[FANFIC] Everlasting Lovers Series – Eight Letters, Three Words, One Meaning

“Karena aku ingin kamu selalu ada disini. Aku tidak mau kamu melihat pada yang lain.

Hanya padaku.”

Couple, I’ll Be There, & Not One, But Two

Pairing: Donghyun & Ranee

EIGHT LETTERS, THREE WORDS, ONE MEANING

Donghyun menatap handphone nya dengan pandangan gamang. Sedari tadi, istrinya belum menelepon. Padahal, setiap lima menit, ringtone Nae Yeoja Sondaejima pasti berkumandang dengan lantang. Ringtone khusus untuk kekasihnya tersebut. Donghyun menghela nafas ambigu. Sejak istrinya hamil anak pertama mereka, lima bulan yang lalu, dia berubah 180 derajat. Kecerewetannya yang memang melebihi batas manusia normal semakin menjadi-jadi, semua kemauannya semakin aneh dan sering membuat Donghyun pusing setengah mati.

Namun, dia bahagia. Dongyun sangat mencintai Ranee, istrinya itu. Entahlah, semua kelakuannya yang bahkan jarang dimiliki gadis pada umumnya membuat Donghyun semakin mencintai Ranee, dengan segala keunikan dan keanehannya. Dia mencintainya.

Aku mencintaimu…. Bisik Donghyun lembut, berharap angin mengirimkannya pada Ranee dan bayi yang tengah mereka tunggu-tunggu.

Hyung!!” Tiba-tiba, Minwoo memantul, eh, berjalan ke arah Donghyun.

“Kenapa, Minwoo?” Suara Donghyun yang berat selalu menjadi penawar para personel Boyfriend. Termasuk Minwoo.

Minwoo mencebik. Bibirnya mengerucut imut. “Sepertinya aku melakukan kesalahan saat kita perform tadi.” Lapornya.

“Hahaha.” Donghyun tertawa dengan gaya khasnya. Tangannya mengacak rambut Minwoo lembut. “Siapa bilang? Kau sudah menampilkan yang terbaik tadi. Seperti biasa, sempurna.” Hibur Donghyun. Ya, karena itulah dia menjadi leader. Harus selalu membangkitkan semangat dongsaeng nya.

“Benarkah?” Mata Minwoo membulat. Membuat mata setengah bulan sabitnya tambah terbuka lebar.

“Benar, Minwoo. Aku selalu memperhatikanmu tadi. Aku tahu kau merasa tidak enak badan seharian ini.”

“Syukurlah. Aku takut mengecewakan kalian dan fans kita.”

“Tidak akan. Mereka selalu mencintai kita.” Bibir Donghyun melengkung.

Naman naman naman modeun your eyes…”

Tiba-tiba, handphone Donghyun menjerit nyaring. Matanya langsung berbinar cerah begitu melihat nama yang tertera di layar.

My Queen is calling…

Reffrain Nae Yeoja Sondaejima terputus di tengah. Donghyun menempelkan handphone nya di telinga. Dia seakan lupa pada sekelilingnya. Wanita di seberang sana telah menyedot dunianya.

“Halo, Say—“

“YAH! Kim Donghyun! Kenapa kau belum pulang juga??” Suara Ranee beberapa oktaf lebih tinggi daripada suara di sekitar Donghyun. Telinganya berdenging sebentar. Tapi, hatinya lebih berdenging lagi karena bahagia. Sapaan khas Ranee, selalu membuatnya senang dengan cara yang aneh.

“Maaf, Sayang. Aku baru aja selesai perform.”

“Terus, kenapa ga langsung pulang? Ini udah malem, tahu. Kamu ga khawatir sama aku?” Suara Ranee menurun sedikit. Menyiratkan kecewanya yang berlipat.

Cesss… Kehangatan di hati Donghyun seakan ditetesi oleh air es dari kutub. Dia tidak suka nada suara Ranee yang seperti ini. Dia merasa gagal membahagiakan istrinya.

“A-Aku, aku khawatir sama kamu, tapi….” Donghyun kesulitan merangkai kata. Satu saja kata yang salah, bisa-bisa dia tidak akan tidur di rumah malam ini.

