[FANFICTION] Love In Pain

33

LOVE IN PAIN

Meeting you was fate

 Becoming your friends was choice,

But falling in love with you was beyond my control

Author: rosanera

Main Casts: Kim Jongin & Song Eunhee

Other Casts: Krystal Jung, EXO Members, EXO’s manager

Genre: Romance & Angst

 

Aku memilih jatuh padamu.

Tanpa pegangan.

Tanpa penahan.

Tanpa dirimu yang akan menangkapku di bawah sana.

Aku tahu kau hanya mimpi.

Namun, aku tetap tak bisa melepas bayangmu yang selalu pergi dari pandangku.

Kau menghempaskanku berkali-kali.

Tapi, kenapa hati ini tak jua berhenti?

Aku tetap mencintaimu.

Meski itu berarti….

Aku harus terluka lagi

 

EUNHEE POV

Aku menghapus air mata dengan kasar. Mati-matian berusaha menahan butiran air brengsek ini turun kembali. Percuma, air mataku bertambah deras. Seiring dengan cepatnya kilasan gambar itu berputar di benakku. Seiring dengan luka hatiku yang bertambah besar. Seiring dengan kesadaran yang bertambah jelas, bahwa aku begitu bodoh untuk mempertahankannya.

Foto itu menjelaskan semuanya. Senyumnya menyiratkan apa yang tak kutahu. Binar di matanya pada wanita itu seolah menamparku, bahwa aku bukanlah apa-apa. I am nothing compared to her..

Lihatlah badannya yang jenjang. Lihatlah rambutnya yang lurus berkilau. Lihatlah senyum manisnya yang memaksa laki-laki manapun memalingkan wajah. Lihatlah kerling matanya yang dapat mengundang siapapun untuk mendekat. Lihatlah dia. Begitu cantik. Begitu bersinar. Begitu luar biasa dibandingkan diriku. Diriku dengan segala keredupan yang melekat.

Jongin, lelaki di sampingnya, memegang tangannya sambil tersenyum. Sudut pengambilan foto dari wartawan itu menegaskan seolah tak ada siapapun di antara mereka. Seolah senyum yang ditampilkan Jongin bermakna lebih banyak dari seharusnya. Senyum yang seharusnya hanya untukku. Hanya untukku, kekasihnya, Song Eunhee.

Ini bukan skandal foto pertama. Tapi, ini jelas puncak dari segalanya. Dari kesabaranku menahan diri. Dari kesabaranku menunggu penjelasannya. Dari kemarahanku padanya yang menganggap seolah ini hanya gosip murahan belaka.

Tidak, ini semua lebih dari itu. Wartawan mengabadikan momen mereka berdua belasan kali. Meski agensi mereka membantah, aku yakin ada sesuatu yang lebih dari itu.

KAI (Kim Jongin), member boyband EXO yang baru-baru ini mendapat banyak perhatian karena album mereka laris manis di pasaran, dan Krystal, member girlbad f(x) yang tengah mempersiapkan comeback mereka, kembali terlihat bersama di sebuah kafe di kawasan Myeong-dong…

Aku berhenti membaca. Tiap kata yang tertoreh di artikel itu seakan menggoreskan luka baru. Aku tak siap. Aku tak akan pernah siap untuk ini. Meski aku telah berkali-kali mengingatkan diriku bahwa sangat mudah untuk kehilangan Jongin, aku tidak bisa. Aku terlalu mencintainya.

Tiba-tiba, nama 내 남자친구 (my boyfriend) berkelip di layar handphone-ku. Jongin berusaha menghubungiku. Tanpa berpikir, aku mematikannya. Melempar benda itu ke sembarang tempat dan kembali menangis. Menangisi aku yang tak pernah bisa membencinya. Menangisi dirinya yang tak mungkin lagi mencintaiku. Menangisi kami yang terlalu bodoh untuk terus bersama meski dunia seakan menentang.

Aku menyerah.

Kutuk aku.

Aku tak peduli.

 

JONGIN POV

Sialan! Kenapa handphone-nya sekarang mati? Ayolah, Eunhee, kau harus mengangkatnya! Jika kau sudah melihat foto itu, maka kau harus tahu, semua itu tak berarti apa-apa. Tak peduli apapun yang terjadi antara aku dan Krystal, aku hanya mencintaimu, selalu begitu. Ayolah, Eunhee, hidupkan handphone-mu!

Aku merapal doa seperti orang gila. Tak peduli sudah berapa pasang mata staff menatapku aneh, aku tak peduli. Hanya Eunhee yang ada di pikiranku.

Dia tidak pernah seperti ini. Seaneh dan segila apapun skandal tentangku, Eunhee selalu menjawab teleponku. Handphone-nya akan hidup 24 jam tanpa terkecuali. Dia akan selalu mendengarkanku. Dia selalu percaya padaku. Kini, apa yang terjadi?

Apa skandal foto terakhir antara aku dan Krystal lebih heboh dari fotoku berpelukan dengan Krystal sebelumnya? Aku tak mengerti. Memang ada sesuatu antara aku dan Krystal, tapi itu semua tidak lebih penting dari apa yang aku dan Eunhee miliki. Tidak, aku tidak selingkuh. Masalah ini… lebih rumit dari itu.

“Dia belum mengangkat?” Kyungsoo Hyung menepuk pundakku.

“Iya..” Aku menjawab lemah dengan pandangan ke bawah.

“Sebaiknya kau menemui dia.”

“Haruskah?”

“Tentu saja. Bukankah kau bilang ini tidak seperti biasanya? Biasanya dia selalu menjawab teleponmu kan?”

“Benar.” Lagi-lagi, aku hanya mengangguk pasrah.

“Menurutku, apapun yang terjadi antara dirimu dan Krystal, harus dihentikan sekarang juga. Kau menyakiti Eunhee, Jongin.”

“Kau tahu aku tidak bisa melakukannya.”

“Kau bisa melakukannya, jika kau sadar yang mana yang lebih kau pedulikan.” Kyungsoo Hyung berlalu setelah memberikan senyum menenangkan.

Yang lebih kupedulikan? Tentu saja Eunhee. Tidak mungkin Krystal. Tapi, aku belum bisa menghentikan apa yang terjadi antara aku dan Krystal. Perempuan itu sudah terluka terlalu banyak. Aku melakukan ini semua untuk membantunya. Agar aku terlepas darinya. Agar janjiku lunas dan tak harus dibayangi oleh rasa bersalah.

Namun, apa ternyata Eunhee juga terluka? Apa dia begitu pintarnya menyembunyikan perasaannya sehingga aku tak tahu?

Aku mengacak rambutku frustasi.

“Jongin-ah!” Sunghwan Hyung, manager kami, mendekatiku.

Eoh, waeyo, Hyung?” Aku berusaha terlihat biasa. Dia tidak tahu hubunganku dengan Eunhee.

“Kita minum soju hari ini. Aku yang traktir.” Sunghwan Hyung tersenyum lebar. Sepertinya dia lega karena masa promosi album kami telah berakhir.

“Hmm.. Benarkah? Sepertinya… Aku tidak bisa.” Ya, aku memutuskan untuk menemui Eunhee setelah ini. Keanehannya tidak menjawab teleponku dan mematikan handphone-nya seharusnya tidak membuatku ragu untuk melakukan ini.

“Kenapa? Kau ada janji?”

“Ahh.. Itu…” Aku menggaruk leherku yang tidak gatal. Alasan apa yang harus kuberikan?

Hyung!” Tiba-tiba 11 member EXO lainnya datang bergerombol dan langsung menarik Sungwhan Hyung dariku.

“Katanya kau ingin mentraktir minum, ya?” Chanyeol merangkulkan tangannya di bahu Sunghwan Hyung. Sementara member EXO lainnya mengajak Sunghwan Hyung bicara. DI telingaku, mereka semua terdengar seperti lebah berdengung.

Aku ingin mengikuti mereka. Tapi, Kyungsoo Hyung menoleh padaku dan berteriak pelan. “Cepat temui Eunhee!”

Aku langsung mengerti. Rupanya mereka semua bekerja sama untuk membuatku pergi dari sini. Untuk pertama kalinya di hari ini, hatiku menghangat.

Tanpa membuang waktu, aku melesat ke ruang tunggu kami dan mengganti bajuku dengan baju biasa. Mengingat aku akan pergi sebagai Kim Jongin, kekasih Eunhee, bukan KAI, member EXO, aku harus menutupi identitasku. Tidak lucu, kan, kalau aku dikejar-kejar EXOTIC di tengah-tengah jalan nanti? Jadi, mantel panjang dan kacamata hitam menjadi pilihan utama, meski kini malam hari.

Aku menghubungi Eunhee sekali lagi. Sial, handphone-nya masih mati. Sepertinya, mendatanginya memang menjadi pilihan satu-satunya.

Kakiku segera berlari.

Menyusul hatiku yang sejak tadi sudah mengejar Eunhee..

