[FANFICTION] Everlasting Lovers – As Sweet As Candy

As Sweet As Candy

Pairing: Lee Jeongmin & Song Rae Ki (JeongRae)

Genre: Romance

Rated: T

Highlight: Our moments are as sweet as candy

Rae Ki mengayunkan langkahnya gembira. Matahari musim panas tidak menghalangi tekadnya yang sekuat baja, membeli permen coklat dan es krim di toko dekat rumahnya. Dress warna pink kasual yang dipakainya menambah ceria penampilannya hari itu. Yeah, setiap hari Rae Ki memang terlihat gembira.

“Cookies House..” Bibirnya menyenandungkan nada asal. Cookies House adalah nama toko dimana dia akan memuaskan rasa lapar dan dahaganya.

Ting..

Bel di atas pintu Cookies House berbunyi menandakan satu pengunjung masuk. Rae Ki segera menuju rak permen coklat dan..

Aha. Itu dia, permen favoritnya.

Tangannya terjulur, bermaksud mengambil permen itu. Namun..

Sebuah tangan lain menghalanginya. Rae Ki mendongak kaget dan sesaat terdiam melihat lelaki lucu, imut, dan menggemaskan di depannya. Tapi, semua itu lenyap saat dia sadar, lelaki itu hendak mengambil permen dari Rae Ki.

“Maaf, itu punyaku.” Rae Ki memberitahu dengan sopan.

“Sepertinya tidak. Kau belum bayar di kasir. Berarti permen ini belum punya siapa-siapa.” Bersamaan dengan itu, tangan lelaki tadi menyambar kembali permen coklat itu.

“Jangan!” Rae Ki memegang tangannya. Lalu, dia tercekat. Tangan lelaki ini keras, berotot, dan kekar. Sepertinya nyaman jika dia memelukku, batin Rae Ki.

“Itu punyaku! Aku melihatnya lebih dulu.” Rae Ki berkeras.

Shiroyo! Itu punyaku. Aku memegangnya lebih dulu.”

“Aku!”

“Aku!”

“Aku!”

“ARRGHH!” Lelaki tadi berteriak. Kakinya diinjak Rae Ki ternyata. Gadis belia itu langsung membawa permen coklat tadi ke kasir dan membayarnya. Berusaha menulikan telinga dari rintihan sakit si pemuda. Dengan tampang psikopat, Rae Ki langsung ngacir.

“Fiuh… .” Rae Ki mengusap peluh.

Dia kembali berjalan pulang. Tapi, ada yang aneh. Serasa ada yang tertinggal di belakangnya. Rae Ki memeriksa dompetnya. Tidak. Dompetnya masih aman. Permen coklatnya pun masih utuh. Terus…

Ah, tatapan pemuda tadi, matanya yang sipit, bibirnya, tangannya, tubuhnya..

Aduh, aku kenapa sih? Rae Ki bingung sendiri. Mukanya memerah seketika. Bukan karena matahari yang semakin panas, panasnya justru datang dari tubuhnya sendiri.

Semakin jauh dari toko itu, Rae Kin semakin tidak nyaman.

Kalau lelaki itu kelaparan lalu pingsan di jalan..

Kalau kakinya terluka..

Rae Ki meringis. Takut jika bayangannya itu betul-betul terwujud.

AARRGHH.. Masih jelas teriakan lelaki tadi. Rae Ki semakin tidak enak. Tanpa sadar dia berhenti dan menoleh ke belakang.

“Apa aku harus kembali lagi?”

Akhirnya, sebuah keputusan yang entah bagaimana diambilnya terwujud juga. Rae Ki setengah berlari menuju Cookies House. Berharap lelaki itu masih disana.

Ting.

Kali ini bel berdentang tergesa. Seolah mengerti perasaan Rae Ki.

“Hosh.. hosh.. Ahjumma, lelaki yang tadi saya injak kakinya sudah pulang?” Rae Ki meracau setelah mengatur nafasnya.

“Sepertinya iya, dia sangat kesakitan. Baru saja dia pergi?”

“Ke arah mana?”

“Sepertinya ke arah sana.”

Rae Ki mengucapkan terima kasih dan langsung lari ke arah berlawanan dari rumahnya. Kepalanya menoleh kesana-kemari mencari lelaki itu.

“Ah, itu dia!” Rae Ki berteriak senang. Pemuda tadi memasuki sebuah rumah. Gadis berusia 18 tahun itu langsung berlari lagi ke pintu depan rumah tersebut.

“Hosh hosh.. Aku pasti sudah gila.” Rae Ki berkata pada dirinya sendiri.

Sebelum dia memencet bel, pintu rumah langsung terbuka. Rae Ki terkesiap kaget.

“Wow.. kau yang tadi itu kan?” Lelaki yang dilukai Rae Ki hanya mengenakan kaos oblong dan celana pendek. Rae Ki meneguk ludah entah karena haus atau apa.

“Maaf, ya. Aku sudah membuat kakimu sakit.” Rae Ki menggigit bibirnya.

“Haha. Tidak apa-apa. Take it easy. Kau kelihatan lapar. Mau masuk? Kamu pasti butuh minum.” Lelaki tadi menawarkan surga, eh, minum pada Rae Ki. Dan tanpa dicegah kepalanya langsung mengangguk semangat.

Rae Ki duduk di atas sofa warna putih. Matanya menjelajahi ruangan yang sepertinya ruang tamu ini. Banyak foto keluarga dan berbagai piagam. Sebagian besar adalah penghargaan menyanyi.

“Namaku Jeongmin, kamu?”

Rae Ki imnida.”

“Aku tidak menyangka gadis jahit sepertimu bisa berlaku sopan.” Jeongmin tersenyum jahil.

