[FANFICTION] Sparkling Pixie – Chapter 2 (Denial of Addiction)

CHAPTER II

DENIAL OF ADDICTION

Cast: Jung Yunho (DBSK), Kim Jaejoong (DBSK), Cassandra (OC), Cylla (OC)

Other Cast: Jessica (SNSD)

Genre: Romance/Fantasy

Warning: Yaoi/Shounen Ai, complicated grammar, a bit of vulgar words

Dislcaimer: The plot of fairy was taken from Wicked Lovely by Melissa Marr. The rest is mine.


Seharusnya, manusia tetap pada pegangan mereka.

Seharusnya, manusia tetap tidak percaya.

Seharusnya mereka tetap bertindak kejam.

Karena kemanusiaan hanya mengungkap kejahatan lain yang ada.

Keingintahuan hanya membuat yang lain tersakiti.

Namun, jika semuanya kembali lagi pada yang bernama bahagia.

Apa segala keindahan tanpa metafora biasa itu tetap harus tersembunyi?

Yunho membuka matanya perlahan saat suhu panas menggelitik seluruh tubuhnya.

“Hah? Kenapa aku bisa ada disini?” Yunho berteriak panik. Dia mendapati dirinya tergeletak sendiri di tengah hutan. Pepohonan rapat mengelilinginya. Walau hutan ini begitu lebat, sinar matahari memancar lembut, sekaligus misterius. Membuat otak Yunho beku sesaat.

Lalu, tiba-tiba potongan gambaran mustahil tercetak di benaknya.

Lentera….

Malam..

Gelap..

Cahaya..

Musik..

Pada bagian ini, Yunho tersenyum aneh.

Dan…..

Sesosok makhluk rupawan..

Minuman..

Dansa….

Tubuh Yunho tersentak. Aliran listrik memenuhi tubuhnya. Kejut aneh membuat Yunho sadar, itu semua bukan mimpi.

Pixie… Entah bagaimana, Yunho sadar, sejak saat ini nama Pixie menjadi awal sesuatu yang dicarinya sedari dulu.

Hero…

Kalimat itu. Nama itu. Seolah menjadi oksigen untuknya. Persetan siapa dia. Lelaki itu tahu mulai saat ini Hero akan selalu hadir pada bagian tergelap hidupnya. Untuk menjadi cahaya. Lenteranya…

Yunho bangkit berdiri. Dia memandang sekeliling. Tadi malam waktu seolah ikut menari. Mengacaukan simpul yang sebelumnya erat terikat. Dengan pembagian yang kaku, waktu terasa kejam untuk Yunho. Namun, tadi malam, waktu serasa lepas. Hero mungkin menjadi alasan untuk semua keajaiban itu.

Keajaiban? Nama itu terus bergema seiring langkahnya pulang ke rumah. Seakan setiap hari dia melalui jalan ini, kakinya tahu betul kemana harus melangkah. Apa benar keajaiban yang ditawarkan Hero sebagai Pixie berlangsung selamanya? Trauma masa lalu membuat Yunho tidak pernah percaya lagi pada keajaiban. Tapi, matanya, senyumnya, tubuhnya, Yunho tahu itu hanya tercipta untuknya.

Kali ini, apa Yunho harus menyerah pada hatinya yang lemah? Ya, untuk pertama kalinya, Yunho mengakui, hatinya sangat lemah untuk kembali pada apapun bernama keajaiban. Hanya agar dia hidup untuk hari berikutnya. Jika bukan karena Cassandra atau Cylla, Yunho pasti sudah tidak ada.

Yunho mengacak rambutnya yang membiru ditimpa cahaya pagi. Merasa bingung dengan perasaan campur aduk di hatinya juga kepalanya.

Apa aku sudah gila? Menganggap yang tadi malam itu bukan mimpi?

Setelah perdebatan singkat, pertarungan itu dimenangan oleh sosok Yunho yang selama ini bertahan. Ya, dia tidak akan percaya. Tadi malam, dia hanya berjalan sambil tertidur. Tadi malam, dia hanya terlalu lelah berpikir sehingga benang kusut itu terbawa sampai ke dalam mimpi. Ya, Yunho tidak percaya.

“Aku tidak percaya,” Bisiknya bengis saat dia mendapati dirinya sudah berada di depan beranda rumahnya. Yang dia percayai kali ini hanya dirinya sendiri…

Jam di tangannya menunjukkan pukul 06.00 AM. Pada jam seperti ini, Eropa bagian barat memang telah mendapatkan cahaya matahari. Yunho berjalan tergesa memasuki rumahnya. Hari ini, saat mentari menyingkap cadarnya, Yunho kembali memasang topeng yang membuatnya muak.