 

EUNHEE POV

Aku memeluk tubuhku di bawah guyuran shower yang mengalir dingin. Pakaianku masih lengkap. Aku memang tidak ingin mandi. Aku hanya ingin butiran air dingin yang menusuk tubuhku ini juga sampai ke hatiku. Agar benda itu mati rasa. Agar benda itu tak perlu sakit lagi. Agar aku tak perlu mencintainya lagi.

Sia-sia, hatiku bertambah sakit seiring detik berlalu. Guyuran air dingin ini hanya membuatku semakin menggigil dan rapuh. Mengingatkanku bahwa aku bukan siapa-siapa. Aku hanya objek yang harus disakiti bagi Jongin, bukan pacarnya.

Entah sejak kapan, dia berubah. Panggilan teleponnya tidak sesering dulu. Sapaannya tidak sehangat dulu. Senyumannya tidak setulus dulu. Pelukannya tidak menenangkan seperti dulu. Apa memang dia yang berubah? Atau aku yang terlalu takut?

Namun, belasan foto itu sudah menjelaskan segalanya. Menjelaskan perubahannya, menjelaskan perasaannya, bahkan menjelaskan kami yang seharusnya menghentikan ini. Ya, semua ini harus dihentikan.

Aku tak bisa terus begini. Berpura-pura semuanya baik-baik saja, berpura-pura bahwa Jongin memilihku, berpura-pura bahagia. Aku tak bisa melanjutkan ini.

Seharusnya, aku lega, kan? Setelah mungkin 1 jam lalu berdiam di sini, akhirnya aku mengetahui apa yang harus kulakukan. Setelah 1 jam kuhabiskan dengan meratapi nasibku dan memutar ulang kilasan foto itu tanpa henti, seharusnya aku lega.

Tapi, kenapa air mataku bertambah deras? Mengapa seolah tubuhku diremas oleh tangan tak kasat mata? Mengapa aku bertambah sakit?

Membayangkan tak akan ada lagi nama내 남자친구 (my boyfriend) di phonebook-ku. Membayangkan tak bisa lagi meneleponnya saat aku insomnia. Membayangkan tak akan mendengar suara lembutnya lagi. Membayangkan tak bisa membuatkan sarapan untuknya lagi. Membayangkan hidup tanpanya. Aku tak bisa…

Aku terlalu mencintainya.

Aku tak bisa hidup tanpanya.

“EEERRRGGHHHH!!” Aku mengerang keras dan meremas dadaku. Sakit sekali.

Aku larut dalam kepasrahan. Aku ingin hilang dalam ketiadaan.

Perlahan, aku bangkit berdiri. Kakiku bergetar. Gigiku bergemeletuk. Napasku menghembus lemah, selemah jantungku yang berdetak, seakan benda itu sudah enggan menopang nyawaku.

Dengan langkah tertatih, pikiranku semakin buyar.

Mungkin, soju adalah pilihan bagus untuk melupakan sakit ini sesaat.

 

JONGIN POV

Aku memencet tombol password di samping pintu apartemen Eunhee tergesa. Mustahil mengetuk pintunya saat ini. Aku yakin dia tak akan membukanya untukku.

Pintu terbuka. Aku langsung menerjang masuk dan meneriakkan namanya.

“Eunhee-ah..!” Tak ada jawaban.

“Song Eunhee!” Masih tak ada jawaban.

Aku memasuki tiap ruangan. Eunhee tak ada di sini.

Kemana dia?

Jantungku berdetak penuh ketakutan. Kenapa dia tak ada di sini? Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Apa yang dia lakukan sendirian di larut malam seperti ini?

Jangan-jangan sesuatu yang buruk terjadi padanya. Seolah membenarkan dugaanku, petir menggelegar kencang diikuti dengan hujan deras. Aku semakin panik. Campuran antara rasa gelisah, kesal, marah, dan takut membuatku hampir meledak.

Mataku tertumbuk pada payung yang tersandar di samping pintu. Tanpa memberikan alasan pada logikaku untuk membantah, aku segera menyambar benda itu dan berlari keluar. Aku harus mencari Eunhee. Dia lebih penting di atas hal apapun yang kini terjadi di hidupku.

Karena aku terlalu mencintainya..

Karena aku tak bisa hidup tanpanya…

 

EUNHEE POV

Aku lupa bagaimana aku sampai di sini. Yang aku ingat, aku hanya berlari dan mengerang sesekali, sementara air mataku tak jua kunjung berhenti. Mungkin, aku kelelahan dan memutuskan beristirahat di tenda yang menjual soju ini.

Entah sudah berapa gelas soju masuk ke pencernaanku. Aku tidak menghitung. Aku hanya menunggu kesadaranku larut dalam cairan bening ini. Mengirimku ke dunia tanpa Jongin dan Krystal. Hanya aku seorang. Sendiri tanpa siapapun. Tanpa rasa dan tanpa cinta.

Agassi…” Aku mendongakkan kepala dan mendapati Ahjumma pemilik toko ini memandangku cemas.

Sebaiknya Anda berhenti minum. Tidak ada siapapun yang menemani Anda dan.. Anda terlihat sangat mabuk.”

“Hhh….” Aku tertawa sumbang dan kembali minum.

“Jadi.. Ahjumma pikir tak ada siapapun yang menemaniku? Apa kesepianku sangat jelas? Memang tak ada siapapun yang menemaniku.. Aku sangat menyedihkan, kan?” Aku mulai kepayahan meneguk soju. Tapi, aku tidak ingin berhenti. Bayangan Jongin dan Krystal masih menari-nari. Perih di hatiku masih jelas terasa. Aku belum bisa berhenti.

“Pacarku selingkuh. Jika aku lebih pintar, seharusnya aku bertanya. Tapi, Ahjumma tahu apa yang kulakukan? Aku hanya diam. Aku menunggunya menjelaskan. Sepertinya, aku bertambah bodoh karena terlalu mencintainya. Jadi, katakan padaku, bagaimana aku bisa hidup?” Ahjumma di depanku hanya meringis. Dia mungkin tak tahu harus berkata apa. Sebenarnya, aku pun tak tahu apa yang telah kukatakan. Kata-kata tadi keluar begitu saja.

Perlahan tapi pasti, perutku mulai panas. Pandanganku mulai berkunang-kunang. Ahh.. ini dia. Mungkin beberapa tegukan lagi, dan aku akan melupakan apa yang telah terjadi.

Aku terus minum. Tanganku bergetar. Aku terus minum. Kakiku melemah. Aku terus minum. Penglihatanku menggelap. Aku mulai tak bisa mengangkat tangan.

Samar-samar, aku mendengar suara yang kurindukan. “Ayo kita pulang..”

Kim Jongin, suara lelaki itu, apa memang dia? Aku tak tahu. Aku tak sadarkan diri.

 

JONGIN POV

Aku memang laki-laki paling bodoh di dunia. Laki-laki bodoh yang sialnya hadir di kehidupan Eunhee. Menyakitinya dan melukainya. Aku telah melakukan semua hal bodoh yang bisa dilakukan seorang lelaki untuk membuat perempuan menangis.

Kali ini, perempuan itu Eunhee. Perempuan yang seharusnya kujaga dari luka. Kulindungi dari bahaya.

Namun, aku memang bodoh.

Aku tak melakukan.

Akibatnya, dia kini terbaring lemah di ranjangnya. Beberapa waktu lalu, aku menjemputnya dari tenda yang menjual soju tak jauh dari apartemen ini. Badannya menggigil hebat. Suhu tubuhnya di luar batas normal. Tanpa memedulikan identitasku yang mungkin ketahuan, aku menggendongnya dan membawanya ke sini.

Itu kali kedua aku membawanya di punggungku. Ironisnya, kali ini aku membawanya dengan tangis yang tertahan. Kali pertama, aku membawanya dengan tawa lepas. Kali pertama, kami berdua bahagia. Kini, kami berdua terluka.

Tubuhnya masih bergetar lemah. Dia terlihat sangat rapuh. Air mataku kembali menitik. Andai saja aku menjelaskan pada Eunhee. Andai saja aku tak menyetujui tawaran Krystal. Andai saja aku bukan member EXO. Andai saja aku bisa memutar ulang waktu, aku tak akan melakukan ini. Aku tak akan membiarkan setitik air matapun jatuh dari mata indahnya karena diriku.

“Jongin-ah..” Sebuah panggilan lirih, nyaris tak terdengar, membuatku terlonjak dan langsung berlari menuju Eunhee.

“Aku di sini, Eunhee..” Bisikku.

“Dingin..” Dia bergumam.

Refleks, aku berbaring dan memeluknya erat. Mengusapkan tanganku pelan di punggungnya. Berharap dapat membuatnya hangat dan nyaman dengan keberadaanku di sampingnya.

Gigil di tubuhnya mulai melemah. Tubuh kami semakin rapat. Hembusan napasnya tidak selemah tadi. Sepertinya dia mulai membaik.

