[FANFICTION] Eyeing The Mind – Chapter 6 (Truth Melody)

CHAPTER VI

TRUTH MELODY

Main Cast: Dyland (OC), Jaejoong, Yunho, Yoochun, Junsu, Changmin

Other Cast: Rose (OC)

Genre: Supernatural/Mystery/Romance

Rated: T/PG-13

Disclaimer: I only own the plot and story. They belong to themselves.

JAEJOONG POV

“Kok aku bisa ada disini sih..?” Aku memandang sekeliling dengan bingung. Tidak yakin dengan ingatan terakhir yang melintas di benakku. Semuanya seakan terjadi hanya beberapa detik yang lalu.

Seingatku, aku baru saja menyaksikan eksotis nya tubuh Dyland diselubungi cahaya senja dan mata coklatnya yang bersinar ramah padaku. Lalu, setelah itu? Sungguh, aku tidak bisa mengingat apapun. Ada bagian yang kosong dan tidak terisi apapun di memori otakku. Kecuali… mimpi tadi. Mimpi yang terasa sangat jelas. Bahkan aku harus memastikan lagi bahwa aku sudah bangun dan menjauh dari tempat terkutuk itu. Tempat yang serasa menyedot habis seluruh rasa bahagiaku dan merubahnya menjadi dendam serta amarah. Aku ingat dengan jelas terakhir kali merasakan itu semua. Dan aku tidak akan pernah mau merasakannya lagi.

Tiba-tiba, dalam keremangan ruang tamu, aku melihat sesosok tubuh mendekat. Bulu kudukku berdiri. Merasakan aura bahaya yang mengancam. Udara kian menipis. Entah kenapa, aku merasakan sebuah de ja vu. Kakiku tidak bisa digerakkan. Lidah ku kelu. Mulutku hanya mengatup-ngatup tanpa hasil yang berarti. Sebuah desiran aneh tertangkap oleh telingaku. Sosok itu kian mendekat. Hitam sekelam malam. Berasap dan berbau busuk. Asap itu melayang di sekitar tubuhnya seolah dia terpisah dari ruang dan waktu. Namun dia disini! Siap mencabut nyawaku….

Sebuah tangan terjulur ke arahku. Tangan yang hitam. Aku mendongak dan menemukan sepasang mata berwarna merah. Hampir sama seperti mimpi ku sebelumnya. Aku beringsut mundur. Namun sekali lagi aku hanya mematung. Menunggu tangan itu menggapai leher ku.

Tid-tidak…!

“Hey, hyung.. Kau tidak apa-apa?” Sebuah wajah menyeruak di depan mataku yang nyalang kesana kemari.

“Mana? Mana dia? Tad-tadi… dia disini.. Dia disini!” Aku meracau tak jelas sambil menunjuk ke belakang Junsu.

“Tenang, hyung. Tidak ada apa-apa. Kau pasti bermimpi..” Junsu menggenggam tanganku dan memaksaku menatap matanya. Muka innocent Junsu perlahan menyadarkanku. Aku kembali merebahkan kepala ku di sofa.

“Hhh… Benar, Junsu-ah. Kurasa aku bermimpi.” Aku membuka mataku lebar-lebar. Terlalu takut untuk menutupnya bahkan berkedip. Aku tidak suka dengan kegelapan. “Mimpi buruk….”

Junsu tersenyum menenangkan. “Mau ku bikinkan teh?”

“Boleh juga. Yang panas ya..”

“Tidak apa-apa ku tinggalkan?” Junsu menoleh ke arahku.

“Asal kau kembali dalam 5 menit.” Balasku sedikit tersenyum.

Dia kembali melangkahkan kakinya ke dapur.

Aku berdiri dari sofa dan mencari saklar lampu. Mencari cahaya lebih terang dan meyakinkanku bahwa aku sudah benar-benar bangun. Tidak lagi dibayangi oleh makhluk setan tadi…

^EyeingTheMind^

YOOCHUN POV

Katakan aku gila. Katakan aku sinting. Cemooh saja aku karena telah melakukan sesuatu di luar nalar manusia normal. Lakukan apapun. Agar aku merasa apa yang ku lakukan kali ini salah. Yeah, itu akan kurasakan sebelum aku bertemu Dyland.

