[FANFICTION] Everlasting Lovers – Younger Love

 

Younger Love

Pairing: Jo Youngmin & Kim Eun Hee (YoungHee)

Genre: Romance

Rated: T

Highlight: This love grows younger than the time we meet.

 

Malam menurunkan selimut hitamnya ke seluruh penjuru kota Seoul. Namun, tetap memberikan penghias sepert bintang kejora di beberapa sudut langit dan butir salju yang turun sedikit demi sedikit. Musim dingin memang telah tiba. Eun Hee merapatkan jaketnya. Syal ungu muda dan jaket putih serta boots merupakan senjatanya melawan dingin. Dia bergegas. Taemin pasti sudah menunggunya di restoran yang dia pesan.

Lagi, Eun Hee menghela nafas. Bukannya tidak tahu, Taemin memang tertarik padanya. Tapi, sakit hatinya pada Siwon dan posisinya sebagai fans SHINee mempersulit keadaanya.

Tiba-tiba saja, dia melihat sesuatu di samping bak sampah. Seperti bola berwarna putih, tapi berbulu. Penasaran, Eun Hee mendekatinya dan terdengarlah suara, “Guk!” Gonggongan lemah cukup mengejutkannya. Eun Hee kembali berjalan maju, dan terlihatlah seekor anjing kecil dengan bulu putih kotor, namun mata coklat besarnya masih berbinar. Dia jatuh hati dan jatuh kasihan. Eun Hee berjongkok dan mengelusnya.

“Hey, anjing kecil, kenapa kamu disini?” Tanyanya pelan.

“Guk!” Gonggongan anjing tadi tidak selemah sebelumnya.

“Sepertinya dia ditelantarkan oleh seseorang….” Eun Hee terlonjak lagi. Lelaki dengan suara berat mengejutkannya. Lalu, tanpa diduga, dia ikut berjongkok.

Selama beberapa detik yang seakan tanpa gerakan manusia di sekitarnya, Eun Hee membeku. Mata lelaki tadi kini menatapnya, besar dan menyedotnya ke dalam pusaran warna, bukan pusaran hitam seperti yang dimiliki Siwon.

“Ku pikir, dia terluka. Haruskah kita mengobatinya?” Ini sedikit aneh. Lelaki tadi langsung menggunakan kita. Seakan mereka yang bertanggung jawab. Namun, kenapa Eun Hee menyukainya?

“Err, benarkah?”

“Rumahku di dekat sini. Kamu ga keberatan, kan?”

Eun Hee hanya menggeleng. Terlihat pasrah seperti dihipnotis. Dia mengikuti langkah pemuda itu yang ternyata lebih tinggi darinya. Sweater putih membungkus tubuhnya. Ada satu hal dalam tubuh pemuda itu yang mengingatkanny pada seseorang..

“Namaku Youngmin. Kau?”

“Eun Hee.” Jantungnya berdegup kencang, entah kenapa. Anjing dalam dekapannya menggongong kecil. Seolah mengerti irama jantung Eun Hee yang semakin aneh.

“Ini rumahku. Kau masuk dulu. Aku akan mencari obat untuknya.” Youngmin menunjuk anjing kecil yang kini berada di atas pangkuan Eun Hee. Perempuan itu terenyuh, Youngmin memperlakukan anjing seakan dia manusia.

Selagi Youngmin pergi mencari obat, Eun Hee menikmati pemandangan ruang tamu yang bercat pastel itu. Beberapa foto keluarga yang terlihat ganjil membuatnya melihat lebih teliti. Lho? Kok Youngmin ada dua ya? Dia menggosok matanya. Ah, sepertinya Youngmin mempunyai kembaran.

Puas menikmati interior rumah dan berspekulasi tentang keluarga Youngmin, Eun Hee mengelus anjing dalam pangkuannya.

“Aku hanya mendapatkan obat ini. Semoga cukup.” Youngmin datang dan berjongkok di depan Eun Hee.

“Yah, manis, kaki kamu kami obati ya. Sakitnya hanya sebentar. Tahan ya..” Youngmin membalurkan obat dengan telaten. Eun Hee semakin terpana.

“Guk guk…” Sementara itu, anjing kecil tadi menggeliat tidak nyaman. Eun Hee merasa harus mengambil peran dalam hal ini.