“Pergi…” Bisikan itu sangat pelan, tapi penuh dengan sudut tajam yang membuatku terkejut.

“Apa?”

“Pergilah…” Suaranya menegas.

“Aku tak akan pergi, Eunhee.” Suaraku ikut mengeras.

“Aku mohon, pergilah.. Tinggalkan aku sendiri.” Dia mulai terisak.

“Kau tahu aku tak bisa melakukannya,” jawabku membuat isaknya semakin nyaring.

Dia mendorongku menjauh, kembali mendinginkan hatiku yang tadi menghangat. Aku mencoba mendekat, tapi dia seolah membentengi diri. Berkali-kali, tangannya mendorongku. Tenaganya sangat lemah. Namun, sesuatu di matanya yang berkaca-kaca membuatku sadar, dia memang tak ingin aku di sini.

 

EUNHEE POV

Aku tak bisa menatap Jongin. Binar di matanya membuatku tak berdaya. Membuatku rela disakiti lagi. Padahal, rasa sakit ini seharusnya cukup untuk membuatku memutuskannya. Namun, tak bisa. Aku hanya bisa menyuruhnya pergi.

“Apa yang terjadi antara aku dan Krystal…” Aku menegang. Rupanya… dia akan menjelaskan.

“Semua itu murni kesepakatan,” terdengar Jongin menghembuskan napas berat.

“Aku menolongnya, karena dulu dia menolongku. Dia… menolongku mendapatkanmu.” Kali ini, aku benar-benar terkesiap kaget.

“Aku tak tahu apa-apa soal mendekati wanita. Jadi, ketika aku masih menjadi trainee, aku dekat dengan Krystal. Aku bercerita padanya. Dan.. dia memberikan saran yang sangat membantu. Mungkin, kau mengira member EXO lain yang membantuku. Nyatanya, saran mereka hanya membuatku tambah bingung.” Perutku bergolak hebat. Kenyataan ini menamparku telak.

“Saat itu, Krystal datang. Dia mengatakan kalau ekspresiku mirip orang jatuh cinta. Dan aku mengatakan memang iya. Tiba-tiba saja, dia sudah menjadi konsultan tetap untukku. Saran-sarannya sangat jitu. Saran-sarannya.. membuatmu tersenyum lebih sering padaku. Saran-sarannya.. membuat kau menyukaiku.” Aku terhenyak. Jadi.. selama ini…?

“Semua yang pernah dia lakukan untukku membuatku memahamimu. Dan, aku berjanji, jika suatu saat dia membutuhkan bantuanku, aku akan menolongnya. Saat itu ternyata tiba…” Semua rasa yang berkumpul dalam hatiku membuatku hampir muntah. Penjelasan Jongin… jauh di luar bayanganku.

“Dia menyukai seseorang. Tapi, orang itu terlalu buta untuk menyadari perasaannya pada Krystal. Jadi, Krystal ingin membuat orang itu sadar. Dan cara paling ampuh menurutnya adalah membuat orang itu cemburu. Aku merasa.. itulah saatnya aku membalas kebaikannya. Jadi, aku menawarkan diri. Dan seperti yang kau tahu, Krystal berhasil. Foto-foto kami tersebar. Dia berharap lelaki itu akan memperjuangkannya..” Jongin berhenti. Mungkin, dia menunggu respon dariku. Namun, aku terlalu terkejut untuk menjawab. Aku tetap diam. Berusaha mencerna potongan-potongan absurd itu menjadi gambaran jelas. Semua ini terlampau aneh untukku.

“Sebenarnya, Krystal menyuruhku untuk menjelaskan padamu. Tapi, aku menolak. Jika aku menjelaskan padamu, kau akan tahu kenapa aku menolong Krystal. Dengan bodohnya, aku berpikir, kau mungkin akan menganggap Krystal-lah alasan yang membuatmu jatuh cinta padaku.” Saat dia berhenti, terdengar helaan napas berat yang meniupkan hawa panas pada lukaku.

Jongin kelelahan. Dia kesakitan. Dia butuh pegangan. Kami tak berbeda. Kami lah yang mempertahankan cinta ini. Jika ada yang harus terluka, maka itu bukan Jongin. Aku terlalu mencintainya. Dengan tidak memedulikannya, mungkin sebenarnya akulah yang menyakitinya.

Tapi, apa dia jujur? Dengan segala penjelasan yang tak masuk akal itu?

Perlahan, aku berbalik menatap Jongin yang memandang jendela kamarku. Raut wajahnya yang tertimpa sinar lampu adalah raut wajah yang selalu ingin kubelai. Dia adalah lelaki yang selalu ingin kupeluk, yang ingin kujanjikan dunia, yang ingin kuyakinkan padanya bahwa tak ada yang salah, semuanya baik-baik saja. Bahkan, jika itu berarti mengorbankan hatiku, aku rela.

Cinta memang bodoh. Dan menyerahkan diriku pada hal semacam itu telah merubahku menjadi manusia bodoh.

Jika aku harus menjadi bodoh untuk Jongin, aku menerimanya.

“Apa itu benar?” Suaraku bergetar.

“Ya.” Getar yang sama kutangkap pada suaranya.

“Maafkan aku.” Kali ini, dia menatap mataku. Tatapan yang membuatku bangkit dan memeluknya, meski sulit. Tatapan yang membuatku kembali mendekap punggungnya yang bergetar, meski perih.

Tidak, luka ini belum sembuh. Sakit ini masih perih tak terperi. Segala penjelasan Jongin tadi membuat segalanya makin kabur dan tak jelas. Abu-abu yang memuakkan.

Namun, untuk kali ini, aku ingin memeluknya. Hanya untuk mengatakan bahwa kami sama-sama terluka dan menderita.

“Aku hampir gila, Eunhee.” Dia berbisik getir. “Aku ingin memelukmu di hadapan mereka. Aku ingin menciummu di depan mereka. Aku ingin mereka tahu bahwa aku milikmu dan kau milikku. Aku ingin melihatmu tiap detik. Aku ingin meneleponmu berjam-jam saat kita tidak bisa bertemu. Aku ingin kencan denganmu tiap Minggu tanpa sembunyi-sembunyi. Aku… ingin mereka tahu.” Tiap kata yang meluncur dari bibirnya menerbitkan air mata baru di sudut mataku. Tiap kata darinya melukaiku. Tiap kata darinya membuatku mengutuk kenyataan yang harus kami terima.

“Kau tahu, kadang-kadang, aku berharap, ada papparazi yang cukup pintar dan menemukan kita sedang berduaan. Dia akan mengambil foto kita dan menyebarkan skandal. Dengan begitu, mungkin akan lebih mudah untuk mengaku.” Tawa pelan yang kutangkap darinya mau tak mau membuatku tersenyum.

“Sampai kapan kita akan seperti ini?” Dia menarik diri dari pelukanku dan memandangku dalam.

Aku selalu tertohok dalam pandangannya. Matanya yang hitam menarikku jauh dari kenyataan. Matanya yang hitam menarikan mimpi yang selalu ingin kupercayai. Bahwa kami akan selalu bersama. Apapun yang terjadi.

“Setelah EXO sudah cukup kaya dan bisa membuatmu berontak dari SME, itulah saatnya.” Aku memberikan senyum terbaikku.

Dia ikut tersenyum. Senyum yang akhir-akhir ini kurindukan. Senyum yang membuatku selalu terjaga. Senyum yang datang dari bibir merah muda penuh itu membuat kupu-kupu di perutku beterbangan dengan girang.

Lalu, bibirku dan bibirnya bertemu. Napasku terhenti. Gejolak aneh nan indah setiap kami berciuman selalu membuatku pusing tiba-tiba. Biasanya, aku mengecap rasa manis di bibirnya. Kini, hanya ada rasa asin karena air mata. Rasa yang tercipta dari luka.

“Sebenarnya.. Kau tak perlu meminta bantuan Krystal untuk mendekatiku.” Aku bicara setelah bibir kami tak lagi berpagut.

“Apa maksudmu?” Kebingungan terpancar dari matanya.

“Aku pertama kali melihatmu di halte bus,” balasku. Kenangan pertamaku dengannya kembali terputar.

 

FLASHBACK

AUTHOR POV

Hujan deras mengguyur Seoul dengan ganas. Seorang perempuan dengan dress kasual selutut berwarna putih terlihat berlari terseok-seok ke sebuah halte bus. Wajahnya yang manis sedikit tersamarkan karena aura kelabu padanya jelas terlihat.

Bibirnya tak berhenti mengutuk pada kejadian sial yang baru saja menimpanya beberapa saat lalu. Seharusnya, hari itu adalah hari bahagia dengan seolah teman kencan butanya. Nyatanya, hari itu berakhir sial karena ternyata lelaki itu hanya lelaki bajingan yang mencoba meraba pahanya di pertemuan pertama. Mengingat hal itu, si perempuan bergidik jijik.

