[FANFICTION] EXPLODED PAST I

CHAPTER I

TANGLED MYSTERY OF US

cover ep

Cast: Oh Sehun, Park Hyejin, Cho Kyuhyun

Genre: Angst, Tragedy, Romance

NO YAOI. NO BL.

RATED-M

Kaulah kecewa yang dulu kusebut surga

Kaulah hampa yang dulu kusebut nirwana

Kegelapan yang terlalu terlena

Kini kau datang membawa cahaya

Namun kau kutuk aku dengan bahagia

Tak apa

Asalkan luka yang dulu ada

Masih sempurna menganga

HYEJIN POV

Terasa ada yang meledak dalam diriku. Hatiku pecah berkeping-keping menjadi pecahan rasa yang sudah lama tak kukecap. Kekosongan beberapa menit lalu tiba-tiba saja terisi penuh, membuatku limbung dan ingin muntah, sekaligus menggosok mataku untuk memastikan ini bukanlah mimpi, bahwa dia memang ada di sana, sempurna dan utuh.

“Lama tak berjumpa,” sebuah kata standar untuk pertemuan antar teman lama. Bagiku, kalimat itu bukan hanya sapaan. Sapaan itu adalah sebuah awal baru untuk duniaku yang sebelumnya sekarat mencari cahaya. Kini, dia datang kembali.

“Benar,” sahutku tegas dan datar. Bertentangan dengan hatiku yang diguncang gempa dan digulung ombak tsunami.

Dia mengernyit bingung. Mungkin kaget karena keceriaan itu tidak dia temukan lagi. “Kau berubah.”

“Benarkah? Maka itu kemajuan yang bagus, bukan?” tanpa bisa dicegah, aku tersenyum. Bukan senyum yang dulu biasa kubagi dengannya. Senyum ini dingin. Bisa kulihat betapa mata itu terkejut dengan diriku yang baru. Tahukah kau, kepergianmulah yang membuatku seperti ini?

Dia mengernyit semakin dalam dan mengambil kursi di depanku. Tanganku mengepal. Berusaha tidak menghamburkan diri ke dalam pelukannya dan menanyakan ratusan alasan mengapa dia pergi. Tidak, aku tidak akan melakukannya. Sikap dinginnya meninggalkanku cukup menjelaskan semuanya. Dia tidak pernah peduli padaku. Aku hanya orang lain yang kebetulan lewat di hidup sempurnanya sebagai idola. Tidak ada yang pantas diingat mengenai diriku. Kecuali satu fakta itu, aku menyukainya. Dan dia tidak pernah tahu.

“Kau yakin sekali kursi itu tidak ada yang menduduki,” aku menatap langsung ke dalam matanya.

Dia memalingkan wajahnya. Entah karena tatapanku yang bisa melumatnya atau senyum sinisku yang menyakitinya.

“Aku sudah melihatmu sejak 1 jam yang lalu. Dan tidak ada seorangpun yang menemanimu. Jika ternyata ada seseorang yang seharusnyaduduk di sini, dia pasti terlambat,” jawabnya puas. Sialan, dia masih bisa membalik kata-kataku.

Aku diam. Ledakan perasaan itu masih berlangsung dalam diriku. Membuatku ingin menggapai kepingan rasa yang dulu bahagia. Membuatku ingin melempar diri ke masa lalu saat semuanya masih masuk akal. Saat aku masih menjadi diriku. Saat aku tak perlu memasang topeng untuk membohongi dunia tentang siapa aku sekarang.

Saat aku masih bisa mencintai layaknya cinta biasa.

“Kau berubah,” dia berkata sekali lagi. Aku ingin menjawab. Tapi dia kembali menyambung, “Yang ini bukan gayamu, apalagi sifatmu.”

Aku tersenyum tipis. Dia mungkin heran karena tak ada warna yang bisa dia temukan dalam diriku. Kemeja putih ketat yang menampakkan belahan dadaku dengan jelas, rompi hitam, dan rok lipit abu-abu yang hanya bisa diukur dengan sepotong jari dari selangkangan pasti membuatnya terkejut.

Inilah aku yang baru. Hitam, putih, abu-abu. Tak ada goresan warna. Sama seperti dunia tempatku hidup kini.

“Aku ingat dulu kau mengatakan tidak menyukai rok mini.”

“Semua orang berubah. Kau datang terlalu lama untuk melihatnya.”

“Maaf. Aku tidak memberitahumu.” Dia menundukkan kepalanya. Jika dia melakukan ini dulu, aku akan membelai kepalanya dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa dia masih memiliki aku jika semua orang meninggalkannya. Dia selalu percaya. Namun, aku terlalu bodoh. Dia tidak pernah mengatakan itu padaku. Sehingga dialah yang meninggalkanku.

“Aku tidak ingin kau terluka.” Seolah itu menjawab penantianku bertahun-tahun ini, dia menatap mataku. Aku mengerjap dan tersentak sesaat.

Terluka katanya? Dia tidak memberitahuku agar aku tidak terluka? Ingin aku berteriak histeris di hadapannya dan menunjukkan masa-masa hitam meratapi kepergiannya. Ingin aku tunjukkan air mata yang mungkin berubah menjadi darah karena ia tak pernah menjelaskan.

Jika menurutnya dengan penjelasan membuatku terluka, maka diam pastilah membuatku mati.

“Itu bukan jawaban. Itu pembelaan,” jawabku pelan.

“Bukan saatnya untuk jawaban. Yang penting, kita bersama di sini, kan?” dia tersenyum lucu penuh percaya diri. Kini sikapnya itu membuatku muak. Apa aku memang terlalu pintar menyembunyikan perasaanku atau dia yang terlalu buta untuk melihatnya?

“Maaf. Aku banyak urusan.” Aku meletakkan uang di atas meja kemudian berderap meninggalkannya. Aku ingin menjadi pihak yang meninggalkan. Bukan lagi pihak yang mengejar. Yang terjadi tadi akan kuanggap sebagai mimpi. Namun, keputusanku tiba-tiba goyah saat dia menangkap bahuku dan memaksaku berbalik menghadapnya. Mata kami kembali bertemu.

“Urusan kita lebih banyak dari ini,” desisnya. Matanya terlihat marah. Ekspresiku masih sedingin es. Tidak akan kubiarkan dia membaca secuil pun perasaanku. Kami sudah selesai. Perasaan ini seharusnya kukubur sejak dulu. Bukannya membuatnya tumbuh subur dengan impian muluk remajaku.

“Urusan? Kita sudah selesai sejak kau pergi.”

