[FANFICTION] Eyeing The Mind – Chapter 5 (One Red Eye)

CHAPTER V

ONE RED EYE

Main Cast: Dyland (OC), Jaejoong, Yunho, Yoochun, Junsu, Changmin

Other Cast: Rose (OC)

Genre: Supernatural/Mystery/Romance

Rated: T/PG-13

Disclaimer: I only own the plot and story. They belong to themselves.

Masih di Jakarta, 18.00 WIB

JYJ’s Room

Yoochun POV

“Junsu, kartunya ada padamu kan?” Aku meminta kartu kamar kami pada Junsu yang sudah setengah terpejam di pintu masuk. Butuh waktu beberapa detik untuknya mencerna bahwa dia belum sampai di tempat tidur.

“Oh, iya. Tunggu sebentar.” Junsu merogoh-rogoh kantong bajunya. “Ah, ini dia!”

Aku segera mengambil kartu yang ada di tangannya dengan tergesa-gesa. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan Dyland.

CEKLEK..

Pintu terbuka. “Jaejoong hyung… Kami pulang..” Aku berteriak. Perasaan ku saja, atau memang tidak ada denyut kehidupan di kamar ini? Jangan-jangan Jaejoong hyung sudah…. Ah, aku menepis pikiran itu. Tidak mungkin dia berbuat macam-macam dengan Dyland. Aku sudah mengancamnya tadi.

“Hyung.. Aku tidur dulu ya.” Junsu langsung pergi ke kamarnya tanpa melihat ke arahku lagi. Aisshh, anak itu, benar-benar.. Apa dia lupa ada seorang yeoja yang butuh perhatian disini? Tapi, ku pikir tidak apa-apa. Paling tidak, saingan ku untuk merebut hati Dyland berkurang.

Tiba-tiba, aku melihat tangan yang terkulai di sofa. Apa itu.. Jaejoong hyung? Perlahan, aku mendekatinya. Benar saja, Jaejoong hyung tengah tertidur pulas. Dia pasti sangat lelah. Dyland sempat demam sebelum ku tinggalkan tadi. Berarti, dia sudah bangun..? Tanpa berpikir apa pun lagi, tubuhku langsung melesat ke kamar tempat gadis itu terakhir ku tinggalkan…

Lho? Kok gelap sih? Aku kebingungan saat sudah memasuki kamar Jaejoong hyung.

KLEK..

Lampu menyala. Aku tersenyum puas sedikit. Aku paling tidak suka dengan kegelapan.

Tapi, Dyland, dimana gadis itu? Bisikku setelah mendapati hanya tumpukan selimut yang ada di atas ranjang.

Lalu, di depan jendela hotel yang sebesar layar bioskop itu, aku melihat Dyland terbaring lemah. Mustahil dia berbaring dengan sengaja. Jangan-jangan… Aku berlari ke arahnya. Hampir saja melompat.

“Dyland. Hei. Wake up…” Suara ku sarat dengan kecemasan. Dyland yang ada di pangkuan ku terlihat sangat pucat. Aku semakin takut saat ku rasakan suhu tubuhnya sangat tinggi. Ah, Jaejoong hyung… Bagaimana bisa kau mengatakan dia baik-baik saja saat tubuhnya terasa terpanggang seperti ini…

Jantungku memompa dengan kencang. Aku menggendong Dyland ke ranjang. Ku tutup rapat-rapat dia dengan selimut tebal. Aigoo. Dia berkeringat dingin. Aduh, apa yang harus ku lakukan…?

“Jae…..” Ku dengar mengatakan sesuatu dalam igauannya. Apa? Dia mengatakan ‘Jae’? Jaejoong maksudnya? Tanpa ku sadari, hatiku sedikit sakit saat dia memanggil nama yang bukan namaku.

Didorong oleh keinginan aneh dan gila, aku duduk di sampingnya. Ku raba keningnya perlahan. Tidak ku perdulikan panas yang langsung menyengat kulitku. Ah, Dyland. Dibakar di neraka pun aku rela asal kau ada disana.

“Gwencana-yo, Dyland-sshi. Aku ada disini…” ujarku lembut. Aku tidak peduli dia menganggapku Jaejoong atau siapapun. Aku, hanya ingin ada disini. Sebentar saja…

Hurt…..” Bisiknya lirih hampir tidak terdengar. Aku mulai diserang kepanikan lagi.