Seolah belum cukup buruk, hujan deras pun sukses membuah terusan manisnya itu basah kuyup. Rambut panjangnya yang tadi pagi ditatanya sedemikian rupa, sekarang menyerupai bulu kucing tenggelam di kolam. Basah, lepek, benar-benar tidak enak dilihat.

Meski hari itu dingin, perempuan itu menggigil karena amarah. Dia benar-benar marah pada hari sial itu yang benar-benar tidak berpihak padanya.

Pada saat itulah, seorang lelaki datang. Kontras dengan wajah si perempuan yang tanpa senyum, lelaki itu malah tersenyum lebar. Dia memang sangat bahagia hari ini. Dia adalah salah satu kandidat yang dicalonkan untuk debut sebagai member baru boyband SME, EXO. Jelas dia tidak ingin menyembunyikan kebahagiaannya.

Hanya ada mereka berdua di halte bus saat itu. Takdir sepertinya sedang berbaik hati, dalam detik yang ditentukan, pandangan mereka tiba-tiba bertemu. Mata coklat si perempuan dan mata hitam si lelaki tiba-tiba saja terjerat. Dalam beberapa detik, mereka terpesona.

Si perempuan pertama kali sadar, dia segera membuang pandang. Disusul dengan si lelaki yang tidak bisa menahan semburat hangat di wajahnya. Mereka saling bertanya dalam hati, “Apa yang terjadi padaku?”

Pandangan itu hanya sekilas dan sesaat, tapi efeknya cukup membuat tanah tempat mereka berpijak serasa bergetar hebat.

Si lelaki kembali mencuri pandang ke perempuan. Dia menangkap bibir yang menggigil. Ada dorongan aneh di hatinya, dia ingin menghangatkan perempuan itu. Entah karena hujan yang semakin deras atau guntur yang bersahutan, lelaki itu tak bisa berpikir jernih. Dia hanya bisa menuruti kata hatinya.

Si lelaki melepas jaketnya dan melingkupi bahu telanjang si perempuan. Mata coklat itu kembali menatapnya, mata coklat pekat yang lagi-lagi membuat detik seolah malas beranjak. Kali ini, mata coklat itu membulat kaget.

“Eer.. Aku melihat kau kedinginan. Jadi… mungkin kau akan merasa hangat dengan.. errr… kau tahu.. jaketku.” Si lelaki susah payah mencari kata yang tepat.

Seharusnya si perempuan tadi menolak. Seharusnya si perempuan tadi marah karena lelaki itu dengan sok tahunya meminjamkan jaketnya. Seharusnya si perempuan tadi melemparkan death glare paling mematikan. Seharusnya…

Tapi, si perempuan itu malah terpana. Lelaki di depannya ini begitu menawan dengan mata hitam dan bibir penuh merah muda yang langsung memerangkapnya. Terlambat untuk menyadari, perempuan itu telah tersihir.

Waktu yang bergulir selanjutnya adalah waktu paling aneh yang mereka tahu. Detak jantung yang melaju cepat tanpa alasan, bibir yang terus-terusan tersenyum tanpa henti, dan lirikan-lirikan penuh arti yang membuat mereka bingung. Mereka tak pernah mengalami ini. Tidak dengan orang yang baru mereka temui. Tidak di detik pertama mereka berjumpa.

Bagi mereka, jatuh cinta tidak pernah semagis ini..

FLASHBACK END

 

JONGIN POV

“Jadi, maksudmu..” Kalimat itu hampir keluar. Tapi, mustahil untuk diucapkan.

“Saat itu, aku sudah jatuh cinta padamu. Meskipun jika setelah itu kau tak lagi menemuiku, tidak memberiku bunga, tidak memberiku coklat, aku sudah jatuh cinta padamu.” Eunhee menunduk, menyembunyikan senyum malunya.

Aku tak akan pernah melupakan detik pertama itu. Hujan, dingin, dan dia membuat detik itu begitu menawan untuk dilupakan. Debar yang melaju, rasa hangat di pipi, dan senyum malu menyadarkanku, aku telah jatuh cinta pada pandangan pertama.

Tanganku mendekap wajah dinginnya. Menemukan kembali matanya yang bersinar terang. “Tapi, yang kau lakukan padaku saat coklat dan bunga itu kukirim, tidak menunjukkan tanda-tanda gadis yang sedang jatuh cinta.”

“Sebenarnya, aku sengaja melakukan itu. Aku tidak ingin terlarut. Pesonamu terlalu kuat. Membiarkanku jatuh sama saja dengan membunuhku pelan-pelan. Aku.. terlalu sering disakiti, Jongin. Aku tak ingin kau melakukan hal yang sama padaku.” Matanya menolak memandangku.

Aku terhenyak. Eunhee tidak pernah mengatakan ini padaku sebelumnya. Masa lalunya seolah tak terjangkau oleh pertanyaan-pertanyaanku. Selama 2 tahun ini… Ternyata aku masih tidak sepenuhnya mengenal Eunhee.

“Hei..” Aku kembali mencari matanya. Menguncinya dalam pandangan erat agar dia tidak lari lagi. “Jika aku berjanji tidak akan menyakitimu, apa kau percaya?”

Matanya mencari kebenaran. Mataku menjanjikan harapan.

Aku tak akan menyakitimu. Aku akan melindungimu. Aku akan menghapus lukamu. Aku tak akan membiarkanmu pergi. Kau aman bersamaku. Aku sangat mencintaimu.

Beberapa detik yang lewat mewakili tiap janji yang kuberikan padanya. Janji yang akan kutepati sampai dia tak lagi membutuhkanku, sampai dia tak lagi mencintaiku. Karena aku tak mungkin berhenti, sulit membayangkan hati ini tanpa mencintainya.

Namun, mata cokelat itu kian redup, seakan dia tidak menemukan apa yang dia cari pada mata hitamku.

“A-Aku tak tahu.” Nada Eunhee terdengar lelah. Sangat lelah.

“Apa maksudmu?” Aku menatapnya bingung. Apa binar cinta di mataku masih tidak cukup?

“Aku masih perlu waktu, Jongin. Aku harus berpikir.”

“Apa lagi yang harus dipikirkan? Aku mencintaimu, kau mencintaiku, itu sudah cukup!”

Tiba-tiba, redup di mata Eunhee tersaput amarah. “Cukup? Cukup, katamu? Cinta tidak akan pernah cukup, Jongin. Mencintai bukanlah jaminan untuk tidak saling melukai. Apapun alasannya, seharusnya.. kita tidak seperti ini. Seharusnya.. kita tidak terluka. Tapi, kau lihat apa yang terjadi? Kita sekarat. Dan kita tidak bisa bertahan hanya untuk saling menyakiti,” Eunhee berang.

“Karena itu kita harus bersama! Kita akan memperbaikinya. Aku berjanji.”

“Sudahlah, Jongin. Aku hanya butuh waktu. Kita membutuhkan waktu. Kita harus berpikir.” Tangan dingin Eunhee kembali membelai pipiku.

“Demi Tuhan, Eunhee! Apa lagi yang harus dipikirkan?!” Tanpa sadar, aku membentak dan menepis tangannya kasar.

Nyala api di mata Eunhee kian membesar. Kami saling bertatapan dalam. Kali ini bukan dengan pandangan lembut atau manis, kami bertatapan dalam amarah. Kami bertatapan dalam sakit yang tak jua surut. Napas kami menderu kencang.

Mungkin, kami memang tak bisa bertahan hanya untuk saling menyakiti..

“Aku mohon, Jongin. Pulanglah.. Besok, mungkin kita akan melupakan semua ini.”

Aku ingin menjawab. Tapi, sesuatu dalam suara Eunhee yang retak menahanku.

Perlahan, aku berbalik pergi. Kelelahan yang sama menyerang. Lelah yang juga melelehkan air mata.

“Aku hanya ingin kau tahu, aku selalu mencintaimu,” bisikku sebelum menutup pintu kamar Eunhee.

“Aku juga mencintaimu, selalu.” Aku menangkap jawabannya samar.

Sesungguhnya, aku ingin tetap di sana. Sebenarnya, aku benar-benar tak ingin meninggalkannya. Tidak dengan butiran bening yang masih menuruni mata indahnya. Tidak dengan luka menganga yang masih setia menyakitinya. Namun, jika hanya waktu yang dibutuhkannya, aku rela pergi. Jika setelah itu dia kembali padaku, aku rela menunggu. Even if it costs my happiness, it doesn’t matter at all.

EUNHEE POV

Aku tersaruk berlari menghindari api yang menyala di belakangku. Raungan marah semakin keras terdengar, entah dari mana. Aku terus berlari. Api itu kian membesar. Nyalanya yang merah hampir meraih gaunku yang sobek di sana-sini. Gaun pengantinku. Gaun yang harusnya kupakai hari ini, hari pernikahanku bersama Jongin.

“KAU TIDAK BISA LARI DARIKU, SONG EUNHEE!” Suara itu! Suara itu seharusnya bernada lembut, seperti yang selalu dia berikan padaku. Itu suara Jongin.. Suara yang juga berasal dari gumpalan api merah di belakangku.

