[FANFICTION] Everlasting Lovers – Play Our Love

Play Our Love

Pairing: Jo Kwangmin & Park Hye Jin (KwangHye)

Genre: Romance

Rated: T

Highlight: The time is frezeed at the moment our eyes locked to each other

HYE JIN POV

Apa??!! Appa dan Umma akan pulang malam ini?? Aku masih memandang iPhone-ku dengan pandangan hendak bunuh diri, mulut menganga, dan mata melotot lebar. iPhone yang beberapa detik lalu membawa kabar buruk bagi hidup berantakanku akhir-akhir ini.

Aiisshh… Orangtua ku akan pulang malam ini setelah menyelesaikan pekerjaan mereka di Virginia. Meninggalkanku dengan kedua oppa­-ku, Yoochun dan Yoohwan. Pilihan yang salah. Karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Aduh, bagaimana ini? Dewa akan turun dari langit! Dengan pikiran yang baru setengah waras, aku segera menelepon Yoohwan oppa, satu-satunya oppa yang mungkin saja bisa  kuandalkan saat ini, Yoochun oppa pasti sedang sibuk.

Dengan kecepatan melebihi kilat aku segera meluncur pulang ke rumah menggunakan taksi. Ya, aku baru saja pulang berlibur dari rumah Kim So Eun, temanku. Dia baru saja membeli sebuah villa baru.

Aku pulang…..” Seketika sesosok tubuh hampir tanpa busana menyambutku.

“Yoohwan oppa! Gawat!! Appa dan Umma akan datang malam ini!” Aku melihat jam di ruang tamu.

“Ralat! Satu jam lagi!” Ternyata ini sudah mendekati malam.

Mwo?! Mereka datang? Siapa yang memberitahumu? Tidak mungkin. Bukannya mereka masih kerja?”

Aku memutar mataku malas. “Mereka sudah meninggalkan kita dua bulan, Oppa. Kemana aja sih Oppa selama ini? Sibuk mengejar cewek?”

“Hey, aku tidak menanyakan berapa lama mereka pergi.” Perdebatan mulai terjadi lagi.

“Oke oke. Asisten mereka memberitahuku tadi.”

“Aduh. Bagaimana ini?!” Ralat sekali lagi! Lelaki berumur tiga tahun lebih tua dari aku ini juga tidak bisa diandalkan. Otaknya berpikir beberapa tahun lebih lamban dariku.

“Bagaimana?! Cepat ganti baju dan segera temani aku menjemput Umma dan Appa!” tiba-tiba aku tersadar pada pemandangan ganjil di sekelilingku. Ruang tamu yang penuh dengan popcorn bertebaran, DVD, bungkus coklat berserakan, dari tempatku berdiri juga terlihat dapur yang sudah menyerupai kandang hewan.

Oppa… apa yang kau lakukan pada rumah kita?” tanyaku panik.

“Apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya sedikit bersenang-senang.” Aku hanya bisa bersungut. Oppa-ku yang satu ini memang sangat tidak bisa diandalkan.

“Apa kita benar-benar harus menjemput Umma dan Appa sekarang? Tapi, aku sedang bersama…..”

Yeobo~ ah.” suara perempuan yang entah siapa itu menghampiri aku dan Oppa.

“ARRGHH!! Jadi kau berani membawa perempuan ke rumah ini. Oppa…. Kau benar-benar keterlaluan! Cepat bereskan dia! Lalu siapkan mobil dan berpakaian rapi! Cepaaaattt….!!!!”

Arasseo. Tunggu aku. Aku mesti….”

“Sekarang kau sedang tidak berhak memberikan alasan. Cepat! Atau ku beritahu Appa kau baru saja membeli apartemen.”

“Iya iya iya. Aku kalah. Puas?”

Kepalaku hampir pecah. Yoohwan oppa berulah lagi. Kalau sampai Appa tahu pasti dia akan dihukum habis-habisan. Kenapa dia tidak pernah bisa menggunakan akal sehatnya. Padahal kemarin aku sudah mewanti-wantinya sepanjang jalan kenangan sebelum aku pergi agar dia tidak membuat hal-hal aneh. Aku tidak mau kalau sampai Appa melakukan hal yang mengerikan pada Yoohwan Oppa. Walaupun dia sungguh sangat teramat menyebalkan, tapi aku sangat menyayanginya.