“Tunggu sebentar. I’ll get u a help..”

Belum sempat aku beranjak dari tempat tidur, Dyland langsung menahan tanganku dengan keras.

Hold on.” Entah siapa yang tengah ada dalam mimpinya kini, aku yakin orang itu sangat berharga. Terasa dari nada suaranya yang benar-benar memohon. Aku terpaku. Ada semacam percikan saat tanganku bersentuhan dengan tangannya. Percikan yang entah kapan terkahir kali ku rasakan.

Dyland tetap terpejam. Tapi ekspresinya benar-benar tidak tenang. Aku kembali ke tempatku. Kali ini, aku eratkan peganganku di tangannya. Seharusnya, aku membangunkannya. Tapi, ada semacam tuntutan aneh dalam pikiranku yang membiarkannya begini saja.

Dia terlihat sangat lemah dan terluka. Aku tidak tahu apa yang baru saja terjadi padanya. Namun, aku menyesal tidak ada disana saat Dyland kesakitan seperti ini. Sekarang, terlambat untuk menyembuhkannya.

Entah digerakkan oleh setan mana, tanganku bergerak menelusuri wajahnya. Ada semacam sensasi aneh saat aku melakukannya. Seakan pikiran kami bersatu. Seakan, ada medan magnet yang membuatku harus menempel padanya. Aku tidak bisa menghentikan sentuhanku saat tanganku mulai bergerilya di leher jenjangnya. Denyutan nadinya terasa lemah. Tapi, aku merasa.. Denyutan itu juga milikku.

Aku tidak puas hanya merasakan denyutan, aku… ingin merasakan detakan. Dan detak berasal dari dada. Karena itulah tanganku sekarang mulai menelusuri dadanya yang ditutup oleh tank top merah. Keringat yang diproduksi oleh kelenjar tubuhnya membuat tank topnya sedikit basah. Aku benar-benar harus mengontrol emosiku pada makhluk menggoda yang ada di depanku ini.

Perlahan tapi pasti, aku menemukan detak jantungnya.

Dug… Dug…. Dug… Dug… Mungkin, aku sudah gila. Tapi, aku hanya mendengar dan merasakan detak jantungnya. Aku tidak bisa berpikir tentang hal lain lagi. Detak jantungnya di bawah telapak tanganku, terasa seperti rumah…

Aku menurunkan kepalaku dan mendengarkan detak itu dengan telingaku sendiri. Ku peluk dia dengan kedua tanganku yang sekarang sudah bebas.

Hebat. Rasanya sungguh hebat. Akumerasa berada di depan sebuah tungku. Hangat. Nyaman. Aku merasa Dyland tidak sakit, dia…..justru tengah menyembuhkan dirinya sendiri. Hah? Pikiran macam apa ini? Sudahlah, untuk sekali ini saja, untuk Dyland, karena Dyland, aku ingin berpikir seperti orang gila…

JAEJOONG POV

Sekali lagi, aku berada di tempat yang sama. Lorong-lorong panjang gelap dengan lantai hitam yang anehnya terasa seperti rumah. Pintu di samping kanan dan kiriku. Teriakan-teriakan tidak manusiawi namun terdengar seperti melodi memabukkan yang membuatku setengah mati ingin mencicipinya. Udara di sekeliling ku terasa terlalu padat untuk dihirup.

Seingatku, aku mendengar teriakan Dyland beberapa saat yang lalu. Aku tak mengerti kenapa dia terlihat sangat kesakitan. Tapi, aku hanya menjauh. Sekuat apapun keinginan ku untuk menolongnya. Ada sesuatu yang membuatku melakukan itu, sesuatu yang juga membuatku berada di tempat ini. Ku rasa.

Seperti sebelumnya, aku menyusuri koridor panjang yang terasa asing sekaligus akrab dengan suatu bagian kecil dalam diriku. Sekuat apapun aku ingin menolehkan kepalaku ke belakang, aku tidak pernah bisa melakukannya. Ya, berada di tempat ini setengah mati membuatku ingin lari, namun, juga ingin tinggal selamanya.