Tiba-tiba, aku terjatuh. Mataku langsung menangkap penampakan api yang sedari tadi mengejarku. Api yang kini menyerupai wajah lelaki yang kucintai, Kim Jongin.

Aku ingin berteriak. Tapi, lidahku kelu. Suaraku beku. Hanya pandangan tragis yang kulayangkan pada api itu..

Dia semakin mendekat. Seringai di wajah tampan itu kian nyata. Dia akan menelanku. Melumatku dan membunuhku. Dia… tidak lagi mencintaiku.

“AKU MEMBENCIMU!!”  Teriakan itu kembali berasal darinya. Teriakan yang kudengar sebelum aku larut dalam kegelapan merah tanpa ujung..

“JONGIN!!” Napasku terengah. Aku memandang kamarku dengan pandangan takut.

Itu tadi mimpi.. Mimpi yang amat sangat buruk..

Mimpi yang kembali mengingatkanku pada kami yang terluka, aku dan Jongin. Aku kembali terisak pilu.

Aku berharap semua ini hanya mimpi. Aku berharap Jongin tidak pernah menjadi anggota boyband manapun. Aku berharap kami bisa kembali seperti dulu, mencintai tanpa takut pada hari esok. Mencintai tanpa melukai. Cinta yang membuat kami bahagia.

TING TONG

Bel memaksaku berhenti menangis. Apa ini sudah pagi?

Aku beranjak dan melihat jam, memang sudah pagi, bahkan bisa dibilang siang.

Dengan langkah terhuyung, aku memeriksa siapa tamuku dari lubang pintu.

Oh, hanya Krystal.

Apa?! Krystal??!! Tanganku langsung terhenti di atas gagang pintu. Itu benar-benar Krystal?!

Aku mengintip sekali lagi. Mataku memang tidak berbohong. Perempuan yang berdiri di depan pintu apartemenku benar-benar Krystal.

Panik seketika menyerang!

TING TONG

Bel berbunyi lagi. Aish.. tidak bisakah dia sabar sedikit?!

Sebentar, mungkin aku tidak harus membukakan pintu. Ya, mungkin saja. Dia akan menganggap aku tidak ada di sini, dan dia akan pergi. Ya, benar sekali. Kau jenius, Song Eunhee!

TING TONG

Duh, dia benar-benar tidak menyerah rupanya. Baik, kita tunggu 10 menit. Mungkin dia tidak akan tahan. Pasti dia tidak ingin mengambil resiko ketahun oleh tetanggaku.

TING TONG

TING TONG TING TONG TING TONG

TING TONG

Ya Tuhan! Sial benar hari ini! Sepertinya aku harus menyerah dan membiarkannya masuk.

Aku menarik napas sebentar. Baiklah, jika Krystal menginginkan perang, aku akan melawannya.

Pintu terbuka.

Annyeonghaseyo. Song Eunhee-ssi?” Aku tidak ingin mengakuinya. Tapi, dia memang sangat cantik. Benar-benar cantik. Cantik yang berkilau. Cantik yang membuatku merasa buruk rupa.

Eunhee-ssi?

“Ah, ya, benar. Itu aku.”

“Boleh aku masuk?” Dia tersenyum manis.

Tidak, kau tidak boleh masuk. Seharusnya itu yang kukatakan. Tapi, dengan bodohnya mulutku tidak mau bekerja sama dan malah berkata, “Tentu. Silakan masuk.”

Krystal melenggang masuk. Bagaimana dia bisa tetap menarik saat berjalan biasa seperti itu?

“Eer.. Silakan duduk dulu. Aku.. ingin melakukan sesuatu sebentar.”

Tanpa menunggu penjelasannya, aku segera berlari pelan.

Tanpa sengaja, aku melihat cermin yang terpajang di seberang kamarku. Holy crap! Aku benar-benar terlihat menyedihkan. Rambutku mencuat  ke seluruh penjuru mata angin. Mukaku amburadul seolah habis digoreng dalam minyak berliter-liter. Belum lagi bajuku yang sangat kusut dan hanya bisa ditandingi oleh pengemis. Entah bagaimana rupaku saat tadi menyambut Krystal.

Tanpa berpikir panjang, aku segera membersihkan diri. Paling tidak, aku akan menunjukkan siapa perempuan yang telah dipilih Jongin.

 

AUTHOR POV

Beberapa menit telah berlalu, Eunhee belum juga kembali menyapa tamu yang tidak disangkanya, Krystal. Perempuan berambut panjang itu mulai gelisah. Posisi duduknya berubah berpuluh-puluh kali. Helaan napas panjang terdengar tiap beberapa detik. Tangannya saling meremas resah.

Datang ke sini memang bukan ide terbaik. Sayangnya, ini satu-satunya alternatif. Krystal sudah membuat puluhan perkiraan akibat perbuatannya meminta bantuan Jongin. Dan mendatangi rumah Eunhee masuk ke dalam perkiraan terburuknya.

Tidak, dia tidak membenci Eunhee. Tidak sama sekali.

Hanya saja, sulit rasanya berhadapan dengan perempuan yang dicintai gila-gilaan oleh Jongin, lelaki yang dulu sempat membuatnya mabuk kepayang.

Oh, benar sekali, Krystal sempat menyukai Jongin. Sampai dia rela menjadi martir dan berpura-pura bahagia untuk hubungan Jongin dan Eunhee.

Kini, Jongin tidak ada lagi di hatinya. Hatinya kini telah dipenuhi, dicuri, dirampok, dijajah, dan diinvasi oleh lelaki tak tahu diri bernama…

Ah, lupakan, mengingat namanya saja hampir membuat Krystal ingin membanting dirinya sendiri ke tembok.

Lelaki itu benar-benar mengobok-obok pertahanan, harga diri, dan akal sehat Krystal.

Jadi, untuk kali ini, mari berkonsentrasi pada misinya mengembalikan hubungan harmonis nan bahagia antara Jongin dan Eunhee.

“Maaf membuat Anda menunggu lama,” sapa Eunhee kikuk.

Krystal menoleh pada perempuan yang kini sudah merubah penampilannya menjadi lebih manusiawi. Memang sederhana, tapi Krystal dapat menangkap kesan cantik alami yang membuat Jongin jatuh cinta padanya.

Rambut coklat panjang bergelombang. Mata coklat besar. Hidung mungil. Bibir penuh. Postur tubuh tinggi. Hmm.. 32B.. Krystal menebak asal ukuran bra Eunhee.

Ya, dia dapat mengerti sejelas-jelasnya, perempuan di depannya ini memang pilihan Jongin.

“Tidak usah menggunakan bahasa formal. Kita seumuran, kan?” Krystal mencoba mencairkan suasana.

“Ah, ya, kau benar..” Eunhee hanya menggumam pelan.

Hening sesaat. Hanya detik jam mengisi suasana.

Krystal bergumul dengan pilihan kata yang ingin dia sampaikan. Eunhee menyiapkan dirinya, entah untuk apa.

“Jadi..”

“Jadi..”

Mereka memulai bersamaan. Tiba-tiba, senyum kecil menghiasi bibir kedua perempuan yang sejak tadi duduk dengan tegang.

“Kau duluan,” putus Eunhee.

“Tidak, kau saja,” Krystal membalas.

“Aku tidak apa-apa. Kau saja yang duluan,” Eunhee bersikeras.

“Aku juga tidak apa-apa. Kau saja,” Krystal mulai keras kepala.

“Apa kita akan duduk seharian dan mendebatkan ini?” Eunhee tertawa lucu. Tawanya menular pada Krystal. Sesaat, ruangan itu dipenuhi oleh tawa hangat mereka berdua.

“Baiklah. Sepertinya aku yang harus duluan.” Krystal menarik napas panjang.

Eunhee mulai mendengarkan seksama.

“Pertama, aku ingin minta maaf, karena sudah mengganggu hubunganmu dengan Jongin.”

Krystal menunggu jawaban Eunhee. Tapi, perempuan itu hanya mematung dan menunggu Krystal melanjutkan.

“Eunhee? Kau memaafkankan?” Krystal bertanya pelan.

Eunhee tercenung beberapa saat. Perempuan di depannya ini telah membuatnya mabuk dan kehujanan. Apa yang dilakukannya pada Jongin juga telah menyulut pertengkaran hebat antara dia dan lelaki itu. Apa Krystal dapat dia maafkan?

Setelah berdetik-detik yang serasa puluhan jam bagi Krystal, Eunhee akhirnya memutuskan, “Ya, aku memaafkanmu.”

Krystal tersenyum lega. Satu beban telah terangkat.

“Aku tak tahu apa Jongin telah menjelaskan padamu atau belum. Jika sudah, aku ingin kau mendengar dari sudut pandangku. Dan.. ada sesuatu yang Jongin tidak tahu, sesuatu yang harus kau tahu.” Krystal kembali menarik napas panjang.