^Sparkling Pixie^

Cylla terbangun dengan nafas terengah-engah. Tubuhnya mencapai suhu di atas batas normal. Jantungnya berpacu cepat. Gadis cilik berumur 7 tahun itu memegangi dadanya. Mimpi buruknya yang pertama di rumah ini. Sebelumnya, Cylla selalu bermimpi indah. Bermain bersama peri, memetik bunga bersama seorang nenek baik hati, dan terbang dengan sayap kupu-kupu.

Namun, kali ini semuanya tidak sama. Wajahnya memucat. Tubuhnya seolah tidak dialiri darah lagi. Dia bisa mengingat mimpi itu dengan sangat jelas.

Gelap yang melingkupi tubuhnya. Gelap yang menyedot udara sampai rasa apapun di hatinya. Lalu, sensasi mati rasa mulai dari ujung kuku sampai kepalanya. Dan tiba-tiba cahaya terang berkilau mengalahkan mentari dan bintang dijadikan satu datang dari atas. Seraut wajah menyeruak dari cahaya itu. Wajah yang tersenyum manis sekaligus menyeringai. Cylla ingin berteriak, namun mulutnya seolah disumpal busa. Lalu, darah yang menetes dari sudut bibirnya. Terakhir, mata emerald berkilat bagai kucing di tengah malam segera meloloskan teriakan Cylla..

Saat itulah dia membuka matanya. Yang terlintas di benaknya saat ini adalah turun dari ranjang, membuka lacinya, dan mengelurkan kalung perak dengan liontin batu emerald. Sehijau matanya.

Dan mata pada raut wajah itu… Bisik hati Cylla ketakutan. Liontin pemberian ayahnya. Sejak saat itu, entah mengapa Cylla selalu merasa ada yang mengawasi mereka. Dan dia bukan hanya anak berumur 7 tahun. Ada sesuatu dalam dirinya. Melampaui pikiran manusia dewasa sekalipun…

^Sparkling Pixie^

Sejak dari rumahnya sampai kesini, Yunho menjalaninya seperti mimpi. Seperti biasa, dia tiba di sekolahnya 5 menit sebelum vonis kebosanan mengetukkan palunya. Bukannya malas ke sekolah, justru saat di Korea, Yunho selalu merebut penghargaan siswa teladan. Namun, dengan segala hal yang memaksanya pergi ke dunia antah-berantah bernama Inggris, Yunho tahu, dia harus meninggalkan dirinya di Korea. Dan membawa raganya tanpa arti kesini. Walau itu berarti menjadi manusia yang dijauhi.

“Hey, lihat! Si sipit berjalan. Apa dia bisa berjalan dengan mata sekecil itu?”

Tawa menggema di seluruh penjuru kelas menjawab ejekan seorang anak remaja bernama Josh. Dengan brunette hair yang membuatnya menjadi top list di daftar perempuan, dia merasa mampu melakukan segalanya. Termasuk mem-bully Yunho sejak 6 bulan yang lalu.

Yunho sendiri, hanya melempar pandangan datar, menghempaskan tubuhnya di atas bangku paling ujung sebelah kanan. Jauh dari jangkauan guru maupun siapapun. Hanya satu yang dia sukai dari sekolah ini, dimanapun kelasnya berada, pemandangan yang terhampar adalah hutan lebat dan bukit jauh disana.

Tidak seperti biasa, penawar rasa yang tiap pagi mampu membuatnya bertahan tidak mempan. Angin pertama di musim semi, kuncup bunga pertama di sepanjang jalan yang dia lalui, sampai aroma tanah basah. Seakan, sejak tadi malam, hidupnya berotasi secara terbalik. Tadi malam adalah kenyataan, dan hari ini mimpi dimulai…

“Sialan. Mengapa awan malah berbentuk seperti wajahnya?” Yunho menggebrak meja pelan.

“Kau kenapa?” Sebuah suara lembut menyadarkan Yunho dari keinginannya menghancurkan meja. Atau bahkan menghancurkan sekolah ini. Dia bisa gila jika terus-menerus menyangkal kehadiran Hero tadi malam.

“Tidak apa-apa, Jessica.” Jawab Yunho, kali ini menatap lawan bicaranya. Jessica adalah satu dari sedikit manusia yang masih menganggap Yunho manusia di kota kecil ini. Maka dari itu, Yunho menatap Jessica saat bicara. Gerakan salah, karena Yunho hanya membuat pipi Jessica bersemu kemerahan.

“Kalau kau sakit aku bisa menemanimu ke ruang kesehatan.” Tawarnya pelan. Jessica memang gadis pemalu, tapi seperti gadis kebanyakan, dia tidak akan melepas apa yang disukainya.

“Sungguh. Aku tidak apa-apa. Hanya kurang tidur tadi malam.” Sahut Yunho. Mulai terganggu dengan pertanyaan gadis berambut pirang itu.