Pelan tapi pasti, aku melihat kabut tersibak dan menampakkan sebuah mata dengan pupil berwarna merah darah dikelilingi iris hitam pekat. Mata yang bergerak dalam irama ritmis serta membuatku ingin menatapnya tanpa henti.

Aku tidak mampu lagi mengenali waktu. Aku tidak mampu mengingat segalanya. Seakan segala yang ku punya terletak pada pendar emas mata itu. Pendar yang terlihat kejam, angkuh, dan dingin. Alasan yang cukup kuat untuk membuatku memalingkan pandanganku. Seharusnya.

Tapi, tidak, kaki ku terpaku tiba-tiba. Skenario yang terus terulang tiap aku berada di tempat ini. Seakan aku hanyalah aktor film yang dimainkan oleh sutradara tak kasat mata.

Pupil merah itu membesar seiring dengan iris hitamnya yang berputar. Pendar emasnya semakin bergerak gila-gilaan di sekeliling mata itu. Hampir sama dengan sebuah tarian pemujaan. Aku tahu, setelah ini aku akan kembali terbangun dan mendapati diriku di tempat dimana aku tertidur sebelumnya.

Namun, kali ini, mata itu membuat suatu kejutan untukku.

Pendar emas itu melayang ke arah ku. Tidak lagi dengan gerakan teratur. Melainkan dengan gerakan berbahaya dan cepat. Menuju ke jantungku. Aku tersentak. Tapi aku tetap tidak bisa menggerakkan kaki ku. Sial.

“Euughhh….” Pendar emas itu bukan lagi sebuah jalinan cahaya, namun terasa seperti makhluk hidup yang meracuni darahku dengan dendam. Sesuatu yang sudah ku relakan dulu kini menyeruak kembali ke permukaan. Memaksa ego ku yang dulu tertidur mengambil seluruh tempat di hati ku yang semula sudah pulih.

Rasa sakit itu terasa seperti sebuah perintah yang sialnya di respon oleh tubuh lemahku. Perintah, untuk kembali merasakan dendam itu pada dia yang sudah menelantarkan kami. Dia, yang sudah pergi tanpa menoleh bahkan saat kami amat membutuhkan uluran tangannya.

Aku mulai kehilangan diriku yang sebenarnya seiring dengan gilanya makhluk hidup itu dalam tubuhku. Kini, aku merasa dia mulai menjalari otakku. Menjelajahi tiap ingatan pahit maupun manis. Ak-aku, merasakan gerakannya yang tidak biasa.

“AKKHH, Tid-tidak. Jangan…” Aku berbisik dan memohon entah pada siapa. Berusaha mencegahnya merubah kenangan manis ku bersama mereka menjadi sebuah mimpi buruk. Dan sialnya, kenangan buruk malah menjadi bencana yang terus-menerus ku ingat. Aku tidak berdaya menghentikan kinerja makhluk tak tahu diri itu. Untaian kisah ku bersama mereka berempat. Yunho, Yoochun, Junsu, dan Changmin.

Kepalaku dipenuhi dengan kilasan peristiwa manis sekaligus menyakitkan. Sakit, karena sebentar lagi, Dia akan merubah semua itu menjadi mimpi buruk yang harus ku lupakan. Walaupun aku sudah berkali-kali mengutuk diriku sendiri karena harus menyeret Yoochun dan Junsu sehingga mereka harus bergabung denganku, kali ini, aku mengutuk diriku untuk alasan yang sama sekali berbeda.

Andai aku mengabaikan keanehan di SM Entertaiment. Seandainya aku lebih percaya pada Yunho dibandingkan alasan konyol ku meninggalkan agensi kami itu. Ya, pertama kalinya aku menyadari betapa konyolnya alasan itu. Ironisnya, aku harus membayar kekonyolan itu dengan harga yang sama sekali tidak setimpal. Atau mungkin setimpal, jika dilihat dari kekecewaan Yunho dan Changmin saat kami tinggalkan.

