[FANFICTION] Eyeing The Mind – Chapter 7 (Street Fighter)

CHAPTER VII

STREET FIGHTER

Main Cast: Dyland (OC), Jaejoong, Yunho, Yoochun, Changmin

Other Cast: Rose (OC), Elle (OC)

Genre: Supernatural/Mystery/Romance

Rated: T/PG-13

Disclaimer: I only own the plot and story. They belong to themselves.

Seorang wanita berumur 60-an tengah memandang lurus pada taman yang terhalang oleh kaca tipis di depannya. Gaun merahnya berkibar lembut, walau tidak ada angin di ruangan itu. Hanya sedikit udara yang berstimulasi pada ventilasi. Namun, dalam radius beberapa meter, terasa sebuah getaran udara lembut yang membuat tubuh kita puluhan kali lebih sensitif.

Seperti yang dirasakan Elle sekarang,”Ma, kok tiba-tiba dingin ya?” Dia memeluk lengan putihnya yang telanjang.

“Bagus. Berarti kau masih merasakan apa yang ada di sekitarmu,” Balas Rose, wanita itu, tenang dan dalam. Suaranya selalu membuat Elle tidak bisa memalingkan telinganya pada yang lain. Suara ibunya adalah suara yang menuntut untuk diperhatikan tanpa perintah tersurat. Melalui intonasi dan gerakan mata, Elle sudah tunduk pada ibunya.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Dyland, Ma?” Bibir mungilnya tiba-tiba bergetar. Mengingat anak semata wayangnya itu adalah pekerjaan melelahkan. Karena mengingat Dyland berarti mengingat misi yang akan dijalankannya. Dan Elle tahu misi berarti siap mempertaruhkan pikiranmu untuk mereka yang telah memilihmu. Menjadi seorang penyelamat.

“Bukan saatnya, Elle,” Rose berbisik tajam dan segera memandang mata coklat bening milik Elle. Mata yang juga dimiliki Dyland. “Dyland bisa menjaga dirinya sendiri. Dia lebih kuat dari dugaan kita.”

“Tapi, aku khawatir, Ma. Dia memang menjadi Yang Terpiih. Dia memang mewarisi kekuatan Mama. Tapi dia tetap anakku. Aku tidak bisa membiarkannya dalam bahaya,” Elle berteriak histeris.

Anehnya, Rose tetap tersenyum.”Tenang saja, dia sudah menemukannya.”

“Maksud Mama? Apa yang ditemukan Dyland?”

Rose menjawab dengan langkah yang ia tujukan pada sebuah lukisan di atas perapian. Sebuah lukisan dengan seorang anak perempuan memakai hanbok dan 2 orang lelaki di sampingnya. Lukisan itu terlihat biasa. Namun tidak bagi mata Rose. Dua lelaki itu mempunyai cahaya… Jalinan spektrum biru yang menyilaukan mata…

^Eyeing The Mind^

DYLAND POV

06.00 AM

Hampir saja aku menjatuhkan gelas yang baru saja ku isi dengan kopi, saat Yoochun berjalan ke arahku menunjukkan senyum penghancur kutub itu. Mungkin jika dia hanya tersenyum, aku hanya akan kejang-kejang di tempat. Sekarang? Dia telah mandi dan wajahnya yang segar serta rambut yang sedikit basah itu membuatku mati kutu. Tidak ada yang bisa ku lakukan, kecuali berdiri tegak dengan wajah tegang dan semerah tomat.

Morning caffein?” Tanyanya lembut. Bisakah dia berhenti melakukan itu? Aku bahkan sudah menjadi gila dengan menontonnya melalui laptop-ku dan memandanginya hambar 2 dimensi yang tersebar di seluruh penjuru kamarku. Kini dia benar-benar nyata di depan mataku. Percayalah, membutuhkan kekuatan setingkat Hercules dan Xena agar aku tidak berlari ke pelukannya dan mengatakan ‘Oppa, saranghaeyo’ ribuan kali.

Yes. Aku selalu meminum ini.” Jawabku buru-buru. Bahkan aku sendiri tidak bisa mendengar suaraku dengan jelas. Seolah menegaskan perkataanku, aku segera meminum kopi hitam itu.

“Uhuk uhuk uhuk….” Aku memukul dadaku panik. Karena tergesa-gesa, aku tersedak. Gila, susah sekali bernafas. Kopi pahit ini meny—

“Kau tidak apa-apa?” Tanpa ku sadari Yoochun sudah berada di depanku. Badannya yang jauh lebih tinggi dariku menunduk dan memegang pipiku. Batukku berhenti tiba-tiba. Kali ini, aku mengalami gagal jantung.

