[FANFICTION] Everlasting Lovers – Spring Flowers

Spring Flowers

Pairing: Shim Hyun Seong & Choi Ai Ra (HyunRa)

Genre: Romance

Rated: T

Highlight: It’s true your scent guide me to find you

HYUNSEONG POV

Toko bunga itu terletak di persimpangan dekat rumahku. Baru saja dibuka. Kata temanku, toko bunga itu milik seorang pengusaha yang mempunyai kebun bunga di belakang rumahnya, pantas saja bunga disana selalu segar. Kata temanku lagi, penjaga toko bunga itu adalah anak pengusaha tersebut. Dia sangat cantik. Begitu rumor yang beredar di kompleks tempatku tinggal. Entahlah, aku sangat sibuk dengan latihan ku di Starship Entertainment.

Tapi, semua kesibukan itu berubah, ketika suatu sore aku melihat seorang gadis tengah menyiram bunga di toko bunga itu. Sesaat, aku melupakan tujuanku semula. Wajahnya mengalihkan duniaku. Bersinar lembut dengan garis feminim yang selalu ku sukai dari seorang perempuan. Bibirnya yang tipis seakan selalu menyunggingkan senyum. Tubuhnya semampai dan bergerak gemulai bagai kucing. Rambutnya hitam panjang berkilau, seperti langit malam yang selalu ku nikmati dari lotengku. Di atas itu semua, dia mempunyai mata bak permata hitam. Melemparkanku ke dalam dunia antah-berantah yang terasa damai.

Siapakah dia?

AIRA POV

Ada seorang lelaki yang selalu berkunjung ke toko bungaku. Sangat tampan menurutku, dengan tubuh tegap, pasti sangat menyenangkan bersandar di bahunya.

Ah, apa-apaan aku? Appa pasti marah besar kalau tahu aku berpikiran macam-macam tentang lelaki.  Dia berbeda. Aku tak tahu dimana. Yang pasti, dia membuatku selalu melamun akhir-akhir ini. Apalagi, suatu kali dia pernah membantuku menyiram bunga saat aku kewalahan menangani pelanggan. Bahkan, dia juga memberi makan Athena, kucingku. Sayang, aku takut menanyakan namanya.

Tapi, dia membuatku sedih. Tiap sore, dia pasti membeli bunga, bunga apa saja. Untuk siapa lagi kalau bukan untuk kekasihnya? Pasti wanita itu sangat beruntung, lelaki yang ku panggil Pangeran itu sangat romantis.

AUTHOR POV

Hyunseong mondar-mandir gelisah di ruang latihan Starship. Donghyun lama-lama gerah melihat gerak Hyunseong yang mirip setrika rusak itu.

“YA! Kamu kenapa? Dari tadi kulihat mukamu kucel kayak kain pel.” Tegur Donghyun. Mereka memang baru saja selesai latihan sebagai sesama trainee Starship.

“Err, hyung, bolehkah aku bertanya?”

“Tentu saja. Ada apa?”

Terasa keraguan Hyunseong menceritakan masalahnya. Donghyun menunggu dengan sabar. Lelaki itu memang sedikit tertutup, maka suatu keajaiban bisa membuatnya bercerita. Pasti masalahnya sangat berat, pikir Donghyun.

“Ini masalah wanita. Umm, kalau kamu menyukai seorang wanita, apa yang akan kau lakukan?” Hyunseong bertanya hati-hati.

Di luar dugaan, Donghyun tertawa. “Ya datangi dia. Tanya namanya. Kenali dia. Lalu katakan kau suka padanya.” Jawab Donghyun setelah tawanya mereda.

“Apa? Tidak mungkin. Tidak mungkin semudah itu.”

“Kamu ragu? Ingat Ranee, gadis yang kemarin ku ceritakan, aku langsung mendekatinya dan kami berteman sekarang. Tinggal menunggu saat yang tepat untukku menyatakan cinta.”

“Saat yang tepat? Aku tak tahu saat yang tepat untuk menanyakan namanya?”
“Ku bilang, saat yang tepat untuk menyatakan cinta. Bukan saat yang tepat untuk menanyakan namanya. Mau menunggu sampai kapan, kalau gadis itu keburu diburu yang lain, bagaimana? Nanti kamu yang sakit hati. Masalah menanyakan nama, kau tak perlu menunggu, tinggal tanya namanya dan mulailah membuat dia untuk menyukaimu.”

HYUNSEONG POV

Itulah yang tadi dikatakan Donghyun hyung.

Sekarang atau tidak sama sekali.