Tapi, aku masih ingin memperbaiki semua itu. Aku masih tidak ingin kehilangan kenangan manis saat kami masih berlima. Sapaan di pagi hari setelah malam yang melelahkan oleh padatnya jadwal kami. Berbotol-botol minuman bersama obrolan-obrolan tidak bermutu. Gaduhnya apartemen saat Changmin berteriak-teriak kelaparan dan Junsu mengutuk apapun karena dia kalah di salah satu game favoritnya. Yoochun dengan denting pianonya mengisi hari-hari kami. Satu lagi, orang yang ku rasa paling berarti bagi kami semua. Termasuk untukku. Lelaki yang sebenarnya rapuh walau aku mati-matian berusaha kuat untuk mereka. Tapi, orang ini adalah satu-satu nya orang yang tahu serapi apapun aku menyembunyikan perasaan ku. Entah bagaimana cara dia memaksaku bercerita dan mencurahkan ssegala perasaan ku. Mungkin melalui senyum nya. Melalui caranya mendengarkan. Bahkan mungkin hanya melalui matanya. Tatapan yang terlihat sangat tulus dan penuh dengan cinta. Sampai kau merasa tubuhmu menggigil karena perasaan merasa disayangi untuk yang pertama kalinya.

Aku baru menyadari. Emosi yang terpancar dari tatapan itu berubah pada saat-saat terakhir kami bersama. Tidak ada lagi cinta. Rasa sayang. Bahkan secuil rasa peduli. Dia menatapku dengan dingin. Sebuah sisi yang tidak pernah ku lihat dari seorang Yunho. Tatapan menusuk itu memang hanya berlangsung beberapa detik. Namun, untuk pertama kalinya aku menggigil karena satu hal yang sama sekali berbeda dari sebelumnya.

“Yunnie…” Aku memanggil nama itu untuk pertama kalinya selama setahun kami berpisah. Entahlah. Mungkin aku berharap nama itu menjadi semacam mantra yang bisa melawan kekuatan tak kasat mata dalam tubuhku ini. Harapan yang jelas tidak akan terwujud. Sama dengan besarnya keputusasaan dan kristal yang meluncur jatuh di pipiku. Ya, ini juga pertama kalinya aku menangis sejak aku berjanji untuk menghentikan kebiasaan yang hanya dilakukan oleh kaum perempuan itu.

“ANDWAE…!” Teriak ku frustasi saat ku rasakan makhluk itu mulai menghapus satu-persatu memori ku.

“Tolong. Hentikan. Siapapun kamu. Hanya itu yang aku punya.”

.

.

.

“Jae….” Bisikan itu tidak berasal dari makhluk itu. Emosi dari bisikan itu jelas sangat berrsahabat dan hangat. Aku tersentak. Aku mengenali suara ini. Namun, itu bukan sahutan darinya. Dari dia yang ku harapkan ada.

Bisikan itu mulai merasuki diriku. Sama seperti pendar emas tadi. Namun, aku tidak kuasa melawannya. Bukan karena aku tidak berdaya. Tapi, karena aku tahu dialah yang sebenarnya ku tunggu untuk menyelamatkanku.

Sentuhannya di saraf ku terasa akrab. Sejenak, aku lupa bahwa ingatan ku tengah dipreteli oleh makhluk sialan tadi.

Kelupaan yang hanya berlangsung sesaat. Karena tiba-tiba rasa sakit yang berkali lipat dari sebelumnya kembali menyerangku….

“Akh…..” Aku bahkan hanya bisa tercekat lirih. Makhluk itu mengamuk dalam otakku. Mengirimkan beribu setruman rasa ngilu ke seluruh penjuru tubuhku sampai ke sel-sel terkecilnya.

Tapi, ada suatu gerakan kecil dan lembut yang untungnya dapat terdeteksi dari kesibukanku ‘menikmati’ rasa sakit ini. Gerakan yang merayap ke otakku. Tempat makhluk sialan tadi beraksi..

“Mmppphhhhh…” Aku menggeram. 2 kekuatan bertarung dalam pikiranku. Kekuatan yang saling membelit dan menjatuhkan satu sama lain.

Hold on, Jae….” Bisikan itu lagi. Datang dari salah satu petarung dalam pikiranku. Aku tidak bisa mencerna apapun. Seluruh bagian dalam tubuhku mati rasa.

.

.

.

Entah berapa lama setelahnya, salah satu kekuatan itu mundur dan melemah. Kenangan dan ingatan kembali. Rasa sakit ku berangsur pulih. Aku membuka mata dan mendapati sesosok cahaya biru diselimuti ribuan partikel berwarna putih. Untuk pertama kalinya aku menjejakkan kakiku di tempat terkutuk ini, aku terpana…. Kesempurnaan di depan ku tidak bisa dilewakan begitu saja… Sosok itu melayang ke arahku. Cahayanya… bahkan bisa ku cium, ku dengar dan ku rasakan…

Look at the darkness, Jae….”