“Aku hanya.. tersedak,” Jawabku malu. Dia bahkan tidak mundur atau menjauh. Apa dia tidak bisa mendengar detak jantungku yang sudah megap-megap minta istirahat?

“Tentu saja kau tersedak. Dengan wajah seperti itu tidak mungkin kau tengah menikmati kopimu kan?” Dia memiringkan kepalanya lucu.

“Eh.. Itu…”

“Ada kopi di bibirmu,” Sebelum aku sempat bereaksi, ujung jarinya sudah membelai lembut bibirku.

Persetan dengan apapun yang tengah terjadi. Aku membaca pikiran, ingat? Aku tahu sebenarnya tidak ada apapun di bibirku. Sifat cassanova Yoochun hanya tiba-tiba kumat. Dan aku adalah perempuan normal, wajar kan jika aku mendekatkan muka kami. Menatap dalam-dalam mata hitamnya yang tadi malam hanya bisa ku nikmati saat terpejam. Merangkul lembut punggungnya. Berjinjit sedikit. Menghembuskan sedikit nafasku yang masih beraroma kopi. Namun ku tahu itulah yang membuat Yoochun semakin gila.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suara melengking tinggi kembali menyedotku dalam kenyataan. Kepingan magis tadi retak. Meninggalkan hatiku dalam lubangnya semula.

Dyland, kau tahu ini bukan tujuan kau berada di sini!

“Err, Junsu-ah.. Kau sudah bangun?” Yoochun menarik tubuhnya terlalu jauh. Gestur tubuhnya menunjukkan kegugupannya yang luar biasa.

“Apa aku mengganggu kalian?” Aku terkejut saat ku lihat Junsu tersenyum sedih. Sejak kapan dia menjadi seperti itu? Aku memang belum bisa bersatu dengan pikiran Junsu. Namun aku selalu berusaha memahaminya lewat media apapun yang ku temukan. Apa ini Junsu yang sebenarnya? Mata redup dan muka pucat? Atau ada sesuatu yang membuatnya seperti itu?

“Ya, maksudku tidak. Aduh, sungguh kau tidak mengganggu kami,” Yoochun gagap tiba-tiba. Pandangan Junsu semakin meredup. Aura tubuhnya kelabu. Aku sangat ingin menyembuhkannya. Namun, mengapa pikirannya seolah menolakku?

“Aku lapar. Apa kalian ingin nasi goreng?” Tawar Junsu. Dia melewati kami dan membuka kulkas. Kepalanya menunduk saat melewatiku.

“Tentu saja. Kami akan menunggu di depan,” Jawab Yoochun terlalu bersemangat. Dia menarik tanganku dan tersenyum memesona. Kenapa dia tidak menggendongku saja? Aku akan pingsan jika terus-terusan mengalami ini.

Saat kami meninggalkan dapur, ku rasakan mata Junsu menghujam punggungku. Aku memutuskan untuk membantu Junsu saja. Bukankah lebih baik memulai dari sekarang?

“Yoochun, aku akan membantu Junsu,”

“Benarkah? Oke, asal kau memanggilku Oppa mulai sekarang,” Aku pura-pura bingung. Tentu saja aku mengenal istilah itu. Jutaan bahkan milyaran kali aku meneriakkannya dalam kamarku. Sayangnya aku harus memainkan peranku sebagai penyelamat yang buta terhadap apapun tentang Korea.

Dia segera pergi, aku mendatangi Junsu yang sedang menghidupkan kompor.

“Ada yang bisa ku bantu?” Tanyaku manis.

Junsu menolehkan kepalanya. Matanya menyorotku dingin. Tubuhku serasa dipindai oleh sinar laser yang membuatku merinding. Dia terlihat memaksakan senyumnya.

“Tidak usah. Lebih baik kau menemani Yoochun,”

“Kau lebih membutuhkan bantuanku,”

“Kau bisa memasak?” Tanyanya langsung.

Well…” Aku hanya bisa meledakkan dapur dan menghancurkan apapun yang terlihat rapi. Mungkin ada semacam gen troublemaker dalam darahku. Namun jika ku katakan itu di depan Junsu, mungkin dia langsung mengusirku dari sini. “Kalau hanya nasi goreng sih gampang,” Entah mengapa aku terdengar meyakinkan diriku sendiri.

“Ambilkan bawang dalam kulkas,” Itu sudah cukup sebagai jawaban. Aku segera membuka pintu kulkas dan hampir melupakan tujuan pertamaku saat semangkuk es krim tergeletak seolah memanggil namaku. Lihatlah warna pink dan cokelat itu. Belum lagi butir-butirnya yang meleleh. Ku rasakan tanganku bergerak ingin mengambilnya.

