[FANFICTION] EXPLODED PAST II

CHAPTER II

PAINTING THE PAIN

cover ep

Telah kucuri sekelumit cahaya

Dari persemayaman jiwa yang kau sebut cinta

Maka larilah dan kejarlah aku sampai kau tiada

Melebur bersama tanya yang kau cipta tiba-tiba

Mengendap dan lebur

Meresap dan mengabur

Dunia tempat kita telah terkubur

Akankah kita masih berdiri di ujung jurang dan saling bertempur?

Izikan aku menghitam dalam dusta yang kau sebut setia

Izinkan aku merapuh dalam derita jiwa yang sunggu menelan asa

Maka larilah dan kejarlah aku sampai kau tiada

Menggagah ke angkasa menjadi butiran debu semesta

 

Hyejin POV

Ruangan ini tiba-tiba saja menyempit. Menyedot pasokan oksigen bahkan di celah terkecil. Dan yang paling penting, tanganku tak juga berusaha bisa menggapai lengan kokoh Sehun yang terus menjauh. Mengapa dia langsung pergi begitu handphone-nya berdering? Siapa yang meneleponnya? Apa sebenarnya dia sudah memiliki kekasih?

Pertanyaan yang terus beranak-pinak di kepalaku dipecahkah oleh bel di pintu apartemen. Siapa yang datang bertamu kali ini?

Aku melihat di layar monitor di samping pintu. Seraut wajah khawatir di sana langsung membuatku terkejut. Apa lagi yang dia inginkan dariku?

Aku harus membuka pintu untuknya. Terlihat jelas bajunya yang basah. Mungkin dia kehujanan dalam perjalanan ke sini. Lelaki malang, tak seharusnya ia mencintaiku.

“Hyejin!” Matanya langsung berbinar penuh harap saat mata kami bertemu. Bagaimana bisa dia sebahagia itu bertemu denganku saat aku selalu menyakitinya?

“Masuklah, Minho.”

“Mengapa ada musik? Apa kau baru saja berdansa dengan lelaki yang keluar dari apartemenmu tadi?”

“Kau melihatnya keluar?”

“Hanya punggunnya. Kami tidak berpapasan.”

“Syukurlah..”

“Kenapa kau begitu lega aku tidak berpapasan dengannya?”

“Dia….”

Kalimatku menggantung di udara. Ragu untuk memberitahunya. Ragu untuk membawanya lebih jauh ke dalam masa laluku. Namun, mungkin kali ini dia harus tahu.

“Dia sahabatku sejak kecil. Beberapa jam lalu, tiba-tiba kami bertemu. Dan.. aku membawanya ke sini.”

“Apa yang kalian lakukan?”

“Aku tidak melihat alasan harus memberitahumu detil penting.”

“Aku memag tidak pernah menjadi siapapun dalam hidupmu, bukan?”

“Aku senang kau menyadarinya. Aku tak ingin kalian bertemu karena.. kau tahu siapa aku, sedangkan dia tidak. Aku tak ingin masa lalu dan masa kini terhubung. Dia tak boleh tahu siapapun yang kukenal saat ini. Aku takut dia akan menyadari diriku sebenarnya.”

—000—

Author POV

Hening mengambil alih jiwa dua manusia yang tengah duduk berdampingan memandangi hujan. Hening yang dingin dan beku. Menyedot semua, termasuk harapan semu Minho. Dia menatap wanita di sampingnya, wanita yang tidak memiliki apapun, bahkan dirinya sendiri. Wanita yang begitu ajaib di mata Minho, sempurna, menantang, dan memiliki pesona janggal. Sejanggal rasa cintanya yang aneh ini.

Musik yang beberapa saat lalu masih mengalun merdu, kini berhenti. Karena Hyejin tahu, bersama Minho akan sangat berbeda. Bersama Minho, bukanlah dunia yang dia harapkan. Minho tahu apa yang telah menghitamkan dirinya. Tidak. Dia tidak akan bersama Minho. Menatap lelaki itu, mengingatkannya waktu pertama kali dia menemui dunia kelam tempatnya bersemayam.