Aku segera membersihkan ruang tamu dengan kecepatan turbo. Dengan satu tangan menenteng high heels dan tas, satu tangan lain memasukkan berbagai jenis bungkus makanan ke tempat seharusnya. Aku memutuskan untuk mengganti sepatuku dengan pump shoes, tapi, kemana benda satu itu? Aku menggeram marah. Andai saja sepatuku itu ku pasang radar, pasti lebih mudah mencarinya.

Tin! Tin!

Aduh, ternyata Yoohwan oppa sudah siap. Ah, sebodo amat. Biarlah aku membusuk bersama high heels ini. Aku memastikan penampilanku sekali lagi di cermin di samping pintu. Dan segera melesat ke dalam mobil yang dikendarai Yoohwan oppa, kepunyaan Yoochun oppa.

Mobil yang sebenarnya diperuntukkan untuk medan balap ini membelah lalu lintas yang padat. Aku melirik ke samping. Kakak ku ini pasti merasa seperti James Bond. Yeah, James Bond yang harus menjemput orangtuanya karena takut hukuman tidak boleh menggunakan kartu kreditnya lagi.

Setengah jam setelahnya, kami tiba di Incheon International Airport. Aku segera berlari menuju pintu kedatangan. Sementara Yoohwan oppa, biasa, dia harus menebar pesona dulu pada gadis seksi di sekitar bandara.

“Mereka sudah sampai?” Yoohwan oppa rupanya sudah berdiri di belakangku.

“Sudah selesai urusannya bersama para gadis, Tuan?” Balasku sinis.

“Kenapa? Kau cemburu?” Yoohwan oppa membalikkanku ke hadapannya dan mulai mencubit pipiku.

“Iiih, ga usah cemburu. Aku kan tetap Oppa-mu yang paling ganteng.”

Aku memasang tampang hendak muntah. “Yoochun oppa jauh lebih tampan darimu. Bwee..!” Aku menjulurkan lidahku.

“Yoohwan? Hyejin?” Tiba-tiba, suara lembut yang ku kenal sejak kecil menginterupsi kebiasaan kami berdua, saling meledek.

“Kalian belum berubah rupanya. Hahaha…” Appa merentangkan tangannya dan memeluk kami. Aku baru sadar, aku sangat merindukan mereka.

“Iya. Yoohwan oppa masih jelek seperti biasa.”

“Hahaha. Hye Jin-ah, ayo peluk Umma. Umma sangat merindukanmu.”

Beberapa asisten orangtuaku datang dan mengangkat tas mereka. Kami pulang dengan mobil terpisah. Appa dan Umma dengan mobil kesayangan mereka, sementara kami dengan mobil balap tadi. Untungnya, Yoohwan oppa tidak lagi merasa dirinya James Bond, bisa-bisa Appa kena serangan jantung melihat anak lelakinya mengemudi dengan brutal.

“Ah, home sweet home,” Teriak Appa begitu kami tiba di rumah. Asisten beliau kembali menurunkan koper-koper. Umma menggandengku masuk.

“Hye Jin, Umma sudah membelikanmu pakaian dengan stok terbatas di Channel dan Gucci. Kita bisa mencobanya sama-sama malam ini.” Umma menjentik hidungku gemas.

Tiba-tiba saja, saat kakiku sudah menginjak bagian dalam rumah, atmosfer berubah hening. Appa menatap heran pada gantungan mantel, bukan, bukan pada mantelnya. Tapi pada….

Appa mendekati gantungan mantel “Jaket siapa ini? Dan aromanya tidak seperti salah satupun dari anak Appa.

Wah, rupanya jaket lelaki itu tertinggal di rumah ini. Sial!

“Dan apa itu? Telunjuk umma mengarah pada lampu di atas meja. Bukan lampunya yang menarik perhatian Umma. Tapi…

WHAT THE FUCK?! Sebuah bra merah marun dengan model terawang dan renda-renda seksi membuat kepalaku pusing. Umma  di sampingku pun terlihat shock, beliau segera mengambil bra laknat itu. Mataku segera mengarah ke arah Yoohwan oppa dengan pemindai laser.