“Kau tidak mengerti, Hyejin. Tolong biarkan aku bersamamu saat ini.” Tiba-tiba saja, dia terlihat sangat lelah. Bahunya melorot. Sungguh mati aku ingin membelai bahu itu.

Tetapi, kenyataan tentang siapa aku sebenarnya kini membuatku harus meninggalkannya.

“Diam,” desisku dengan api yang tersulut. “Teman lama tidak seharusnya memiliki urusan, bukan? Urusan kita sudah selesai. Kau menyapaku sebagai teman lama. Aku juga sudah membalas sapaanmu. Sekarang izinkan aku kembali pada kehidupanku. Karena kini kita sudah mempunyai kehidupan berbeda.”

“Berbeda? Kau sama hancurnya denganku, benarkan?” pandangannya melembut. Mata coklat itu selalu membuatku meleleh. Hanyut dalam pusaran maut yang akan membuatku mati. Karena itulah, saat dia pergi, aku sadar telah salah membiarkan hatiku memilihnya. Aku tak akan mengulanginya kini.

“Kau tidak pernah mengenalku dengan baik sampai sekarang. Aku hanya teman lama bagimu. Bukan ini yang seharusnya dilakukan teman lama.”

“Memang bukan. Teman lama seharusnya bercerita kehidupan setelah lama berpisah. Tertawa dan mengingat masa lalu. Tapi kau tidak melakukannya. Kau bahkan tidak lagi melihatku seperti dulu. Padahal, aku merindukannya.”

Hah?! Apa dia bilang? Dia merindukannya? Apa dia ingin mengadu rindunya dengan rinduku? Rinduku seperti air yang mengaliri urat bumi dan bermuara pada laut lalu memulai siklusnya kembali. Rinduku tanpa awal dan akhir.

“Maka aku tidak merindukannya. Melakukan seperti yang kau katakan hanya membuang waktuku saja. Aku harus pergi sekarang. Lepaskan!” Aku menyentakkan tangannya. Tapi tangan kekar dan bius di matanya membuat tenagaku seolah tak berarti.

“Apa yang terjadi padamu? Apa kau membenciku setelah aku pergi?”

“Membencimu? Cih! Waktuku terlalu berharga untuk membencimu.”

“Benarkah? Kalau kau tidak membenciku, kau pasti akan memberiku senyum seperti ini.” Dia mengulurkan kedua tangannya ke wajahku dan meletakannya di kedua ujung bibirku. Dengan lembut, dia menarik kedua sisi bibirku hingga tersenyum. Jantungku berdentam tidak karuan. Aku bahkan merasa detak ini akan membuat gempa lokal di tempatku berdiri.

“Nah, kau lebih baik seperti ini.” Dia tersenyum mengimbangiku. Dia menahan tangannya disana. Menatapku dengan pandangan yang tidak pernah kulihat dan kubayangkan. Namun, dia semakin membius dan membuatku terpana. Sesaat, aku lupa dengan sikap dinginku.

Terlebih ketika kedua tangannya kini merengkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Aku hanya bisa mengerjap. Ya, ini pasti mimpi. Mimpi yang sangat aneh. Karena aku tidak bisa lari dan marah lagi. Seolah dia memadamkan api sekaligus memanaskan es yang membeku dalam hatiku.

“Aku benar-benar merindukanmu.” Saat itulah segala pertahananku runtuh dan menyambut pelukannya erat. Air mataku segera tumpah. Ya, aku juga merindukannya. Sangat merindukannya.

“Aku tidak akan meninggalkanmu lagi.” Aku semakin terisak dan meraung pelan di dadanya. Kata-kata yang dulu hanya terucap dariku untuknya, kini dia mengatakannya padaku.

“Aku juga merindukanmu.”

000

“Jadi, apa yang kau lakukan selama aku pergi?” Kami berjalan menyusuri jalanan yang mulai dibayangi oleh ranting pohon karena semburat senja. Dia menggenggam tanganku di dalam kantong jaketnya. Membayangkan ternyata tidak seindah mengalaminya. Kami sering melakukan ini dulu. Menunggunya selesai bermain basket lalu pulang bersama. Karena tahu aku tidak tahan dingin, dia selalu menyusupkan tangan kecilku dalam saku jaketnya.

“Melanjutkan hidup, tentu saja.” Perutku tiba-tiba mulas karena berbohong padanya.

“Apa kau sekarang bekerja sebagai interior designer seperti cita-citamu dulu?”

“Ternyata kau masih ingat.” sahutku pelan. Apa dia mengingat semuanya?

“Kau suka minum kopi, walau itu akan membuatmu tidak tidur sampai jam 3 pagi. Sangat ceroboh. Cerewet. Manja sekaligus dewasa. Selera pakaianmu tidak pernah tetap. Suatu kali kau hanya mengenakan kaus yang tidak dicuci dua hari tapi beberapa hari kemudian kau memakai dress pemberian ibumu. Sangat pemalas. Tapi anehnya kau selalu menurut kalau aku yang menyuruh. Lalu…”

“Hentikan! Kenapa semuanya buruk? Apa hanya keburukanku yang pantas diingat?” aku menarik kembali tanganku dari sakunya. Tapi tangan besarnya lagi-lagi menahanku.

“Jangan dilepas. Ini sangat menenangkan, kau tahu?” Dia menoleh ke arahku. Masih dengan senyum jahil seperti dulu. Tapi kedewasaan tampak jelas dari celah kekanak-kanakannya.

Aku ingin sekali bertanya. Tapi jika aku bertanya, ribuan pertanyaan lain kembali mendesak. Dan aku belum siap dengan jawabannya. Cukup bertemu dengannya saja hari ini. Aku tidak membutuhkan jawaban.

“Kau tidak bertanya padaku? Seingatku dulu kau menanyakan apapun,” dia kembali menatap jalanan di depan kami. Aku menoleh padanya. Dan kembali terpaku. Ternyata aku masih suka melakukannya. Menatapnya dari samping seperti ini selalu terasa berbeda. Memandanginya tengah menikmati sesuatu membuat ribuan kupu-kupu yang dulunya mati kembali beterbangan liar dalam perutku. Ini tidak adil. Mengapa dia masih terlihat memesona setelah bertahun-tahun lewat dengan aku yang membencinya?

“Sudah puas menikmati wajahku?” dia tiba-tiba menoleh ke arahku. Umpatan pelan keluar dari mulutku. Mengapa dia sadar? Dulu dia tidak pernah sadar jika aku melakukan ini.

