[MIND] Pemilihan Langsung Untuk Belajar

05 bendera-merah-putih

Saya baru sampai di rumah. Baru saja makan, bermain dengan kucing, dan browsing beberapa halaman serta mengintip beberapa profil Twitter, mostly about latest politic news, indirect election.

Mungkin memang sedikit terlambat karena di kos saya, Banjarmasin, tidak ada acara channel Metro TV sehingga saya hanya diracuni oleh TV One—yang untungnya tidak berhasil. Saya pun terlanjur lelah mendengar kicauan para host stasiun TV itu yang penuh dengan paradigma menyesatkan, kalimat ambigu, dan logika yang dangkal sampai akhirnya saya tidak bisa menangkap dengan jelas hasil rapat paripurna DPR beberapa waktu yang lalu.

Sejujurnya, beberapa teman dekat saya mendukung pemilihan tidak langsung kepala daerah oleh DPR. Saya sempat bertanya pada mereka. Kira-kira, beginilah jawabannya: “Toh pemilihan langsung tidak menjamin kepala daerah yang jujur kan? Beberapa rakyat menengah ke bawah pasti mudah terbujuk dengan serangan fajar dan lagi-lagi tertipu oleh kepala daerah yang sudah bermaksud untuk korupsi.”

Ya, memang. Pemilihan langsung tidak menjamin demokrasi yang serta-merta mulus, jujur, bersih, aman, dan tidak boros anggaran. Tapi, apa pemilihan tidak langsung menjamin itu semua? Tidak boros anggaran, mungkin. Bagaimana dengan jujur dan bersih? Apa ada jaminan calon kepala daerah tidak menyogok beberapa anggota DPRD yang terkait? Apa anggota DPRD yang ada akan benar-benar amanah dalam menjalankan aspirasi rakyat? Mengingat kinerja DPRD dan DPR saat ini, sejujurnya, saya ragu.

Lagipula, semua hal butuh proses. Mungkin memang ada beberapa rakyat yang mudah tertipu bujuk rayu, tapi bagaimana dengan yang tidak? Indonesia butuh belajar. Rakyat harus belajar. Dan semua itu tidak akan terlaksana jika pemerintah langsung mencabut pemilihan langsung kepala daerah dengan dalih boros anggaran. Ayolah, kita buka saja semua kartu di sini. Berapa biaya dinas anggota DPR ke luar negeri yang sebenarnya tidak terlalu perlu? Berapa juta biaya yang membengkak di beberapa alokasi anggaran? Jujur, saya tidak tahu. Tapi, saya percaya boros anggaran itu bisa diatasi tanpa menghapuskan demokrasi langsung.

Indonesia masih negara yang sangat muda masa demokrasinya. Sejak zaman Soekarno yang penuh dengan intrik, Soeharto yang memimpin seumur hidup, sampai presiden-presiden di bawahnya, mencerminkan Indonesia masih tertatih berjalan menggapai demokrasi sesungguhnya. Demokrasi yang memang langsung dari rakyat. Demokrasi yang mencerminkan kehendak rakyat.

Saat menulis ini, trending topic #ShameOnYouSBY masih berjalan di Twitter. Beberapa orang menganggap beliau walk out dari sidang paripurna karena skenario yang sudah direncanakan? Menurut saya, entahlah. Saya tidak berani menghakimi presiden yang sudah 2 kali memimpin Indonesia sampai memiliki kantung mata yang menggelembung. Saya hanya rakyat, tidak tahu skenario macam apa yang berlangsung di gedung DPR dan Istana Presiden. Satu-satunya hal yang saya sayangkan adalah kenapa opsi pemilihan kepala daerah tidak langsung ini harus dipilih.

Mungkin ada teman saya yang membaca ini dan bingung kenapa saya memilih menulis di sini daripada berbicara dengan mereka langsung. Sederhana saja; I don’t like arguing with my best friend, especially relating to their beliefs and assumption. Apalagi tentang politik, area yang sensitif penuh dengan ranjau. Kenapa? Saya selalu merasa tidak nyaman (baca: jantung berdetak cepat, keringat dingin, dan tangan membeku) setiap mereka mendebat saya. Karena itu, di banyak kesempatan, saya memilih mengalah.

Jadi, lagi-lagi, menulis adalah satu-satunya pilihan. Terlepas dari ada yang membaca ini atau tidak, saya tidak peduli. Yang pasti, saya sudah mengeluarkan polutan yang mengendap di hati ini selama beberapa hari ke belakang.

Ini bukanlah tulisan tentang politik; ini hanya curahan hati seorang mahasiswi yang terlalu banyak membaca berita politik yang kontradiktif dan lelah dengan drama yang ada di dalamnya. Jadi, siapapun kalian yang membaca, setuju atau tidak kalian dengan demokrasi tidak langsung, mari kita berdoa untuk Indonesia.

Salam merah putih,

Rosa Azazil

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s