^EyeingTheMind^

DYLAND POV

“Eugghh…” Kepalaku serasa habis dihantam oleh godam raksasa dan ditusuk oleh ribuan pisau belati.

“Hah? Yoochun?” Aku menjengit saat kurasakan sebuah tangan melingkar di sekeliling tubuhku. Seakan mencoba menjagaku dari sesuatu yang jahat. Atau mungkin, berusaha mencari kekuatan?

“Umm, Yoochun..” Panggilku pelan.

“Mmhh…” Yoochun berbisik tidak jelas dalam tidurnya. Saat itulah aku sadar perlu perjuangan untuk menyingkirkan tangan dari tubuhku ini.

Percayalah, perlu perjuangan melakukan itu setelah pertarungan gilaku dengan kekuatan misterius dalam mimpi Jaejoong barusan. Apalagi setelah kusadari ada Yunho disana. Ya, Yunho juga ada dalam pikiran Jaejoong. Entah melakukan apa. Tapi gelombang yang kurasakan dari pikirannya, err, kurang bersahabat.

Ada kekuatan, tidak, ada sesuatu atau seseorang yang mengontrol pikiran Jaejoong saat dia bersamaku tadi sore. Apa hubungannya ‘mata satu’ itu dengan kekuatan gelap? Aku tidak melihat titik terang sama sekali.

Sekujur tubuhku masih kaku, kecuali kepalaku yang untungnya masih bisa ku gerakkan ke samping dan menatap muka tampan Yoochun.

Bisakah kalian mempercayai ini? Sekarang, aku bersama Yoochun! Tidak hanya itu, tangannya berada di tubuhku. Dan dengan ekspresi damainya itu, aku yakin para Cassie rela memberikan hidupnya demi berada di posisi ku sekarang. Tapi, hey! Aku juga harus membayar. Dengan kehidupan normalku. Dengan kekuatanku. Dengan rasa aneh yang mulai tumbuh di dadaku akibat perlakuan Jaejoong padaku tadi sore.

Aku menggerakkan tangan kiri ku dengan susah payah. Menyerah pada dorongan untuk menyentuh muka mulus Yoochun.

“Yoochun-ah. Pernahkah kau berpikir, andai saja kau hanyalah seseorang yang normal? Tanpa status artis? Tanpa harus menghibur penggemar mu dan mengorbankan waktu-waktu mu yang berharga?” Aku mengelus pipi kanan Yoochun. Merasakan struktur kulitnya di bawah telapak tanganku. Aku memejamkan mataku. Meresapi panas yang dikeluarkan oleh pori-pori tubuhnya. Ya, aku memang butuh kehangatan sekarang. Setelah dinginnya udara di tempat aneh tadi, sedikit kehangatan adalah kemewahan untukku.

Panas itu mulai menelusup ke seluruh syaraf tubuhku. Mengembalikan keadaan ku dan kekuatan ku. Apa ini karena Yoochun? Atau hanya panas yang dihasilkannya? Atau mungkin, karena kedua-duanya?

Aku membuka mataku. Dan, Yoochun bersinar dalam pandanganku! Bukan sinar pantulan cahaya lampu yang cukup terang di kamar ini. Tapi, sungguh berasal dari tubuh Yoochun. Spektrum cahaya itu menjalin, saling menjerat, saling membelit, dalam sebuah kumpulan warna terindah yang pernah ku tahu. Namun, ada satu warna yang membiusku. Biru…. Spektrum cahaya membentuk suatu warna biru yang keluar masuk dalam tubuh Yoochun.

Tiba-tiba, aku teringat sesuatu…

Flashback

Dyl, ada satu hal lagi yang perlu kamu tahu dari kekuatanmu ini.” Nenek Rose menyambung nasihatnya sejak 2 jam lalu. Aku kembali fokus pada pelajaran kami sebelum sukses tertidur di lantai. Suara merdu Nenek Rose memang mirip dengan nyanyian nina bobo.

