[FANFICTION] Everlasting Lovers – Fated To Love You

 

Fated To Love You

Pairing: Kim Dong Hyun & Hyun Na (DongHyun)

Genre: Romance

Rated: T

Highlight: Our love fated me to spell you as my soulmate

Stadion nasional Korea bergelora. Lagu Victory Korea dikumandangkan dimana-mana. Semua warga Korea larut dalam euforia sepak bola. Lautan merah terlihat bergelombang, menyemangati pahlawan mereka masing-masing.

Termasuk Kim Hyun Na, wanita berumur 18 tahun itu tampak berteriak dengan mulut dibuka selebar-lebarnya, tidak memperdulikan kecantikannya yang menurun drastis karena posisi yang nggak banget itu. Sejenak, dia melupakan kekecewaannya pada Junsu yang tadi menolak ajakannya untuk pergi ke stadion nasional ini. Jadilah dia pergi sendiri, namun dia yakin, persaudaraan sesama penggila bola akan menolongnya.

Ya, Hyun Na memang berteman dengan Junsu, lumba-lumba DBSK. Ya, cowok imut itu. Yang punya pantat semok. Yang punya kemampuan menularkan tawa ke sekitarnya. Mereka bertemu tepat di stadion ini, saat Junsu juga menjadi penontonnya. Sejak saat itu, entah kenapa, mereka menjadi dekat. Bahkan, Hyun Na mulai menyukai Junsu.

Sayangnya, rasa suka Hyun Na berkali-kali terbentur karena kecuekan Junsu, ditambah jadwal DBSK yang padat. Dia harus rela hanya menjadi adik bagi Junsu.

Dari lapangan hijau, terlihat dua kesebelasan siap berlaga dengan seragam masing-masing. Hyun Na memakan popcorn nya dengan rakus, ikut bersemangat.

“Hai, boleh minta popcorn-nya?” Seorang lelaki tiba-tiba saja merusak konsentrasinya. Hyun Na menoleh ke samping. Lelaki yang sebenarnya tampan itu tampak sangat menjengkelkan di mata Hyun Na, entah kenapa, dia memang paling tidak suka jika aktivitas favoritnya harus diinterupsi seseorang.

Namun, dia menyodorkan popcorn nya juga pada lelaki itu. Dan yang membuat Hyun Na tambah illfeel, cowok yang ditaksirnya juga berusia belasan itu memakan popcorn nya dengan rakus. Dia menekuk mukanya.

Hyun Na kira penderitaannya telah berakhir, ternyata lelaki itu terus mengganggu Hyun Na dengan komentarnya yang aneh-aneh. Hyun Na jadi heran jangan-jangan lelaki itu psikopat yang membuntuti dirinya. Karena komentarnya  sama sekali tidak berhubungan dengan sepak bola. Hellow!! Saat dia lagi tegang-tegangnya menunggu gol dari kesebelasan favoritnya, lelaki itu malah menanyakan hobinya. Bagaimana Hyun Na tidak kesal?

Seharusnya Junsu oppa ikut dengan ku. Batin Hyun Na.

“Yak! Waktunya injury time untuk kesebelasan…..” Komentator berkoar dengan semangat. Mata Hyun Na bergulir kesana-kemari memperhatikan bola di kaki seorang pemain. Menyiapkan teriakan ‘Gol’ karena si penggiring bola sudah sampai di hadapan gawang. Yak, kakinya terayun. Tapi, kok dijagal sih? Hyun Na berteriak kesal. Matanya menatap waktu yang terus berjalan, 30 detik lagi, dan bola kembali berada di bawah kekuasaan lawan.

“Hmm, kenapa mereka main bola ya? Padahal lebih enak main musik, menenangkan hati, main bola hanya membuat tegang.” Suara lelaki di sampingnya kembali mengganggu. Kali ini, kesabaran Hyun Na jebol. Dimana sih letak empati lelaki ini? She’s dying to see a kick from his favorite team! And he’s talking about the music called oh so in peace? Where the hell is he lost his mind?!

Hyun Na menggeram. Merasa tidak bernafsu lagi menyaksikan beberapa detik terakhir. Sebodo amat. Dia bisa gila jika harus berada di samping lelaki itu sepersekian detik lagi. Hyun Na berdiri. Mengambil tasnya. Dan menyeruak kerumunan yang sedikit terganggu. Untungnya, bangku Hyun Na berada di samping tangga sehingga dia bisa langsung keluar.

“Hey, tunggu!” Cowok itu ternyata mengejar Hyun Na sampai keluar.

Hyun Na berbalik dengan marah. Mulutnya sudah mengeluarkan desisan seperti ular berbisa.

“Aku hanya ingin mengenalmu.” Ujar lelaki itu, tidak memedulikan kemarahan Hyun Na.

“Untuk apa? Kau mengganguku, tahu tidak?!”  Hyun Na sedikit berteriak histeris.

“Aku tahu.”

What? Dia tahu berarti dia sengaja. Cari mati nih orang.

“Lalu, untuk apa kau menggangguku hanya untuk mengenalku?”

Kim Donghyun imnida..”  Lelaki yang ternyata bernama Donghyun itu membungkukkan tubuhnya.

Mwo?”