“Dua tahun lalu, aku menyaksikan betapa seorang Kim Jongin dapat dibuat gila setengah mati hanya gara-gara seorang gadis. Dia benar-benar gila. Dalam arti yang sesungguhnya. Jika sebelumnya aku menyaksikan semangat seseorang meraih mimpi, kini aku melihat semangat seseorang meraih cinta. Dan, tepat pada saat itu, aku….” Ada jeda panjang sebelum Krystal melanjutkan. Jeda yang menggantung. Jeda yang selalu hadir tiap ada hal buruk mengikuti. Tanpa sadar, Eunhee menahan napas.

“Aku jatuh cinta padanya.”

JDEEER!! Semacam ada kilat yang menyambar tubuh Eunhee, tornado yang mengocok tubuhnya sampai membuat mual, dan amukan gelombang tsunami yang menenggelamkannya sampai ke dasar laut. Eunhee benar-benar terkejut.

“Aku jatuh cinta padanya saat dia jatuh cinta padamu.” Krystal tersenyum.

“Anehnya, aku tak ingin memilikinya. Melihat senyum gilanya tiap dia mengingatmu cukup membuatmu bahagia. Dan, aku memutuskan, aku akan menolongnya.”

“Tunggu dulu,” Eunhee memotong cepat. “Bagaimana bisa kau menolongnya untuk mendapatkanku saat kau jatuh cinta padanya? Itu terdengar sangat.. absurd.”

“Memang. Aku pun bingung dengan diriku. Tapi, aku tidak ingin menghancurkan perasaanya dengan mencoba memilikinya. Aku cukup bahagia saat itu.”

Eunhee tiba-tiba pusing.

Tanpa memedulikan tampang Eunhee yang tidak karuan, Krystal melanjutkan, “Seperti yang kau tahu, kau menyambut perasaannya, dan.. kalian menjadi sepasang kekasih. Jangan tanya padaku bagaimana aku melewati masa patah hati itu. Sangat berat. Menguras tenaga. Namun, semuanya terbayar tiap aku melihat senyum lebar Jongin. Percayalah, Eunhee, jatuh cinta bisa membuatmu menjadi orang paling tak waras sedunia.” Krystal tertawa.

“Aku percaya. Aku menjadi orang gila setelah menjadi kekasih Jongin.”

Krystal tertawa makin keras.

“Perasaanku pada Jongin hilang setelah…” Krystal berhenti. Ini dia, penjelasannya mengenai laki-laki itu.

“Sebut saja dia Mr. X. Aku malas menyebut namanya,” Krystal mendengus kesal.

“Jadi, Mr. X ini, tiba-tiba dia masuk ke kehidupanku seperti kilat. Cepat, tanpa peringatan, tanpa aba-aba. Tahu-tahu, aku sudah menghadapi gelombang perasaan lebih besar dibanding yang kurasakan pada Jongin. Mr. X membuatku seolah naik roller coaser tanpa ujung. Dia… benar-benar tahu cara membuatku kewalahan.” Krystal menjelaskan penuh emosi. Dadanya turun naik. Pandangan matanya yang tadi terlihat bersahabat, kini menyerupai pedang yang siap mencincang apa saja.

“Aku tahu dia juga menyukaiku. Tapi, dia itu… sangat bodoh, bebal, tolol, tidak tahu diri.. Dia itu.. sangat menyebalkan. Aku hanya ingin dia sadar. Jadi.. aku meminta tolong pada Jongin”

Krystal mengamati ekspresi Eunhee. Tidak ada tanda-tanda kemarahan di sana. Malah, Eunhee tersenyum kecil.

“Hey, apa menurutmu ini lucu?”

“Hahahaha….” Eunhee tertawa. “Maafkan aku. Seharusnya.. ceritamu adalah cerita sedih. Tapi, dari caramu menceritakannya terdengar sangat lucu. Hahaha. Maafkan aku.” Mati-matian Eunhee berusaha menghentikan tawanya.

“Tidak apa-apa. Cerita kami memang sangat lucu. Kami berdua seperti anak kecil yang tidak mau mengaku telah mencuri sesuatu, yaitu hati masing-masing.” Krystal menghembuskan napas putus asa.

Eunhe menjadi serba salah. “Hmm.. Jadi, setelah belasan foto itu, apa lelaki itu akhirnya sadar?”

“Sadar? Jauh dari itu. Sepertinya kadar kebodohan laki-laki itu memang di luar batas kewajaran. Dia malah semakin menarik diri, tidak ingin bertemu denganku, tidak membalas teleponku. Memuakkan. Menyebalkan.” Napas Krystal memburu kencang.

“Sudahlah. Lupakan tentang ceritaku. Yang pasti sekarang, kau memaafkan Jongin, kan?”

Sisa-sisa tawa segera hilang dari wajah Eunhee. Matanya segera meredup. Dia melongok ke dalam hatinya. Ah, masih tak beraturan.

“Sebenarnya.. Masalahnya bukan hanya karena skandal foto itu. Masalah kami.. sebenarnya lebih rumit.”

“Benar-benar rumit atau kalian yang membuatnya rumit?”

Dia mulai menyebalkan, pikir Eunhee. Kenapa dia bisa menyimpulkan kamilah yang merumit-rumitkan masalah ini? Masalah ini memang rumit sejak dulu!

“Yang aku tahu, dia sangat mencintaimu, Eunhee. Dan kau mencintainya. Apa ada alasan kalian tidak harus bersama?”

DEG! Jongin juga mengatakan hal ini tadi malam.

“Jangan pikirkan hal lain. Kalian tidak berhutang pada dunia.” Krystal memandang Eunhee penuh pengertian.

Apa benar cinta cukup menjadi alasan? Eunhee tetap bertanya risau. Dia pernah memercayakan diri pada cinta, tetapi akhirnya dia kecewa. Untuk kali ini, bisakah cinta menolongnya?

“Cinta sudah cukup, Eunhee. Asal kau tahu bagaimana cara menjaganya.”

Krystal ini cenayang, ya? Eunhee tak habis pikir bagaimana perempuan itu bisa menjawab pertanyaan di hatinya.

Hening kembali meraja. Ketegangan yang tadi sempat terbaca mulai lumer. Krystal dapat duduk dengan sedikit santai. Dia berhasil melaksanakan misinya hari ini.

Sementara itu, Eunhee masih berkutat di pertanyaan yang tidak memerlukan jawaban. Apa cinta sudah cukup?

Dia teringat senyum Jongin tiap pagi saat menyuruhnya bangun. Tawa Jongin yang selalu membuat apartemennya lebih ramai. Suara berat Jongin yang maskulin dan dapat membuatnya melayang. Sentuhan lembut Jongin tiap malam. Tatapan mata tajam tapi halus dari mata hitam yang selalu melumpuhkannya.

Apa dia rela kehilangan semua itu hanya karena takut terluka lagi?

Gambaran berganti. Mata Jongin yang kuyu saat menjumpainya karena kurang tidur. Wajah Jongin yang pucat karena kelelahan. Badannya yang demam karena terlalu lama latihan. Senyumnya yang lemah. Jongin yang melakukan segalanya untuk Eunhee.

Saat itu, Eunhee menyadari, betapa egoisnya dia.

Eunhee tidak pernah terluka. Dialah yang melukai dirinya sendiri. Dia menakuti dirinya dengan bayangan Jongin yang akan pergi. Padahal, itu tak akan terjadi. Dia menakuti dirinya dengan prasangka. Dia memenuhi dirinya dengan ketakutan yang seharusnya tidak pernah ada.

Jongin yang selalu menyempatkan diri menemuinya meski dia kelelahan setelah show. Jongin yang selalu menanyakan kabar Eunhee meski dia terperangkap oleh jadwal yang luar biasa padat. Jongin yang selalu tertawa pada joke garing Eunhee. Jongin yang tetap memakan masakan Eunhee yang tidak karuan. Jongin yang.. mencintainya.

Jongin yang selama ini dia kenal tidak mungkin meninggalkannya.

Meski dia menjadi member EXO. Meski dia harus pergi ke ujung dunia. Meski Eunhee menolaknya.

Jongin tidak akan meninggalkannya.

Seharusnya Eunhee sadar.

Sialnya, dia terlalu buta untuk melihat, terlalu tuli untuk mendengar.

“Eunhee, kau tak apa-apa?”

Krystal menyentuh bahu Eunhee lembut. Dia panik saat melihat Eunhee tiba-tiba menangis.

“Aku.. tidak apa-apa.” Eunhee tersenyum sambil menghapus air matanya.

“Aku hanya.. lega. Akhirnya aku menemukannya. Pertanyaan yang seharusnya tidak membutuhkan jawaban.” Eunhee tersenyum cerah.

“Aku turut bahagia.”

“Terima kasih. Mungkin, kau memang diutus untuk membantu hubunganku dengan Jongin.” Eunhee mengedipkan sebelah matanya.

