[MIND] Menjadi Manusia Tidak Normal

Manusia pasti menyenangi kenormalan. Kebiasaan normal membuat kita terhindar dari pandangan negatif dan gunjingan disana-sini. Ironis, di saat zaman bergerak maju dan menuntut pikiran yang berkembang, nyatanya kita mengalami kemunduran cara berpikir.

Menjadi normal bagi sebagian besar orang mungkin mengikuti kebiasaan sejak zaman dulu kala. Menjadi wanita sebenarnya, menjadi pria sebenarnya, menjadi anak yang berbakti, itukah normal? Lalu bagaimana dengan yang menyimpang?

Suatu penyimpangan di masyarakat tentunya menuai banyak kontroversi. Mulai dari LGBT, pedofil, pencuri, pemerkosa, pembunuh, mereka adalah bentuk penyimpangan yang selalu memicu keributan.

Tapi, sadarkah manusia ‘normal’ itu, mereka menyukainya? Setiap ada berita ataupun kasus penyimpangan, dengan segera mereka menonton dan mengomentari, “Itu tidak benar.” Jika mereka tidak menyukainya, mengapa tetap menonton lalu menghujatnya? Bukankah sebaiknya berhenti daripada menambah dosa?

Ah, tentu saja. Manusia ‘normal’ membutuhkan sebuah penyegaran, agar mereka meyakini bahwa diri mereka lebih baik dari yang lain. Mereka membutuhkan pembanding, pemeran antagonis, agar mereka tetap eksis dan dicintai manusia ‘normal’ lainnya. Tidak menyukai sesuatu lalu mengomentari apapun terkait dengan itu sama saja dengan mencari penyakit. Jika ‘membenci’ berarti ‘alergi’ dan kita tetap melakukan bahkan memakannya, tidak akan baik untuk kita.

Sekali-kali, lihatlah sesuatu dari sudut pandang berbeda, bukan dari sudut pandang seorang hakim. Lihatlah sesuatu dengan sudut pandang anak kecil, niscaya kita akan menemukan kemurnian dan keikhlasan.

Seorang pemerkosa, tindakannya memang salah, tapi bisakah kita melihatnya lebih lanjut? Siapa tahu pakaian si wanita yang terlalu mengundang atau si wanita yang menggoda.

Seorang pembunuh, apa memang benar dia melakukannya tanpa dasar? Kita tidak tahu apa korbannya memang orang jahat atau justru korbannya yang memulai. Walaupun membunuh bukan sebuah solusi yang tepat, setidaknya kita tidak perlu menghujatnya seakan kita orang paling suci di dunia.

Selanjutnya ada pedofil. Apa ada yang salah dari itu? Kecuali jika si korban menolaknya dan penderita pedofil memaksanya, maka dia bersalah. Tapi, jika dilaksanakan atas dasar suka sama suka? Siapa yang bisa menghakimi?

Terakhir, LGBT. Isu ini masih hangat diperbincangkan dimanapun. Setiap ada kasus LGBT, masyarakat berbondong-bondong menghujatnya sebagai ‘dosa’ dan penyimpangan paling parah dalam norma maupun nilai sosial. Biasanya Muslim akan mengaitkannya dengan Kaum Sodomi yang akhirnya dihancurkan Tuhan. Tapi, bisakah kita menganalisisnya lebih dalam? Kaum Sodomi adalah kaum pemerkosa, mereka melampiaskan hasrat seksualnya pada orang yang tidak tahu apa-apa. Sedangkan LGBT dilandasi oleh kemauan dan cinta. Gay dan lesbian sejak tahun 1980-an dibuktikan sebagai mutasi gen, bukan penyimpangan seksual. Penelitian ini telah dibuktikan dan diakui oleh negara-negara di luar sana. Jadi, bagi mereka yang masih menganggap LGBT sebagai suatu pengaruh negatif dari negara barat, maka sebaiknya menyimpan hujatan itu dalam hati.

Menjadi ‘tidak normal’ berarti terlepas dari tatanan kaku masyarakat sosial timur. Menjadi diri sendiri dan manusia bebas. Tidak diperbudak oleh peraturan para tetua. Berpikir seluas samudera dan menerima cinta seluas dunia. Ingat, tugas manusia bukanlah menghakimi manusia lainnya. Toh jika dosa memang benar ada, biarkanlah menjadi tugas yang di atas.

Sign,

Dylandia Elfyza

By rosazazil Posted in Mind Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s