“Dyland, apa bawangnya bisa terbang kesini?” Junsu membuatku tersipu malu. Sepertinya aku hanya akan mengacaukan dapur.

“Kupas bawangnya,” Perintah Junsu. Dengan patuh, aku segera mengambil pisau dan memulai pekerjaanku.

Satu bawang berhasil ku kupas. Bawang selanjutnya pasti lebih mudah lagi.

“Ouch!” Yeah, maksudku pisaunya dengan mudah mengiris kulit di jari telunjukku.

“Kau kenapa?” Junsu langsung menghentikan kesibukannya mengurus nasi.

“Tidak apa-apa. Hanya berdarah sedikit,” Jawabku meringis.

“Sedikit? Ini banyak, tahu. Sini jarimu,” Aku masih menyembunyikan tanganku di belakang tubuhku. Dengan tidak sabar dia segera meraihnya dan menekannya pelan sampai darahnya keluar. Dia melakukan dengan sangat lembut. Seolah takut akan ada lebih banyak darah keluar.

“Bisa infeksi jika kau hanya membiarkannya,” Junsu mengangkat wajahnya dan tersenyum lembut. Pertama kalinya ekspresi damai itu ku lihat. Indah sekali. Andai saja begini ekspresi mereka berima setiap hari.

“Terima kasih,” Bisikku pelan.

Keinginanku untuk balas tersenyum segera hilang saat senyum Junsu memudar. Pandangan dingin dan kakunya kembali. Agak menyentak, dia melepas jariku. Mengapa Junsu melakukan hal tadi? Apa ‘mata satu’ yang ku lihat itu meracuni Junsu lebih banyak dari Jaejoong?

Punggung Junsu terlihat ringkih dari belakang. Rambut hitamnya sedikit pudar. Bahkan ku lihat auranya semakin kelabu. Hampir tanpa warna. Aku harus melakukan sesuatu.

Mataku terpejam. Ku hirup nafas dalam-dalam. Ku rasakan semua partikel udara memenuhi tubuhku. Semua yang bergerak bisa ku rasakan denyutnya. Nyata menghilang. Dunia dimana hanya ada aku dan pikiranku adalah dunia hampa udara. Dunia dimana aku bisa melakukan apa saja. Bahkan mematikan pikiran orang yang lemah melalui kekuatanku.

Saat tahap ini berhasil, ku arahkan pikiranku pada Junsu. Abstrak, sangat. Jauh berbeda dengan pikiran Yoochun yang lurus terurai atau pikiran Jaejoong yang melingkar sehingga aku mudah menemukan apapun yang ada disana.

Jangan khawatir. Aku hanya ingin berkenalan denganmu. Bisikku pelan.

Tiba-tiba, pikiran itu menjauhkan dirinya. Aku mengernyit. Dia seakan tahu ada yang memasuki pikirannya.

Tunggu, mengapa dia bisa tahu? Nenek Rose mengatakan jika suatu pikiran tidak bisa dibaca, hanya ada dua alasan. Kau tidak berjodoh dengannya atau dia tahu kau akan memasuki pikirannya. Alasan pertama paling banyak menjadi sebab. Namun alasan kedua sangat jarang terjadi. Hanya mereka yang sejenis dengan Nenek Rose yang bisa melakukan itu. Tidak mungkin Junsu salah satunya. Kecuali…

Tidak! Aku menjerit dalam meditasiku sendiri. Tidak ku lihat jalan keluar. Saat aku mengerahkan tenagaku, pikiranku akan terpisah dengan tubuhku. Kembali ke tubuhku akan lebih menyakitkan dari meninggalkannya. Lalu, saat ini, aku seolah terperangkap dalam pikiranku sendiri.

Bodoh. Kau tidak bisa memata-mataiku. Sebuah suara mengalirkan kejut aneh pada pikiranku.

Kau akan gagal. Kau terlalu takut menghadapi kenyataan. Apa ini? Mengapa diriku ditekan sedemikian rupa? Tak tersisa harapan. Tidak, ini tidak boleh terjadi. Aku hampir yakin ‘mata-satu’ itulah yang menguasai mereka.

Pergilah, Dyland. Lupakan semua ini. Ketakutan tidak cukup untuk mengalahkanku. Kau jauh lebih payah daripada dia. Aku yakin aku menangis. Namun aku tidak merasakan apa-apa pada tubuhku. Hanya pikiranku yang membatu.