Good morning, Class!” Suara lantang memecah kumpulan suara yang menggantung riuh di udara. Mr. Gregory, home teacher kelas mereka datang. Yunho mengucap syukur. Jika saja lelaki paruh baya itu terlambat satu detik, mungkin Jessica masih memaksa Yunho untuk pergi bersamanya.

” Maaf mengganggu waktu ngobrol kalian. Tapi sayang sekali waktu bersenang-senang telah habis.” Mr. Gregory menjatuhkan buku-buku tebal ke atas meja. Anak-anak di barisan depan yang selalu menduduki peringkat 10 besar segera menyiapkan buku catatan mereka, yang bahkan lebih tebal dari buku-buku yang dibawa Mr. Gregory. Sedangkan anak-anak di barisan kedua sampai ke belakang menyiapkan earphone dan iPod mereka, siap menyumpal telinga dari berbagai materi yang bisa memecahkan kepala.

Yunho, seperti biasa, mengeluarkan sketsa gambarnya dan mulai membiarkan pikirannya mengembara, sejauh yang ia bisa. Namun, kali ini, dia tidak harus mengkhayal kemana-mana. Dia tahu harus menggambar apa. Sekedar penyaluran, agar dia tidak menjadi gila.

Saat pensilnya mulai menarik garis, suara ribut di depan kelas membuat kepalanya mendongak.

“Wah, cakep sekali…”

“Dia bagaikan malaikat.”

“Aku yakin dia ditakdirkan untukku.”

“Apa kau mencium parfumnya? Aku yakin tidak akan bisa tidur malam ini.”

“Dia perempuan atau lelaki?”

“Tampan, sekaligus cantik.”

Seorang Jung Yunho yang biasanya autis akan keadaan di sekitarnya, mulai menunjukkan perhatian. Semua kepala penghuni kelasnya menjulur ke pintu masuk. Seakan mengantisipasi siapa yang akan datang. Entahlah, indra perasanya tiba-tiba menjadi ribuan kali lebih sensitif.

Lalu, pertanyaan riuh-rendah itu terhenti begitu saja, saat mereka melihat yang sejak tadi mereka perdebatkan. Ya, dia datang. Memecah kebosanan yang selalu saja menjadi penghuni semua kelas. Menyihir keabu-abuan menjadi warna ceria. Puluhan muka yang awalnya penasaran sontak berubah. Kagum dan terpesona dengan apa yang ada di depan mereka.

Seorang lelaki berpostur tegap dan ramping, dengan mata coklatnya yang memandang lucu sekaligus malu. Rambutnya yang berwarna almond membuat sosok itu kian terlihat sempurna. Bibirnya semerah delima, membuat perempuan maupun lelaki di kelas itu berdecak, bernafsu sekaligus bingung, apa benar dia lelaki?

Yunho tersihir di tempat duduknya. Dia mengerjapkan matanya. Memastikan apa yang dia lihat bukan ilusi semata. Sosok itu tetap ada disana. Senyum lucu dan malu darinya tidak bisa menyembunyikan keindahan yang hanya bisa dilihat Yunho. Cahaya di matanya dan kulitnya yang seputih pualam seakan mampu menyembunyikan malam. Ya, Yunho tahu itu dia. Entah mengapa, dia merasa semua ini benar….

“Silakan perkenalkan namamu.” Mr. Gregory memecah keheningan.

“Perkenalkan, namaku Kim Jaejoong. Pindahan dari Korea Selatan. Aku biasa dipanggil dengan Jaejoong. Senang bertemu dengan kalian.” Suaranya kembali merambat di udara. Menyapa telinga mereka yang ada disana. Sehalus denting es dan semerdu air menetes. Jaejoong menghipnotis manusia-manusia yang ada disana. Tak terkecuali Yunho. Namun, walau mata Jaejoong menatap mata-mata yang ada di depannya, Yunho tahu mata Jaejoong selalu mengawasinya. Hipnotis yang dirasakan Yunho hampir melumpuhkan syarafnya.

“Ya, baiklah, Jaejoong. Ada yang ingin bertanya?” melafalkan nama Jaejoong dengan aneh.

Josh, si krucil usil, mengangkat tangan kanannya.

Sebelum dipersilakan, mulutnya yang diibaratkan Yunho seperti sampah langsung menyambar.

“Bahasa Inggrismu sangat bagus. Jauh berbeda dengan si sipit di belakang sana.”

Kelas langsung dipenuhi dengan tawa. Untuk pertama kalinya, Yunho teersenyum kecut. Ironis, dia dipermalukan di depan Jaejoong. Yunho bukannya tidak mahir, dia hanya hemat bicara. Sehingga banyak temannya menganggap Yunho tidak menguasai bahasa yang satu itu.