Tapi, mengapa aku merasa semuanya benar? Saat aku memeluk Dyland yang terlelap. Entah sejak kapan dia berada di dalam dekapanku. Membagi detak jantung ku yang semakin menggila padanya. Mendengar tiap tarikan nafasnya. Semuanya terasa benar…

Semakin benar, saat bibir ku menyentuh pipinya. Merasakan mulusnya kulitnya di syaraf-syaraf bibirku. Mencium aroma yang menguar dari pori-pori kulitnya. Semuanya terasa benar..

Terasa benar..

Terasa benar..

“Emmmhhh…” Aku tersentak dan langsung menarik bibirku. Dyland menggeliat gelisah dalam tidurnya.

“Sshhh…. Sleep tight, my princess…” Aku mengelus pipi Dyland. Bahkan logikaku tidak memperingatkan tangan yang kurang ajar ini jika sewaktu-waktu Dyland terbangun. Apa ada yang salah denganku..?

^EyeingTheMind^

JAEJOONG POV

Asap terlihat mengepul dari gelas teh yang dibawa oleh Junsu. Aku berusaha tersenyum, mendustai diriku sendiri bahwa segalanya baik-baik saja.

Gomawo, Junsu-ah.” Aku menyambut gelas yang disodorkan Junsu. Dia ikut duduk di samping ku.

“Kau tidak bisa tidur?” Aku memecah keheningan yang terasa aneh. Bukan berarti kami selalu ribut jika berkumpul bersama. Bahkan kami—aku, Yoochun, dan Junsu—selalu merindukan saat menikmati kesunyian seperti ini. Tapi, kegiatan ‘mengheningkan cipta’ seperti saat ini terasa tidak tepat. Aku menyembunyikan sesuatu dari Junsu. Kurasa, dia juga menyembunyikan sesuatu dariku.

Junsu menoleh ke jam dinding di depan kami. 02.45 PM. “Err, aku gugup untuk fan meeting kita besok.”

“Hey,” Aku menepuk pundak Junsu. “Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Pertanyaannya pasti sama dengan fan meeting sebelumnya di Thailand.”

“Maksudmu, pertanyaan mengenai kapan kembalinya kita ke TVXQ? Pertanyaan tentang hubunganmu dengan Yunho hyung? Teriakan-teriakan gila para Cassie yang menginginkan kita bersatu lagi?” Mata Junsu berkilat.

“Hhh, kita tidak bisa menghindari pertanyaan semacam itu, Junsu. Mereka bertanya karena mereka peduli dengan kita. Kau tahu itu.” Aku bahkan tidak yakin dengan pernyataan ku tadi.

“Peduli? Peduli dengan menulis puluhan artikel yang menyebutkan kejatuhan kita setelah sidang dengan SM Entertaiment? Itukah yang kau artikan sebagai peduli?”

“Demi Tuhan, Junsu-ah. Kita sudah membicarakan ini ribuan kali. Biarkan pengacara yang menyelesaikan kasus kita.” Aku mulai mengacak rambutku.

“O ya? Jadi, kau tidak peduli? Kau hanya peduli dengan popularitas mu! Tentang seberapa banyak Cassie yang kau kumpulkan? Kau hanya peduli dengan hubunganmu bersama Yunho!” Junsu tiba-tiba berdiri dan menuding ku dengan telunjuknya.

“Apa maksudmu dengan Yunho? Kau tahu dia sudah tidak ada hubungannya lagi dengan kita!” Hatiku dicengkeram oleh tangan tak kasat mata. Perih. Sakit. Walau aku sudah berkali-kali meneriakkan pada diriku sendiri tentang hal ini, rasanya selalu sakit. Tidak pernah berkurang.

Junsu menyeringai. Namun aku tahu dia menyembunyikan air mata di balik senyum itu. “Katakan itu pada dirimu sendiri. Kau lebih membutuhkannya daripada aku. Mendatangi Yunho setelah kita konser di Jepang kemarin adalah bukti kau ingin kembali padanya!”