“Bohong! Kamu pasti lagi sama Minwoo, kan? Kamu memang lebih sayang sama dia….” Suara Ranee menggantung. Tapi menjatuhkan harap Donghyun jauh ke inti bumi.

Hyung, itu Ranee noona ya?” Suara Minwoo yang kelewat cempreng terdengar juga oleh Ranee. Semakin membuatnya mendidih.

“Tuh kan… Huaaa!!!! Kamu lagi sama Minwoo. Kamu memang ga sayang sama aku…”

“Bukan gitu, Sayang. Aku udah mau pulang kok. Kamu tunggu bentar lagi ya. Kamu mau aku bawain apa?” Donghyun mencoba berdamai.

“Umm…” Sayangnya, kali ini Donghyun menggali kuburannya sendiri. Dia meringis. Ranee pasti akan meminta yang aneh-aneh lagi. “Kamu tahu film Ra-One, kan? Yang ku ceritain kemarin? Aku mau nonton filmnya. Tapi, DVD nya belum keluar. Pokoknya kamu harus dapat DVD nya malam ini. Kalo jam 10 kamu belum pulang juga dan bawa DVD nya, aku tidur di apartemen Junsu!” Selesai sudah. Palu telah diketuk. Muka Donghyun mirip pesakitan yang dipaksa naik gunung Himalaya sambil membawa beruang.

“I-Iya, iya. Aku usahain ya. Tapi, kalo ga dapet—-“

“Pokoknya harus dapet!” Teriak Ranee di seberang sana. Memotong penawaran terakhir Donghyun.

Sial. Dimana aku harus nyari.. Batin Donghyun panik.

Tut Tut Tut.

Sambungan terputus. Donghyun melihat sekeliling. Mencari bala bantuan.

“Hey, kalian!” Donghyun menunjuk Jo Twins, Jeongmin, dan Hyunseong yang tengah berkumpul (kebo) di depan laptop Kwangmin, menonton MV terbaru Hyuna, Troublemaker. Sementara itu, Minwoo mengerjap bingung, dalam hatinya, mungkin terbersit keinginan untuk mencubit Ranee karena telah mengganggu kebersamaannya dengan Donghyun.

“Aduh, apaan sih? Lagi asyik nih.” Youngmin dengan cueknya mengabaikan panggilan Donghyun. Yeah, suara Hyuna memang lebih seksi dari Donghyun.

“YAH! Cepet kesini. Atau ga ku kasih honor bulan ini.” Donghyun mengeluarkan ancaman andalannya. Benar saja, kumpulan kebo itu langsung mendatangi tempat Donghyun dan Minwoo duduk.

Begitu mereka duduk, Donghyun langsung menceritakan kegalauan hatinya. Selama beberapa saat, ruangan itu hanya dipenuhi oleh staff yang lalu lalang. Diam-diam, Donghyun bersyukur dalam hati, mereka pasti tengah mencarikan jalan keluar untuknya.

Hyung. Maaf ya, aku ga bisa bantu. Dyland noona pasti kesepian di rumah. Aku mesti pulang sekarang.” Youngmin tiba-tiba merusak keheningan tadi.

DZZIIINGGGG… TOENG… Kepala Donghyun seakan terpental ke belakang. Lupakan rasa syukurnya yang tadi. Dia menariknya kembali. Mereka memang sudah punya istri masing-masing. Apalagi Jo Twins yang sedang panas-panasnya bersama Dyland dan Hyejin.

Tanpa menunggu balasan dari Donghyun, Youngmin langsung ngacir.

Hyung, Raeki juga lagi cerewet. Kalau aku ga pulang sekarang, bisa-bisa dia ngambek. Maaf ya.” Jeongmin lebih pengertian, dia menunggu persetujuan Donghyun. Tapi, sama sama intinya, dia akan meninggalkan Donghyun bersama masalahnya sendiri.

Donghyun mendengus samar. “Iya, deh. Kamu pulang aja.” Balasnya singkat. Sekarang, harapannya hanya berada pada Kwangmin, Hyunseong, dan Minwoo.

Lho? Mana Kwangmin?

“Kwangmin mana?” Tanyanya pada Hyunseong. Lelaki tegap itu mengangkat bahu. Sama bingungnya dengan Donghyun. Aiisshh, pasti dia pergi diam-diam tadi. Dasar ninja.