“Ku rasa tidak. Aku yakin dia hanya tidak banyak bicara. Tapi aku akan membuatnya lebih banyak bicara mulai dari hari ini.” Jawab Jaejoong tegas dan lugas. Untuk pertama kalinya, ejekan Josh menemui muaranya. Beberapa anak terkikik. Pemandangan yang tidak biasa melihat Josh terdiam dan dijawab oleh seseorang. Biasanya dia adalah sosok yang tidak terbantahkan.

Sementara Yunho hanya mengerjap kaget. Seluruh syaraf tubuhnya seolah dialiri oleh kekuatan listrik magnetis dan dari Jaejoong. Perasaan bangga, bahagia, namun satu perasaan yang sudah tidak dikenali Yunho lagi. Lega… Ya, Yunho lega. Mungkin, Jaejoong akan membantunya mulai dari sekarang.

“Josh, sudah pernah ku katakan jangan berkata macam-macam.” Telunjuk Mr. Gregory mengarah pada Josh. Lalu berpaling pada Jaejoong. “Okay, new boy, karena kau adalah anak baru dan dari negara yang sama dengan Yunho, bagaimana kau kalian duduk berdekatan. Tapi, ku pikir kau tidak boleh duduk di belakang. Jadi, bagaimana kalau Yunho pindah ke depan?” Mr. Gregory tersenyum puas. Akhirnya dia menemukan cara membuat Yunho pindah ke depan.

Yunho hanya bisa membuka mulutnya tanpa suara. Membantah Mr. Gregory sama dengan membersihkan WC cowok untuk seminggu. Akhirnya, Yunho hanya bisa berkata datar, bertentangan dengan amukan gelombang dalam hatinya. “Okay, Sir.”

Masih tersisa dua bangku di depan, berhadapan dengan meja guru. Sepertinya, takdir sedang memainkan peran sebagai pemersatu Yunho dan Jaejoong, dua bangku itu biasanya selalu diduduki oleh mereka yang seluruh hidupnya didedikasikan untuk belajar.

Dengan langkah terlalu antusias untuk golongan siswa yang tidak pernah mencicipi bagian depan, Yunho berjalan sambil membawa tasnya. Sekilas, dia bisa melihat muka kecewa Jessica. Namun, muka cantik Jessica yang seorang perempuan kalah dengan pahatan muka Jaejoong yang jelas-jelas seorang lelaki. Aura yang dikeluarkannya bukanlah aura manusia biasa. Walau dengan penampilan manusiasi, T-shirt dan jeans serta sneakers, Jaejoong terlihat tidak pantas mengenakan atribut normal seperti itu. Yunho tahu Jaejoong lebih menawan dengan sulur-sulur berwarna pelangi, mata sehijau emerald, serta rambut semerah tembaga. Kesempurnaanya sebagai Pixie akan tergambar dengan jelas.

Ah, kenapa aku memikirkan itu lagi? Tadi malam hanya mimpi. Tidak ada Pixie. Tidak ada Hero. Yang ada di depanku adalah Kim Jaejoong. Manusia biasa. Sialan… Yunho merutuk dalam hatinya.

Dengan kasar, dia meletakkan tasnya dan segera duduk. Memandang apapun selain samping kirinya. Gila, mengapa ada dorongan hasrat purba yang membuatnya ingin memeluk dan mencumbu Jaejoong?

“Hai, namamu Yunho?” Sebuah suara pelan segera membuat Yunho menoleh. Walau dengung lebah makhluk-makhluk di kelasnya kembali terdengar bercampur dengan penjelasan Mr. Gregory tentang sistem reproduksi, suara Jaejoong serasa ribuan kali lebih jernih. Seakan, ada yang memerangkap mereka, dalam ruang dan waktu yang berbeda.

“Iya, kenapa?” Entah mengapa, dia ingin pembicaraan ini berlangsung panjang.

“Seingatku….” Jaejoong mendekatkan mulutnya ke telinga Yunho. Menghembuskan desahan dan suhu yang hampir membuat tubuh Yunho terlonjak, “Namamu adalah Yunnie… Bukankah begitu?”

Yunho segera memandang Jaejoong yang kini tengah menatapnya dengan pandangan familiar.

Dia…. Hero? Sumpah mati Yunho takkan melupakan tatapan itu. Kerling romantis namun misterius serta kejam adalah satu-satunya hal yang membuatnya tidak bisa melupakan malam itu. Mata hijau yang bergerak liar hanya di antara mereka berdua, gesekan nakal tubuh yang tidak pernah puas, dan bibir yang mengecap bagian-bagian intim tubuhnya sesaat. Tidak, Yunho tidak mungkin melupakannya.

“Kau ingin melupakan yang terjadi tadi malam, ya?” Bisik Jaejoong lagi. Kali ini mendekatkan bibirnya ke bibir Yunho yang gemetar karena antusiasme. “Tidak akan, Yunnie. Tadi malam dan seterusnya akan abadi untuk kita. Kau tidak akan bisa lari.”