“Jangan khawatir. Kau bisa menikmatiku sepuasmu sekarang,” dia berhenti melangkah. Kakiku pun berhenti mengayun, “Dan aku juga bisa menikmatimu.”

Jika saja dia tidak terus-terusan meremas tanganku dalam saku jaketnya, pasti aku sudah meleleh. Tatapan matanya dan senyuman itu benar-benar hangat. Hangat yang abadi. Terus memanaskan hatiku yang sebelumnya benar-benar dingin. Tidak tersisa ruang di otakku untuk menanyakan maksudnya. Hatiku hanya bisa menerima apapun perkataannya.

Dia merengkuh tubuhku. “Jangan khawatir. Kita tidak perlu sembunyi lagi.”

“Kau…tahu?” aku terbata. Masih berusaha menyusun kepingan perkatannya dalam kapasitas otakku yang sudah berubah prioritasnya sejak dia berada di depanku. Hanya untuk merasakannya. Hanya untuk melihatnya.

Sebagai jawaban, dia hanya memelukku lebih erat. Tanganku dalam saku jaketnya mencengkeram tubuhnya erat. Air mata kebahagiaan tersedak keluar. Karena sejak dia pergi, rasa bahagia terkesan semu. Tak ada apapun yang pasti kurasakan. Dunia memang masih berputar, tapi aku berhenti. Matahari tempatku berevolusi telah tiada. Dan kini, dia kembali dengan cahaya yang sudi dia bagi padaku.

Dengan segala rasa ini, aku ragu apa setelah ini semuanya akan sama…

000

Sehun POV

“Hujan,” aku menengadahkan tanganku dan mendapati sebutir air menetesinya.

“Benar. Sebaiknya kita lari,” dia memeluk tubuhnya yang hanya dibalut pakaian serba mini itu. Aku tersenyum mengejek.

“Dengan rok mini dan high heels itu? Aku ragu kau akan selamat sampai tujuan.”

“YA! Oh Sehun! Kau lupa aku adalah pelari terbaik di sekolah?” dia berkacak pinggang dengan tangan yang sudah siap untuk memukulku. Tak menghiraukan hujan yang tidak hanya merintik, kini telah menderas dan membasahi beberapa bagian tubuhnya.

“Pelari terbaik yang kemampuannya hanya keluar ketika terlambat?” aku tidak bisa menahan tawa kecilku. Malaikatku memang telah kembali. Dengan posenya, dengan senyumnya, dengan tawanya, dan yang terpenting dengan tubuhnya yang selalu memelukku.

“Kau?! Akhh…” dia maju selangkah dan tiba-tiba menjatuhkan tubuhnya padaku.

“Terpeleset, Nona?” aku menahan tubuhnya dengan kedua lenganku. Namun, ketika aku ingin mulai menggodanya lagi, dia menatapku. Hujan serasa berhenti. Waktu serasa abadi. Kulitnya di telapak tanganku menguarkan panas yang tidak bisa kutolak. Tubuhku merespon dengan berlebihan. Atau memang inilah yang seharusnya sejak dulu kulakukan. Mendekatkan tubuh kami dan menguncinya dalam rengkuhanku.

Sebuah dorongan berkumpul di dadaku. Menjalar ke tenggorokanku. Memaksa bibirku untuk menyelesaikan apa yang dulu tertunda. Bibirnya diam tak bergerak. Jangan khawatir, aku tidak lari lagi sekarang.

Aku semakin mendekat. Tak menciptakan celah apapun di antara kami. Tubuhku dan tubuhnya di bawah hujan. Bibirku dan bibirnya di antara hujan. Bersatu dan menjawab semuanya.

Penasaran. Pertanyaan. Gelisah. Marah. Kecewa. Sedih. Takut. Semuanya tak terasa lagi. Bibirku yang mulai melumat bibirnya. Tangannya yang melingkar di leherku. Desah napas yang memburu dan memanas. Inilah yang seharusnya kami lakukan. Bertanya dalam kecup dan menjawab dalam lumatan. Bibir saling mengecap kata yang tak terucap akal. Hanya nafsu dan cinta yang ternyata sejak dulu ada.

Saranghae….” bisikku di antara ciuman basah kami. Dia menarik kepalanya sesaat dan sebuah pengertian juga percikan perasaan lega tampak disana. Aku kembali menarik kepalanya dan bahkan meraba seluruh tubuhnya.

Lalu, kami berhenti. Dia menyembunyikan kepalanya dalam lekuk dadaku.

“Bodoh. Kenapa baru sekarang?” dia bertanya pelan. Panas mulutnya menjalar ke dadaku. Menciptakan sebuah sensasi yang membakar seluruh tubuhku.

“Entahlah,” jawabku jujur. Aku pun tak tahu mengapa baru sekarang keberanian itu muncul. Meski aku tahu dia juga mempunyai perasaan yang sama.

“Kau bisa menjawabnya, kan?”

“Tidak di tengah hujan seperti ini. Aku kedinginan, kau tahu?” aku meringis. Dia tertawa pelan. Padahal aku tidak merasakan dingin sama sekali. Hanya panas. Panas yang harus diselesaikan.

“Kau akan menjawabnya?”

“Mungkin di tempat yang lebih hangat dan sepi?” bisikku di samping telinganya. Bisa kurasakan badannya bergidik pelan. Tangannya meremas lenganku.

“Apartemenku?” tawarnya.

Aku menjawab dengan kecupan singkat yang membuat mukanya memerah. Dia kembali berjalan tapi… “Awww…” dia menahan tubuhnya di bahuku.

“Kau benar-benar terpeleset?” Tanyaku khawatir.

Dia memutar matanya. Seolah aku menanyakan apa dia benar-benar seorang wanita.

Aku berjongkok di hadapannya. “Hah?” Sepertinya efek ciumanku benar-benar hebat. Dia bahkan tidak tahu apa yang seharusnya dia lakukan.

“Kau akan tetap berjalan dan menahan sakit?”

“Kau mau…” dia berhenti sesaat. “Menggendongku?”

“Tidak. Aku mau olahraga.” aku menoleh ke belakang dan melihat mukanya yang shock. “Ya ampun. Kau masih bisa ku bodohi ternyata. Tentu saja, Tuan Putri. Aku ingin menggendongmu dan memastikan kakimu tidak patah.”

“Kenapa tidak bilang saja?” bibirnya yang lebih merah setelah aku melumatnya itu cemberut manis. Tapi dia tetap naik ke punggungku.