“Kurasa kau benar. Senang bisa membantu.” Mereka tertawa bersama.

“Sebentar.” Krystal merasakan handphone-nya bergetar.

SMS dari Jongin? Krystal membuka pesan itu dan langsung terpaku.

Aku akan memberi tahu mereka tentang hubunganku dengan Eunhee. Mungkin, dengan begitu, Eunhee akan memaafkanku.

“APA??!!!” Krystal melotot horor pada handphone di genggaman tangannya yang mulai bergetar.

“Kenapa?” Eunhee menatap bingung.

“I-ini.. Jongin.. Di-dia akan.. Memberi tahu publik tentang..” Krystal meneguk ludah. “Hubungan kalian.”

“HAH??!!! APAAA??!!!” Eunhee berteriak kaget.

“Tidak. Ini tidak boleh terjadi. Memberitahu publik tentang hubungan kami sama saja dengan menghancurkan mimpinya. Aku harus memberitahunya, Krys. Aku harus menemuinya!” Eunhee langsung histeris.

“Baik baik. Aku mengerti. Kita harus tahu di mana dia.”

“Ah, benar! Aku akan menelepon Kyungsoo Oppa!” Eunhee melesat ke kamar mencari handphone-nya. Kemarin dia melemparkannya ke suatu tempat.. Di mana benda itu? Ah, itu dia! Melesak tragis di antara tumpukan selimut. Belum pernah Eunhee selega ini saat melihat handphone-nya.

Dia segera menyalakannya. Beberapa saat kemudian, puluhan SMS bertubi-tubi langsung masuk. Semuanya dari member EXO yang mengatakan bahwa Jongin akan memberitahu publik tentang hubungan mereka.

“Yeoboseyo! Oppa, kalian di mana? Iya, aku tahu. Karena itu aku akan menahannya. Di gedung Mnet? Baiklah. Apa? Lima menit? Mana bisa? Sepuluh menit! Iya, aku usahakan! Tolong sambil bujuk Jongin. Iya, cerewet! Tunggu aku!”

“Kita pakai mobilku!” Krystal segera berdiri dengan sigap.

Eunhee tidak lagi memedulikan dandanannya yang lebih cocok untuk pergi tidur. Dia hanya peduli pada satu hal, mimpi Jongin yang akan hancur jika dia terlambat sedikit saja.

Dalam langkahnya yang tergesa, ada ratusan frame kenangannya dan Jongin. Mengkristal. Membuatnya sadar, dia ingin membuat ribuan, jutaan, bahkan miliaran kenangan lagi bersama Jongin. Dalam langkahnya yang berlari cepat, Eunhee diam-diam merapal doa.

Dia tak ingin Jongin terluka.

 

Meanwhile, in Mnet’s building..

Suasana di ruang tunggu itu setegang pengadilan. Sesunyi kuburan.

Hanya terdengar desah napas memburu 11 lelaki. Mereka semua memancarkan tatapan mata setajam belati. Pancaran itu diarahkan pada satu objek, 1 lelaki lain yang kini menunduk pasrah. Seolah siap dimuntahi peluru oleh 11 lelaki itu.

“YAA!! KIM JONGIN!! NEO MICHEOSSEO??” Teriakan menggelegar itu berasal dari lelaki yang mengenakan jaket putih kebesaran, Suho.

“Jongin-ah, sebaiknya kau pikirkan lagi. Memberitahu publik tentang hubungan kalian sama saja dengan membunuh dirimu sendiri.” Suara itu lebih tenang. Berasal dari lelaki tinggi di ruangan itu, Chanyeol.

“Tapi, ini mungkin satu-satunya jalan. Dengan begini, Eunhee mungkin akan.. memaafkanku.” Jongin semakin menunduk. Dia merasa akan dilumat habis oleh 11 temannya yang lain.

“Memaafkanmu lalu membuatmu terbunuh? Eunhee tidak akan berpikir seperti itu, Jongin. Berpikirkan lebih pintar.” Kyungsoo memandang Jongin gemas. Bukan hanya sekali ini dia menghadapi Jongin yang tiba-tiba bodoh karena Eunhee.

“Kalian memang tidak mengerti!” Jongin mengangkat wajahnya dan memandang mereka tajam. “Aku akan melakukan ini. Dengan atau tanpa persetujuan kalian.” Dia bangkit dan keluar dari ruangan setelah membanting pintu dengan keras. Meninggalkan member EXO lain dengan tatapan marah, bingung, kecewa, sedih, absurd, dan lain sebagainya.

“Anak satu itu… Kapan dia bisa berpikir dengan benar?” Suho memijit pelipisnya.

“Dia tidak pernah berpikir dengan benar, jika itu menyangkut Eunhee. Kau tahu itu,” timpal Kris asal.

“Aku butuh ditenangkan, Kris.” Suho menatap lelaki jangkung itu galak.

“Eunhee akan ke sini sebentar lagi.” Kyungsoo menepuk punggung Suho lembut.

“Sebentar? Kapan? Kita akan naik panggung 10 menit lain.” Sehun melihat jam di handphone-nya cemas.

“Tao, kurasa kau harus menghentikan waktu untuk Eunhee.” Lay mencoba melucu.

“Tidak lucu, Lay!” Sepertinya Suho memiliki pasokan pedang sangat banyak di matanya.

“Aku hanya mencoba membuat kalian tertawa,” bisik Lay pelan.

“Hahahahahahaha.. Ha.. Ha.” Tawa ganjil itu berasal dari Luhan yang tidak tega melihat wajah kecewa Lay. Tapi, melihat death glare Suho yang kini melayang ke arahnya, Luhan langsung mengatupkan mulutnya rapat-rapat.

Tiba-tiba, pintu ruangan terbuka. “Sepuluh menit lagi.” Manager mereka mengingatkan.

“Benar, kan, kubilang..” Sehun semakin terlihat putus asa.

“Kyungsoo, coba hubungi Eunhee lagi.” Suho memberikan intruksi.

Yeoboseyo? Eunhee? Kau di mana? Sedang di jalan? Cepat ke sini! Kami tampil 10 menit lagi. Hah? Terjebak macet?! Oh Tuhan. Bagaimana ini?!” Pandangan Kyungsoo terlihat kosong. Bahu member EXO lain semakin melorot. Sepertinya rencana Jongin akan berhasil. Fans EXO di seluruh dunia akan tahu tentang hubungannya dengan Eunhee sebentar lagi.

Di tempat lain, tepatnya dalam mobil Krystal, Eunhee sedang memandang ke depan dengan gelisah. Mobil mereka baru saja memasuki kawasan yang memang rawan macet di jam-jam makan siang. Demi koleksi lingerie-nya, kenapa mereka makan siang di waktu seperti ini? Saat hidup dan mata Jongin tergantung pada Eunhee.

“Sangat macet, Eunhee. Eottokhae?” Perempuan di samping juga tak kalah cemas.

“Aku akan lari.”

Belum sempat Krystal menjawab, Eunhee sudah membuka pintu mobil dan melesat lari. Krystal hanya bisa memandang kepergian Eunhee dengan tatapan kagum. Dia bisa melihat betapa besar Eunhee menyayangi Jongin. Mengingat sesuatu yang berhubungan dengan sayang.. Krystal jadi teringat..

Aish! Krystal! Bisakah kau membunuh lelaki itu di kepalamu?!”

 

EUNHEE POV

Aku terus berlari membelah kerumunan manusia. Jantungku berdentam kencang, bertalu-talu dengan ritme yang kacau. Napasku terengah, aku mulai lelah, tapi aku tak boleh menyerah.

Hanya 10 menit.

Hanya sebatas itu waktuku untuk menyelamatkan Jongin.

Kemarahan tiba-tiba menggelegak. Apa sebenarnya yang lelaki itu pikirkan?! Memberitahu publik hanya agar aku memaafkannya? Bodoh. Tolol. Bebal. Dasar otak udang! Bagaimana mungkin dia berpikir seperti itu?

Air mataku keluar lagi. Semakin sakit rasanya menangis di saat lari seperti ini.

I don’t need anyone else. It’s only you.

Aku tak membutuhkan apapun. Tidak orang lain. Tidak pengakuan. Tidak apapun. Aku hanya membutuhkan Jongin. Bersamaku seperti sebelumnya. Hanya itu. Sesederhana itu.

The moment my heart was captured by you.

Di detik pertama aku melihatnya, aku sudah memilih. Aku memilih jatuh, meski kusangkal. Aku memilihnya untuk menjadi penjaga hatiku.

Whoever curses me, I will still love you.

Meski dunia menentang. Meski tak ada yang peduli. Meski mereka berusaha memisahkan. Aku tetap memilih. Aku mencintai Jongin. Dan tak akan kubiarkan apapun membiarkanku ragu.

Aku tetap melesat lari.

“Ah, itu dia!” Tenagaku seolah bertambah berkali lipat. Gedung Mnet mulai terlihat.