Yunho terpaku. Hasratnya makin menggebu. Bibir merah itu tidak beranjak dari tempatnya. Seakan menantang keberanian Yunho, now or never!

Lelaki itu memandang wajah di depannya. Wajah yang sejak tadi malam membuatnya mereguk madu kenikmatan. Mata coklat itu, dalam beberapa detik, memantulkan kilatan hijau emerald. Kali ini, Yunho yakin dia tidak bermimpi. Namun, apa dia harus membiarkan dirinya jatuh? Jika dia menyambut bibir itu, dia tahu tidak akan bisa keluar lagi….

Tangan Yunho mengepal erat. Mati-matian melawan hasrat untuk melanjutkan hal panas, liar, dan nakal ini.

Aku harus bertahan, batin Yunho.

Jaejoong terus memandangnya. Membius Yunho untuk melihat hanya padanya. Hanya merasakannya. Memikirkannya. Dan menerima racun sekaligus madu yang dia punya. Dari dulu, Yunho memang hanya untuknya….

Namun, harapan tinggi itu langsung terhempas saat Yunho berdiri dan menggumamkan kata permisi pada Mr. Gregory. Untuk beberapa saat, Jaejoong terpana. Lalu menyeringai. Ini yang ia sukai. Tantangan… Entah sejak kapan terakhir kali dia mendapatkannya.. Dan memenangkannya….

^Sparkling Pixie^

Tubuh mungilnya yang dibalut oleh gaun mini berwarna putih gemetar. Matanya nyalang menatap kesana-kemari. Ada sesuatu disini. Yang berbeda sama sekali dengan yang selalu dilihatnya. Sesuatu yang…..

“Akhhh!” Entah mengapa teriakannya terbungkam dan hanya keluar sekejap. Sesosok makhluk aneh baru saja melintas di depannya. Lalu hilang dalam sekejap. Cylla yakin dia tidak bermimpi. Sosok itu terasa familier. Dengan sesuatu yang mereka pakai, Cylla tidak yakin itu gaun, lebih terlihat seperti sulur yang menempel di tubuh mereka. Sulur yang menutupi kesempurnaan pahatan itu dan berwarna-warni keemasan, keperakan, serta kemerahan. Entah mengapa, beberapa detik yang langka, dia mampu menangkap visi yang sangat rumit. Sosok itu serasa akrab dengannya.

Cylla berbalik dan mendorong pintu WC sekolahnya. Berlari, dan menutup matanya. Dia yakin akan ada lebih banyak makhluk yang akan dia lihat.

Namun, mengapa dia tidak merasa heran?

^Sparkling Pixie^

Matahari telah mencapai titik kulminasi. Beruntung, saat ini adalah musim semi. Matahari masih berbaik hati untuk tidak meradiasi manusia secara berlebihan. Mungkin karena dia juga baru saja terbangun dari tidur panjangnya selama musim dingin.

Mata sipit Yunho terlihat makin sipit saat dia berbaring di atas rumput hijau dan lembut. Manik hitamnya memandang lurus ke angkasa. Mencari objek apapun yang membuatnya lupa dengan sesuatu yang membuat sekujur tubuhnya panas.

“Sialan!” Maki Yunho pelan. Dia tahu ini harus segera diselesaikan. Dia tahu tubuhnya menanti sesuatu. Namun, Yunho takut. Jika dia bergerak maju, bukan tidak mungkin dia akan terperosok lebih dalam. Pada Hero yang bukan manusia. Firasatnya mengatakan jika dia melanjutkan ini, dia akan memasuki babak yang sama sekali baru untuknya. Dia tidak siap.

“Apa yang sedang kau lihat?” Yunho menulikan telinganya. Namun dia tahu tubuhnya tidak bisa dibohongi. Dengan gerakan tidak kentara, Yunho menghirup aroma tubuh seseorang di sebelahnya.

“Jangan ganggu aku,” Desis Yunho pelan.

“Kau sangat galak,” Jaejoong mengerucutkan bibirnya. Mau tak mau, Yunho menoleh ke samping. Oh Tuhan, betapa dia sangat ingin meraup belah delima itu.

“Memang. Jadi, untuk apa kau menemani orang galak sepertiku?” Pertanyaan retoris Yunho sangat bertentangan dengan keinginannya saat ini.

“Untuk memahamimu..? Dan membuatmu sadar bahwa bukan kehidupan seperti ini yang kau inginkan,” Balas Jaejoon berani. Kini dia ikut merebahkan dirinya di samping Yunho. Tangannya meraih wajah Yunho dan memaksanya untuk berhadapan.

Susah payah Yunho mempertahankan stoic face-nya. Namun, saat Jaejoong tersenyum lembut, dingin yang ia pertahankan lumer perlahan.