Ada beberapa orang.” Nenek Rose membuang nafasnya. Suasana mencekam di kamar sempit ini semakin terasa.

Mereka bisa membantumu. Tapi tidak menyelesaikan misimu. Mereka hanya bisa menyembuhkanmu saat kamu merasa kepayahan dan ingin berhenti.”

Jadi, bisa dibilang mereka adalah temanku? Seperti Ron dan Hermione yang selalu membantu Harry?” Aku menaikkan alisku bersemangat.

Nenek Rose terkekeh dan membelai rambutku. “Berhenti membandingkan kekuatanmu dengan cerita di film-film itu, Dyl. Semua itu tidak nyata.” Aku mengernyit tidak senang.

Lalu, bagaimana aku bisa menemukan mereka?”

Ikuti kata hatimu. Berhenti saat kau merasa kau harus. Jangan paksakan untuk terus berjalan dan menjadi cahaya bagi orang di sekitarmu. Jika kau terus menjadi cahaya, mereka tidak akan bisa menemukanmu. Jadilah gelap, Dyl. Karena orang itu adalah cahaya. Cahaya tidak bisa menemukan sesama cahaya.”

Mereka akan menjadi matahari di malam hari. Lebih terang daripada lentera. Mereka akan memberitahumu lewat cahaya.”

End of flashback

Ja-jadi, salah satu yang disebut Nenek Rose sebagai ‘mereka’ itu Yoochun? Aku bahkan tidak berani mempercayai kebenaran ini.

Tapi, Yoochun menjadi cahaya. Dan aku merasa sembuh setelah menyentuh Yoochun. Setelah berbagi kehangatan dengannya. Aku harus membuktikan asumsi tidak masuk akal ini.

Aku kembali menggerakkan tubuhku. Ajaib! Aku merasa tubuhku seringan kapas sekarang. Rasa sakit itu masih tersisa sedikit. Tapi tetap tidak sebanding dengan rasa sakit sebelum aku menyentuh Yoochun.

Aku beringsut mendekatinya. Berpikir sebentar, lalu menyusup dalam dada hangatnya. Seperti Bella yang mencari kehangatan pada panasnya tubuh Jacob. Tapi, rasa panas ini berbeda… Aku semakin menenggelamkan tubuh ku yang memang lebih kecil darinya. Rasa panas ini, terasa seperti madu di kulitku. Ditambah dengan aroma aneh namun segar, manis dan membius, aroma kebahagiaan dan ketenangan, serta atmosfer indah dan membuatku terlena. Sebuah perasaan yang entah kapan terakhir kali ku rasakan.

^EyeingTheMind^

JUNSU POV

“Hhhh…” Aku kembali mengacak rambut ku kesal. Sudah lebih dari 1 jam aku bolak-balik tanpa tanda-tanda akan tertidur sama sekali.

Dasar cewek ga tau diri. Udah ngambil iPhone Yoochun, ngerepotin Jaejoong hyung, sekarang dia malah tidur di kamar hotel kami. Sial, sial, sial! Kalau ada relevansi kata lebih bagus daripada kata ‘sial’ tadi, aku akan menyemburkan kata itu di depan cewek tadi.

Siapa tadi namanya? Nilon? Sikon? Dion? Selena? *pikunnya Junsu parah banget dah. #digampar Junsu bolak-balik. Ah, Dyland! Benar, Dyland namanya. Namanya aja udah aneh gitu.

“Eerrghh…” Aku menggeram dan segera bangun. Menyerah untuk mencoba tidur.

Aku melangkah ke jendela yang menyuguhkan pemandangan malam Jakarta di sebelah kananku. Berkonsentrasi pada kumpulan lampu yang memanjakan mata.

1 menit..

2 menit..

Ah, kenapa muka Yoochun lagi yang terbayang? Muka Yoochun yang cerah saat membicarakan pertemuannya dengan Dyland. Ekspresi yang tidak pernah ku lihat jika dia tengah membicarakan incarannya. Selama ekspresi cassanova itu masih terlihat, aku tidak perlu khawatir akan kehilangan Yoochun. Tapi, ekspresi itu hilang entah kemana. Aku malah menemukan ekspresi seorang pecinta sejati di muka maupun kerlingan matanya.

Saat itulah aku sadar, aku akan kehilangannya….

^EyeingTheMind^

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s