“Hhh.. Hhh..” Aku berhenti sejenak saat kudengar handphone-ku berbunyi.

Dua menit lagi!

Kyungsoo Oppa

ANDWAE!” Aku berlari lagi. Kali ini lebih cepat. Kali ini tanpa selingan napas.

Sedikit lagi. Ayo, Eunhee. Berjuang. Sedikit lagi. Ya, beberapa langkah lagi. Jangan menyerah. Ya….!!!!

Sudah sampai! Tanpa membuang waktu untuk bersorak gembira, aku segera melangkah masuk. Bertanya pada resepsionis di sana dengan kacau. Setelah mendapat informasi yang diperlukan, aku kembali melesat lari.

“Studio 4.. Studio 4. Belok kiri, kemudian.. Di sana!” Aku langsung disambut oleh suara membahana puluhan fangirl yang datang untuk menyemangati idolanya.

Oppa, kalian di mana? Aku sudah di studio 4. Back stage? Tidak apa-apa?” Eunhee menjauhkan telinganya saat Kyungsoo berteriak. Jauh lebih nyaring dari teriakan fangirls di depannya. “Tidak usah berteriak. Aku ke sana!”

 

AUTHOR POV

Eunhee lari lagi menuju back stage. “Di mana tempat itu? Ah, mungkin di sini.” Eunhee melihat pintu dengan tulisan “Staff Only”.

Ruangan di depannya sama berisiknya dengan ruangan sebelumnya. Tapi, kebisingan di ruangan ini didominasi oleh intruksi tentang jalannya pertunjukan. Eunhee tidak punya waktu memperhatikan. Dia harus menemukan Jongin!

Jogiyo..” Eunhee menghampiri seorang lelaki yang lewat di depannya. “Anda tahu di mana EXO?”

“Mereka sedang bersiap-siap di sana.” Lelaki itu menunjuk ke arah kanan. Eunhee melongok dan langsung tersadar, mereka akan tampil beberapa detik lagi!

Tanpa berterima kasih dan menghiraukan teriakan lelaki yang menanyakan namanya, Eunhee berlari lagi. Menabrak orang-orang yang menghalangi jalannya. Menabrak beberapa tong sampah. Dan sukses menjadi perhatian semua orang di koridor itu.

“ITU EUNHEE!!” Luhan lah yang pertama kali sadar. Jongin yang tampak malas memperhatikan sekitar tetap menunduk. Dia tidak mendengar apa-apa.

“Jongin! Itu Eunhee!” Sehun menepuk pundak Jongin keras.

“Apa? Eunhee? Dia tid—“ Jongin langsung terkejut saat sebuah tangan menariknya ke dalam ruangan di samping mereka.

“Ap—?” Jongin langsung terbelalak begitu melihat perempuan yang kini berkacak pinggang di depannya. Tatapan matanya penuh panah beracun, siap menembakannya tanpa ampun pada Jongin.

“BODOH! TOLOL! BEBAL!” Eunhee segera mengamuk dan memukul badan Jongin membabi buta.

Appo!! YA!! GEUMANHAE!! AW AW!! OUCH!!” Jongin mencoba melindungi dirinya.

Eunhee berhenti. Tapi, tidak dengan tatapan matanya yang sepanas gunung merapi. Dia tetap memandang Jongin tajam dengan dada naik turun menahan amarah.

“Kenapa kau tidak berpikir?! Kau pikir aku akan memaafkanmu jika kau memberitahu mereka?!”

“Mungkin saja…” Jongin menjawab pelan.

“OUCH!! YAA!! HENTIKAN!” Jongin kembali berkelit dari pukulan maut Eunhee.

Tiba-tiba, Eunhee memeluk Jongin erat. Setelah pukulan keras itu, pelukan romantis Eunhee langsung membuat Jongin panas dingin.

“Aku sudah memaafkanmu. Aku tidak butuh pengakuan mereka. Yang penting, kau mencintaiku. Bukankah kau bilang itu sudah cukup?”

Jongin langsung tersenyum lega. Ya, semuanya sudah selesai. Tidak ada lagi luka. Lukanya langsung terjahit begitu Eunhee memeluknya.

Dia melepaskan pelukan Eunhee dan menatap perempuan itu. Jika Jongin adalah lelaki normal, mungkin dia akan memalingkan wajah karena wajah Eunhee begitu basah karena keringat. Tapi, Jongin itu tidak normal, dia selalu menjadi tidak normal jika berhadapan dengan Eunhee.

Menurutnya, Eunhee terlihat sangat cantik saat ini.

Momen romantis seperti sekarang sangat pas jika ditambah dengan ciuman. Jadi, Jongin mendekatkan wajahnya. Mata Eunhee langsung memejam. Dia begitu menikmati deburan jantungnya yang halus, seolah memanggil Jongin untuk mendekat.

“JONGIN!” Mereka langsung menjauhkan tubuh dengan refleks. Sementar di ambang pintu, Baekhyun, pemilik suara tadi, tersenyum penuh arti. “Kita sudah dipanggil.”

“Iya, aku segera ke sana.” Jongin kembali memandang Eunhee. “Aku akan kembali. Tunggu di ruangan kami saja.” Sebuah kecupan ringan tahu-tahu mendarat di kening Eunhee. Perempuan itu langsung terpaku. Ciuman Jongin meninggalkan jejak panas di keningnya. Debaran jantungnya langsung melaju.

Dia memang selalu jatuh cinta pada Jongin.

 

13 menit 7 detik kemudian..

Ini agak aneh.Tidak biasanya Eunhee dan Jongin hanya duduk tanpa membicarakan apapun. Hanya lirikan malu-malu dan senyum kecil yang mereka lemparkan, seolah ini adalah pertama kalinya mereka bertemu.

“Ehem..” Jongin memulai pembicaraan. “Jadi, apa yang membuatmu memaafkanmu?”

Eunhee terlihat menarik napasnya. “Hmm.. Krytsal menemuiku.”

Pandangan Jongin yang tadi memancar lembut berubah horor.

“Krystal menemuimu? Ap-apa kalian bertengkar? Kalian saling mencakar? Kalian saling memb—“

YA! KIM JONGIN! Tak bisakah kau tak menyela ceritaku?” Eunhee bersungut kesal.

“Hah? Eh? Iya iya. Kau boleh melanjutkan,” sahut Jongin pelan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kami tidak saling mencakar dan membunuh. Kami hanya.. bicara. Dan Krystal membuatku sadar..” Eunhee menarik napas sejenak. “Akulah yang salah.”

“Apa maksudmu?” Alis tebal Jongin bertaut bingung.

“Selama ini, aku terlalu takut kehilanganmu. Ketakutan itu menciptakan bayangan mengerikan, bahwa suatu saat nanti kau benar-benar pergi meninggalkanku. Bodohnya, aku tidak mencoba menghindar. Aku membiarkan diriku dimakan oleh ketakutanku sendiri. Karena itu, aku menolakmu tadi malam.”

Jongin terpana. Dia tidak pernah menyangka Eunhee berpikir demikian.

“Maaf. Akulah yang membuat semua ini semakin rumit. Seharusnya, cinta saja cukup, kan?” Eunhee mencari mata Jongin dan menguncinya lekat. Dia tak akan membiarkan mata itu melihat yang lain.

Kedua tangan besar Jongin tiba-tiba terangkat dan menangkup wajah Eunhee. “Cinta akan cukup jika kau percaya pada kekuatannya.”

Mereka berdua tersenyum. Luka yang menganga selama beberapa waktu itu menutup tiba-tiba. Seolah disihir, rasa perih itu benar-benar hilang tak berbekas. Hanya ada bahagia. Bahagia yang hangat. Hangat yang abadi.

“Aku mencintaimu, Song Eunhee. Dan tak akan kubiarkan kau terluka lagi.”

Eunhee percaya. Eunhee menyerahkan dirinya bulat-bulat pada janji Jongin. Dia tidak peduli apa yang akan terjadi nanti. Pada saat ini, hanya mata Jongin, senyumnya yang manis, dan kehangatan yang memancar dari tubuh Jongin yang dia butuhkan. Dia tak membutuhkan yang lain.

“Aku juga mencintaimu.” Pengakuan itu muncul diiringi dengan air mata di pipi Eunhee. Air mata itu mengalun bahagia, tidak lagi berarti luka.

Lalu, tangan kekar Jongin merengkuh tubuh perempuan itu dalam pelukannya. Dekapan itu lembut sekaligus kuat, membuat Eunhee yakin Jongin benar-benar akan melindunginya.

Ada kedamaian yang tak terlukiskan. Ada bahagia yang tak dapat dijelaskan. Ada senyum yang tak mampu disembunyikan.

Mereka berdua, Kim Jongin dan Song Eunhee, kini benar-benar  mengerti..

Kebahagiaan tak dapat dirasa tanpa luka yang terlebih dahulu menganga…

 

END

2 comments on “[FANFICTION] Love In Pain

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s