“Umm, Hyung, aku juga ga bisa bantu. Aira bilang dia ga enak badan tadi. Takutnya dia beneran sakit. Maaf ya.” Hyunseong memohon dengan sungguh-sungguh. Yeah, walaupun Donghyun adalah seorang leader, dia tidak berhak atas hidup para anggotanya.

“Ya udah. Ga papa, kok. Kamu pulang aja.” Hyunseong pamit.

Donghyun menundukkan kepalanya. Minwoo jelas tidak bisa….

“Err.. Hyung ga minta bantuanku, ya?” Minwoo berbisik pelan. Merasa diabaikan.

“Ooh, ga gitu, Minwoo. Kamu kan mesti pulang. Orangtua kamu pasti nunggu.”

“Padahal aku tahu lo dimana tempat beli DVD yang dipesen Ranee noona.” Minwoo tersenyum bangga.

“Beneran? Kamu tahu tempatnya?” Muka Donghyun sedikit merona. Semoga malam ini adalah malam keberuntungannya.

Minwoo mengangguk semangat. Rambutnya yang dikuncir ke atas ikut bergoyang gembira.

09.55 PM

Donghyun  segera keluar dari mobilnya dan berlari ke pintu depan. Nafasnya sedikit terengah di tengah dinginnya cuaca Natal. Bibirnya tersenyum lebar. Merasa berhasil membahagiakan Ranee.

“Sayang, bukain pintunya, dong….” Donghyun berteriak mesra. Beberapa saat kemudian, pintu terbuka dan tampaklah Ranee dengan perutnya yang sedikit membuncit di dalam baju tidurnya.

Tapi, Donghyun tetap terpana. Di matanya, Ranee tetap selalu cantik. Apalagi lampu taman yang menerpa tubuh Ranee lembut, menimbulkan kesan temaram namun hangat,  membuat Donghyun merasa inilah rumahnya. Ya, dimanapun Ranee berada, itulah rumahnya.

“Kenapa diem?” Tegur Ranee dingin.

“Nih, aku bawa film yang kamu mau.” Donghyun mengacungkan DVD Ra-One. Namun, ekspresi Ranee tetap sekeras baja.

“Kenapa malem banget baru dapet?”

“Tadi macet, Sayang. Aku udah ngebut, kok. Maaf ya…” Rayu Donghyun.

“Udah malem. Aku ngantuk. Jadi males nonton.” Donghyun melongo. Perjuangannya sia-sia ternyata.

“Tapi, aku lagi mau sate, nih.” Sambung Ranee lagi. O-Ow, penderitaan Donghyun belum berakhir rupanya.

“Sate? Aduh, dimana ya nyarinya?” Donghyun menggaruk kepalanya. Semakin memberantakkan rambutnya karena angin malam.

“Ga mau tahu. Pokoknya cari. Atau aku suruh Junsu yang masak buat aku.” Ancam Ranee. Ancaman yang tidak didasari fakta sebenarnya. Menggoreng nasi saja Junsu masih perlu bantuan Jaejoong, apalagi membuat sate? Pasti Ranee bakal langsung keguguran.

“Waduh. Ara ara. Tunggu ya. Aku keliling Korea dulu buat nyari sate.” Donghyun meringis. Dia selalu tak bisa berkutik di depan Ranee.

“Hmm.” Ranee kembali menutup pintu.

Meninggalkan Donghyun yang masih terpaku bingung. Menyusun strategi dimana dia harus mencari sate, makanan aneh bin ajaib itu.

Aha! Lampu teras seakan bernyala terang di atas kepala Donghyun. Dia teringat, ada restoran Indonesia di dekat gedung MBC. Meski harus berjuang lagi melawan macet, demi Ranee, dia pun rela membabat hutan.

10.30 PM

Kaki Donghyun kembali lari melintasi taman rumah mereka. Setelah perjuangan selama setengah jam dan terkontaminasi oleh asap sate, dia berhasil juga mendapatkannya.

“Sayang, aku udah dapet nih satenya. Buka pintu donk..” Donghyun kembali berteriak mesra. Seakan tidak ada habisnya, dia ingin membuktikan cintanya pada Ranee.