Aku tersentak. “Jadi, kau menyalahkanku? Kau menyalahkan hubunganku dengan Yunho atas pernyataan media? Kami. Sudah. Berakhir.” Aku memejamkan mataku sejenak. Tidak menduga akan terlibat perkelahian konyol dengan Junsu seperti ini. “Come on, Junsu. Grown up!”

“Hyung, kau yang membuat kami mengikutimu. Jangan sampai membuatku menyesal karena memilih berjuang bersamamu.” Junsu berbisik lirih. Tapi bisikan itu justru terdengar lebih dingin dan sakit. Menimbulkan kembali rasa bersalah dalam diriku.

Junsu berbalik. Meninggalkan teh hangat yang ku kira menjadi penawar untuk dinginnya suasana hari ini.

BRAK…

Pintu terbanting di depanku.

“Siapa yang akan meminum teh ini?” Aku tersenyum getir. Sepertinya meratapi nasib adalah satu-satunya pilihan terbaik saat ini.

Aku memeluk lutut dengan kedua tangan. Kata-kata ku hilang entah kemana. Mungkin ditelan kemarahan Junsu. Atau ditelan makhluk keparat di dalam mimpi ku tadi. Tidak biasanya aku membiarkan pikiran ku dipenuhi oleh pikiran negatif.

Itu tadi adalah yang pertama. Bentrokan pertama dalam JYJ. Setelah berbulan-bulan berpura-pura bahwa semuanya adalah awal. Bukannya memulai kembali. Berbulan-bulan kami bersembunyi dalam gegap gempita euforia setelah berhasil hengkang dari SM Entertaiment. Bahwa kami bahagia. Bahwa kami bebas. Kami bukan milik siapa-siapa.

Cih. Siapa yang berpikiran begitu? Para Orion? Para Cassie?

Bohong. Kami membohongi kalian semua. Walaupun kami selalu menghindari pembicaraan seputar Homin dan TVXQ, kami sama-sama tahu sehancur apa jiwa kami tanpa mereka berdua. We’re the great pretender…

Kami adalah aktor yang hebat untuk semuanya. Kecuali dua orang yang tidak bisa kami bohongi. Kami tidak ingin membuat keadaan bertambah runyam dan ikut menekan mereka. Hanya aku yang berani. Hanya aku yang berani datang kembali ke Korea dan menelanjangi diriku di hadapannya.

Tapi, respon yang ku dapatkan…?

Penolakan. Kemarahan. Kekecewaan. Dendam. Amarah. Semua itu tersirat di mata Yunho saat aku menjumpainya di apartemen. Apartemen kami.

Jujur tidak selalu melegakan. Bertindak jujur malah semakin membuat ku yakin bahwa mungkin inilah takdirku. Berpisah dengannya. Melupakannya. Dan membunuh diriku sendiri….

^EyeingTheMind^

YOOCHUN POV

Aku hanya pergi usah mencariku. Dua jam sebelum fan meeting kita, aku pasti pulang.

Jaejoong

Aku melipat kembali kertas yang tadi ku temukan di atas meja ruang tamu. Pesan dari Jaejoong hyung. Entah pergi kemana dia. Aku lelah menebak. Pikiran Jaejoong adalah salah satu pikiran yang masih saja tidak bisa ku selami. Juga pikiran orang itu…

Ah! Secepat datangnya, aku segera menepis kilasan masa lalu yang sering membayangi ku akhir-akhir ini.

Dyland masih tertidur dengan cantiknya, eh, maksudku dengan pulas di kamar Jaejoong hyung. Setelah dua jam berdebat dengan akal sehatku dan memaksa mataku untuk terpejam, aku menyerah. Dyland terlalu menggoda. Siapa tahu naluri cassanova ku mengambil alih, kan? Walaupun sumpah mati aku ingin menikmati lebih dari pelukan dan kecupan ringan di pipi tadi malam.