Aku berjalan mantap ke arah toko bunga dimana gadis itu menjadi bunga paling indah. Dan, aku mendapatinya tengah menghirup aroma bunga mawar. Kakiku lemas seketika. Kecantikannya seakan melumpuhkan syarafku.

Annyeonghaseo..” Sapaku.Tidak terasa, aku sudah sampai di hadapannya.

Dia tampak terkejut. Aku memang pernah membantunya. Tapi, aku terlalu takut menyapanya.

Dia menatapku dengan matanya yang hitam berbinar bagai bintang di dalam mutiara hitam. Membisikkan mimpi dan kehidupan yang entah mengapa ku yakin akan kumiliki dengannya.

Tapi, bagaimana jika dia menolakku?

Bagaimana jika dia sudah punya pacar?

Bagaimana jika..

Annyeonghaseo…” Puluhan ‘bagaimana jika’ di kepalaku tadi langsung hilang tak berbekas begitu mendengar suaranya yang mendenting merdu dan senyumnya yang seindah senyum mentari.

Hyunseong imnida.” Aku membungkukkan tubuh gugup.

Choi Ai Ra imnida.” Ah, nama itu langsung melekat di hatiku.

Sejak hari itu, kami sering menghabiskan waktu bersama. Aku mengenalnya sebagai perempuan yang sangat dewasa walau hidup di tengah kemewahan. Dia selalu ada saat aku lelah dan menyerah pada impianku menjadi artis. Beberapa bulan setelahnya, aku yakin, inilah saat yag tepat untuk menyatakan cinta pada Aira.

Oppa, kita mau kemana?” Tanya Aira. Aku menggendong dan menutup matanya.

“Ssst, sebentar lagi sampai, kok.” Balasku misterius.

Jalan yang kami lewati menanjak. Aku memang ingin mengajaknya ke suatu bukit. Tapi, aku tidak ingin dia tahu. Makanya aku menggendongnya seperti ini.

Beberapa menit kemudian, kami sampai. Aku menurunkan Aira.

Oppa, kenapa ada aroma bunga? Wangi sekali.”

“Kamu akan tahu. Sekarang, ku buka penutup matamu ya. Tapi jangan buka dulu. Nanti ku kasih tahu kapan kamu boleh buka mata.” Aira mengangguk.

Perlahan, aku melepaskan penutup matanya. Aira selalu cantik jika memejamkan mata seperti ini. Bagai ekspresi seorang bidadari yang tertidur.

“Kamu pikir, kita dimana?” Bisikku halus.

“Err, ada aroma bunga. Aroma rumput. Dan… anginnya sangat kencang.”

“Kamu boleh buka mata sekarang.”

Aku yang berada di samping Aira menunggu berdebar. Dia membuka kelopak matanya.

AIRA POV

Ya Tuhan, tempat ini indah sekali. Kebahagiaan dan kedamaian menyeruak bersamaan, berebut tempat dan membuat euforia yang hampir membuat air mataku menetes.

Hyunseong oppa membawaku ke sebuah bukit, dengan pemandangan lautan bunga di bawahku, luas sekali. Berbagai macam warna. Lengkap dengan kupu-kupu dan aroma yang selalu ku cintai.

Matahari siang menyorotnya lembut. Semakin menguatkan pendarnya di mataku. Ya Tuhan, aku tidak mempercayai ini.

“Kamu suka?” Suara berat membuatku menoleh ke samping. Hyunseong oppa menatapku mesra.

Oppa, aku sangat bahagia…” Aku tak bisa berkata apa-apa lagi.

“Kamu mau turun ke sana?”

Aku mengangguk. Dia tersenyum. Dan aku kembali berada dalam gendongannya.

Saat kami sampai, aku lebih terpana lagi. Banyak bentuk bunga yang sangat indah. Yang tidak pernah aku temui. Paduan warnanya seakan dilukis dari sayap peri. Aroma memabukan menguar, dari bunga-bunga itu juga dari tubuh Hyunseong oppa. Membuatku terlena.

Hyunseong oppa menurunkanku. Tiba-tiba saja, dia berlutut dan memegang tanganku.

“Choi Ai Ra, I love you since the first time we met. I love you since the first time I smell you scent. I have falled to an angel, sometimes I wonder do I deserve for you? But you change everything. You make me wonder how lonely my life without you. I know I can’t do it. So,  with this heart of mine, will you accept me?”

Aku terpana, terpesona, terlena, dan terbang. Tidak menyangka, akulah gadis beruntung yang dulu selalu aku kira ada. Ternyata, Hyunseong oppa mencintaiku.

I do…” Sahutku dengan suara tercekat. Kebahagiaan memenuhi seluruh tubuhku

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s