“Buka sendiri…….” Teriakan panjang yang sama sekali tidak mesra terdengar dari dalam rumah. Donghyun menghembuskan nafas berat. Menahan diri untuk tidak menjebol pintu depan. Dia sudah tidak sabar untuk mendekap Ranee.

“Dikunci, Sayang….”

“Ya, udah. Kamu lewat pintu belakang, aja. Ga dikunci, kok. Aku lagi males buka.” Hening kembali. Donghyun membalik punggungnya dengan berat. Untungnya, cinta Donghyun lebih besar dari perasaan kesalnya. Kalau tidak, mungkin sudah dari dulu dia memilih pergi dari Ranee.

Tapi, tidak. Dia bahagia dengan pilihannya sekarang.

CEKLEK… Pintu belakang terbuka. Donghyun melongok ke dalam dapur mereka. Masih bersih, berarti memang benar Ranee belum makan malam. Dengan tergesa, dia membuka bungkus sate dan menuangkannya dalam piring. Donghyun berjalan menuju arah ruang tengah, tempat Ranee menonton acara favoritnya (dan dibenci Donghyun).

“Ya ampun, Junsu oppa ganteng banget.” Entah sengaja atau tidak, Ranee mengeraskan suaranya. Kali ini, Mnet memang tengah menayangkan iburan DBSK saat di Jepang. Di layar tampak Junsu berbicara dengan sesekali ditingkahi suara tawanya.

“Sayang, ini satenya. Masih panas, kok. Aku beli porsi jumbo. Supaya cukup buat kamu dan baby kita.” Donghyun membujuk. Sedikit memaksa Ranee untuk memalingkan matanya dari Junsu.

Ranee melirik sekilas. Lalu melirik sate yang dibeli Donghyun.

“Kok banyak banget, sih? Kamu pengen aku gendut ya? Padahal aku sudah gendut. Kamu pengen aku jadi balon, gitu? Supaya kamu bisa punya alasan buat ninggalin aku?!” Gawat, Ranee kumat! Donghyun kelabakan. Tangannya otomatis mengusap punggung Ranee.

“Ga gitu, Sayang. Aku ga mau kamu kelaperan. Apalagi kamu belum makan malem, kan? Aku ga mau kamu sakit..”

Ranee terdiam. Dia selalu menikmati saat-saat seperti ini. Donghyun yang peduli padanya, Donghyun yang merayu dan membujuknya mesra.

Untuk sekali ini, biarlah Donghyun santai sedikit. Batin Ranee mengingatkan.

“Aku mau ronde!” Ternyata, tidak semudah itu Ranee melepaskan Donghyun.

“Hah? Ronde?” Dari mulut Ranee memang selalu keluar nama makanan yang aneh-aneh.

“Iya. Beliin. Aku kedinginan. Ronde kan hangat.”

“Tapi pelukan ku kan udah hangat.”

“Ga bisa bikin kenyang!”

“Kan udah ada sate..”

“Pokoknya beliin! Atau…”

“Iya iya iya. Aku beliin. Kamu tunggu lagi, ya.”

“Hmm…”

Donghyun mengusap rambut Ranee dan mencium puncak kepalanya. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh istrinya itu. Ya, dia akan mencoba mengerti. Meski sulit, paling tidak, mereka mempunyai cinta yang akan membenarkan segalanya….

Beberapa saat kemudian, Donghyun sudah kembali duduk di jok mobilnya. Matanya menangkap foto yang tergeletak di dasbor mobilnya. Foto Ranee yang tersenyum cerah. Diambil beberapa hari setelah pernikahan mereka. Donghyun ingat, mereka bulan madu ke Pulau Jeju saat itu.

“Aku sayang banget sama kamu. Biarpun aku harus keliling Korea, asal aku bisa lihat kamu senyum sekali aja hari ini, aku udah seneng banget.” Donghyun mencium foto itu. Selembut dia mencium bibir Ranee. Samar-samar, hidungnya mencium parfum Ranee. Ah, wanita itu memang ada dimana-mana.

11.00 PM

Donghyun masuk lagi lewat pintu belakang. Ronde di tangannya menyebarkan rasa panas. Membuatnya sedikit tertolong di tengah derasnya salju di luar. Donghyun segera mencari cangkir favorit Ranee, cangkir yang dibelinya saat di Filipina. Hampir berlari, Donghyun menuju ruang tengah. Kembali mendapati Ranee bergelung nyaman dalam selimutnya.