“Sebaiknya kau lepas dulu high-heels itu jika kau tidak ingin menusuk punggungku,” aku memandang ngeri pada kakinya. Demi bibirku yang seksi, bagaimana bisa wanita menggantungkan hidupnya pada bakiak modifikasi seperti itu?

Dengan terburu-buru, dia melepasnya dan mendengus kesal. “Aku sungguh berharap bisa melakukan itu,” dia mendesah dengan bisikan. Wanita ini benar-benar menggodaku.

“Nah, Tuan, mari bertaruh. Siapa yang sebenarnya tidak akan selamat sampai ke tujuan?” dia menelusuri lekuk samping leherku dengan telunjuknya. Membangkitkan sebuah rasa yang tadinya sudah beristirahat. Tanpa kuinginkan, syaraf-syarafku terjaga penuh. Menunggu sentuhan lanjut darinya.

“Yang pasti bukan aku,” dengan sisa pertahanan, aku berdiri dengan dia yang berada di atas punggungku. Dua buah benda lunak terasa menekan hingga tulangku. Aku menahan diri untuk tidak menggeram. Dia mengajakku bertaruh? Baik, maka dia akan mendapatkan kekalahannya.

“Hujannya semakin deras. Tidakkah sebaiknya kita mencari taksi dan hotel saja, hmm?” tangannya kini berputar di atas perutku. Napasku tinggal setengah-setengah. Panas yang mengumpul di seluruh bagian dalam tubuhku dan dingin di luar tubuhku membuatku bingung. Yang bisa kulakukan hanya berusaha bernapas senormal mungkin. Tidak akan kubiarkan dia tahu bahwa aku tergoda.

“Sepertinya otot perutmu semakin bagus sejak terakhir kali aku melihatnya,” kini dia tidak hanya membelainya lembut. Dia menyentuhnya dengan tekanan pas dan hampir meloloskan sebuah desahan putus asa dariku. Tapi aku segera menggigit bibirku.

“Sebaiknya kau tunjukkan jalan menuju apartemenmu. Atau kita akan tersesat dan berakhir dengan hipotermia,” bisikku pelan. Sungguh sulit berkata-kata tanpa mendesah jika dia terus melakukan ini.

“Hipotermia? Kau hanya perlu memeluk tubuhku dan merasakannya dengan seluruh inderamu,” Aku benar-benar ingin menutup mulutnya dengan… Err… Kau tahu maksudku.

“Ah, itu apartemenku,” dia menunjuk dengan semangat ke sebuah bangunan di depanku. Seingatku bangunan ini hanya ditempati oleh mereka dengan penghasilan jauh di atas rata-rata. Hanya ekspatriat dan pengusaha sukses saja yang menempatinya. Sepertinya dia adalah salah satu interior design dengan pendapatan termahal.

“Aku akan membalasmu,” aku menyeringai. Semakin mendekati apartemennya, jantungku berpacu cepat dan panas.

000

Author POV

Kedua orang itu masih tidak bisa melebur dengan kenyataan di sekeliling mereka. Kedua tangan yang tidak juga berhenti meraba. Berusaha merasakan kulit telanjang masing-masing dengan bibir yang terus mengeluarkan desahan dan erang tertahan.

Tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana semua itu bermula. Bagaimana waktu yang terbuang selama bertahun-tahun terselesaikan hanya dengan kecup di kala hujan beberapa waktu lalu. Mereka berdua tidak bisa menahannya. Rasa sakit yang mendera tidak lagi berarti ketika kata cinta puluhan kali keluar di sela-sela desahan yang meghempas menuju puncak.

Ketika bibir Sehun kembali mengukir di leher mulus Hyejin, ketika Hyejin membalas dengan membelai otot perut Sehun dan meremas bagian yang mengeras di dalam celana dalamnya, dan ketika mereka berdua sama-sama memohon untuk segera menyelesaikan proses pelepasan cinta itu.

“Hyejin-ah…” mata coklat Sehun meneliti ekspresi wanita itu saat mengulum penisnya. Dia berusaha untuk tidak terpejam saat mendesah agar terus bisa menatap Hyejin dalam keadaan seperti itu. Sulit, karena kenimatan yang diberikan kedua belah bibir Hyejin menerbangkannya seluruh akal sehatnya.

Kombinasi kuluman, jilatan, dan gigitan Hyejin tak juga berhenti. Sehun berusaha menahannya. Tapi gejolak dari seluruh syaraf tubuhnya membuat ujung kemaluannya membengkak. Siap menembakan benih itu kapan saja ke dalam mulut Hyejin.

“Aku tak tahan lagi. Aaakkhhhh…” Sehun melenguh panjang seraya mencengkeram kepala Hyejin dan menyentakkan penisnya sekeras yang dia bisa. Jutaan sel spermanya langsung menuju kerongkongan Hyejin dan dihirupnya dengan suka cita.

Tanpa memberikan kesempatan untuk Sehun menarik napas, Hyejin kembali berdiri dan menghujani lelaki itu dengan kecup nikmat bibirnya. Lidah mereka menari. Mendesak untuk kenikmatan yang tidak bisa diungkapkan logika. Hanya sebuah hasrat purba dalam diri yang berteriak minta dipuaskan.

Itulah yang dilakukan Sehun. Dia mendudukan Hyejin di sofa dan mengangkangkan kakinya. Rambut panjang Hyejin menutupi kedua belah bahunya. Napasnya yang tak beraturan membuat payudaranya naik turun. Dengan kalap, Sehun meraup payudara Hyejin dengan tangan juga bibirnya. Kedua tindakan singkron dari tangan dan bibirnya membuat wanita itu tidak bisa berbuat apa-apa, selain mendesah, mengerang, meraba, dan mencengkeram punggung Sehun. Menyalurkan kenikmatan yang telah membuat tubuhnya lumpuh.

Tanda-tanda kemerahan kembali muncul. Sehun berhenti sejenak menikmati karyanya sebelum kemudian menjilatnya dengan lembut. Hanya nama Sehun yang disebut Hyejin. Hanya cinta yang dirasanya.

Kepala Sehun terus turun. Hyejin terus terengah dan memejamkan matanya. Menyiapkan dirinya dengan kenikmatan yang lebih besar lagi. Saat bibir Sehun sudah menemukan tujuannya, tanpa basa-basi lagi, lidahnya langsung menerobos pertahanan terakhir Hyejin.

“Akkkhhhh…” Hyejin mengerang lalu mendesah keras. Terlalu banyak. Terlalu nikmat. Tubuhnya menyentak-nyentak. Sama seperti lidah Sehun yang berputar dalam vaginanya. Menyedot, mengorek, melakukan apapun demi seuntai desah indah dari Hyejin.

