[HEART] Yang Hilang

Akhir-akhir ini, tiap satu adegan muncul di kepalaku, biasanya yang harus ku lakukan adalah menguntainya dengan kata, tidak hanya sebuah imaji dalam bayanganku. Tiap adegan yang muncul adalah seseorang yang bicara padaku, atau sebuah film dan aku lebur di dalamnya, saat itulah waktu serasa tak berarti. Kumpulan kata itu tiba-tiba saja berubah menjadi puluhan paragraf, lalu halaman, lalu jumlah buku. Dan aku hanya bisa terpana saat ku baca ulang naskah itu, benarkah aku yang membuatnya?

Setelah ku pikir, diriku dengan dunia utopisku adalah sebuah tempat angan mengawang tanpa cengkeraman takdir, hanya tanya tanpa batas. Dengan tanya itulah, ku rangkai apa yang akan terjadi pada tokoh-tokohku. Haruskah ku buat mereka menangis? Karena rindu? Rindu pada siapa? Tanya tak berkesudahan itu memang tidak akan selesai dan menuju pada penyelesaian masalah. Karena membuat sebuah cerita bukannya menyimpulkannya di akhir halaman, saat cerita itu berakhir, disanalah pertanyaan terbesar timbul. Pertanyaan apakah itu, Anda yang menentukannya.

Sepertinya kali ini aku berperan sebagai penulis yang sangat expert. Sebaliknya, aku hanya seorang manusia yang tak tahu harus bertanya pada siapa, karena itu aku menciptakan diriku sendiri dan berbincang dengannya, lalu menulisnya. Jika boleh dibilang, semua tokohku adalah aku.

Namun, ada yang berbeda. Perbedaan ini bukanlah perbedaan yang biasanya mampu ku abaikan dan ku anggap hanya sebuah bumbu. Ada yang benar-benar berbeda. Serangkaian aktivitasku yang biasanya mampu menetralisir segala rasa tidak nyaman, kali ini kebal dibuatnya. Aku malah semakin tidak tahu apa yang hilang itu.

Ku sadari, seharusnya aku mencari apa yang hilang. Yang ternyata mengendalikan cara berpikirku dulu. Bagaimana ku menyikapi sesuatu. Aku tak bisa mengatakan apa itu hal baik, atau buruk. Atau justru sekarang lebih baik atau lebih buruk dari itu.

Aku ingin sekali menulis. Tapi begitu tanganku hendak menorehkan pena di atas kertas atau jari-jariku mulai melayang lalu menari di atas tuts keyboard, semua itu hilang. Seakan dia ditarik kembali oleh sesuatu dan aku tidak mampu lagi menggapainya. Adegan itu tetap ada. Namun aku tak bisa menulisnya dengan kata yang lain.

Sungguh tidak nyaman berada dalam kondisi ini. Seperti mimpiku dirampas oleh orang lain. Apa ini semacam writer’s block? Yang disebabkan oleh tekanan? Well, mungkin. Begitu banyak hal yang serasa menekanku dan melesak ke dalam kepalaku. Hingga tak ada ruang lagi untuk berlari bebas dalam alam mimpiku.

Atau, itu karena aku tak bisa lagi melakukan sesuatu untuk diriku sendiri? Mungkin. Aku ingat kapan terakhir kali menulis sebuah cerita dan benar-benar terlibat di dalamnya. Walau dengan tata bahasa yang hancur dan menyakitkan mata para editor, setidaknya aku benaar-benar menikmati proses itu. Bahkan aku menjadi autis dengan keadaan sekitar. Saat aku mulai berinteraksi dengan tokoh-tokohku itu, dunia nyata menghilang. Aku seakan ada disana. Merasakan semua yang mereka rasakan. Tidak ada target atau ekspektasi apa-apa, aku menulis, karena aku ingin.

Kini, mungkin aku terlalu dibutakan dengan pujian. Dan ingin meraihnya lebih banyak lagi. Lalu aku menulis dengan selera pasar. Menunggu dengan berdebar apa ada yang membaca tulisanku? Ternyata, tidak ada. Tulisan dengan tata bahasa yang tidak buruk, konflik yang dipikirkan sedemikian matang, kata yang romantis sentimentil ternyata tidak mendapat respon.

Apa mulai dari saat itu aku mundur? Merasa tidak dihargai? Dan alam bawah sadarku memerintahkan segala sistem untuk menarik inspirasiku. Karena ada kemauan untuk tidak lagi disakiti disini.

Jika iya, aku ingin disakiti lagi. Walau tanpa tanggapan. Ternyata tidak menulis apapun lebih parah dari berbagai resiko menjadi penulis.

Aku ingin tanda tanya dan sekelumit kata itu kembali hadir. Aku mengenali tandanya. Apapun yang sedang kau lakukan, saat sebuah scene muncul, hanya membutuhkan satu kata, dan kau akan membuatnya tanpa henti. Aku rindu perasaan itu. Adrenalin akan terpacu. Waktu menetes lambat. Indra akan ribuan kali lebih sensitif. Siap menemukan apa saja yang kiranya akan menjadi inspirasi.

Izinkan aku bertanya, apa yang harus ku lakukan?

Sign,

Dylandia Elfyza

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s