05.00 AM.

Masih terlalu pagi untuk menggoncang tubuh semok Junsu dari tidur pulasnya. Membangunkannya dan memaksanya untuk memakai perlengkapan menyamar kami dan menyusuri padatnya kota Jakarta. Well, satu rahasia kecil untuk kalian. Sebenarnya, kami selalu jalan-jalan di tiap kota atau negara yang kami datangi. Sekedar refreshing dan merasakan kembali rasanya menjadi orang normal. Sejauh ini, belum ada tanda-tanda kami telah diintai dan diculik para Cassie yang terkadang mencintai kami melebihi batas normal. Walau ku tahu kami memang pantas digilai seperti itu.

DYLAND POV

Motnan sarangiran gorani….

Alunan nada Nine dari handphone mengharuskan ku untuk mengakhiri mimpi indah. Dengan setengah hati dan seperempat mata terbuka, aku merogoh benda kecil itu dari saku hotpants ku.

“Halo…..” Sumpah, yang mendengar suaraku pasti mengira sedang mendengar tanah becek keinjek bebek.

“DYLAND! Kemana aja kamu? Telepon ga diangkat! Kamar hotel kosong! Mau kabur? Tunggu sampai Mama nyusul ke Jakarta ya…!” High pitch, high scream, dan sekumpulan nada tinggi nan cempreng membuat mata ku langsung terbuka. Serangan mendadak dari Mama memang obat mujarab untuk kebiasaan molor ku yang kadang (lebih tepatnya, selalu) keterlaluan.

“Iya, Ma. Dyland lagi menjalankan misi nih. Inget kan apa kata Nenek Rose? Dyland harus ngikutin kata hati Dyland. Bukannya males-malesan dalam kamar hotel..” Call me genius, baby. Bukan Dyland namanya kalo ga tau titik kelemahan Mama. Beliau paling ga bisa berkutik kalo nama Nenek Rose disebut.

“Hhhhh.” Mama menghela nafas. Bisa ku rasakan betapa beliau sebenarnya masih ingin memarahi ku sepenuh hati dan sekuat tenaga. “Jadi, kamu dimana sekarang?”

Skak mat. Cari mati namanya kalau ku bilang tidur di tempat cowok. Walaupun definisi cowok disini berarti tiga cowok sekaliber dewa berlabel JYJ. “Aku lagi di rumah Jane, Ma. Temen ku buat nonton konser nanti.”

“Oh, gitu. Ya sudah deh. Yang penting kamu kabarin Mama terus ya. Bla bla bla..(dan untaian nasihat lainnya yang tidak perlu ku ingatkan disini. Bisa-bisa kalian keburu muntah nanti).”

“Iya, Ma. Bilangin Nenek Rose ya… Dadah…”

Klik..

Aku kembali menyelipkan benda mungil yang tadi baru saja menyelamatkan ku dari tidur seharian penuh. Yeah, andai kalian merasakan bagaimana lelahnya harus menyelami pikiran orang lain terlebih menyelamatkan orang yang mempunyai pikiran itu dari kekuatan jahat, kalian pasti tidak usah membaca dan/atau mendengarkan cerita ini lebih lanjut.

Tiba-tiba, aku merasakan rasa dingin yang abnormal kembali menyelimuti tubuhku..

Sssaaahhhhh….

Aura aneh mulai direspon oleh tubuhku. Shit. Kekuatan ini ga bisa bilang permisi dulu, apa?

Sesuatu, yang pasti bukan berasal dari dunia manusia, teraba oleh otakku. Aku memejamkan mata. Sia-sia untuk ada aku bisa gila karena harus terus-terusan berlari.

Ku lepaskan segala hal yang berkaitan dengan materi. Nafas, penglihatan, indra pencium, indra perasa, indra peraba, ku biarkan pikiranku yang mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi. Hanya ada aku, dunia, dan pikiranku.

….

Getaran itu mulai jelas terasa. Tidak mengajak bertarung, hanya bersahabat dan berbagi. Ku rasakan pikiranku tersenyum. Artinya hanya satu, ‘sesuatu’ ini bukanlah hal sama yang terlibat dengan misiku. Bukankah misi ku identik dengan kematian, balas dendam, dan kesedihan?