“Hye Jin-ah.. Ini, ini bukannya milikmu, Nak?” Umma berkata dengan suara bergetar. Pertanyaannya pun juga menggetarkan hatiku.

“Ap-Apa?! Bukan, Umma, itu bukan punyaku. Itu punya….”

“I-Itu. Aku bisa menje – “

“Permisi… Aku harus mengambil jaketku yang ketinggalan…” Tiba-tiba, ada seseorang di belakangku. Suara lelaki. Yang ku tahu pasti siapa dia….

Aku memejamkan mataku. My life is officially over…

 

FLASHBACK

Akhirnya, Yoochun oppa memperbolehkanku memakai mobilnya. Walau dengan beribu nasihat melebihi kedua orangtua kami sekalipun, aku bersedia melakukannya.

Ferrari keluaran terbaru. Apa lagi yang kurang? Aku sangat ingin merasakan sensasi mengendarai Ferrari ini, meski hanya semalam.

Jarum di speedometer bergerak cepat. Aku merasa berada di atas angin. Sampai akhirnya…

“AKH!!” Aku terkejut dan langsung menginjak pedal rem. Sudara berdecit menyakiti telingaku. Sepertinya aku baru saja menabrak seseorang…

Aku segera keluar dari mobil dan melihat seorang lelaki terduduk sambil memegang lututnya. Gawat!

“Permisi, kamu kenapa? Apa yang sakit?” Aku berjongkok di hadapannya.

Dia mendongak melihatku… Sebenarnya, aku sudah siap menerima semprotan, kemarahan, atau bahkan permintaan ganti rugi. Ternyata, yang menatapku adalah pandangan teduh yang membuatku hanyut sesaat.

“Aku tidak apa-apa. Cuma lecet sedikit, kok. Mobil kamu tidak kenapa-kenapa, kan?” Jelas sekali senyumnya dipaksakan dan pernyataannya barusan itu bohong. Dari lututnya mengalir darah segar. Tapi, dia masih sempat saja mengkhawatirkan mobilku.

“Err, mobilku tidak apa-apa.. Lukamu terlihat parah. Gimana kalau aku obati dulu? Rumahku tidak jauh dari sini..”

“Aku tidak apa-apa. Serius..” Dia berkeras dan mencoba berdiri. Tapi, kemudian terjatuh lagi. Untung saja aku menahannya dengan kedua tanganku. Duh, kok jadi deg-degan gini, ya?

“Jangan dipaksain. Aku merasa bertanggung jawab. Ayo, aku bantu kamu naik ke mobil…” Setengah memaksa, aku mengalungkan tangannya pada bahuku.

Ugh, lagi-lagi high heels ku jadi penghalang. Aku selalu membenci sepatu seperti ini. Berkali-kali, aku hampir jatuh memapahnya…

“Hihihi…” Aku mendengar dia cekikikan sedikit.

“Kenapa? Kamu memang berat, tau. Bukan aku yang tidak kuat.” Aku mengumpulkan harga diriku yang masih tersisa.

Akhirnya, kami sampai di mobilku. Aku mendudukkannya di bangku belakang. Agar dia leluasa menyelonjorkan kakinya. Aduh, semoga Yoochun oppa tidak marah, joknya kotor karena darah.

Aku segera menyalakan mesin. Mobil berjalan pelan. Aku bisa melihat mukanya dari spion depan. Umm, dari skala 6 sampai 10, dia mendapat 8, tidak, 8 koma 5. Oke, 9. 9 koma 5. Baik-baik, sempurna. Okay? Matanya besar dengan hidung mancung dan bibir merah itu… Duh, aku sedikit menepuk kepalaku.

Aku membawanya pulang ke rumahku. Dan dengan segera mengembalikan mobil pembawa petaka ini.

Ahjussi…. Ahjussi…” Aku memanggil satpam rumah kami. Aku tidak kuat lagi kalau harus membawa lelaki itu.

Tapi, tidak ada seorang pun datang. Aku mendengus. Terpaksa, aku membawa lelaki itu sendirian lagi ke dalam rumah.

“Kita sudah sampai di rumahku. Ku bantu lagi kau berjalan…” Aku masuk ke dalam mobil dan membantunya keluar. Dia lebih tinggi dariku. Tapi, pinggangnya ramping dan mungkin nyaman untuk..

Aduh, sepertinya aku salah makan tadi..