Rasa itu mulai mendekati. Hyejin tidak tahan lagi. Intensitas erangannya semakin meningkat. Organ basah dalam mulut Sehun mengantarnya menuju pelepasan dan ledakan yang telah lama dia nantikan. Tanpa membuang banyak waktu, Hyejin segera melepaskannya dan berteriak penuh kenikmatan.

Sehun tidak membiarkan cairan cinta Hyejin terbuang sia-sia. Dia segera menghirupnya dan membersihkan sisanya yang berceceran di vagina serta selangkangan Hyejin. Penis Sehun sudah tidak bisa menunggu. Keras bagai batu. Urat-uratnya bertonjolan. Siap menghancurkan apapun yang menghadang. Namun, ketika dia melihat wajah Hyejin, keraguan hinggap.

“Kenapa? Kau keberatan?” Sehun bertanya khawatir. Jika ini dihentikan, dia tidak tahu bagaimana mengatasi tubuhnya sendiri. Dia amat membutuhkan vagina serta desahan Hyejin untuk sebuah orgasme.

“Sebaiknya… Kita berhenti,” Hyejin menggigit bibirnya. Bukan dengan alasan seksi seperti sebelumnya, Sehun tahu ada yang salah.

“Kenapa?”

“Ini bukan saat yang tepat,” Hyejin melemparkan tatapannya ke arah lain. Menghindari lelaki dengan penis mengacung tinggi dan hasrat yang harus diselesaikan.

“Aku tidak bisa. Maaf,” seiring dengan selesai penjelasannya, Hyejin berdiri dan menuju kamar utama di apartemennya. Berusaha tidak tergoda dengan penis Sehun. Meski dia tahu jika dia menerima benda itu dalam tubuhnya, serbuan kenikmatan tanpa batas akan meledakan vaginanya.

Sementara itu, Sehun hanya memandang Hyejin tak percaya sambil tangannya mengurut penisnya sendiri. Berusaha menurunkan dan mendinginkannya. Tidak, dia tidak akan memohon. Entah bagaimana, Sehun yakin, Hyejin di depannya kini bukanlah gadis remaja biasa seperti bertahun lalu. Ada sesuatu yang disembunyikan sekaligus merubahnya. Dia tidak akan siap mengetahui kebenarannya. Termasuk membongkar rahasianya sendiri.

Demi itu semua, biarlah dia menahan nafsunya untuk malam ini. Nanti, ketika mereka berdua sudah siap, Sehun akan menyelesaikan semuanya.

000

Hyejin POV

Hatiku. Jiwaku. Tubuhku. Itu semua bukan milikku lagi. Sekuat apapun aku berusaha meredam isakan dan jeritan tertahan karena tangis yang tak kunjung reda, aku tidak mampu. Ternyata sakit bertahun-tahun tidak mampu membasuh luka yang telah bernanah.

Aku tidak pernah terbiasa membohongi diriku sendiri demi sebuah ketidakmampuanku mengendalikan keadaan. Hidupku setelah Sehun pergi, bukanlah dunia indah yang pantas untuk seorang remaja. Sebuah dunia yang sampai kini membuatku tidak bisa keluar dan terus bertahan di sana. Untuk segenggam harga diri yang masih tersisa. Untuk kehidupan lebih baik. Meski kutahu semua itu angan belaka, aku berharap mampu keluar.

Tapi, ketika Sehun datang dan menawarkan masa depan seperti yang tercermin dalam dirinya, aku sadar telah salah membiarkan diriku larut dalam ekstasi kenikmatan yang selama ini kugeluti. Aku merasa hina. Sehina-hinanya manusia. Tidak ada jalan kembali untukku. Hanya tersisa satu jalan, jalan yang lebih hitam. Dan Sehun bukanlah orang yang akan kuajak melalui hidupku. Dia terlalu berharga untuk itu.

Panasnya butiran air yang membasuh tubuhku tidak juga membuatku kembali seperti semula. Padahal, dengan air ini, aku selalu mencuci diriku dari tangan-tangan yang memperlakukan tubuhku bagai binatang. Sehun berbeda. Dia menyentuhku seolah akulah satu-satunya. Mendengarkan desahanku seakan hanya itu suara yang mampu didengar oleh telinganya.

“Maaf. Maaf. Maaf,” bagai orang kesetanan aku mengucap permohonan itu berulang-ulang. Seolah Sehun akan mendengarnya dan tiba-tiba mengerti walau aku tidak pernah menjelaskan.

“Hanya sampai hari ini,” aku bertekad ketika sebuah keputusan itu terbit. Ya, benar. Hanya sampai malam ini. Ketika besok tiba, hari ini pun akan menjadi masa lalu. Semua yang terjadi padaku dan Sehun adalah mimpi. Tidak akan sulit. Itulah yang kulakukan bertahun-tahun ini.

Dengan tubuh yang berkerut karena dingin, aku berdiri dengan kedua kaki goyah akibat terlalu banyak menangis. Sudah berapa lama aku di sini? Dua jam? Tiga jam? Aku hanya berharap berapapun lama waktu itu, Sehun akan pergi. Meninggalkanku kembali dengan duniaku.

000

Author POV

Hyejin salah. Sehun tidak pergi. Lelaki itu kini terpekur memandangi rinai tipis dari ruang tamu Hyejin yang hanya dibatasi oleh jendela besar. Pakaian sudah melekat di tubuhnya. Jutaan asumsi di kepalanya sukses membuat nafsunya kembali ke titik nol.

Tangan Sehun menekan dadanya. Memastikan hatinya masih di sana. Dia tertawa pelan. Getir dan miris. Bagaimana bisa sebuah penolakan memiliki tangan yang meremas hatinya menjadi serpihan kecil? Tapi, jauh dalam hatinya, Sehun tahu semuga kegilaan tadi memang harus dihentikan. Akan ada hal yang lebih buruk lagi jika tadi Sehun memaksa Hyejin untuk melanjutkan kegiatan mereka. Sehun tidak mau terikat. Tidak oleh Hyejin. Dunia kecil masa lalunya yang membuatnya kuat menahan kehidupannya selama ini. Hyejin terlalu berharga untuk itu.

Lalu, keheningan kelam di ruangan itu dipecah oleh dering ponsel Sehun.

Ingat, hanya dua minggu,” suara itu membuat ekspresi datar Sehun bergolak hebat. Matanya berkabut untuk beberapa saat.