“Aku hanya ingin melihat keadaanmu,” Minho tidak tahan dengan kebisuan Hyejin.

“Kau sudah mendengar suaraku di telepon tadi,” balas Hyejin datar. Wajah cantiknya hanya menatap kosong keluar.

“Itu tidak akan cukup untukku. Hanya mendengar suaramu untuk membicarakan hal itu terdengar sangat kejam. Aku datang kemari bukan sebagai orang yang menolongmu. Aku kemari sebagai orang yang mencintaimu.” Seiring dengan perkataannya, sinar mata Minho melembut. Menghangat, lalu berpijar terang. Berharap panasnya akan sampai ke hati Hyejin dan menyadarkan wanita itu, dia sangat membutuhkan Hyejin.

“Bagiku, kau selalu sama,” balasan Hyejin membuat binar mata Minho menggelap, dan semakin menggelap saat Hyejin melanjutkan perkataannya. Seperti tidak peduli dengan hati Minho yang carut-marut. “Kau selalu sama, memohon padaku untuk mencintai. Padahal kau tahu, aku tidak bisa mencintai siapapun.” Hyejin menatap Minho tajam.

“Tapi, bagaimana dengan sahabatmu itu? Dia berbeda, kan?” Minho menyorot curiga.

Senyum tulus tersungging samar di bibir Hyejin. Minho tersentak. Dia tak menyangka Hyejin bisa tersenyum seperti itu. Sayangnya, bukan Minho alasan Hyejin tersenyum. Hati Minho kembali retak.

“Kenapa sofanya ada di sini?” Minho tidak lelah bertanya. Entah kenapa, ada sesuatu antara Hyejin dan lelaki itu.

“Aku memindahkannya,” balas Hyejin malas. Mulai muak dengan acara investigasi yang tidak pada tempatnya ini. Hyejin tahu Minho adalah kepala untuk penyelidikan kasusnya, tapi Minho tidak berhak mencampuri hidupnya!

“Atau lebih tepatnya, kalian memindahkannya.”

“Bisakah kita hentikan ini semua? Aku lelah menjawab.”

“Maksudmu, kau lelah berbohong.” Minho mulai mencengkeram tangan Hyejin.

“Lalu kenapa kalau aku berbohong? Kau tidak ada hubungannya dengan hidupku!” Hyejin menyentak tangannya kasar.

“Aku. Memiliki. Hubungan. Dengan. Hidupmu.” Minho menjawab lambat penuh tekanan. Bara mulai terlihat di matanya.

“Oh ya?! Sejak kapan?! Aku tak pernah tahu.” Hyejin mulai tersulut.

“Sejak aku menolong mengeluarkanmu dari dunia hitam itu. Kau lupa?!” Kali ini, Minho benar-benar marah. Tangannya mengepal, menahan emosinya agar tidak keluar.

“Dengar, Choi Minho…” Hyejin menatap Minho semakin tajam, mengirimkan ribuan pisau yang menancap tepat di hati Minho. Membuatnya sadar, mengingatkan Hyejin mengenai hidupnya adalah kesalahan besar.

“Kau memang menolongku. Tapi kau tidak berhak atas apapun di hidupku. Kau boleh menyelamatkanku ribuan kali, tapi jangan berharap bisa masuk ke hidupku satu detik pun. Kau yang memilih menolongku, kau yang memilih disakiti, jangan pernah menyalahkanku atas konsekuensi pilihanmu.” Dia bangkit berdiri. “Dua minggu lagi, kan? Dua minggu lagi aku akan meninggalkanmu. Dua minggu lagi, kita tidak akan berhubungan apapun.” Hyejin berbalik dan berjalan ke kamarnya. Meninggalkan Minho yang masih terpana dan mengutuk dirinya sendiri, Hyejin merupakan suatu keajaiban aneh dari Tuhan. Dia selalu bisa membungkam Minho, bukan dengan senyum manis seperti gadis lain berikan padanya. Dengan kekerasan, kepahitan, dan dinginnya, Hyejin sangat berbeda.

