[MIND] Plagiat Itu Sesat

Tagexdo

Judulnya ngeri ya? Posting kali ini memang akan membahas tentang plagiat yang pernah dan mungkin sedang dan masih dilakukan segelintir penulis abal-abal, khususnya penulis fanfiction. Sebenarnya saya menulis posting ini 2 minggu atau 3 minggu lalu, tapi terus saja lupa untuk mem-publish-nya. Jadi ceritanya ini #latepost gitu lho kayak yang tag di instagram itu.

Dua hari yang lalu, saat saya hampir mati bosan—penyakit menahun mahasiswa yang sedang libur panjang—saya memutuskan untuk membuka Twitter dan scroll down apa yang sedang terjadi di timeline. Tak banyak yang menarik awalnya. Hanya beberapa fanbase K-Pop yang belum sempat saya unfollow, segelintir online shop yang lagi-lagi malas saya unfollow, dan beberapa update dari teman sekampus.

Sebelum memutuskan mencari kegiatan lain untuk mematikan kebosanan yang semakin melelahkan, saya mengetik nama @ikanatassa di kolom Search. Madam penulis satu ini biasanya memiliki memetwit horor, status lucu dan cerdas, atau paling tidak foto lelaki ganteng yang brewokan (I am really into bearded man this day!). Nah, ternyata status awal penulis beberapa novel terkenal ini (by the way, favorit saya A Very Yuppy Wedding) adalah tentang plagiat. Selidik punya selidik, ternyata ada salah satu penulis fanfiction memplagiat salah satu novelnya, Antalogi Rasa. Wah, gilaaaa… langsung melek deh saya, kabur jauh-jauh deh yang namanya bosan, berganti dengan rasa miris dan satu pertanyaan, berani banget ya ini penulis mencatut ide Ika Natassa beserta adegannya sebagai miliknya?

Saya mulai scroll down ke bawah tentang apa yang sebenarnya terjadi. Ternyata, si penulis fanfiction ini, nama Twitternya @edevitas (NO SENSOR!) mengirimkan fanfiction-nya ke blog @KyuYoungshipper. Saya tak tahu judulnya karena mereka telah menghapus fanfiction itu.

Sepertinya salah satu followers Kak Ika yang melaporkan ini. Kak Ika pun membandingkan per adegan dan kalimat bersama timnya. Hasilnya…. Sama persis cooooy… Memang, ada beberapa kata yang diganti, ditambah, dan dikurangi, tapi tetap saja yang namanya plagiat ide dan adegan, tetap saja plagiat.

Untuk kronologi jelasnya, saya tidak akan menjelaskannya di sini. Kalau kalian penasaran, kalian bisa buka akun Twitter @ikanatassa, @edevitas, dan @KyuYoungshipper. Yang jelas kesimpulan dari masalah ini adalah pemilik blog minta maaf di blog mereka, tapi mereka hapus beberapa jam kemudian dengan dalih akan memancing fanwar. Kak Ika jelas bertambah marah karena berarti mereka tidak serius menanggapi hal ini dan lebih peduli pada fanwar. Si penulis fanfiction menulis permintaan maaf secara resmi ke Kak Ika di akun Twitter-nya dengan alasan nge-fans dan mengembangkan imajinasinya. Satu hal yang bisa saya tarik dari sini: admin blog dan penulis sama-sama fans K-Pop ababil, tidak dewasa, dan bertingkah seolah-olah mereka korbannya. Sorry to say this, honey, but this world is probably too damn harsh for your sweet heart.

Nah, apa yang ingin saya ceritakan di sini?

Plagiat adalah jenis kriminalitas yang jelas sangat merugikan penulis. Siapapun penulisnya, terkenal atau tidak, dibayar atau tidak, bagus atau tidak, ide penulis tetaplah ide mereka. Tak ada satu orang pun yang berhak mencatutnya atau mengakuinya sebagai hak milik atas dalih apapun. Apalagi dengan dalih nge-fans dan mengembangkan imajinasi. Nah, kalau si plagiator memakai alasan ini, speechless deh. Entah itu otak mereka yang terlalu lama melototin laptop atau otak mereka yang terlalu soak sambil ga bisa lagi mikir logis. There is indeed a fine line between plagiarizing and imagining.