“Ya, aku ingat,” Sehun membalas dengan suara datar. Namun serak. Juga putus asa.

Tidak ada tambahan waktu,” suara di seberang kembali menegaskan. Hampir saja sebuah jeritan marah menggantikan serak suaranya tadi. Tapi, Sehun tahu semua itu bisa menunggu. Hanya dua minggu. Waktunya hanya dua minggu.

Sebuah nada panjang stagnan terdengar, menandai putusnya hubungan telepon. Kabut di mata Sehun semakin nyata terlihat. Tiba-tiba, dia menjadi sosok lain. Sosok tanpa harapan. Dengan tangan yang kesusahan menggapai pegangan. Dan kaki yang mencari penopang agar tetap berdiri. Pemberitahuan tadi bagai peringatan kematian untuknya. Waktunya tidak banyak.

Gerimis di luar tidak lagi sebuah rinai. Melainkan deras yang menghujam apapun di bawahnya. Menerjang apapun yang lemah. Termasuk hati Sehun.

000

Author POV

Tangan putih mulus itu bergetar menerima panggilan telepon. Tanpa melihat siapa nama pemanggilnya, Hyejin langsung mengangkat dan meletakannya di telinganya. Bukannya nama siapa yang dia tunggu, melainkan berita yang dibawanya.

Tinggal dua minggu lagi,” Hyejin menyambutnya dengan senyum dingin. Senyum yang selalu terbit ketika pembunuh berhasil menghabisi korbannya. Senyum tanpa ampun. Sebuah kontradiksi dengan makna senyum itu sendiri.

“Lalu, semua selesai?”

Ya, hanya dua minggu,” cukup itu saja yang ingin didengarnya, Hyejin langsung menutup telepon.

Dia memandang refleksi dirinya di depan cermin. Yang terlihat disana adalah seorang wanita dengan kelopak mata kecil namun tajam. Berwarna hitam pekat. Tanpa ada petunjuk apapun. Jika biasanya mata mencerminkan perasaan seseorang, maka Hyejin mempunyai mata berbeda. Matanya adalah perisai. Matanya merupakan pelindung. Agar tidak ada seorangpun yang menyadari apa yang Hyejin rasakan.

Penderitaan.

Tapi, sebentar lagi, semua itu akan selesai. Dia akan menerima pembalasan Hyejin.

000

Sehun POV

“Kau masih di sini?” dengan tergesa dan tidak kentara aku menggosok mataku. Menghilangan kabut yang tadi menutupi pandanganku. Aku berbalik dan mendapatinya menatapku tidak percaya.

“Tentu saja, terlalu aneh kan jika aku langsung pulang? Kita bahkan belum menjanjikan apa-apa.”

“Kita?” Dia mengangkat alisnya. Aku tersenyum dan bergerak mendekatinya. Bau sabun menguar. Menggelitik syaraf penciumanku. Tanpa bisa kutahan, bibirku kembali mencium lehernya.

“Ya, kita,” bisikku lalu mengecup collar bone-nya pelan.

Hanya dua minggu. Aku bertekad untuk menikmatinya. Seluruh bagian tubuhnya. Semua ekspresinya. Semua bentuk senyumnya. Termasuk senyum pahitnya seperti yang kini tengah dia pertontonkan.

“Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa,” jawabnya, menantang mataku.

“Aku tidak memintamu berjanji, Sayang. Aku hanya ingin agar kau menikmati semua ini,” tawarku sambil meraba lekuk tubuhnya yang tersembunyi di balik kaos tipis.

“Sehun-ah…” dia memelukku erat.”Bagaimana jika setelah malam ini semua kembali seperti semula?” sepotong takut terselip disana.

“Maka jangan biarkan malam ini berlalu,” sahutku mengeratkan pelukanku padanya. Sangat menenangkan. Sangat nyaman. Hangat. Rumah. Dunia kecilku.

Ia menjawab dengan melepas pelukannya dan memandangku dengan senyum yang sama sekali berbeda. Senyum yang sama seperti bertahun-tahun lalu. Senyum yang sangat kurindukan.

“Kau mau coklat panas?” tawarnya ceria. Sangat mengherankan bagaimana dia bisa merubah mood-nya semudah itu.

“Seperti yang kita lakukan dulu? Sambil memandang hujan?”

Dia mengangguk cepat.

“Tentu,” aku memang sangat kedinginan. Mungkin secangkir coklat panas mampu mengusir rasa dingin itu. Meski kutahu dingin ini bukanlah dingin biasa.

Hyejin POV

Kehangatan segera menjalar ketika Sehun merengkuh tubuhku dari arah belakang. Tanpa bisa kucegah, desahan manja keluar dari mulutku. Tubuhku pun semakin merapat ke arahnya. Aroma coklat menyelimuti kami. Membuat suasana panas menyentuh pori-pori kulit dan menyapa tiap titik sensitifku. Menuruti insting, aku segera berbalik. Meninggalkan pekerjaanku. Membalas perlakuan Sehun.

“Kau ingin bermain?” Bisikku sambil menelusuri bahunya yang bidang. Bibirku tiba-tiba kering. Aroma tubuh Sehun sungguh berbeda dengan aroma di ruangan ini. Membuatku melayang. Terlupa dengan akal sehat yang seharusnya masih ada. Tapi, tidak saat Sehun di sampingku.

“Tidak, aku ingin bertarung,” kurasakan napas Sehun hangat menerpa rambutku yang masih basah. “Dengan tubuhmu,” lanjutnya.

Dia menangkupkan tangannya di kedua sisi wajahku. Mataku terpejam. Merasakan tekstur telapak tangannya. Terhanyut dalam hembusan napasnya.

Terlebih, ketika dia mengecup bibirku lembut. Tidak hanya nafsu, juga cinta yang bicara.

Tapi, aku tidak bisa bermain pelan. Bibir tipisnya langsung kukulum. Tubuh tegapnya erat merengkuh. Seolah kami memang diciptakan untuk satu sama lain, melekat erat.

Tapi, sebelum aku sempat melupakan segalanya, bahkan janjiku, Sehun segera melepas pelukannya dan bernapas terengah menatapku. Intens.

“Dimana kau belajar mencium sehebat itu?” Dia bertanya dengan nafsu yang kuyakin ditekannya sampai ke tingkat terendah.

Aku tersenyum misterius dan berbalik. Kembali menyelesaikan pekerjaanku yang tertunda. “Well, hanya menuruti kata hatiku.”

Dia tertawa pelan. Getaran suaranya hangat. Menularkan sebuah rasa yang selalu kuingat dan kusimpan rapi sebagai kenangan.