Kekuatan hati…. Jawaban itu jauh di dalam bagian tersembunyi dalam otakku. Benar, aku tidak hanya mempunyai pikiran disini. Aku juga mempunyai hati yang tidak akan tersentuh oleh makhluk keparat itu.

Ku telusuri perlahan. Ku tinggalkan suara-suara sumbang yang membuatku hampir menyerah. Jika aku menyerah dalam keadaan seperti ini, aku pasti akan mati.

Senyum Jaejoong.

Tawa Yoochun.

Mereka berlima.

Always keep the faith.

Ya, aku harus percaya. Aku lebih kuat dari yang dia katakan.

Lalu, dengan sepotong percaya itu, aku keluar dari tempat ini.

Kau tidak akan bisa. Suara itu lagi.

Aku bisa. Kau lah yang takut. Memanipulasi pikiran seseorang yang dalam keadaan buruk adalah tindakan pengecut. Bukankah kau takut aku membuat mereka sadar? Dan kau tidak akan bisa lagi hidup dalam pikiran mereka. Kau lah rasa takut itu. Balasku berani. Pikiranku melayang pelan. Melintasi labirin yang entah mengapa selalu berubah-ubah.

Kemudian, aku mulai bisa merasakan kehadiran waktu. Energi yang bergerak di sekitarku. Warna manusiawi. Aku menghembuskan nafas perlahan. Aku telah kembali. Makhluk itu tidak bisa membalasku.

“Hhhhhh….” Aku terkejut mendengar hembusan nafasku sendiri. Rasanya aku telah menahan nafas selama berjam-jam. Hampir saja aku pingsan jika tidak melihat Junsu yang berlutut di depanku.

“Junsu! Kau kenapa?” Aku melupakan rasa sakit dan lelahku. Keinginan untuk menyembuhkan Junsu lebih kuat dari kemauan untuk memulihkan pikiranku.

Kepala Junsu mendongak. Aku menjengit. Muka Junsu sepucat mayat. Darah seolah menghentikan fungsinya memberi rona pada kulit namja di depanku ini. Matanya berwarna kelabu? Menyatu dengan aura hitam di sekujur tubuhnya. Sialan! Makhluk itu benar-benar menghisap habis darah Junsu.

“Sakit…” Bisik Junsu. Walau matanya penuh dengan keputusasaan, aku melihat setitik harapan disana.

“Aku tahu. Junsu, lihat mataku,” Aku ikut berjongkok dan memegang kedua lengan Junsu. Kepalanya sedikit terkulai ke bawah. Namun matanya mempertahankan kontak dengan mataku. “Jangan pikirkan yang lain. Pikirkan aku. Apapun yang ada di pikiranmu sekarang itu salah. Yang benar adalah kalian berlima.”

Junsu mengangguk linglung. Makhluk sialan. Dia pasti memengaruhi Junsu lebih daripada yang lain.

“Kau masih punya ini,” Aku memegang dadanya.”Apapun yang terjadi, rasa percaya itu tidak akan hilang. Harapan itu selalu ada. Jika kau takut, ingat bagaimana dulu kau tertawa.” Aku hampir menangis ketika Junsu tersenyum sedikit. Ya, aku hampir berhasil.

“Lupakan yang sakit, Junsu-ah. Ingat kebahagiaan. Ingat mereka. Kau tidak sendiri. Always keep the faith,” Junsu tidak terlalu pucat lagi. Aku memegang lengannya dengan keras. Keberhasilan ini membuatku ingin melompat tinggi.

“Kau salah! Semua itu salah. Tidak ada yang tersisa,” Junsu tersenyum bengis. Sepercik api menari-nari disana. Tanganku seolah disentrum karena bersentuhan dengan Junsu.

“Pergi! Aku tidak membutuhkanmu,” Aku benar-benar menangis. Kali ini karena putus asa dan kecewa. Tidak ada gunanya mencoba lagi. Kekuatan jahat itu telah mengambil sebagian diri Junsu.

Aku segera berdiri. Menyusut airmataku, dan berjalan ke ruang tamu.

“Mereka milikku, Dylandia Elfyza,” Aku menegang. Suara itu lagi. ‘Mata-satu’ itu bertambah kuat. Tidak hanya melalui pikiran, dia bahkan mengambil alih tubuh Junsu.

Aku ingin membalas, namun di tempat lain, aku merasakan bahaya yang mengintai Jaejoong. Sialan, pikiranku segera beraksi. Kali ini tanpa bisa ku kontrol. Tidak ku rasakan lagi aura hitam Junsu. Pikiranku berlari cepat mencari pikiran Jaejoong yang…

Terlihat kalut! Dia menghindari sesuatu. Ketika ku sadar, sebuah bogem serasa bersarang pada rahang kananku. Jaejoong sedang berkelahi.