“Yunnie, apa kau tidak ingin tahu tentangku?”

Yunho terdiam. Hati, tubuh, dan pikirannya masih berdebat. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Sungguh. Tiba-tiba saja dia tergoda untuk mengikuti permainan Jaejoong.

“Kau tahu apa yang ku lihat tadi malam? Seorang lelaki putus asa yang tidak tahu harus kemana. Lalu, saat kau bertemu denganku, kau tahu apa yang ada di benakku? Aku tahu kau menginginkanku. Lebih dari itu, kau membutuhkanku. Membutuhkan panas di tubuhku,” Tangan Jaejoong mulai meraba perut Yunho. Menggesekkan tubuh mereka berdua. Panas yang sama sekali lain menjalari tubuh Yunho. Panas yang sama seperti tadi malam. Kali ini, semuanya terasa nyata.

“Jangan menolak, Yun. Bukankah sakit jika kau harus menahannya?” Tangan Jaejoong membimbing tangan Yunho ke dadanya. “Dengar, aku juga berdetak. Sama sepertimu. Aku juga mempunyai hati. Apa kau percaya jika aku jatuh cinta padamu?” Mata Jaejoong berubah sayu. Menuntut jawaban. Yunho bingung, kenapa permainan ini menjadi serius di matanya?

Mata mereka kembali bertemu. Yunho mencari sesuatu disana. Sesuatu bernama keajaiban yang dia cari selama ini. Saat dia menemukannya, apa dia akan menuruti permintaan Jaejoong?

Maaf, Yunho. Aku harus pergi.”

Jangan. Aku mohon. Kau berjanji untuk tidak pergi. Mengapa – sekarang?”

Sungguh. Aku tidak bisa menjelaskannya. Maaf.”

Tidak, kau tidak boleh pergi!”

Tangan mungil seorang anak lelaki menggapai tangan yang lebih besar. Menahannya tetap di tempat. Sayang, tenaganya tidak sebesar keinginannya. Tubuh itu tetap menjauh.

Jaga Cylla dan Cassandra, Yunho. Kalian harus tetap percaya aku akan kembali. Tapi aku tak tahu kapan. Maaf..” Suara lelaki itu terdengar berat dan putus asa. Namun telinga Yunho tiba-tiba mendenging. Dia tidak ingin mendengar perpisahan ini. Mengalaminya..

Masih ada keajaiban, Yunho….”

Jangan pergi!” Teriak Yunho. Namun dia tetap berjalan, meninggalkan keajaiban yang dia katakan. Saat itu, Yunho memutuskan, tidak ada lagi keajaiban di dunia ini…

Kepala Yunho pusing mendadak. Kilasan masa lalu itu menghancurkan atmosfer khidmat di antaranya dan Jaejoong. Tanpa banyak berpikir, Yunho menyentak tubuh Jaejoong kasar.

“Kau salah,” Bisiknya dingin. Hatinya kembali membeku. Pikirannya kembali terpenjara dalam ruang yang dia buat sendiri. Tidak ada siapapun yang bisa menyentuhnya.

Termasuk Jaejoong.

“Jangan dekati aku lagi. Apapun yang pernah terjadi sebelumnya itu salah. Siapapun kau, aku tidak peduli.” Putus Yunho sebelum berbalik lalu berderap meninggalkan Jaejoong dengan sepotong kecewa.

Jaejoong menyeringai saat memandang punggung Yunho di antara rapatnya pohon pinus di belakang sekolah mereka. Seperti yang dia duga, Yunho memang tangguh. Ini memang tugasnya. Dia harus mendapatkan Yunho. Agar imbalan yang dia idamkan dari dulu segera ia dapatkan.

Tapi, mengapa ada rasa lain merasuki pelan? Rasa yang tidak pernah dirasakan seorang Pixie Agung atau Titan sepertinya. Pixie tanpa ikatan perasaan. Tercipta hanya untuk bahagia dan mempermainkan. Namun apa menyakiti Yunho termasuk dalam aturan hidupnya sebagai Titan? Sakiti sekali dengan sangat lalu tinggalkan?

Jaejoong menggelengkan kepalanya pelan. Tangannya memegang dada yang tadi disentuh Yunho. Mengapa rasanya lebih panas dari sebelumnya?

^Sparkling Pixie^

PRANG….

Ini adalah piring ketiga yang dipecahkan Cassandra.

“Cassandra! Ada apa denganmu?” Miss Rachel memandang Cassandra gemas. Wanita itu tertunduk pelan. Siap menghadapi omelan paginya.

“Hhhh.. Mungkin kau sakit. Sebaiknya kau istirahat sebentar. Atau kau ingin pulang?” Suara Miss Rachel melembut.

“Tidak usah. Aku istirahat disini saja.”