“Aku menunggu. Coklat panasmu,” kudengar langkahnya berbalik. Kembali menyisakan kebisuan. Dan hatiku yang tersentak ketika menyadari kenyataan yang terus mengikuti.

Andai dia tahu kenapa aku bisa mencium sehebat itu, apa dia masih mau memandangku?

Pikirku getir.

000

Author POV

Ujung kaki mereka bersentuhan pada tepi jendela. Dengan inisiatif Sehun, dia menarik sofa menghadap jendela besar yang menghadap langsung ke jalanan. Bukan jalanannya yang mereka nikmati, melainkan hujan yang terus turun tanpa henti. Seolah tidak mengizinkan Sehun untuk pergi. Malam yang kelam terlihat berkilauan dengan tirai bening bagai permata itu. Menghadirkan sebuah dunia dengan hanya mereka di dalamnya.

Hanya tawa Hyejin. Hanya tawa Sehun. Dan yang lebih penting dari itu semua, hanya detak jantung mereka berdua.

Uap panas mengepul dari cangkir yang mereka pegang. Sesekali Hyejin menguasai pembicaraan. Lalu Sehun. Apa saja. Tapi, dalam diam, mereka sepakat tidak membicarakan apapun tentang kehidupan masing-masing.

Tanpa terasa, malam telah mencuri waktu.

“Sehun-ah, apa kau ingat dengan permainan kita dulu?” Hyejin bertanya pelan. Tiba-tiba terbersit di ingatannya kegiatan favorit mereka. Ketika semuanya masih baik-baik saja.

“Kita memainkan terlalu banyak permainan, Hyejin,” Sehun menimpali dengan canda. Sinar wajahnya hangat. Tanpa bisa dicegah, Hyejin terus-terusan tersenyum.

“Permainan saat hujan. Kau ingat?” Hyejin menatap mata Sehun. Dia tidak pernah menyangka akan seperti ini rasanya. Bertatapan langsung. Mengungkap apapun yang dulunya tidak terucap. Dia pun tidak perlu mengatakannya kini. Cukup kehangatan dan tatapan ini yang bicara.

“Tentu saja,” Sehun menjawab ceria. Hujan. Memang itu yang dia tunggu. Berbagi cerita ketika hujan. Bahkan bercerita saat hujan. Hujan yang mempunyai jutaan kisah tentang mereka. Hanya dengan satu kata itu, Sehun bisa mengingat dan merasakan apapun. Termasuk kehangatan serta ketulusan Hyejin.

Hyejin tersenyum lebar. Tidak ditemukan lagi kesan dingin bahkan keras pada wajahnya. Seakan ketika bertemu Sehun tadi, dia terlahir kembali.

Permainan hujan adalah permainan membuat cerita, dimulai dengan kata hujan. Mereka berdua harus menyambung cerita satu sama lain. Aturan untuk permainan ini hanya hujan. Selalu dimainkan ketika hujan. Jika tidak, semuanya akan berbeda.

“Kau duluan,” Putus Hyejin. Menyesap coklatnya perlahan.

“Hmm…” Tangan kiri Sehun merangkul Hyejin. Membuat kepala wanita itu bersandar di bahunya yang bidang. “Ketika hujan, wanita itu berjalan melintasi trotoar.”

Hyejin menegang. Ketika dia ingin mengangkat kepalanya, Sehun menahannya. Dia tidak ingin kehilangan saat ini. Tidak sekarang. Semua ini terlalu sempurna untuk ‘dua minggu’-nya.

“Banyak sekali mobil hari itu,” Hyejin menyambung. Sepertinya dia tahu cerita ini akan mengarah kemana.

“Wanita itu sangat ceroboh. Mungkin dia merasa bahwa jalanan itu miliknya sendiri. Sehingga dia berjalan tanpa melihat orang lain,” Sehun bercerita dengan lembut. Selama itu terjadi, dia tidak henti-hentinya menatap Hyejin.

“Bawaannya sangat banyak. Dia sangat kerepotan. Mustahil ada yang akan menolongku. Begitu pikirnya,” Hyejin meneguk ludah. Begitulah semuanya terjadi.

“Tapi, dia salah,” Sehun tersenyum misterius. “Ada seorang lelaki di seberangnya. Melihatnya dengan rasa tertarik yang terlalu kentara. Lelaki itu berpikir, ‘Wanita itu benar-benar tidak menyadari keadaan sekelilingnya.’ Dan dia penasaran.”

Hyejin meneguk ludahnya. Cerita ini benar-benar tidak diduganya. Jantungnya berdetak amat cepat sehingga terasa mati. Tapi, dia tetap melanjutkan. “Dia menyeberangi jalan setelah dirasanya bawaannya sudah aman dalam tas yang dibawanya. Dia bahkan tidak menyadari apa lampu lalu lintas yang menyala adalah warna merah atau hijau.”

“Tapi, lelaki itu sadar. Yang dia dengar hanya bunyi klakson panjang dari sebuah mobil. Seperti peringatan untuk sebuah hal buruk,” Sehun melanjutkan sambil mencengkeram bahu Hyejin.

“Yang dilihat dan didengar wanita itu terakhir kali hanyalah klakson panjang dan teriakan dari seorang lelaki. Serta derap sepatu yang berlari ke arahnya,” Hyejin tidak tahu kenapa dia menangis. Coklat panas di tangannya tiba-tiba berubah menjadi dingin.

“Lelaki itu menolongnya. Membawanya ke rumah sakit.”

“Juga mengunjunginya tiap hari tanpa bunga. Karena wanita itu tidak menyukai bunga yang dipotong.”

“Wanita itu menganggap bunga adalah manusia. Jika dipotong makan akan terasa sakit. Dia tidak tega. Lelaki itu pun sadar, wanita itu sangat baik hatinya.”

“Sejak saat itu, mereka berteman,” Hyejin tercekat. Dia hanya bisa terisak setelahnya. Mengingat bersama ternyata bisa sesakit sekaligus sebahagia ini. Sehun ingat pertemuan pertama mereka.

Sehun meletakan coklat panas mereka berdua di tepi jendela. Dia menghadapkan tubuh Hyejin pada tubuhnya. Memandang dan menatapnya tepat di manik mata. Berusaha menyapu habis semua keraguan wanita itu. Untuk terakhir kali, dia akan jujur mengenai perasaannya.