“Huss. Sebentar lagi selesai. Habis ini kita minum susu ya..” Bujuk Eun Hee.

“Ya, selesai!” Youngmin menempelkan plester terakhir dan menatap Eun Hee.

Mereka terdiam sebentar. Entah mengapa, Eun Hee tidak berkedip. Dia merasa mata Youngmin menceritakan sesuatu yang hanya dimengerti oleh jiwa mereka berdua.

“Eun Hee-sshi.. Berapa umurmu?” Tiba-tiba, Youngmin bertanya.

“Umm, 18, kenapa?”

“Aku 17, berarti, bolehkah aku memanggilmu noona?” Youngmin tiba-tiba mendekatkan mukanya pada Eun Hee. Anehnya, Eun Hee tidak menarik mukanya. Dia diam. Seperti menunggu Youngmin melakukan gerakan selanjutnya.

“Tentu saja. Kenapa tidak?”

“Yee, akhirnya aku punya noona.” Youngmin berteriak senang.

Malam-malam berikutnya, Eun Hee sama sekali lupa dengan janjinya yang terlupakan dengan Taemin. Taemin yang rela memberikan waktu istirahatnya dengan Eun Hee juga tidak digubris. Bersama Taemin, dia merasa bersalah, karena dia terus memberi harapan. Namun, bersama Youngmin, dia merasa bebas, menjadi noona atau bahkan kekasihnya.

Apa? Kekasih? Kim Eun Hee, kau pasti sudah gila. Pipi Eun Hee kontan merona. Musim salju boleh saja terus menurunkan butiran kapas dingin, namun hatinya mulai disinari matahari musim semi. Semoga, kehadiran Youngmin mampu membuat warna pelangi kembali setelah badai dari Siwon.

Nothing’s gonna change my love for you…” Eun Hee menyenandungkan lagu favoritnya akhir-akhir ini. Lagu-lagu ballad galau yang dulu selalu masuk di playlist iPod-nya dan menjadi most played, berganti menjadi lagu romantis seperti remaja yang baru saja jatuh cinta.

Tangannya menenteng blackforest dalam tas, kue kesukaan Youngmin. Dia bermaksud mengantarkannya ke tempat Youngmin biasa latihan bernyayi. Bibirnya ranumnya lagi-lagi merekah membayangkan mata bundar Youngmin tambah terbuka lebar.

Senyum yang tiba-tiba saja terkatup. Senyum yang tiba-tiba saja bersembunyi lagi dalam gulita hatinya. Kue yang ditentengnya terjatuh.

Disana. Tepat di depannya. Choi Siwon, mantan pacarnya, lelaki yang mencampakkannya, yang sialnya sangat tampan membuat Eun Hee tidak pernah berhasil membencinya, walau dia selalu mengingat betapa hancurnya dia dulu. Dia tidak pernah bisa meluapkan kemarahan dan sakit hatinya begitu menemui kembali mata teduh Siwon, mata yang dulu membuatnya tergila-gila. Pemandangan di depannya seharusnya menambah jejak hitam Siwon, lengan yang dulu mendekapnya itu memeluk seorang perempuan. Meski Siwon menggunakan samarannya, Eun Hee yakin itu adalah lelaki yang dulu dan sekarang masih dicintainya.

Lagu cinta dari headset-nya berubah menjadi lagu pengiring kematian. Eun Hee terpaku. Mata coklatnya meredup, seperti harapan hidupnya.

Ternyata, waktu tidak mengubah apapun. Walau dia bukan lagi milikku. Walau semuanya terasa sudah begitu lama. Rasa sakit ini masih mendera.. Hati Eun Hee mengerang perih.

Saat itulah, Siwon mendongak dan retina hitamnya menangkap tubuh Eun Hee yang menggigil dingin. Dia terkejut dan refleks melepas pelukannya pada perempuan di depannya.

Mianhae, Sooyoung-ah, aku harus pergi sekarang.” Siwon langsung berlalu dari hadapan Sooyoung.

Eun Hee ikut terkejut. Tidak menyangka Siwon akan memergokinya kembali terluka. Terlalu takut mendengar penjelasan Siwon dan rasa sakit yang dulu dideritanya, Eun Hee memilih tidak mau tahu apapun. Dia bertekad, akan menghapus Siwon saat ini juga dari hidupnya. Perempuan berambut coklat itu langsung berbalik dan lari terseok-seok di tengah padatnya trotoar. Tubuhnya masih limbung karena pemandangan tadi.