Beberapa detik selanjutnya, ku rasakan kakiku berderap cepat seakan melayang. Ku dengar sayup-sayup suara Yoochun memanggilku yang telah keluar dari kamar hotel mereka. Aku tidak sempat. Jaejoong sudah sekarat.

JAEJOONG POV

BUAGHHH! Serangan pembuka dariku langsung membuat preman lain mengelilingiku. Ada 5 orang dengan bentuk tubuh beragam. Kurus sekali sampai dengan badan seperti karung berisi beras. Tato-tato di sekujur tubuh mereka membuatku sadar, mereka bukanlah orang yang takut dengan rasa sakit. Tidak masalah, aku akan membuat mereka tidak lagi merasakan apa-apa.

“B****t lo!” Preman yang tadi menato wajahnya dengan naga maju dan melimpahkan seluruh tenaganya pada tangannya. Aku segera menangkis pukulannya dan dengan sangat cepat memukul perutnya dengan lututku.

Dengan ekor mataku, aku sadar bahaya mengintai dari belakangku. Aku langsung menunduk dan memutar tangan hitam yang tadinya berusaha memukul punggungku dengan sikunya. Bunyi krek diikuti dengan lolongan sakitnya.

Kejadian berikutnya berlangsung dengan sangat cepat. Serangan berlangsung dari segala arah. Kakiku menendang dengan akurat. Walau beberapa goresan sekarang menjadi hiasan di pipiku, aku tetap melawan dengan liar. Adrenalinku terpacu cepat.

Tiap tanganku mengayun udara dan tepat di sasaran, aku tersenyum. Seolah tidak merasakan lelah sama sekali.

“AKH!” Tulang keringku ditendang dengan keras. Tanpa bisa ku tahan, aku terjatuh dengan lutut menimpa tanah. Tanpa ku duga, tendangan lain menyerang punggungku. Ku rasakan darah mengalir dari daguku ketika beradu dengan kasarnya tanah.

“AARRGHHHH!” Aku berteriak marah seperti harimau kehilangan mangsanya. Dengan kecepatan yang ku yakin tidak bisa bisa mereka lihat, aku menyerang balik preman yang tadi membuatku tidak berdaya.

Ku pukul menggunakan siku kananku, tahu bahwa temannya dari sebelah kiri berusaha membantu, kaki kiriku segera beraksi. Menendang dadanya dengan telak.

Dari arah samping, ku lihat preman kurus dengan bekas suntikan di lengannya, ku tendang tubuhnya dengan tendangan memutar. Gerakan salah, karena preman lain mencengkeram kerah bajuku dan memukul rahang kananku. Mataku langsung berkunang-kunang. Aku kehilangan fokus dan saat aku sadar, kedua lenganku sudah dikunci di belakang tubuhku.

“Sok jagoan lo? Rasain nih!”

BUG!

Perutku ditinju dengan sangat keras. Aku tersedak. Mataku terasa berat. Badanku melemah tiba-tiba.

“Bilang ampun!” Sebuah suara menyadarkanku. Aku tak mengerti apapun yang dia katakan. Aku hanya bisa mengerang lirih.

“Ga nyerah juga? Biar gue yang ngasih pelajaran!”

Tendangan lain membuat dadaku terasa sesak. Serasa ada batu yang menyumbat jalan pernafasanku.

“Errghhhh.. Jebal..”

“Apa? Lo bilang apa? Kebal? Jadi lo kebal sama pukulan gue? Nih, biar kulit lo tebal sekalian!” Benda tumpul yang ku yakini sebagai kayu memukul bahuku. Aku terduduk lemas. Namun kedua lengan yang memegangiku malah mencengkeramku semakin keras. Aku tidak akan tahan.

“Sebagai oleh-oleh, rasain nih!” Tinju lain melukai rahang kananku. Telingaku mendenging. Mataku mengerjap, menuntut untuk segera menutup. Dan menyongsong gelap yang mengulurkan tangannya untukku….

Jae, hold on!

Suara itu lagi….

YOOCHUN POV

Aku berlari terengah-engah di belakangnya. Dia seolah tidak memperhatikan hal lain kecuali yang ada di pikirannya. Dia bahkan tidak memedulikan pakaiannya yang sangat terbuka itu serta wajahku yang terekspos orang banyak. Eh, pakaianku juga sangat terbuka. Hanya kaos putih tipis dan celana pendek. Samar-samar ku dengar bisik-bisik dari anak kecil, gadis, ibu-ibu, sampai nenek-nenek. Jika saja tidak mengingat Dyland di depanku, mungkin aku sudah melayani sesi tanda tangan dan foto bareng dengan mereka. Jangan salahkan aku. Terlahir menjadi pusat perhatian terkadang melelahkan. Apalagi sinar matahari di tempat ini bersinar ganas. Keringatku membanjir dengan cepat.