“Sayang, ini rondenya…” Donghyun meletakkannya di atas meja tepat di samping sate.

Dia duduk di samping Ranee. Menempelkan tubuhnya yang membeku di tubuh Ranee yang selalu panas menurutnya.

Oppa, dingin, ya?” Donghyun menoleh kaget. Nada suara Ranee memang romantis, namun, tetap saja Donghyun kaget. Setelah tadi membuatnya hampir terserang hipotermia, wanita itu kembali menjadi malaikat. Seperti julukan Donghyun, Ranee itu 90% setan dan 10% malaikat.

“Iya, Sayang…” Dia merebahkan kepalanya di bahu Ranee. Melemaskan syarafnya yang seharian ini tegang ditambah kesana-kemari mencarikan pesanan Ranee. Donghyun yakin dia akan segera tertidur selama setahun penuh.

“Mandi dulu, deh. Supaya kamu lebih enak. Baru kita makan sama-sama.”

“Hm-hmm..” Donghyun menurut. Dia segera mengangkat pantat nya dari sofa dan menuju kamar mereka.

Begitu sampai, Donghyun semakin terkejut. Ternyata Ranee sudah menyiapkan baju untuknya dan sehelai memo di sampingnya.

Oppa, terima kasih untuk hari ini. Aku sangat merindukanmu. Maaf telah membuatmu kedinginan. Malam ini, kamu boleh peluk aku sepuasnya. Saranghae…

Everlasting Love,

Your Wife.

Donghyun hampir menangis haru. Tidak disangka, dia akan mendapatkan kejutan semanis ini. Kalau begini, dia pun rela jika benar-benar harus keliling Korea.

Dia menuju ke kamar mandi. Sekali lagi, dia terpesona. Ranee telah menyiapkan aromaterapi kesukaannya dan air hangat. Donghyun merasa menjadi lelaki paling beruntung…

Sementara itu, Ranee tersenyum diam-diam. Bukan, bukan karena ada Junsu lagi, kali ini dia hanya tersenyum karena Donghyun. Dia menghela nafas lega. Dia merasa sedikit bersalah sudah keterlaluan dengan Donghyun. Menyuruhnya kesana-kemari di saat temperatur udara di bawah nol derajat Celcius. Karena itu, dia sudah menyiapkan kemeja dan air hangat untuk Donghyun.

Ranee mengusap perutnya. Dia merasa sangat bahagia. Bersama Donghyun, dia merasa benar-benar menjadi ratu. Dia tengah jadwal Donghyun yang luar biasa padat, dia selalu mengorbankannya untuk Ranee. Dia merasa menjadi wanita paling beruntung.

Tiba-tiba, aroma yang sudah dikenalnya sejak beberapa tahun lalu mendekat. Suaminya itu kembali duduk di sampingnya.

“Sayang, kamu makan, ya.. Aku suapin..”

“Hmm-hmm.” Ranee mengangguk. Dengan sukacita, Donghyun menyuapi tusuk demi tusuk sate.

Tidak ada kata terucap. Ranee merasa tidak perlu bicara, begitu juga Donghyun. Detik-detik magis menyelimuti mereka. Rasa cinta yang bertambah tiap saat tidak perlu dipertanyakan lagi. Donghyun menyesal, baru menemukan Ranee beberapa tahun lalu. Jika saja Tuhan memberitahunya ada wanita seperti Ranee, dia pasti akan mencari Ranee dari dulu-dulu.

Oppa….” Panggil Ranee manja.

“Hmm..?” Donghyun menatap mata hitam Ranee. Menembusnya dan menjelajahi jiwanya.

“Maaf, ya. Aku udah bikin kamu repot. Padahal malam ini dingin banget.” Ranee menundukkan kepalanya. Merasa bersalah.

Donghyun tersenyum lembut dan meraih kepala Ranee ke dalam dekapannya. Jantungnya berdetak terdengar oleh telinga Ranee. Seakan membisikkan cinta di sela-sela degupannya.