“Eun Hee-ah, tunggu aku!” Eun Hee menulikan telinganya. Derap kakinya berbanding kontras dengan nada di iPod-nya yang masih setia mendendangkan lagu untuk para couple. Sementara itu, Siwon terus mengejarnya. Jadilah pemandangan aneh di trotoar ruas jalan Hongdae. Seorang idol tampan mengejar perempuan yang lari bagai dikejar setan. Siwon tak peduli lagi kalau orang-orang harus mengenalinya. Dia hanya peduli pada sesuatu, semua perasaan gila ini harus diselesaikan sekarang juga. Eun Hee harus tahu alasannya. Atau Siwon akan terus merasa bersalah seumur hidupnya.

Keringat mulai bercucuran walau cuaca masih di bawah batas normal. Terbayang di pelupuk matanya bagaimana dulu Eun Hee tertawa dan tersenyum untuknya, memeluknya di kala dingin, berbagi kehangatan di apartemennya. Sekarang, semuanya hilang hanya karena kesalahan bodohnya.

Eun Hee masih terus berlari. Nafasnya mulai tersisa satu-satu. Temperatur mulai memperlambat langkahnya, ditambah jantungnya tidak hanya berpacu cepat karena tenaga yang dipaksakan, namun juga karena hatinya yang terkoyak lagi.

Think, Eun Hee! Think! Faster! Otaknya mendesak.

Dan tiba-tiba dia ingat, rumah Youngmin ada di sekitar sini. Tapi kan dia lagi latihan. Eun Hee mengutuk kebodohannya. Eun Hee melihat ke belakang, Siwon masih mengejarnya, bahkan hampir menangkapnya. Eun Hee langsung kehilangan akal sehatnya, kakinya terayun menuju ke rumah Youngmin.

Disana! Eun Hee berteriak gembira. Dia berjuang sekuat tenaga. Tinggal menyeberangi jalan yang sedang sibuk karena itu adalah waktu makan siang. Karena akal sehat Eun Hee sudah hilang, dia langsung menapakkan kakinya di ruas jalan raya dan berlari kencang. Menghindari mobil yang berhenti tiba-tiba dan klakson yang berbunyi bergantian.

Tin!

Tin!

Tin!

Juseonghamnida. Juseonghamnida!” Eun Hee berteriak kencang. Beberapa langkah setelahnya, dia langsung berada di depan rumah Youngmin.

Eun Hee segan menoleh ke belakang, sekedar melihat wajah Siwon untuk terakhir kali.

Tidak! Tegasnya pada dirinya sendiri. Cukup sampai disini Eun Hee mengasihani dirinya. Cukup sampai disini Siwon kembali namun untuk menghancurkan hatinya. Cukup!

Tangannya terangkat, bermaksud mengetuk pintu. Tapi, terhenti karena sesosok tubuh yang sudah dia harapkan membuka pintu di depannya.

“Eun Hee noona..”  Youngmin terkejut. Namun Eun Hee langsung menubruk Youngmin dan masuk ke dalam rumah.

“Hosh hosh hos. Heehhh-aaahhh…” Eun Hee mengatur nafasnya kepayahan. Youngmin tidak banyak bicara. Dia segera menutup pintu dan mengusap punggung Eun Hee. Bermaksud meredakan kesulitannya bernafas.

Ruang tamu Youngmin menjadi dipenuhi oleh dengusan dan nafas Eun Hee. Beberapa saat kemudian, Eun Hee kembali normal. Dia menatap Youngmin dan tersenyum sedikit, senyum yang lebih mirip seringai sedih di mata Youngmin. Tapi, lelaki itu tahu diri. Dia menunggu Eun Hee tenang.

Youngmin membimbing Eun Hee ke sofa dan mendudukannya. Eun Hee segera melepas headset dan meletakkan iPod-nya di atas meja.

Noona, aku buatkan minum dulu ya. Kau terlihat hampir mati.” Eun Hee mengangguk pelan. Kata-katanya masih tercekat. Tertinggal dimana Siwon memeluk perempuan tadi.