Dalam gelapnya penyelaman pikiranku, sesosok tubuh dengan gaun putih mendekat. Wanginya beraroma taman setelah hujan reda. Rambutnya terurai berwarna hitam kelam. Hampir menyatu dengan kegelapan di sekelilingnya. Dia menatap ke arahku. Dan mukanya…? Hampir saja konsentrasi ku buyar setelah mengamati lekuk mukanya. Persis sama denganku. Hanya lebih sendu, lebih pucat, dan lebih…err..tidak manusiawi. Seakan dia berasal dari ruang dan waktu yang jauh berbeda denganku. Sumpah, aku merasa seperti tengah mengamati diriku sendiri dalam cermin. Yang berbeda mungkin hanya warna rambut kami dan baju yang dia kenakan. Bukannya gaun putih, tapi hangbok dengan warna dasar putih dan aksen bunga sakura. Wow. Bagaimana bisa aku mempunyai kembaran yang bisa didefinisikan sebagai ‘hantu’?

Siapa kamu? Aku memberanikan diri bertanya. Lewat telepati, tentu saja.

Bibir merahnya melengkung ke atas. Well, ternyata ‘aku’ cantik juga kalau tersenyum. Menurutmu?

Err, kembaranku?

Bisa dibilang begitu.

Ayolah, siapa namamu?

Rae-Ki. Song Rae Ki.

Bagaimana kau ada disini? Aku bertaruh kau berasal dari entah-dinasti-apa di Korea.

Sama denganmu, aku membantu mereka.

Mereka? JYJ maksudmu?

Lebih tepatnya, TVXQ.

What the heck…? Sejak kapan putri zaman baheula kenal dengan TVXQ? Bagaimana mungkin ‘hantu’ seperti dia juga mempunyai misi yang sama dengan ku?

Karena aku adalah kamu. Dan kamu adalah aku.

Dia kembali membuyarkan pertanyaanku. Tunggu? Apa dia bisa membaca pikiranku?

Tentu saja aku bisa, Dyland. Kita ini satu.

Berhenti melakukan itu. Jelaskan, bagaimana bisa kita satu? Kita bahkan berbeda dimensi.

Kau lupa ya?

Oh, God. Kalau gitu ingetin donk. Mana bisa aku berpikir jernih kalau tiba-tiba ketemu sama ‘kembaran’ yang jelas-jelas beda dunia?

Hihihi.

Kalau ketawa gitu baru deh dia mirip hantu beneran. Huh!

Nenek Rose kan pernah bilang, kalau sebenarnya beliau keturunan keluarga bangsawan dari Korea. Nah, kebetulan di keluarga bangsawan itu, aku termasuk salah satu anggota keluarga yang juga punya kekuatan. Dan kebetulan juga kalau ternyata aku mirip kamu. Terus, setiap pembaca pikiran memang ditemani oleh mereka yang juga terpilih. Salah satunya adalah mereka yang berasal dari dunia lain. Biar bisa menyeimbangkan kekuatan gaib dan kekuatan di dunia nyata.

Rae-Ki menjelaskan panjang lebar. Sementara aku cuma bisa mangap dan manggut-manggut tanpa semangat hidup. Walaupun aku sudah terbiasa dengan kehidupan abnormal semacam ini, tetap saja rasanya menakutkan harus bercengkerama dengan hantu setiap saat.

Heh, aku bukan hantu, tahu. Aku cuma hidup dalam pikiranmu.

Jangan baca pikiranku! Aku berteriak frustasi.

Hehehe. Aku ga baca kok. Tiba-tiba aja terlintas di benakku.

Heh…. Kalo udah begini aku bisa apa coba? Pasrah aja deh..

Terus, kamu bisa bantu aku apa?

Hey, biarpun tugasku bantu kamu, aku bukan kacungmu, tahu. Aku bisa bantuin kamu kalau kamu ga bisa nanganin beberapa pikiran sekaligus. Istilahnya kloning deh.

Tapi aku bisa sendiri kok!

Oh yeah.. Tunggu sampai kamu berhadapan sama pikirannya Yunho. Hati-hati aja kalau ga bisa nemuin jalan pulang..

Eh, kok kamu tahu? Kamu udah nyuri start ya..?

Hoaahhmmm… Aku ngantuk nih. Mau tidur lagi. Panggil aku nanti aja ya. Tinggal pejemin mata kamu terus panggil aku.

Habis itu kamu dateng?