“Aduh, juseonghamnida. Aku tidak sengaja. Aku memang lagi lapar berat.” Rae Ki membela diri.

“Sekarang masih lapar?”

“Hehe. Iya..”

“Ya udah. Kamu tunggu ya. Aku seneng dapat temen baru. “ Jeongmin melenggang ke arah dapur. Sementara itu, Rae Ki masih terpana. Tidak menyangka bertambah satu lagi koleksi lelaki tampan dalam sejarah hidupnya.

Sejak saat itu, Rae Ki sering mengunjungi rumah Jeongmin. Entah untuk minta makanan atau hanya memberantakkan kamar Jeongmin yang selalu rapi. Perlahan, Jeongmin mulai membuka dirinya. Mulai dari dia yang menjadi trainee Starship Entertainment, dia yang akan debut sebagai boyband, dan masih banyak lagi. Rae Ki juga menceritakan kehidupannya. Sayangnya, kehidupan Rae Ki selalu penuh dengan lelaki. Dia gampang jatuh cinta dan gampang melupakannya. Termasuk cerita Rae Ki yang satu ini.

“Jeongmin-ah!!!”

“Apaan sih?” Jeongmin kembali menutup selimutnya. Hari ini hari Minggu, bisakah sehari saja dia tidak diganggu oleh suara cempreng Rae Ki?

“Aku ketemu Onew oppa kemarin!! Kya!!! Leader SHINee! Hua!!!” Teriakan Rae Ki menggemparkan kamar Jeongmin. Begitu mendengar nama Onew, dia langsung duduk tegak. Melupakan nyawanya yang baru seperempat.

“Kenapa bisa?”

“Bisa lah. Teman ku manajer SHINee, aku minta tolong sama dia. Aku kan nge-fans banget sama Onew oppa. Hua… Seneng banget!!”

Summer yang mulai memudar datang lagi ke hati Jeongmin. Entah mengapa, dia marah. Pada Onew. Pada Rae Ki yang tidak juga mengerti perasaannya.

Lalu, perlahan Jeongmin mengambil jarak. Onew terlalu tinggi untuk menjadi saingannya. Dia sudah tidak bisa mendengar pujian yang dilontarkan Rae Ki pada Onew. Walau diakuinya, dia sangat merindukan tawa Rae Ki, senyumnya, suaranya, matanya, bahkan bagaimana dia memakan coklat. Pakaiannya yang selalu ceria. Jeongmin mulai tidak fokus melakukan segala hal.

Sampai pada saat ini, tiba-tiba saja dia sudah berada di Cookies House, tempatnya bersama Rae Ki pertama bertemu. Dia menatap rak yang dulu menjadi saksi betapa sebenarnya dia terpesona pada Rae Ki. Rak itu kini dipenuhi permen coklat favorit Rae Ki.

Kalau dulu rak ini penuh, apa kami akan dekat seperti ini?

Jeongmin menghela nafas dalam. Betapa dia merindukan Rae Ki.

“YAH! LEE JEONGMIN!” Suara cempreng yang amat dirinduinya itu tiba-tiba saja terwujud. Jeongmin menoleh ke belakang dan…

PLAK!

Sebuah tangan melayang ke arahnya. Menimbulkan suara dramatis dan panas berdenyut pada pipinya. Jeongmin terkejut, menatap Rae Ki yang kini mendengus marah.

“Kemana saja kamu, heh? Telepon tidak pernah diangkat. SMS pun kau tidak pernah memalas. Di rumah tidak ada. Aku bahkan ngirim ribuan e-mail ke kamu, dan kamu tidak pernah balas satu, pun. Kamu punya teman baru? Kamu tidak butuh aku lagi? FINE! Mulai sekarang, anggap aku tidak pernah ada!”

Rae Ki berbalik namun Jeongmin menangkap tangannya. Sebuah keberanian tiba-tiba saja datang.

“Karena aku cinta sama kamu!” Jeongmin membalas tenang. Tangannya yang bertaut dengan tangan Rae Ki semakin erat, tangannya membimbing Rae Ki untuk berdiri lebih dekat di hadapannya. Tanpa rasa marah.

“Aku tidak mendengarmu selalu membicarakan Onew dan semua lelaki yang dekat denganmu. Lalu, aku ini apa? Aku cinta sama kamu. Dan aku tidak bisa hanya menjadi teman!” Tegas Jeongmin.

Rae Ki terdiam. Tidak menyangka Jeongmin akan berkata seperti itu.

“Jadi…” Rae Ki menggantung perkatannya. Tidak yakin bagaimana harus menjawab Jeongmin.

“So, would you be my girlfriend?

Peristiwa pernyataan cinta ini memang tidak seromantis yang disaksikan Rae Ki di film. Apalagi adegan pembukanya adalah tamparan lembut di pipi dan luapan kemarahan. Namun, dia tetap bahagia. Bersama Jeongmin semua terasa lebih indah. Dengan setting di toko favoritnya dan aroma coklat serta atmosfir hangat, Rae Ki merasa beginilah seharusnya dia dengan Jeongmin.

Just if you wanna be my boyfriend..” Balas Rae Ki malu. Pipinya berpendar merah. Jeongmin memeluknya. Wangi tubuh Rae Ki yang manis berpadu dengan coklat adalah kombinasi yang sangat menghipnotis. Jeongmin tersenyum bahagia, mulai saat ini, tidak akan dibiarkannya Rae Ki membicarakan lelaki selain dia.

“You are my Candy…..”

Begitulah hati mereka bicara….

One comment on “[FANFICTION] Everlasting Lovers – As Sweet As Candy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s