“Lelaki itu,” Sehun meraih tangan Hyejin dan digenggamnya erat, “jatuh cinta pada si wanita. Sebenarnya, dia juga tahu bagaimana perasaan si wanita. Semua itu sangat jelas terlihat. Tapi, dia takut jika semuanya berjalan seperti yang seharusnya, dia akan kehilangan si wanita. Jadi, dia membiarkan mereka berteman seperti itu. Tanpa paksaan perasaan.”

“Tapi, ternyata itu menyakiti si wanita,” Hyejin menundukan wajahnya dan terisak pelan.

“Dulu. Sekarang, si lelaki tidak akan melakukannya lagi,” Sehun meraih dagu Hyejin. Memaksa mata wanita itu kembali terpaku pada lembutnya pancaran bola mata Sehun. Seolah mengatakan semua sudah selesai. Dan baik-baik saja.

Tanpa penjelasan lebih lanjut, Hyejin segera memeluk leher Sehun dan terisak tanpa suara disana.

“Apa kau bahagia?” Sehun menyambut pelukan Hyejin tak kalah erat. Tangannya mengusap punggung Hyejin pelan.

“Aku bahagia..” tanpa berpikir, Hyejin menjawab pasti.

Tidak ada yang lebih indah dari jawaban yang akhirnya datang. Hati kembali menemukan rumah. Walau masing-masing tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya, mereka tidak peduli. Hanya saat ini yang penting. Hanya napas saat ini yang bahagia. Selanjutnya, mereka tidak tahu.

“Kau masih tidak bisa berdansa?” Sehun tiba-tiba bertanya pelan. Seolah takut momen ini sangat rapuh dan akan hancur dengan sentuhan terlalu keras.

“Kau ingin mencobanya?” Hyejin masih merasa nyaman dalam pelukan Sehun.

“Sangat,” Putus Sehun.

Hyejin memisahkan tubuh mereka dan memandang Sehun antusias. “Tunggu sebentar, aku akan mengambilkan musiknya.”

000

Sehun POV

Fairytale?” Aku bertanya lembut seraya mengayun tubuhnya pelan dalam pelukanku.

“Ya. Karya Ludovico Einaudi. Kau masih ingat?”

“Kau tahu dia adalah favoritku,” Hidungku menghirup aroma rambutnya. Sangat memabukan.

Tidak ada pembicaraan lagi setelah itu. Tidak ada yang ingin. Kami hanya ingin menikmati saat ini selagi bisa. Nada menggesek tiap celah kenangan. Menerbangan pikiranku ke masa-masa indah kala itu. Sekarang aku tidak menyangka bisa memeluknya seperti ini.

Kami mengitari separuh ruangan. Beberapa kali, kakinya menginjak kakiku. Kami hanya tertawa pelan. Ternyata dia masih berdansa dengan buruk.

“Kau boleh menginjak kakiku kapanpun kau mau,” bisikku di telinganya. Dia hanya menggumam dan semakin mengeratkan pelukannya. Bahkan dia semakin sering menginjak kakiku.

“Sehun-ah,” dia mengangkat wajahnya dan menatapku. Memandangku dalam remang ruangan. Membiusku dengan mata sehitam tinta. Membuatku hampir lupa bernapas.

“Terima kasih” Bisiknya pelan. “Telah kembali padaku.”

Aku hanya tersenyum. Ingatan akan waktuku yang tidak banyak kembali membayang. Tapi, aku segera menepisnya. Saat ini terlalu indah untuk dihabiskan dengan meratapi diri.

Tanganku kembali berada di kedua sisi wajahnya. Mengusapnya pelan. Meresapi panas yang menguar. Menggelitik pori-pori kulitku. Seakan memaksaku untuk melakukan lebih.

Dan itulah yang kulakukan. Aku mendekatkan wajah kami. Menghirup tiap aroma yang berhasil kutangkap. Hembusan napasnya. Bibirnya.

Ketika bibirnya menyambut bibirku, aku tahu semuanya akan baik-baik saja. Aku mengulumnya lembut. Dia merengkuh tubuhku erat. Badan kami menyatu lekat. Kami memang diciptakan untuk satu sama lain.

Dia memulai permainan sebenarnya dengan merubah tempo permainan. Tidak menghiraukan musik yang mengalun lambat, dia melumat bibirku cepat.

Tanganku meraba tiap titik yang membuatnya mendesah tertahan dalam ciuman kami. Lidahnya menjulur ke dalam mulutku. Merasai rasa yang tidak bisa kuungkapkan. Lidahku turut serta dalam permainannya.

Jari lentiknya membuka kancing bajuku dan meraba dadaku. Tanganku langsung meremas payudaranya. Kami tetap berdansa. Bedanya hanya di ciuman, rabaan, dan rangsangan di tiap gerakan.

Ketika tanganku menyusup ke dalam bajunya, kemagisan itu tiba-tiba pecah oleh deringan handphone yang berasal dari kantong celanaku.

Aku tahu pasti siapa yang menelepon.

Dengan kesadaran yang segera menghantam ini, aku mendorongnya pelan.

“Aku harus pergi. Sampai jumpa besok,” ucapku sambil menikmati bibirnya sekali lagi.

Bisa kulihat pandangannya yang bingung dan sedikit terluka. Ah.. andai dia tahu aku rela menukarkan seluruh hidupku untuk terus di sampingnya.

Sayang, aku tak bisa.

Hidupku sudah meneken kontrak dengan malaikat kematian 2 minggu lagi.

Dengan langkah panjang dan cepat, aku keluar dari apartemen Hyejin. Tak memberi kesempatan pada egoku untuk berbalik dan memeluknya lagi.

Waktu 2 minggu ini harus kunikmati dengan benar. Semua yang kulakukan harus kutakar dengan cermat. Jika tidak, dia akan memberitahu Hyejin siapa aku sebenarnya.

Dia yang kini pasti sedang mengutukku karena aku tak kunjung mengangkat teleponnya.

Dia yang bernama Cho Kyuhyun.

000

Nama?”

Park Hyejin.”

Pekerjaan?”

Mantan pembunuh.”

Jadi, kau adalah salah satu saksi kunci yang juga pembunuh bayaran di sana?”

Benar.”

Kau tenang sekali menjawab pertanyaan detektif sepertiku. Apa kau tidak takut juga terkena hukuman karena pernah membunuh orang?”

Tidak. Kalian tak akan melakukannya. Aku sudah membuat perjanjian dengan detektif yang berjaga di luar itu bahwa aku tak akan tersentuh hukum. Tanpa aku, kalian tak akan menemukan apa-apa.”

Cerdas. Nah, mari kita mulai interogasinya.”

TBC

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s