Bukan aku sih. Angelina Jolie yang dateng. Ya iyalah. Siapa lagi coba?

Nih setan kok kayaknya gaul banget ya. Jangan-jangan di dunia gaib sana ada kursus khusus buat mereka yang mau dikirim ke dunia manusia lagi.

Gidarigo isseulkkeyo.. (Aku bakal nunggu kamu..)

Dasar bangsawan Korea. Seenaknya ngomong pake bahasanya sendiri. Untung aja aku sempet diajarin Nenek Rose bahasa yang satu itu.

Aku membuka mataku. Masih tempat yang sama. Hanya jarum jam yang telah bergeser ke angka 6. Hmm, cukup lama juga aku ngobrol dengan Rae Ki. Yeah, ingat dengan persepsi waktu? Persepsi waktu yang berbeda dengan dunia gaib? Berarti yang tadi digolongkan dengan percakapan dunia gaib, gitu?

Ting… Ting… Ting..

Alunan melodi yang sungguh akrab di telingaku terdengar dari luar kamar. Believe by TVXQ. While they are still five pieces. Either two nor three. Miduhyo…

Beberapa saat kemudian, ku dapati punggung bidang Yoochun di depan sebuah Grand Piano hitam. Untuk beberapa detik yang langka, aku terenyuh. Bisa ku rasakan senyum, tawa, bahagia sekaligus tangis di tiap denting nada yang terjalin di antara aku, mereka, dan kita.

Kaki ku melangkah tanpa diduga. Terkadang, mengikuti kata hati lebih menegangkan daripada mengikuti apa yang logikaku katakan. Masih tersisa ruang di tempat duduk Yoochun. Seperti manusia tanpa urat malu, aku segera duduk dengan manis, tepat di samping Yoochun. Mungkin perlu penekanan disini. Aku. Berada. Di samping Yoochun. Yang. Sedang. Memainkan. Piano. Park Yoochun. Personil JYJ dan TVXQ. Park Yoochun yang itu…

You’re the only one.. In my life….. Yoochun berbisik pelan. Klimaks dari lagu tersebut. Klimaks yang hampir angan ku terbang melesat dan menyentuh angkasa.

“Dyland-sshi..” Yoochun jelas terkejut dengan kedatanganku yang mirip dengan hantu.

“Maaf, tadi ku denger ada bunyi piano bagus banget dari kamar. Terus aku keluar dan tiba-tiba aja aku mau duduk disini. Ga papa kan?” Aku memasang senyum semanis lollipop.

Dan Yoochun balas tersenyum lebih manis dari aku. Gosh, kok dari kemarin aku ga pingsan-pingsan ya dapet senyum satu juta dollar dari Yoochun?

It’s okay. Kan aku lebih mudah ngawasin kamu kalo kamunya ada di sampingku..”

Gila. Ternyata bener. Yoochun punya penyakit cassanova akut!

“Err, maksud aku takutnya kamu pingsan lagi kayak kemaren.” Yoochun menggaruk kepalanya. Sinyal salah tingkah terlihat jelas di mataku. “Kamu udah ga sakit lagi, kan?”

“Udah ga papa kok. Cuman agak pusing aja dikit. Tapi aku masih bisa jalan sendiri kok.”

“Baguslah. Eh, kamu suka dengerin musik dari piano?”

“Heh…? Suka banget, lah. Tapi aku jarang banget nonton resital piano secara langsung.”

“Daripada nonton, ku ajarin mau ga?”

Mata puppy eyes dari Yoochun membuat ku mati kutu. Jadi, mengangguk adalah pilihan terbaik saat ini.

“Ku ajarin lagu yang tadi, ya..?”

Yoochun memegang tanganku dan segera meletakkannya di tuts-tuts yang tepat.

*untuk para readers, silakan bayangkan sendiri kalian sebagai Dyland dan diajarin langsung oleh Yoochun. Author ga bisa mendeskripsikan pakai kata-kata deh. Bisa habis satu chappie ngebahas scene ini mulu. Kekeke..*

“Yeah… Aku bisa..” Aku berteriak keasyikan setelah berhasil memainkan intro Miduhyo. Yah, untuk pemula seperti ku, sebuah prestasi besar bisa memainkan lagu dari TVXQ. Ralat, sebuah prestasi besar bisa diajarin langsung dari penyanyinya.