Minho sudah biasa disakiti Hyejin. Kali ini tidak ada bedanya. Kecuali rasa sakit yang selalu seperti baru. Tapi, dia harus tahan. Minho yakin, sebenarnya dia memiliki arti untuk Hyejin. Pertolongannya mengeluarkan Hyejin dari dunia hitam pasti meninggalkan tanda. Tanda itu pasti cinta. Minho mengangguk mantap. Puas dengan pemikirannya sendiri. Dua minggu lagi, dia akan melamar Hyejin…. Tepat pada hari eksekusi itu.. Hari kebebasan Hyejin…

0

Pertama kali hidupnya berhenti, selalu terasa seperti kemarin. Pertama kali dia memutuskan untuk ikut menghitamkan dunia itu, selalu terasa baru. Hari demi hari rasa sakitnya selalu bertambah, tidak pernah berkurang. Membentuknya menjadi wanita dingin tanpa perasaan dan cinta. Kecuali cintanya pada Sehun, yang tadi sore baru saja dia temukan kembali.

Hyejin menutup matanya. Entah untuk alasan apa, hari ini dia ingin mengenang. Setelah bertahun-tahun menyimpannya dalam kotak Pandora dan berjanji untuk tidak membuka lagi. Dia membiarkan jutaan kilas kenangan memenuhi tiap sel atom di tubuhnya. Terbang… Lepas dari masa kini yang luka..

FLASHBACK

“Dokter, tolong selamatkan Kakak saya,” Seorang gadis usia belasan menarik jas putih milik dokter yang berjalan cepat mendorong tempat tidur Kakaknya.

“Tenang, Nona. Kami akan berusaha sebisanya.”

Gadis itu—Hyejin—masih meraung. Bajunya penuh darah, bahkan noda darah terlihat di sekitar bibirnya. Bercampur dengan air mata yang masih setia keluar sejak melihat Kakaknya tergeletak di jalan raya, penuh darah dan noda pasir. Lelaki yang kini terbujur diam di atas ranjang yang terus menuju ruang penanganan di rumah sakit. Perutnya melilit, membayangkan kemungkinan terburuk untuk Kakaknya. Bahkan, Kakaknya tidak bisa lagi dikenali dengan darah yang keluar dari mulut, hidung, dan telinga. Hyejin semakin terisak takut.

“Oppa, ireonna..” Dia tahu Kakaknya tidak mungkin bangun. Dia tahu mungkin Kakaknya tidak bisa diselamatkan. Tapi tetap saja dia menginginkan keajaiban.

“Anda tunggu di sini. Kami akan berusaha menyelamatkannya,” Hyejin didorong keluar dari ruang penanganan.

“Tapi, aku ingin melihatnya. Tolong, aku tidak akan menggangu. Aku ingin menemaninya..” Dia meracau dan mencoba menerobos masuk. Dia kalut dan panik. Sendiri melihat Kakaknya dalam kondisi tertabrak sangat mengejutkan. Dia ingin ada untuk Kakaknya. Dia ingin menemaninya. “Chanyeol Oppa..” Hyejin tergugu.

“Maaf, Anda tidak bisa.” Perawat perempuan itu menutup pintu ruangan. Langsung menghalangi pandangan Hyejin ke dalam. Dia langsung terduduk dan menyembunyikan wajah di antara kedua lututnya, masih menangis dan terisak keras.