Aku mendudukkan lelaki itu di sofa ruang tamu. Aku juga melepaskan jaketnya dan meletakkannya di gantungan mantel.

“Namaku Kwangmin…” Gerakanku menggantungkan jaketnya terhenti. Tidak menyangka dia menyebutkan namanya. Kalau begitu, aku harus mengatakan namaku juga, kan?

“Hye Jin imnida…”  Balasku, hampir tidak terdengar.

“Suaramu kecil sekali..” Kwangmin berkomentar. Duh, kenapa pipiku memerah seperti ini, sih? For God’s sake, that’s not a compliment…

Aku segera berjalan ke dalam dan mencari perlengkapan P3K.

“Hye Jin-ah, siapa lelaki di luar?” Yoohwan oppa datang, hanya mengenakan pakaian pasrahnya jika di rumah, singlet putih dan boxer kebanggaannya, Spongebob Squarepants. Bagaimana dia mencari istri nantinya?

“Tadi aku nyerempet dia. Dia terluka. Jadi ku bawa kesini.” Duh, mana sih kotak P3K-nya?

“Wow. Keren. Kamu nyerempet orang….” Yoohwan oppa hampir bertepuk tangan kalau tidak ku tahan.  Oh please, menyerempet orang bukanlah prestasi yang menyenangkan. Pikiran kakak ku satu ini memang aneh..

Bersamaan dengan itu mataku menangkap kotak P3K di atas kulkas.

Aku membawa kotak P3K ke ruang tamu dan mulai megobati luka Kwangmin. Tanpa menatap ke matanya. Entah kenapa, ada kekuatan dalam matanya yang nanti akan memaksaku menyelam lebih dalam…

“Ssshhh. AW!” Kwangmin berteriak saat tanganku tidak sengaja menekan lukanya.

“Maaf, kamu diam terus. Ku kira kamu ketiduran…” Balasku.

“Dengan luka seperti ini? Aku mungkin tidak akan tidur malam ini…”

“Bukannya tadi kau bilang ini hanya lecet?”

“Yeah. Lecet yang sangat sakit.”

Aku tersenyum kecil. “Selesai… Kau mau ku antar pulang setelah ini?”

“Umm, sebenarnya, Hye Jin-sshi. Aku kebelet. Bisa aku gunakan kamar mandimu?” Kwangmin meringis.

Aku berpikir sebentar. Kamar mandi tamu lagi rusak. Kamar mandi Yoohwan jelas tidak boleh dimasuki. Bisa-bisa dia punya alasan untuk meledekku. Kamar tamu dikunci. Kamar mandi di kamar utama dikunci. Berarti, Kwangmin akan menggunakan kamar mandiku. Mukaku merona lagi…

“Umm, ada di kamarku. Kamar mandi lain tidak bisa dipakai..”

“Baik. Maaf merepotkan…”

Aku kembali memapah Kwangmin, apalagi menaiki tangga. Tapi tidak seberat yang tadi. Paling tidak lukanya sudah tertutup.

Kami masuk ke kamarku. Tidak ada lelaki yang pernah masuk ke kamarku sebelumnya, kecuali kedua kakak ku tentunya. Kwangmin pastilah lelaki yang beruntung.

Beberapa menit kemudian, dia keluar. Aku segera mengantarkannya pulang tanpa banyak bicara. Mungkin karena itu kami berdua sama-sama lupa pada jaket Kwangmin akan segera memulai petaka sesungguhnya….

END OF FLASHBACK

“Hye Jin….. Apa maksudnya ini?” Appa memandangku kecewa.

“Ini tidak seperti yang kalian pikirkan. Seb –“

“Yoohwan, bisakah kau ceritakan apa yang terjadi?”

Aku mengalihkan pandanganku pada Yoohwan. Berharap sekali ini saja dia tidak membuat ulah. Semua mata kini tertuju padanya. Ya, satu saja alasan darinya akan menentukan hidupku selanjutnya…

“Sebenarnya, Hye Jin membawa lelaki malam itu. Di malam dia meminjam mobil Yoochun.” Yoohwan berhenti sebentar. Aku menahan nafasku. Udara seakan menghilang. “Hye Jin membawa lelaki itu ke kamarnya. Dan bra itu… ku rasa terlepas di sini.. Aku baru saja melihatnya tadi..” Habis sudah. Mati sudah. Hancur sudah. Masa depanku sebagai pewaris keluarga Park. Orangtua ku pasti marah besar. Kepalaku berdenyut-denyut…

“Hye Jin, Umma tidak menyangka….” Umma memegang dadanya. Nafasnya tiba-tiba sesak. Dan, dia pingsan….