Cassandra berbalik menuju ruang ganti karyawan restoran. Miss Rachel memandangnya iba. Wanita itu adalah pemilik restoran kecil di kota kecil ini. Dia sangat baik. Memahami kondisi hidup Cassandra. Maka dari itu, walau pekerjaannya berat, Cassandra tidak ingin berhenti.

Wanita dengan rambut cokelat madu itu duduk perlahan. Dia memijat pelipisnya. Sejak tadi malam, bayangan masa lalu terus menghantuinya. Tidak seperti biasanya, pil-pil obat tidur tidak membantunya. Dia tetap terjaga sampai pagi.

Sejak dulu, meski dia selalu menyangkal, ada sesuatu yang lain di kehidupannya. Saat masa lalunya pergi, hal itu menghilang dengan sendirinya. Sekarang, mengapa firasat itu benar-benar kuat?

Cassandra menatap pantulan matanya yang ada di cermin. Hijau. Hijau manusiawi. Bukan hijau seperti…

“AARRGHHHH!” Cassandra berteriak tertahan. Mengingatnya selalu berakhir dengan sakit di kepalanya.

Cassandra yakin. Ada sesuatu yang akan terjadi. Kali ini, Cassandra berharap dia salah…..

^Sparkling Pixie^

Sementara itu, saat mereka berusaha mencari tahu apa yang salah, di tempat dengan waktu yang bergerak bebas dan dimensi yang berbeda, beberapa makhluk agung mengelilingi sebuh meja bundar berwarna hitam. Warna yang sangat kontras dengan keadaan di sekelilingnya yang penuh dengan aura menyilaukan mata. Semua makhluk agung terlihat sama dalam jubah kebesaran mereka yang berwarna merah. Dengan mahkota yang menunjukkan kekuasaan masing-masing, mereka memandang lurus dengan angkuh ke sebuah layar datar di depan mereka yang bergerak konstan seperti air. Ekspresi bagai patung yang mereka tampilkan membuat wajah mereka kian sempurna. Mata tajam, hidung mancung, bibir merah merekah, bersatu dengan harmonis bersama tubuh mereka yang dipenuhi tonjolan otot disana-sini.

Salah satu lelaki dengan mata yang seakan selalu ingin melakukan kejahatan memecah kesunyian beku dalam ruangan itu,”Kapan kita akan melihatnya?”

Lelaki di seberangnya dengan mata bersinar lembut dan suara husky menjawab,”Sebentar lagi dia akan datang.”

“Aku tidak bisa menunggu lama.” Sebuah suara yang terdengar kekanak-kanakan menambah kegelisahan mereka. Bibirnya merengut dan sebelah tangan mengacak rambut coklatnya. Membuat mukanya semakin lain dengan mereka. Manusiawi memang jika hanya sekilas memandangnya, namun saat diperhatikan benar-benar, terdapat setitik kesempurnaan dalam matanya yang tidak bisa ditemui pada manusia biasa. Dia menyimpan kekuatan lebih besar dari yang lain.

“Sabar. Kalian tahu itu kuncinya.” Sebuah suara tegas langsung membuat mereka menegang. Tidak bijaksana membuat seorang Rex Regis, raja Pixie, marah. Namun, lesung pipit yang menghiasi wajahnya membuat mereka menghembuskan nafas lega.

“Lihat. Kacanya mulai bergerak….” Suara imut tadi segera membuat mereka berempat memalingkan pandangan ke arah layar datar yang kini berombak lebih besar.

Seperti kabut yang disibak, sebuah gambaran mulai terlihat. Sesosok manusia yang mengikuti lentera, sesosok manusia yang berdansa, seorang gadis manusia yang berada di tempat tidurnya, sesosok manusia yang berbaring di rumput dengan sesosok penuh warna di sampingnya, dan terakhir raut wajah wanita yang terlihat sangat lelah.

“Jadi baru sampai sini pekerjaannya?” Suara pertama yang memecah keheningan tadi kembali membuat yang lain mengernyit.

“Kau tahu bukan pekerjaan yang mudah menggodanya, Kyu. Sebagai Panglima kau memang tidak pernah tahu cara bernegosiasi.” Suara lelaki itu tenang dan terkontrol, walau dia gemas juga dengan gerak lambat seorang Titan yang ditugasinya. Sebagai penasihat kerajaan atau Raedself, memang itu tugasnya. Memastikan semuanya di bawah kontrol emosi.

“Yoochun benar. Kita sudah mempersiapkan ini dari awal. Dia seakan selalu dilindungi oleh pengecut itu. Sampai sekarang pengkhianat itu bahkan tidak menyetujui tindakan kita. Namun kita tahu inilah jalan terbaik. Mereka tidak akan bahagia di dunia manusia,” Siwon, sang Rex menenangkan mereka semua. Mahkotanya berkilau ditimpa lampu kristal yang menggantung elegan di atas langit-langit ruangan. Batu-batu mulia yang bertahta pada mahkotanya itu menambah kemilau rambut hitam arang Siwon.