Youngmin yang sedang membuatkan minuman untuk Eun Hee di dapur merenung. Hari ini dia memang membatalkan latihannya di Starship Entertainment, lagi pula, dia belum mengambil libur bulan ini. Entah kenapa, dia terus membayangkan Eun Hee dan perasaan anehnya pada perempuan yang lebih tua darinya itu.

Benar saja, saat dia sedang mengerjakan PR di ruang tengah, suara klakson di jalan raya berbunyi nyaring. Meski Youngmin sudah terbiasa, kali ini membuatnya kaget. Dia kira ada kecelakaan saat itu. Dia langsung berlari ke ruang tamu dan menyingkap tirai. Namun, dia kembali terkejut saat didapatinya Eun Hee berlari bagai orang kesetanan dan menyebabkan kemacetan massal. Ada sebuah wajah yang sama berantakannya di belakang Eun Hee, Youngmin merasa pernah melihatnya, namun dia lupa dimana. Pikiran Youngmin langsung kalut. Dia yakin ada sesuatu yang disembunyikan Eun Hee.

Youngmin mengangkat nampan berisi mint tea dan air putih untuk Eun Hee. Dapur yang memang menghadap langsung ke ruang tamu, memberi akses pada Youngmin untuk mengamati Eun Hee. Perempuan yang sebelumnya selalu tersenyum dan tertawa dengan matanya itu menunduk dalam. Youngmin bukannya tak tahu, mata Eun Hee meredup. Seakan harapan hidupnya hilang. Padahal, Youngmin lah yang ingin menjadi harapan hidup Eun Hee.

Noona, kenapa kau tak pernah memberiku kesempatan? Kenapa kau hanya memberiku kesempatan untuk melihatmu tersenyum dan tertawa? Saat aku tahu kau juga melakukannya dengan lelaki lain. Aku ingin menjadi yang berbeda, Noona. Youngmin berkata dalam hati.

Noona, ini minumnya. Kau suka mint tea, kan?” Youngmin menyodorkan secangkir the pada Eun Hee. Gadis itu mendongak dan kembali tersenyum. Semakin mengiris hati Youngmin. Dia membenci senyuman Eun Hee yang ini. Seolah memberitahu bahwa besok dia akan mati.

Gomawo, Youngmin-ah.” Balas Eun Hee. Dia menyesap teh pelan. Merasakan kehangatan menjalari sekujur tubuhnya. Namun tidak hatinya. Hatinya masih membeku di luar sana. Youngmin berjongkok di depan Eun Hee.

“Kau tidak latihan hari ini?” Tanya Eun Hee mencairkan suasana.

Youngmin bergeram pelan. Entah mendapat kekuatan darimana, dia langsung berkata. “Bisakah kau  jangan berakting seolah semuanya baik-baik aja?”

Eun Hee kembali terkejut. Tidak menyangka Youngmin akan mengatakan ini. Sebelum dia sempat menjawab, tiba-tiba seseorang menggedor pintu rumah Youngmin.

“Eun Hee-ah! Tolong biarkan aku masuk. Aku harus menjelaskan semuanya!” Suara yang sangat dikenal Eun Hee, suara yang dulu mengatakan bahwa dia mencintainya, Siwon. Eun Hee menutup telinganya. Sia-sia lelaki itu kembali, hanya mengingatkannya pada pelukan Siwon dengan perempuan itu.

“Kamu mau aku buka pintunya?” Youngmin berkata hati-hati.

“Jangan! Biarkan saja dia.” Bisik Eun Hee. Dia takut jika harus berbicara lebih keras, pertahanannya akan jebol dan dia akan menangis di depan Youngmin. Cukup satu orang yang melihatnya di keadaan paling buruk, lelaki yang juga dulu mencintainya. Dia bergeming saat Eun Hee mengemis untuk tidak meninggalkannya.

“Eun Hee-ah. Wanita itu bukan pacarku. Dia Sooyoung. Kamu ingat, kan? Aku hanya menghiburnya. Crap. Eun Hee, tolong, buka pintunya untukku. Agar semuanya selesai. Agar kita tidak perlu sama-sama sakit seperti ini.” Siwon menyambung rengekannya.