Aku menunduk sambil berlari. Aku hanya berharap tidak kehilangan jejak Dyland yang berlari sangat cepat.

“Dyland! Hei! Mau kemana kita?”

Dia tidak menjawab. Aku segera mempercepat lariku. Tidak hanya untuk mendesaknya memberikan alasan yang masuk akal karena telh lari begitu saja daari kamar hotel kami, namun juga menegaskan aku adalah seorang pria yang seharusnya tidak kalah dengan wanita.

Mukanya terlihat kalut. Matanya nyalang menatap sekitar. Seolah mencari sesuatu.

“Err, cari makanan.” Bisiknya di tengah-tengah asupan oksigen yang menipis di kawasan pemukiman kumuh ini. Ewww, seingatku hotel kamu berada di pusat kota. Mengapa sekarang ada tempat seperti ini?

“Hah? Bukannya Junsu sedang memasak?”

“Dia tidak bisa memasak makanan yang ku inginkan,”

“Lalu, kau ingin makan apa?”

“Umm, gado-gado,” Aku hanya melongo. Lariku agak melambat karena bingung. Apa itu nama makanan? Terdengar sangat aneh. Bagaimana bisa Dyland memakan yang seperti itu?

Namun, keherananku segera berganti dengan perasaan yang hampir membuatku lumpuh, ketika ku lihat Jaejoong hyung tengah dikeroyok oleh beberapa orang terlihat seperti preman dan erangannya yang terdengar memilukan. Tanpa memperhitungkan apapun lagi, aku segera berlari dan menerjang mereka.

“Heh!” Aku mencengkeram bagian belakang baju preman yang sedang menghadap pada Jaejoong hyung lalu..

BUG! Sekuat tenaga ku pukul dia dengan kepalan tanganku. Dia terlihat hendak mengatakan sesuatu. Lagi, ku bungkam dia dengan tinjuku yang lebih keras.

“Dasar pengecut! Bisanya main keroyokan,” Lawanku berhasil ku lumpuhkan. Sebelum menyerang preman yang sedang menahan Jaejoong hyung, ku dengar Dyland mengatakan sesuatu yang tidak ku mengerti. Namun, dari nadanya, aku yakin itu bukanlah negosiasi.

“Cewek nggak usah banyak omong ya,” Suara serak menjawabnya.

Sekarang Dyland berada di sampingku. Jarak kami sangat dekat. Aku bisa mencium aroma tubuhnya yang bercampur keringat.

“Dan kalian nggak usah banyak gaya. Lumpuhkan preman yang menahan Jaejoong,” Dia berbisik. “Pengangguran kayak kalian memang cuma bisa gunain otot. Pegangi Jaejoong. Dengan menghajar orang yang tidak tahu apa-apa, kalian pikir bisa merebut simpati masyarakat disini? Saat ku bilang lari, lari ke arah sana.” Dengan tidak kentara, Dyland menunjuk sebuah arah.”Kalian tahu apa yang ku pikirin? Sampah masyarakat!” Dyland mendesis seolah jijik.

Aku berjalan pelan. Hanya tersisa 3 orang preman. Yang memegang Jaejoong hyung, 2 lagi sedang dihadapi Dyland dengan kata-katanya yang beracun. Preman yang memegang lengan Jaejoong hyung sangat kurus. Aku bisa melumpuhkannya dalam satu pukulan. Beruntung, saat ini dia sedang memperhatikan debat kusir antara Dyland VS Preman.

DUG! Aku menendang tulang keringnya. Lengan Jaejoong hyung segera terlepas. Aku memegangnya, sesuai perintah Dyland.

Hyung, bangun. Kita harus lari,” Bisikku sedikit keras. Aku mengguncangkan tubuhnya. Dan hampir bersorak saat mata cokelatnya terbuka.

Ku rasakan dia mulai berdiri tegak di atas kedua kakinya. Dyland melihat pada kami berdua dan mengangguk.

RUN!” Teriaknya. Aku segera menarik tangan Jaejoong hyung. Dyland ikut berlari di belakang kami.

“Heh! Jangan lari lu!” Sayup-sayup, ku dengar preman itu berteriak. Aku tidak memikirkan apa-apa lagi. Yang penting adalah keluar dari sini tanpa terluka lebih parah.