Saya juga penulis fanfiction. Dan bagi saya, penulis fanfiction atau bukan, kita tetap penulis. Kita menuangkan ide kita di atas selembar kertas putih. Kita berkejaran waktu dengan inspirasi. Kita membutuhkan waktu berjam-jam bahkan berhari-hari untuk membuat adegan atau hanya satu kalimat. Dengan adanya masalah ini, bagaimana pandangan orang-orang terhadap penulis fanfiction? Pasti beberapa orang awam akan menganggap kita hanya penulis abal-abal dengan imajinasi cetek, tidak pandai mengolah kata-kata, tidak pintar merekayasa adegan, dan segudang stereotip lainnya.

Bagi saya, menulis bukan hanya sekedar hobi. Menulis bukan hanya karena saya kurang kerjaan. Menulis bukan hanya karena ‘mencintai bias’ dan ‘mengidolakan dia setengah mati.’ Menulis adalah diri saya. Menulis adalah penyaluran diri saya. Menulis adalah penyembuhan. Lebih dari itu semua, menulis adalah pembuktian diri saya sendiri.

Bagi beberapa penulis fanfiction, adegan tidak akan ditulis ala kadarnya, kalimat tidak akan diolah dengan mencomot sana-sini, sudut pandang dipikirkan sematang mungkin, dan jutaan pertimbangan lain. Oleh karena itu, bagi penulis fanfiction pemula, jika kalian merasa menulis hanya karena dua alasan yang saya sebutkan di atas, paling tidak buatlah karya bermutu dan tidak membuat mata sakit karena tata bahasa amburadul, peletakan tanda baca salah, adegan yang tidak logis, dan serentetan kekurangan lain yang saya perhatikan di fanfiction saat ini. Apa kalian ingin mengatakan ini akan menghalangi imajinasi kalian? Tentu saja tidak. Saya sudah membuktikannya. Biarkan imajinasi kalian mengambil alih, sesudahnya lakukan proof-reading, apa adegan ini sinkron dengan adegan sebelum dan sesudahnya, apa kalimat ini sesuai, apa perasaan tokohnya terlihat jelas, apa tanda bacanya sudah benar, dan lain-lain.

Semua penulis pasti melewati proses menulis dan perkembangan. Ada yang maju, namun tak sedikit pula yang mundur. Saya membaca fanfiction saya di awal hobi saya menulis, dan saya cukup puas dengan kemajuan saya sampai saat ini.

Bagaimana caranya belajar? Gampang. Bacalah novel berkualitas. Kalian ingin menulis fanfiction bagus tanpa membaca? Mustahil. Bagaimana kalian menulis tanpa pembendaharaan kata yang banyak? Bagaimana kalian menulis tanpa tahu tanda baca yang benar? Bagaimana kalian menulis tanpa belajar cara penulis lain mendalami tokohnya? Maka dari itu, bacalah sebanyak-banyaknya. Percayalah, dengan banyak membaca, kalian akan menulis jutaan kata brilian tentang satu adegan dengan sendirinya.

Tidak ada satu pun hal pencapaian instan di dunia ini. Kita semua harus berjuang. Bahkan untuk sepercik ide sekalipun, tak jarang saya harus merenung berjam-jam atau berkeliling tak tentu arah. Sering saya hanya memelototi lembar kosong di Microsoft Words hanya untuk menulis beberapa paragraf berjam-jam. Menulis bukanlah pekerjaan mudah. Kita tidak bekerja dengan manusia lain. Kita bekerja dengan diri kita sendiri: melawan kemalasan, memerangi ide yang mandek, bergumul dengan tokoh yang ada di cerita, dan lain sebagainya.

Untuk para plagiator yang ada di luar sana, saya ingin bertanya, apa yang kalian dapat dengan memplagiat? Kepuasan? Review yang banyak? Sayangnya, apapun yang kalian dapat, semua itu bukan milik kalian sendiri. Jadi, apa yang sebenarnya kalian kejar?

Untuk kalian yang menulis, terbanglah. Imajinasi seluas jagad raya. Jangan biarkan norma dan nilai sosial menghalangi ide dan kreativitas kalian. Tulislah dengan baik. Menulislah untuk diri kalian sendiri. Menulislah karena kalian mencintai diri kalian sendiri, bukan karena mencintai orang lain.

 

 

Dengan segenap kejujuran,

Rosa Azazil

By rosazazil Posted in Mind Tagged

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s