“Oppa, ireonna ppali.. Aku menunggumu.. Jangan membuatku takut. Ayolah, kau harus bangun.. Hu hu hu..” Hyejin meracau. Dia sangat menyayangi Kakaknya. Orangtuanya telah meninggal beberapa bulan lalu karena kecelakaan, hanya Chanyeol yang dia miliki. Dia tidak ingin kehilangan satu orang yang dia cintai lagi. Cukup rasa sakit yang diberikan Sehun setelah meninggalkannya, cukup rasa rindu karena orangtuanya, Hyejin merasa tidak mampu menampung lebih banyak sakit lagi.

0

Bibir Sehun bergetar hebat. Di tengah kerumunan orang, dia terduduk lemas. Menutup mata erat-erat, seolah menolak apapun yang akan mendatanginya. Dia tidak pernah tahu Hyejin mampu membuatnya lupa dengan dirinya. Sehun yang kejam. Sehun yang membenci. Sehun yang tidak lagi memiliki cinta..

Dadanya berdenyut sakit. Tiap denyutan berarti kenangan yang berbeda. Senyum Hyejin, tawa Hyejin, perhatian Hyejin, dan… tangis Hyejin. Tangis yang mungkin kembali datang setelah dia menghilang dari kehidupan Hyejin sekali lagi. Kali ini untuk selamanya. Kali ini dia tidak akan kembali…

Mianhae…” Bisiknya lirih. Kata maaf yang sia-sia. “Mianhae…” Sehun berteriak pelan. Puluhan mata mulai menyaksikannya. Dia tidak peduli. Dia hanya ingin menikmati bagaimana sebuah kata maaf dapat membunuhnya. Sama seperti dia membunuh mereka. “Mianhaeee…!” Kali ini dia benar-benar berteriak. Bersamaan dengan air mata dan isakan keras. Sehun merasa dirinya sangat rapuh. Tak ada artinya. Tidak setelah semua yang dia lakukan dan akan lakukan.

Di tengah perlawanannya pada segala masa dalam hidupnya, sebuah tangan kokoh tiba-tiba menariknya berdiri.

“Bodoh!” Sehun sangat mengenal suara berat samar itu. Namun, dia menolak membuka mata. Lebih baik gelap. Gelap yang benar-benar gelap. Gelap yang tidak akan membohonginya.

“Buka matamu!” Sehun tetap menundukkan wajah. Sampai akhirnya pukulan keras di wajahnya membuatnya terlonjak.

“Kyuhyun Hyung…” Sehun memegang bibirnya yang berdarah. Dia menyeringai. Inilah yang dia butuhkan. Rasa sakit…

“Apa yang kau lakukan di sana?! Menangis seperti pengecut?! Aku tak pernah melatihmu menjadi seorang pengecut!”

“Ya, kau benar. Kau melatihku menjadi seorang pembunuh!”

BUUAGHHH..

Kyuhyun kembali memukulnya, kali ini lebih keras.

“Kau yang menginginkannya, Bodoh!” Kyuhyun berteriak di depan wajahnya.

“Atau lebih tepatnya, kau dan ayahku yang lebih menginginkannya.”

“Brengsek!” Bukan satu atau dua pukulan, Kyuhyun menyerangnya bertubi-tubi. Sehun lelah melawan. Dia lelah menyakiti. Dia menerima semua pukulan Kyuhyun dengan senyum lelah. Rasa sakit untuk pengampunan atas dirinya. Pengampunan atas semua nyawa dan hidup yang pernah dikacaukannya.

“Lawan aku!” Kyuhyun berhenti sejenak. Menarik napasnya yang kacau-balau setelah menumpahkan semua emosi pada Sehun. “Cepat, lawan aku, Brengsek!”

Sehun tertawa pelan. Miris dan menyedihkan. Sudut bibirnya berdarah. Wajah yang awalnya mulus kini dipenuhi lebam biru. Kondisi sama setiap dia menyelesaikan misi. “Untuk apa? Bukankah aku harus latihan untuk sakit di eksekusiku nanti?”