Tangan Eun Hee mengepal. Berani-beraninya Siwon mengatakan ‘selesai.’ Setelah semua yang telah dilakukannya. Penjelasannya tidak akan mengubah apa-apa. Dia tidak menjelaskan apapun saat mereka harus berpisah.  Sekarang, setelah lukanya terlanjur bernanah, Siwon baru datang? Itupun didahului dengan adegan mesranya dengan Sooyoung. Eun Hee merasa harus melakukan sesuatu.

Tiba-tiba, Eun Hee berdiri. Youngmin sedikit terjengkang ke belakang.

“Noona…..” Youngmin berkata pelan. Dia yakin Eun Hee akan kembali menjadi milik lelaki-entah-siapa-itu dan melupakannya. Hatinya terbelah. Hatinya berdarah. Dia harus kehilangan Eun Hee sebelum memilikinya.

Eun Hee mendengar panggilan Youngmin dan berbalik sebentar. Matanya menatap dalam ke mata Youngmin, mencari sepotong cinta yang akhirnya dia sadari, tepat ketika dia melepaskan cintanya pada Siwon. Dan, disana. Dia melihatnya. Ada harapan yang ditawarkan Youngmin. Ada dunia tempat dimana dia tidak harus lagi menangis. Eun Hee tersenyum, senyumnya yang berbeda, seperti diharapkan Youngmin.

Gadis itu membungkuk dan mencium kilat bibir Youngmin.

“Aku harus menyelesaikan sesuatu. Saat aku kembali, kita juga harus menyelesaikan urusan kita.” Bisik Eun Hee di telinga Youngmin.

Secepat kilat, Eun Hee pergi ke pintu depan dan langsung membukanya. Siwon masih menunggu dengan raut muka cemas. Namun, langsung lega ketika Eun Hee membuka pintu.

Untuk beberapa detik, Eun Hee masih terpesona. Siwon sudah melepaskan kacamata hitam dan syal hitamnya. Kali ini dia hanya memakai mantel coklat. Mukanya pun polos tanpa apapun. Eun Hee menguatkan dirinya. Dia harus mengakhiri lembaran hidupnya yang ini.

“Eun Hee-ah. Kau harus mendengar penjelasanku. Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Sooyoung. Aku hanya menghiburnya. Pacarnya memutuskan hubungan mereka.” Siwon menjelaskan dengan terbata-bata. Sementara itu, Eun Hee hanya berdiri tenang.

“Hanya itu penjelasanmu? Bagaimana dengan apa yang kau lakukan denganku satu tahun lalu?”

Satu tahun aku menanggung sakit ini dan kau hanya menjelaskan apa yang terjadi satu jam yang lalu?

“Maaf, aku tidak memberikan penjelasan sejak dulu.”

“Dimaafkan.” Balas Eun Hee. Merasa di atas angin.

Siwon kebingungan. Bukankah seharusnya Eun Hee menamparnya atau paling tidak menjambak rambutnya? Tapi, dia tetap melanjutkan. “Hubungan kita diketahui manajerku. Dan dia tidak memperbolehkanku berhubungan lagi denganmu. Dia mengancam akan segera mengakhiri karier ku jika aku tidak menuruti permintaannya. Maaf, ku kira mampu memperbaiki segala hal setelah itu. Ku kira aku mampu mendapatkanmu kembali. Ternyata, aktivitas Super Junior makin padat dan aku tidak bisa apa-apa. Aku tidak memberimu penjelasan, karena aku takut kau menuduhku jahat.”

Tapi, kau lebih jahat karena tidak memberiku alasan. Aku akan terus mencintaimu walau kau mengatakan lebih memilih kariermu daripada aku. Tapi, kau malah berpacaran dengan Tiffany eonnie. Aku tidak bisa menerimanya. Eun Hee menarik nafasnya. Pertahanannya hampir jebol.

“Maaf, maaf, maaf. Aku tahu tidak akan cukup. Aku tidak tahu bagaimana harus mengembalikan semua ini. Aku masih mencintaimu, Eun Hee-ah…” Siwon menunduk dalam.

Oppa, ku rasa aku memang bukan untukmu.” Putus Eun Hee akhirnya. Harus ada yang mengakhiri semua ini.