 

MAIN ROOM AT PARK’S HOUSE.

“Hye Jin, kau telah berubah…” Appa menatapku dengan pandangan kecewa. Aku masih berusaha menyusun kepingan peristiwa yang terasa seperti mimpi.

Appa, aku tid – “

“Setelah kami tinggalkan, ternyata kau melakukan ini pada kami. Kami kira kami mampu mengandalkanmu. Setelah Yoochun dan Yoohwan tidak bisa mengurus perusahaan,  Appa akan mewariskannya padamu. Tapi….”

“Tuan Park, saya bisa menjelaskannya…” Kwangmin tiba-tiba angkat bicara.

“Diam kau anak muda!” Appa membentak. Tidak biasanya dia begini. Yoohwan (tanpa oppa, dia bukan oppa ku lagi! Grrrr) benar-benar keterlaluan kali ini. Kwangmin yang tidak tahu menahu masalah ini juga harus ikut terseret-seret.

Umma, apa dia baik-baik saja?” Yoochun oppa datang. Aku tersenyum lega. Dia pasti akan membantuku. Aku dekat sekali dengannya. Dia pasti tahu aku tidak akan berbuat seperti itu.

Yoochun oppa segera menuju tepian ranjang dan memegang tangan Umma. Hatiku teriris. Ingin aku bersujud pada beliau, walau aku tidak bersalah atas apapun.

“Ada yang bisa menjelaskan padaku apa yang terjadi?” Yoochun oppa mencari mataku. Aku segera menatapnya dan bermaksud untuk bicara sebelum Appa mengambil alih.

Kata demi kata keluar dari mulut Appa. Semakin membuatku seperti pesakitan yang pantas dihukum gantung. Yang bersalah itu Yoohwan! Kenapa aku harus menjadi peran di dalamnya?

Yoochun oppa terdiam. Dia menunduk. Tak seperti biasanya, dia diam. Biasanya dia selalu membelaku.

Oppa, katakan pada Appa aku tidak bersalah. Aku tidak mungkin melakukan hal itu..”

“Hye Jin.. Hye Jin…” Tiba-tiba, Umma siuman dan memanggil lemah namaku. Aku segera memegang tangan Umma yang sebelahnya..

“Lelaki tadi. Mana dia…?”

“Saya disini, Nyonya..”

Kwangmin yang dari tadi terpaku seperti patung segera menuju ranjang. Saat dia melewati Appa, bisa ku rasakan Appa menggeram pelan.

Umma memegang tanganku, lalu tangan kiri Umma memegang tangan Kwangmin.

“Kwangmin, nikahilah Hye Jin…” Kata Umma lalu menyatukan tangan kami berdua. Saat itu juga, semuanya menjadi gelap…

HYEJIN’S ROOM, STILL AT THE SAME NIGHT

Perlahan, aku membuka kelopak mataku yang terasa begitu berat. Aku memandang sekeliling sebentar. Hampir yakin yang tadi itu mimpi. Sampai akhirnya kulihat Yoohwan di sampingku.

Dengan segera aku mengumpulkan tenaga, lalu…

YAH! PARK YOOHWAN! Apa maksudmu, heh? Menuduh sembarangan? Kamu seneng lihat aku nikah duluan?! Supaya kamu bisa bebas tuduhan dari semua kelakukanmu? Hah?!” Aku histeris dan memukul Yoohwan.

“Hyejin-ah, maafkan aku. Aku terpaksa. Aku sudah berjanji tidak akan membawa gadis lagi ke rumah. Kita tidak tahu apa yang terjadi padaku jika Appa mengetahui kejadian yang sebenarnya. Tapi, kemarin malam aku khilaf..”

“Khilaf tiap malam, hah?”

“Maafkan aku, Hye Jin-ah. Kamu ingin apa? Mobil baru? Apartemen baru? Aku akan berikan apa saja. Asal tolong jangan beritahu Umma dan Appa. “ Pecundang di depanku ini mengiba. Cih! Andai saja aku punya saksi mata yang lain.

