yang harus melepasnya. Lalu, dia mengecup bibir Agnes pelan. Ciuman terakhir. Tanda cintanya yang terakhir. Membahasakan segalanya untuk Agnes. Dia tahu, Agnes pasti mengerti.

Hanya beberapa detik, Siwon melepas ciuman mereka. Dia membimbing Agnes ke kamar mereka. Merebahkan Agnes disana. Dia ikut berbaring di sampingnya.

Untuk terakhir kali…

Siwon melingkarkan tangannya di pinggang Agnes. Membagi air mata wanita itu pada dirinya. Permintaan maafnya untuk yang terakhir kali.

Besok, semuanya tak akan sama lagi……..

000

Agnes menyeret kopernya. Siwon mengikuti di belakangnya. Diam-diam, di musim panas ini, musim salju tengah berlangsung di hati mereka berdua.

Agnes membuka pintu mobilnya. Untuk terakhir kali, Agnes menatap Siwon.

“Bahagialah…” Pintanya.

Siwon tersenyum. “Pasti. Kau juga harus menemukan lelaki yang lebih baik dari aku.”

“Tidak ada yang lebih baik darimu.” Ungkap Agnes jujur.

“Sudahlah. Kau harus membuka matamu.”

Agnes sudah mati rasa. Perpisahan mereka tidak harus diisi dengan air mata dan kesedihan. Justru, peristiwa yang akan menjadi titik balik hidupnya kini harus menjadi hal yang selalu dikenangnya.

“Aku pergi.” Agnes mengakhiri ritual perpisahan mereka.

Dia menutup pintu mobilnya. Dan mobil itu melaju cepat. Meninggalkan Siwon dengan tanya yang sudah terjawab.

Tiba-tiba, handphone nya berbunyi.

Dyland is calling….

Mulutnya membentuk pelangi terbalik. Siwon tersenyum. Sudah bisa dibayangkannya muka lucu Dyland saat tengah memanggilnya.

Oppa…”

Siwon menekan tombol hijau. Dan langsung merasa hanya ada dia dan Dyland di dunia ini.

000

Hahahaha… Bahagia banget gw bikin nih fanfict. Mampus lo, Nes. Siwon ga pernah cinta sama lo. Hahahaha… *Kpopers gila*

Well, nih die fanfic muncul gitu aja. Waktu di mobil gw dengerin lagu Rihanna, Million Miles Away, dan tiba-tiba, tring… Malaikat dan iblis muncul sama-sama. Gw masih baik nih. Gw ga bikin Agnes menderita bgt disini. Walau temen-temen gw ga rela ada kissing scene disini. Sebagai author yang suka bgt sama kissing scene, gw ngerasa keren aja kalo mereka ciuman sebelum pisah.

Dan yang terakhir itu, sumpah ngarang banget. Tapi, sebodo deh. Namanya juga fanfict. Terserah authornya donk. Haha..

See you later.. 🙂

Sign, Dylandia Elfyza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s