“Ini bukan dirimu, Sehun.” Menyadari betapa kacaunya keadaan Sehun. Dengan bekas-bekas air mata dan darah segar yang mengucur dari luka bekas pukulannya, Sehun tidak terlihat seperti Sehun yang selama ini dikenalnya. Manusia tanpa belas kasihan… Manusia yang berkawan dengan darah.

“Dari dulu, ini memang bukan diriku,” Sehun terduduk letih dan merintih pedih. Bukan karena darah yang mengalir pada lukanya. Derita fisik tidak pernah membuatnya lemah. Sekali lagi, Sehun memegang jantungnya. Hanya sekedar memastikannya tetap berdetak. Memastikannya untuk tetap merasa sakit.

“Lalu, siapa kau? Anak lelaki kecil umur 4 tahun yang menangis karena selalu mendengar teriakan di rumahnya? Atau remaja tanggung yang lari dari tanggung jawab sebagai pewaris organisasi ayahmu dan malah mengejar gadis itu? Katakan padaku! Siapa kau?!” Kyuhyun meninju tembok di atas badan Sehun yang terduduk ringkih di bawahnya.

Sehun terperanjat sesaat. Dia tidak pernah melihat Kyuhyun semarah ini. Kyuhyun selalu menjaga emosinya. Bahkan di saat dia harus melakukan sesuatu kejam sekalipun. Pekerjaannya selalu rapi. Jika ada emosi kejam di matanya, itu bukanlah amarah. Melainkan dingin dan tidak peduli. Seakan dia memegang kendali atas nyawa orang-orang di sekitarnya. Namun, yang ada di depan matanya sekarang, Kyuhyun sama menyedihkannya dengannya.

“Kau kira aku tidak gila? Kau kira aku tidak peduli? Mengkhawatirkanmu selama berjam-jam hanya untuk melihat kau berteriak seperti orang gila di pinggir jalan. Bagaimana jika polisi melihatmu? Meski detektif itu menjamin kau akan bebas selama 2 minggu, tetap saja aku khawatir!” Kyuhyun membuang muka. Dia membenci keputusasaan, sama bencinya dengan melihat cinta. Dan kini, menyaksikan betapa hancurnya Sehun oleh cinta yang membunuhnya, meyakinkan Kyuhyun, mencintai lebih kejam daripada membunuh.

“Aku mencintainya…” Seakan menegaskan bahwa dirinya memang terluka karena cinta, Sehun berbisik lirih. Sama lirihnya dengan isakan Kyuhyun yang langsung hilang begitu ia datang.

“Kau dengar, Hyung? Aku mencintainya… Tidak peduli dengan eksekusi nanti, tidak peduli dengan diriku yang memang ditakdirkan untuk menjadi pembunuh, aku tetap mencintainya.” Terdengar hening yang membunuh. Hening yang menjarah terlukanya waktu. Atas segala hal yang tak terucap, antara Kyuhyun dan Sehun, antara Sehun dan Hyejin, antara Sehun dengan ayahnya, atas mereka dengan takdir yang tak pernah menorehkan kata bahagia.

Kyuhyun berbalik dan berjongkok di hadapan Sehun. Matanya bertemu dengan mata coklat Sehun. Mata yang 15 tahun lalu bersinar polos, kini meredup sama sekali. Tanpa pancaran dingin ataupun takut, hanya redup. Redup yang menyadarkan Kyuhyun, Sehun telah hancur.

Lalu, sama seperti 15 tahun lalu, dimana segalanya terasa masuk akal bagi Sehun, Kyuhyun memeluknya lembut. Berhati-hati tidak menyentuh luka akibat pukulannya tadi. Pelukan yang mengantarkan Sehun ke masa lalu saat dia baik-baik saja. Saat Kyuhyun masih seorang ‘kakak’ baginya, meski tanpa hubungan darah. Saat dia tidak pernah bertanya-tanya kenapa ayahnya tidak pernah tersenyum padanya. Saat puluhan wanita dewasa yang hampir telanjang mondar-mandir di rumahnya. Saat dia tidak berani bertanya apa-apa.