“Yoohwan, sebaiknya kau pergi dulu. Biarkan aku bicara dengan Hye Jin.” Yoochun oppa datang. Aku langsung memeluknya.

“Hu hu hu.. Oppa, aku ga mau nikah sekarang. Apalagi sama cowok yang baru aja aku kenal. Masih banyak yang pengen aku lakuin. Oppa percaya kan sama aku?”

Oppa percaya..” Yoochun oppa mengelus rambutku. “Tapi, kamu ga bisa jelasin apa-apa lagi. Terlebih saat itu aku tidak sedang bersamamu. Semua bukti mengarah ke kamu. Semua alibi ada di kamu. Tentu saja mereka berfikir seperti itu.”

“Tapi, aku masih mau pacaran sama Hyun Joong oppa..” Balasku pelan.

“Dia brengsek, Hye Jin. Berapa kali harus ku katakan? Kemarin malam aku baru saja melihat dia ke bar bersama Suzy.”

“Tapi, dia mencintaku…”

“Mereka selalu terihat seperti itu, Hye Jin-ah. Sebelum kau sadar, kau sudah patah hati..”

Yoochun oppa mengelus punggungku. Dia melepas pelukan kami.

“Kau harus bicara pada Kwangmin… dia sudah menunggu di luar”

Yoochun oppa keluar dan meninggalkanku berdua saja dengan Kwangmin.

“Bagaimana ini?” Pertanyaan desperate, aku tahu. Aku hanya tidak ingin terlihat terlalu pasrah.

“Entahlah. Ku rasa kita harus menikah malam ini juga.” Ternyata, Kwangmin lebih pasrah lagi.

Yeah, ku rasa memang akhirnya aku harus mengakhiri masa lajangku dengan kejadian memalukan seperti ini….

“Tidak bisakah kau melakukan sesuatu? Tidak mungkin kan kau langsung menikah dengan gadis yang kemarin menabrakmu?”

“Yang juga mengobatiku…” Sahut Kwangmin. Aku speechless. Apa dia berusaha agar pernikahan ini terjadi?

Aiisshh, apa-apaan aku? Lelaki seperti dia pasti sudah punya pacar. Atau paling tidak mempunyai seseorang yang dia suka. Aku hanya menerka.

“Aduh, mataku sakit..” Teriakku tiba-tiba. Ada benda yang masuk ke dalam mataku.

Dengan sigap, Kwangmin segera mendekatkan mukanya padaku. Kenapa jadi dadaku yang berdentam seperti ini?

“Mana yang sakit?” Nafas Kwangmin menerpa mukaku. Aroma mint menyerang indra penciumanku. Yang ku tau setelahnya, aku hanya mengangguk bagai dihipnotis. Kwangmin membuka mataku. Bibirnya yang merah ada di atas mataku. Tuhan, semua darah memompa ke mukaku. Semoga Kwangmin tidak mendengar nafasku yang terengah-engah dan jantungku yang berdetak sedemikan rupa.

CEKLEK…

Pintu kamarku dibuka. Lalu ada suara yang memecahkan kepingan romantis yang baru saja kurasakan.

“Kwangmin….” Suara seorang wanita dewasa. Ku tebak itu adalah ibu Kwangmin.

Umma…” Kwangmin segera berbalik. Terasa ada yang hilang setelah dia menjauhkan tubuhnya.

“Ckckck… Sebaiknya kita mulai menentukan tanggal pernikahan kalian.” Ayah Kwangmin menggeleng tidak percaya. Sementara aku asih sibuk mengenyahkan bayangan yang terjadi beberapa menit yang lalu.

“Aku memanggil orangtuamu. Ternyata memang benar kau adalah anak dari temanku ini.” Appa menepuk bahu ayah Kwangmin. Sepertinya mereka berteman..

“Pernikahan kalian akan dilaksanakan satu bulan lagi. Jangan menunggu terlalu lama. Bisa-bisa kau keburu hamil.” Appa seakan menudingku. Aku menunduk. Teringat semua ini bukan salahku. Ah, tidak ada gunanya lagi menyangkal sekarang.

2 comments on “[FANFICTION] Everlasting Lovers – Play Our Love

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s