“Mudah, kan?” Yoochun ikut tertawa menampakkan geligi putihnya.

“Hehe. Iya. Ga sesusah yang ku bayangin.” Aku membalas dan kembali tenggelam di permainan piano (baru) ku.

“Judul lagunya Believe…” Yoochun bersuara.

“Oh ya? Liriknya gimana sih?” Aku berpura-pura cuek sambil terus menekan tuts piano yang tadi berhasil ku hafal.

“Mau ku nyanyiin?”

“Mau…”

Yoochun tersenyum tipis. Dan lagu itu, kembali mengalun. Membawa kenangan di kepala kami berdua. Kenangan di sepanjang perjuangan dan cinta. Kerasnya hidup dan damainya persahabatan. Aku dan Yoochun. Sama-sama tahu walau tanpa bahasa. Detak dan nada telah bicara. Harmonisasi jiwa kami berdua adalah kalbu. Yang hanya bisa kami mengerti dalam tiap detik yang bergulir….

JUNSU POV

Aku bahkan lupa bagaimana cara menangis. Sejak aku memutuskan untuk berhenti merasa dan hanya mencintai hidup. Tidak peduli seberapa kerasnya kenyataan menamparku. Itulah ikrarku. Ikrar kami. Aku, Yoochun, dan Jaejoong hyung. Tapi, mengapa sekarang semua meninggalkanku sendiri?

Aku kembali merasakan rasanya dibuang setelah melihat tawa Yoochun untuk Dyland dan lagu yang dipersembahkannya untuk Dyland. Lagu kami. TVXQ. Entah kenapa aku tidak rela. Aku tidak mau merasakan sakit lagi. Cukup untuk yang dulu. Aku tidak ingin kehilangannya. Karena dia, aku kuat. Tanpa dia, aku bukanlah siapa-siapa.

Ha? Lihat, air mataku menetes lagi. Rasa sakit yang amat familiar menggulungku bagai ombak tsunami. Hatiku serasa dicabut dari akarnya. Jantungku berdetak dengan kecepatan tidak wajar. Seolah berusaha lepas dari ragaku yang tidak berguna.

Tuhan….kepada siapa aku harus menangis…?

JAEJOONG POV

Hoodie hitam, kacamata hitam, celana putih, dan wajah ditundukkan adalah syarat untuk menyamar di kota sepadat Jakarta. Apalagi yang ku dengar Cassie di daerah sini cukup berbahaya.

Aku tidak peduli lagi kemana kakiku melangkah. Entah sudah seberapa jauh aku berjalan sejak beberapa jam yang lalu. Anehnya, aku tidak merasa lelah sama sekali. Tapi, tidak juga lega. Yang ada hanya beban yang semakin berat menghimpit dadaku.

“Hmm, ada mangsa baru nih bos..” Suara sengau menghentikan langkahku. Aku mendongak dari kewajibanku meneliti tanah. Langsung ku rasakan aura bahaya menyergap. Lima lelaki dengan tubuh cukup berisi menghadang jalanku. Aroma minuman keras jelas tercium. Walau aku tidak mengerti perkataan mereka, jelas semua itu tidak mengajakku berkenalan atau beramah-tamah.

Aku diam di tempat. Satu lelaki dengan rambut gimbal dan badan kekar mendekatiku. Codet di wajahnya semakin menegaskan bahaya.

“Hmm, mulus juga…” Dia mengangkat daguku. Damn, aku paling tidak suka disentuh oleh orang asing. Aku segera menangkap tangannya.

Don’t play me…” Sekuat tenaga, aku segera memutar tangannya dan mengunci tubuhnya. Jangan salahkan aku. Setelah pertengkaran dengan Junsu tadi malam, aku benar-benar ingin menghajar seseorang.

“Heh! Lu ngajak berantem ya…?” Satu lelaki dengan tato naga di wajahnya mengacungkan tinjunya ke arahku.

Aku tersenyum miring. Tanda menyetujui tantangannya…

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s