“Pangapseumnida.”  Donghyun membungkukkan tubuhnya lagi.

“ARGGH!” Hyun Na membalikkan tubuhnya. Tidak lagi peduli Donghyun yang terus mengikutinya.

Namun, pertemuan di stadion itu ternyata berlanjut di pertemuan selanjutnya. Hyun Na pun mulai terbiasa dengan Donghyun yang muncul tiba-tiba. Dia menerima kehadiran Donghyun. Apalagi laki-laki itu kerap menghiburnya saat Junsu kembali mengecewakannya.

Lalu, hari ini datang, Junsu berjanji datang ke Amusement Park, Hyun Na bertekat untuk memberitahu Junsu mengenai perasaannya. Janji yang harusnya dipenuhi Junsu 1 jam yang lalu.

Hyun Na terpekur lama. Menatap tetes demi tetes air hujan yang membasahi tanah. Membentuk butiran kecil sama seperti noda merah yang disebabkan Junsu di hatinya. Dia memang tidak menyayat dalam hati Hyun Na, hanya menggores kecil namun berlipat. Membuatnya mati pelan-pelan.

“Dasar adik kecilku..”

“Dasar kecil..”

“Karena kau adikku..”

Semua penolakan samar Junsu dibarengi dengan senyumnya yang cerah dan matanya yang berbinar bahagia. Sementara mata Hyun Na meredup pelan. Junsu tidak pernah menyakitinya. Justru, Junsu menyakitinya karena mencintainya dengan cara yang tidak diinginkan Hyun Na.

Tapi, jika dia tidak harus memiliki Junsu, lalu kenapa? Masih ada…

“Hyun Na!” Seorang lelaki berteriak di belakangnya. Derap kaki berlari seakan bersatu dengan irama hujan. Dunia tersingkir darinya. Seperti tabir yang baru saja dibuka, Hyun Na sadar, dia telah menemukan cinta  yang  menyembuhkan hatinya. Hyun Na menatap ke atas dan mendapati payung menahan terpaan hujan. Dia berbalik dan mendapati Donghyun dengan raut muka cemas.

Ya, rasanya seperti baru saja bangun dari mimpi.

Ya, rasanya hangat.

Semuanya ternyata sudah diberikan Donghyun.

“Donghyun oppa..”

“Pulang, yuk.” Ajak Donghyun, mengulurkan tangannya. Hyun Na menyambutnya dan semakin yakin mungkin dia bertemu Junsu agar mampu mencintai Donghyun….

“Kenapa kau bisa tahu aku ada disini?” Hyun Na menatap mata sayu Donghyun.

“Bukannya kau yang mengirimkan pesan padaku?” Donghyun mengacungkan handphone-nya. Sontak, muka Hyun Na memerah. Dia melakukan itu lima belas menit yang lalu, saat dia berada di titik dimana dia tidak sanggup lagi berharap pada Junsu.

“Kau tidak suka? Atau jangan-jangan kau salah kirim? Kau sebenarnya ingin mengirimkan ini pada Junsu hyung?” Suara Donghyun yang tadinya hangat berubah kecewa.

“Tidak. Tidak begitu. A-Aku hanya…”

“Sudahlah. Kau ingin aku pergi sekarang. Kau boleh menunggu Junsu lagi..” Donghyun berbalik dan menyerahkan payungnya pada Hyun Na. Wanita itu terpaku beberapa saat. Berusaha mencerna perasaannya yang kini jungkir balik. Kenapa dia malah lebih khawatir jika Donghyun meninggalkannya?

Rintik bertambah deras. Menghujam payung yang dipegangnya dengan keras. Donghyun masih melangkahkan kakinya, meninggalkan Hyun Na. Wanita itu menunggu, entah apa. Mungkin keberanian yang dulu tidak berani dia akui. Tidak berani dia ambil.

Tapi, punggung Donghyun yang semakin menjauh membuat hatinya gamang. Pandangan matanya tiba-tiba mengabur walau hujan tidak mengenainya. Ah, ini hujan di hatinya. Matanya merintik pelan. Dia menangis, karena Donghyun…

Oppa….!” Kali ini, dia yang memanggil Donghyun. Hyun Na melepaskan payungnya dan berlari menuju Donghyun. Memeluk punggung pria itu dan membenamkan wajah cantiknya disana.

Kkajima. Aku sebenarnya memang menunggu Junsu. Tapi, ku rasa dia bukan orang yang selama ini ku tunggu. Kau lah yang selalu datang tanpa ku panggil. Maaf selama ini telah membuatmu kecewa…” Kata demi kata yang keluar dari bibir Hyun Na membuat air matanya tumpah. Sementara Donghyun tersenyum di depannya. Dia berbalik dan kembali menemui manik hitam wanita yang selalu dia cintai, seperti pertama kali dia melihat Hyun Na.

“Aku tidak pernah kecewa. Aku bahagia walau kau melihatku seperti ini. Walau aku hanya bisa mencintaimu dari jauh, asal kau bisa tertawa meski bukan untukku, aku  tetap bahagia….”

Hyun Na ikut tersenyum dalam tangisnya.

Saranghae…” Donghyun memeluk Hyun Na. Wanita itu larut dalam perasaannya yang ternyata lebih membuatnya bahagia dari sebelumnya…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s