Kaki-kaki kami berderap menjejak tanah seolah ingin menghancurkannya. Yang ada di pikiranku saat ini hanya Dyland dan Jaejoong hyung yang terlihat hendak mati.

Kami melintasi gang-gang sempit dengan rumah-rumah kecil yang berkelebat di samping kiri-kanan ku. Beberapa orang kami tabrak. Beberapa detik sekali, aku menoleh ke belakang, memastikan Dyland masih ada. Namun sial bagi kami, preman-preman itu tetap mengikuti. Waktu seolah mengejar kami. Paru-paruku serasa terbakar. Tapi, aku harus tetap kuat dan memegang lengan Jaejoong hyung yang mungkin akan pingsan lagi.

Left! Left!” Aku segera berbelok ke kiri.

Hide there!” Dyland menunjuk sebuah gubuk mini. Kami memasukinya. Hampir saja aku muntah. Baunya sangat busuk!

“Dyland, ini tempat apa?” Aku berjinjit dari lantai semen yang entah kenapa terlihat begitu kotor.

“WC umum,” Balasnya datar.

Apa? WC umum? Beginikah WC umum di Indonesia? Ya Tuhan, apa kami harus menyumbangkan uang agar WC umum disini diperbaharui?

“Hhh… ahhh..” Jaejoong hyung menimpa tubuhku. Sepertinya dia sangat kesakitan dan kelelahan.

Hyung, gwenchana?

“A…irr…”

“Akan ku lihat apa mereka sudah pergi,” Dyland menjulurkan kepalanya keluar.

“Ku rasa aman. Sebaiknya kita segera keluar,”

“Ide bagus!” Desahku lega.

Hanya beberapa menit kami ada di dalam sana, namun aku merasa tidak ada lagi oksigen mengaliri darahku. Kini, aku menghirup dalam-dalam zat kaya nutrisi tersebut.

Jaejoong hyung tiba-tiba berjongkok dan memegangi perutnya.

“Aku akan mencarikan air. Tunggu sebentar,” Dyland melangkah pergi. Aku memandang punggungnya yang menjauh. Mengapa aku merasa dia sudah menyelamatkan Jaejoong hyung. Walau semua ini berasal dari sebuah ketidaksengajaan.

Tapi, langkahnya tiba-tiba terhenti. “Ku rasa kita bisa berjalan mencari air. Tempatnya tepat di depan kita,” Dyland menunjukkan sebuah warung kecil. Aku tersenyum. Gadis manis itu membantuku mengangkat Jaejoong hyung yang kepayahan.

“Ini adalah warung makan yang dari tadi ku cari-cari. Gado-gado,” Dyland tersenyum (memang) manis. Dia mengatakan sesuatu pada penjaga warungnya.

Beberapa menit kemudian, beberapa butir obat dan 3 cangkir teh panas terhidang di depan kami.

“Jaejoong, kau harus minum obat ini untuk meredakan sakitmu,” Dyland mengansurkan beberapa biji obat. Aku bisa melihat muka hyung-ku yang tidak rela. Dia memang paling tidak suka minum obat.

Dengan lembut, Dyland meminumkan teh panas di dalam sendok kecil sesudah meniupnya.

Hell, perasaan apa ini? Sangat ingin aku melepas tangannya yang berada di punggung Jaejoong hyung. Cemburukah ini?

“Pahit…” Muka Jaejoong hyung mengernyit.

“Makan ini. Gado-gado itu manis lo,” Dyland menyupai Jaejoong hyung dengan makanan berwarna coklat. Mengapa sih segala hal yang ada di Indonesia ini aneh?

“Hmmm, enak ya..” Hah? Enak? Tidak percaya, aku membuktikan perkataannya dengan memakan sesendok gado-gado.

“Benar juga. Manis. Tapi, ada rasa jahenya. Gurih lagi..” Aku mendecap keenakan. Tidak ku sangka makanan Dyland semanis orangnya.

*oppa jadi raja gombal deh*

Beberapa menit kemudian, yang terdengar hanya lidah kami yang mendecap keenakan. Manisnya makanan ini membuatku lupa dengan apa yang Dyland lakukan, terus menyuapi Jaejoong hyung.

^Eyeing The Mind^

DYLAND POV

“Ku rasa aku harus pulang sekarang,” Aku berhenti di depan kamar hotel mereka. Sudah saatnya untukku mencari tahu dengan spekulasiku sendiri, apa sebenarnya ‘mata-satu’ itu. Masih tersisa waktu 4 jam sebelum konferensi pers.