“Sayang, kamu ga perlu minta maaf. Aku melakukannya karena aku sayang sama kamu. Kamu ga perlu minta maaf karena udah bikin aku cinta banget sama kamu. Karena kamu udah ngasih bukti cinta kamu ke aku.” Donghyun membelai rambut panjang dan hitam bergelombang Ranee.

“Sebenarnya, aku sengaja…” Ranee menggigit bibirnya. Menunggu Donghyun marah. Tapi, tidak. Donghyun tetap diam. Menunggu Ranee selesai bicara. “Aku.. Aku ga mau kamu melakukan hal lain tanpa ingat sama aku. Karena aku ingin kamu selalu ada disini. Aku tidak mau kamu melihat pada yang lain. Hanya padaku.”

Donghyun tertawa kecil. Dia melepaskan pelukannya dan menjawil hidung Ranee. “Kamu lucu. Jadi, selama ini kamu ga tahu?”

Ranee menggeleng tidak mengerti. “Apapun yang ku lakuin, dimanapun aku, dengan siapapun aku, aku selalu ingat sama kamu.Kamu lah alasan kenapa aku ngelakuin semua itu. Kamulah alasan ku untuk hidup. Aku bernafas untukmu, Sayang…” Donghyun mencium kening Ranee.

Sedangkan mata Ranee tiba-tiba meneteskan butiran bening cinta, dia terlalu bahagia. Friksi yang tidak bisa dia ucapkan melalui senyuman, jadi dia menangis sebagai ungkapan perasaannya pada Donghyun.

Donghyun mengusap airmata Ranee. “Jangan menangis.” Dia mengecup kelopak mata Ranee. Namun, perlakukannya itu malah membuat airmata Ranee mengalir lebih deras.

Oppa, aku mencintaimu…”

 

Wednesday, 14-12-11

11.11 PM

Dedicated to Our New Bestfriend, Ranee

Happy Just Married, Chingu.. ^^

Karena waktu yang mendesak, fanfic ini pertama yang jadi. Untuk seri lebih lengkapnya, author akan membuat cerita straight masing-masing member Boyfriend.

Sinopsis

Hyunseong menikah dengan Song Aira. Pasangan ini adalah pasangan paling waras dan romantis dari pasangan Boyfriend lainnya. Siap-siap menghadapi badai keromantisan mereka berdua.

Jeongmin menikah dengan Song Raeki. Nama kecil Raeki adalah Candy. Sifat Candy yang kekanak-kanakan menyulitkan Jeongmin yang ingin segera memiliki anak darinya. Bagaimana mereka bertemu? Bagaimana cara Jeongmin membujuk Candy untuk segera memiliki anak? Dan bagaimana Jeongmin mengatasi kecemburuannya pada SHINee Onew?

Youngmin menikah dengan Kim Eun Hee. Nama kecilnya adalah Dyland. Pasangan ini menggambarkan pasangan yang dimabuk asmara dan gelora panas percintaan. Namun, sifat childish mereka acap kali menjadi benturan dan membuat keduanya patah hati. Eunhee yang memang terbiasa dimanja oleh kakaknya, Kim Jaejoong, sedikit sulit menyesuaikan diri dengan kemanjaan Youngmin. Namun, di balik itu semua, mereka adalah pasangan yang mampu membuat para Bestfriend berdecak kagum. Bagaimana usaha mereka dalam mempertahankan hubungan? Bagaimana mereka pertama kali bertemu? Lalu, siapkah Youngmin menerima Dyland apa adanya walau dia sedang bekerja sebagai manajer SHINee?

Kwangmin menikah dengan Park Hye Jin, adik kandung dari Park Yoochun dan Park Yoohwan. Nama kecil Hyejin adalah Jennifer. Hye Jin bekerja sebagai sekretaris direksi di sebuah perusahaan yang bergerak di bidang interior design dengan CEO Kim Hyun Joong. Masalah bagi Kwangmin adalah Kim Hyun Joong pernah mengisi hari-hari Hyejin sebagai kekasihnya. Bagaimanakah Kwangmin yang sangat mencintai Hyejin itu mengatasi rasa cemburunya? Bagaimanakah Hyejin meredam emosi suaminya yang meledak-ledak?

Sementara itu, Minwoo selalu muncul di kehidupan masing-masing couple sebagai pengganggu kecil.

Stay Tune in Next Edition..

Ppyong~~

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s