“Aku juga setuju. Dia berbeda dengan yang lain. Mungkin trauma masa lalu membuatnya tidak ingi berurusan dengan kebahagiaan.”

“Perkiraanmu tepat, Taemin. Kita harus melakukan ini dengan perlahan, atau rencana kita akan kacau.” Yoochun kembali menyambung.

“Jadi, kita biarkan Hero gets in slow motion seperti itu?” Senyum remeh terukir di wajah Kyuhyun, Kellen atau Panglima di kerajaan Pixie, Faylinn.

“Tepat sekali. Jika kau yang kutugaskan untuk hal ini, pasti dia sudah lari terbirit-birit. Kau hanya bisa menggunakan senjata, Kyu.” Tukas Siwon.

Tiba-tiba, pintu ganda di ruangan itu terbuka. Dengan ukiran rumit tentang sejarah para Pixie, pintu itu berbunyi gaduh.

“Maaf, Tuan. Ada yang ingin bertemu.” Sesosok Pixie dengan sayap putih dan sulur berwarna pucat menghampiri Siwon.

“Pasti dia,” Siwon bergumam. “Suruh dia masuk, Sulli.”

Sulli segera berbalik dan beberapa saat kemudia sesosok Pixie lain berada di tengah-tengah mereka. Tidak 4 sosok Pixie di depannya, Pixie lelaki itu terlihat sangat manusiawi. Dilihat dari caranya melangkah, tidak seakan dunia adalah miliknya. Sulur yang menghias tubuhnya, tidak semegah Pixie lain. Hanya warna hijau dan biru, menyejukkan mata.

Tapi tidak untuk Kyuhyun. Dia malah mendecih pelan. “Untuk apa kau kesini?”

“Meminta pada kalian untuk tidak melanjutkan ini,” Raut wajah Pixie itu tiba-tiba menua.

“Tidak bisa. Kau yang melakukannya pertama kali. Semua ini harus diakhiri. Atau akan lebih banyak lagi keturunan Pixie lain yang akan tersebar di dunia luar sana,” Siwon menangkupkan kedua tangannya di depan dagu. Ekspresinya saat menghadapi orang yang keras kepala.

“Bukankah itu lebih bagus? Kita tidak harus berpisah dengan mereka. Bukankah sebelumnya mereka sama dengan kita?” Mata hijau Pixie itu bersemburat merah.

“Kau lupa dengan sejarah kita? Kita tidak bisa membiarkan hal itu terjadi. Ras kita adalah ras murni. Mereka hanya sampah,” Kyuhyun hampir meraih senjatanya.

“Alex, bukankah kau sudah ku suruh berpikir?” Yoochun menenangkan Pixie itu.

“Aku sudah berpikir. Dan aku tahu seharusnya aku menghentikan semua ini,” Bisik Alex putus asa.

“Maka dari itu, serahkan saja pada kami.” Taemin melembutkan suaranya.

“Aku meninggalkan mereka karena… karena—” Alex berhenti bicara. Tangisnya sudah di ujung tenggorokan.

“Kami mengerti. Kau boleh pulang sekarang.” Putus Siwon. Sulli segera memegang lengan Pixie yang hampir pingsan itu.

“Kita biarkan saja Titan bekerja. Dia tidak terikat oleh siapapun dan dengan siapapun, bahkan olehku. Mungkin akan lebih mudah untuknya meraih manusia itu.” Raja Pixie itu memandang yang lain. Bukannya minta persetujuan, dia hanya ingin melihat ekspresi mereka. Apa mereka sudah bisa menangkap maksudnya?

“Aku mengerti,” Seringai Kyuhyun. Dia tidak sabar menunggu apa yang akan datang.

“Apa Yang Mulia katakan selalu benar,” Yoochun menundukkan kepalanya dalam. Tapi Siwon sempat menangkap kilatan licik di matanya.

“Ya, suaraku sebenarnya tidak terlalu dibutuhkan, kan, kecuali ada Minho disini,” Taemin merengut. Rambut emasnya yang seringan kapas berkibas saat kepalanya sedikit menunduk.

“Dia akan datang, Taemin. Dia pasti juga merindukanmu,” Yoochun mengacak rambut Taemin. Mahkotanya menjadi miring sedikit.

“Pangeran satu itu memang mempunyai terlalu banyak pekerjaan. Jadi, kalian mengerti kan maksudku?” Siwon memastikan sekali lagi.

Hampir serempak, mereka bertiga menganggukkan kepala.

TBC

One comment on “[FANFICTION] Sparkling Pixie – Chapter 2 (Denial of Addiction)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s