“Ingin ku antar?” Jaejoong mengernyit sakit saat bertanya. Ya, aku bisa merasakan sakitnya. Untuk bernafas saja dia kesulitan. Butuh tenaga luar biasa agar aku bisa bertahan tanpa menunjukkan rasa sakitku sekaligus berpikir agar identitasku tidak ketahuan.

“Tidak usah. Aku bisa sendiri. Terima kasih kalian telah menerimaku disini,” Aku tersenyum.

“Tidak apa-apa. Kau membutuhkan bantuan,” Yoochun tersenyum sedih. Dia sedang memikirkan yang terjadi antara aku dan Jaejoong. Aku hanya berharap dia tidak menganggapku sebagai gadis penggoda. Berusaha menciumnya tadi pagi lalu menyuapi Jaejoong di tempat tadi.

Jangan tanya aku darimana dapat ide seaneh tadi. Makan gado-gado? Hahaha. Aku bahkan ingin tertawa keras saat mengatakannya.

“Baiklah, aku pulang sekarang. See you…” Aku segera berbalik. Keinginan untuk kembali ke empuknya ranjang mereka dan hangatnya tubuh mereka terlalu besar untuk diabaikan. Lebih baik aku menyakiti fisikku daripada misi ini terbengkalai.

Haahhh. Mungkin aku harus tidur sebentar…..

^Eyeing The Mind^

YOOCHUN POV

Ini gila. Benar-benar gila. Bagaimana bisa aku jatuh cinta pada seorang gadis yang baru saja ku kenal kurang dari 24 jam yang lalu?

Ingin rasanya aku berteriak frustasi. Apa aku bisa bertemu lagi dengannya?

Aku memandang ke sekeliling kamarku. Lalu mataku tertuju pada jaket hitam yang sama persis dengan milik Dyland.

Tunggu? Jangan-jangan itu….

Aku segera mengambilnya dan menepuk dahiku sendiri. Tentu saja. Aku mengambilnya saat Jaejoong hyung sedang mandi tadi.

Ahhh… Ku cium dalam-dalam aromanya. Dia memang memikat. Bahkan dia meninggalkan pesonanya padaku melalui jaket ini.

Krosak..

Ada bunyi seperti kertas dalam jaketnya. Penasaran, aku segera merogoh kantong jaket itu.

Apa ini?

JYJ ASIAN WORLD TOUR

Hah? Bukankah ini tiket konser kami? Mengapa Dyland bisa memilikinya?

Siapa dia sebenarnya?

JAEJOONG POV

Aigoo.. Aku menatap pantulan lebam di cermin kamarku. Sangat mengenaskan. Ini dia akibat emosi sesaat. Setelah ku pikir-pikir, untuk apa aku berkelahi dengan preman itu? Lebih penting lagi, untuk apa aku bertengkar dengan Junsu?

Ternyata aku lebih kekanak-kanakan daripada Changmin.

Maknae itu. Apa kabarnya sekarang? Ku harap dia masih bisa makan dengan layak. Apa Yunho memasak untuknya?

Hatiku kembali terkoyak. Luka ini hanya membeku. Bukan hilang. Saat ada pemicunya, luka ini kembali berdarah. Betapa aku merindukan mereka. Setelah mimpiku tadi malam, aku merasa harus selalu mengingat kenangan indah kami. Bukan malah melupakannya.

Berada jauh dari mereka, seolah hidup di kehidupan yang salah. Saat semua hal berjalan dengan benar, aku tertinggal di luar.

Dyland… Setiap mengucap kata itu, ku rasakan sebuah energi baru. Entah mengapa. Aku merasa selalu bertemu dengannya. Entah dimana.

Sosok itu, aku merasa ada yang lain padanya. Dia bukan hanya gadis biasa. Aku merasa sangat nyaman ketika tangannya merawatku tadi. Perasaan apa ini?

SEOUL, SOUTH KOREA

DBSK DORMITORY

CHANGMIN POV

Aku mengerjapkan mataku dengan bingung. Kenapa akhir-akhir ini penglihatanku amat jernih? Semuanya seolah bercahaya. Cahaya yang memaksaku berhenti sejenak dan menikmatinya. Dunia ku sekarang seperti rumah cahaya. Sejak malam aku melihat tambahan bintang pada rasi kami, bebanku serasa berkurang drastis. Aku merasa lebih mudah tersenyum. Lebih mudah berpikiran positif. Aku harap ini suatu pertanda baik.

Bahkan ku rasakan ada yang terhubung denganku. Jangan tanya bagaimana aku tahu. Aku hanya tahu.

Aku merasa.. Saat itu akan segera tiba….

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s