“Kita hanya menyakiti satu sama lain jika semua ini dilanjutkan. Maaf, aku sudah terlanjur sakit. Tapi, aku sudah memaafkanmu. Aku mengerti alasanmu. Waktu tidak bisa diputar kembali. Oppa, why don’t you go your way? I’ll go mine. Live your life, and I’ll live mine. You’ll do well and I’ll be fine. Cause we’re better off, separated.” Eun Hee tersenyum. Senyum tulusnya untuk Siwon. Dia melepaskan waktu yang dulu membelenggunya. Dia melepaskan cinta yang hanya menyakitinya. Dia membiarkan waktu kembali merunut takdirnya sendiri atas dirinya.

Tiba-tiba saja Eun Hee mendekat dan memeluk Siwon.

“Aku pernah mencintaimu. We shared something very magnificient before. Thank you for those time. Thank you for the lesson about broking heart. Terima kasih karena dulu kau pernah membuatku bahagia…”  Eun Hee berkata dalam dekapan Siwon. Lelaki itu membalas mendekap Eun Hee. Tanpa disadarinya, dia menangis. Ternyata, dia memang harus kehilangan Eun Hee.

You will always be my angel….” Siwon melepaskan dekapannya. Mereka berdua tersenyum. Simpul di hati mereka terlepas sudah. Kini, mereka bebas menautkannya pada yang lain. Siwon berbalik dan menuju ke mobilnya. Eun Hee tersenyum bahagia.

Lalu, dia teringat,masih ada urusannya yang belum selesai di dalam.

That was my first kiss. That was my first kiss. That was my first kiss.” Youngmin terdengar seperti merapal mantra. Eun Hee terkekeh geli, dia pasti membuat Youngmin kaget.

“Benar, Youngmin-ah. Itu adalah ciuman pertamamu…” Balas Eun Hee. Dia segera duduk di depan Youngmin.

Noona, apa maksudmu……?” Youngmin takut melanjutkan kata selanjutnya.

“Benar! Kamu tahu kan maksudku? Aku memberimu ciuman pertama. Maka, akulah yang berhak menjadi pacarmu.” Eun Hee menuntaskan kalimatnya. Dia melihat pipi Youngmin yang sontak memerah.

“Apa tadi adalah pertanyaan?” Youngmin masih heran.

“Bukan, tadi itu pernyataan.” Balas Eun Hee jahil.

“Bagaimana jika aku tidak mau?”

“Tidak mungkin. Kamu juga menyukaiku, kan?”

Youngmin tersenyum malu. Tanpa disadarinya, telunjuknya menyentuh bibirnya yang tadi menempel pada bibir Eun Hee.

“Tapi, tidak etis kalau kau yang melakukan ini pertama kali?” Youngmin mencebik lucu. Tidak menerima fakta perempuan yang menyatakan cinta.

“Lalu, kamu mau bagaimana?” Eun Hee bertanya polos.

“Umm, noona tunggu sebentar ya…” Youngmin langsung berlari meninggalkan Eun Hee, menuju kamarnya. Beberapa detik kemudian, dia kembali lagi dengan membawa secarik kertas dan menuju ke piano.

Noona, duduk disini.” Youngmin menepuk tempat di samping kursinya. Eun Hee menurut.

“Aku menciptakan lagu untuk Noona. Dengerin ya..” Youngmin berkata ceria dan membuka penutup piano. Eun Hee menahan nafas.

Dentingan demi dentingan nada terdengar dari piano. Melodi demi melodi disenandungkan dari mulut Youngmin. Eun Hee hampir meneteskan airmatanya.

If I choose where I die. Then I will die when the full moon lie. For she has given me light. On the dark days of my life.

If I choose when I die. Then I will die when the skies cry. For she has shared tears with me. When all the joy and grin flee.

If I choose how I die. Then I want a painful death. To let my soul feel the wrath. Which has caused pain in my heart.

If I choose why die. Then I shall die because not being by your side. For you have all of my love. That I can approve.

Ting…..

Nada berakhir. Lagu berakhir. Ditutup dengan airmata haru dari Eun Hee.

“Youngmin-ah… Lagunya bagus sekali. A-Aku.. Aku tidak menyangka….”  Eun Hee terbata-bata.

Noona, from now till on, I want you to be the reason why I live…..” Youngmin berkata polos. Namun bagi Eun Hee, inilah cinta sejati. Dia langsung menggangguk kecil dan kembali menghadiahi Youngmin ciuman. Ciuman pertama dan selanjutnya Youngmin akan menjadi milik Eun Hee.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s