Kyuhyun memeluknya. Meski Sehun tahu, lelaki itu adalah lelaki paling berbahaya kedua setelah ayahnya, dia tidak takut. Tidak dalam pelukan Kyuhyun yang begitu melindungi. Seolah meski dunia dihantam oleh jutaan bom nuklir, dia akan baik-baik saja. Dan Sehun percaya itu.

Maka, dia keluarkan segala tangis yang terpendam entah sejak kapan. Bagai menjadi anak kecil lagi, Kyuhyun mengusap punggung Sehun. Meski Sehun bukanlan anak kecil polos lagi, dia tetaplah seorang adik kecil untuk Kyuhyun….

HYEJIN POV

Samar-samar aku mencium bau manis yang menguar di udara, memaksaku bangun dari lelap, entah terlelap karena apa. Karena seingatku, aku baru saja bertemu dengan lelaki yang sangat baik dan menawarkanku pekerjaan untuk menolong Kakak-ku.

Mataku sangat berat. Aku tidak ingat telah terlelap. Apa aku bermimpi? Tapi, mengapa suara tawa berat itu semakin jelas? Perlahan aku bisa merasakan nyeri di pergelangan tanganku. Lalu di betisku, dan yang terakhir di punggungku. Perih itu semakin menghebat, memaksaku mengerang. Erangan yang salah, karena tiba-tiba kurasakan sebuah tangan kasar menangkup kedua sisi wajahku..

“Ohh… Tuan Puteri sudah bangun rupanya.” Suara itu hampir membuatku menjengit. Sangat berat dan serak, seakan dia hanya merokok dan menenggak minuman keras seumur hidupnya.

“Buka matamu!” Perintahnya kasar, seiring kurasakan ada tangan yang memegang dada telanjangku.. Dada telanjangku? Aku panik dan langsung memaksa mataku untuk membuka..

“ARRGHHH..!!” Jeritan itu sama ketika hal itu terjadi. Tapi, kini berbeda. Itu hanya mimpi. Kilasan masa lalu. Sekarang aku berada di kamarku. Dengan napas tersengal dan peluh membanjir, mengesankan bahwa itu memang pernah terjadi. Terjadi padaku. Bertahun lalu, sebuah awal yang kini mengubah diriku.

Aku menenggak air putih di samping tempat tidurku hingga tandas. Namun, itu belum cukup. Mataku menatap sekitar dengan waspada. Seakan ada yang mengawasi. Saat aku mendengar deru napas lain selain deru napasku.

“Lama tidak berjumpa…..” Sebuah sapaan yang refleks membuat tanganku menggapai sisi tempat tidur, tempat menyimpan pistol.

AUTHOR POV

Hyejin beringsut mundur sambil menodongkan pistolnya ke segala arah. Dia berharap bukan dia yang datang. Bukan dia yang dia benci. Bukan dia yang mengambil dirinya untuk pertama kali. Bukan dia.

Tolong, aku harap bukan dia…. Hyejin diam-diam berdoa dalam hati. Entah pada siapa, dia sudah berhenti percaya pada Tuhan.

“Jennifer….” Hyejin terkesiap kaget, pegangannya di pistol mengendur.

Memang dia! Hati Hyejin mengerut karena takut. Hanya dia yang memanggil Hyejin dengan intonasi seperti itu.

Menegaskan keyakinan Hyejin, sesosok lelaki tegap keluar dari bayang hitam di kamar itu. Dia masih sama seperti terakhir kali Hyejin melihatnya. Masih dingin tak tersentuh. Masih panas tak padam. Es dan bara di matanya membentuk satu figur sempurna seorang pembunuh, Oh Kyuhyun.

“Apa yang kau lakukan di sini?” Hyejin semakin meningkatkan kewaspadaan melihat Kyuhyun maju menghampirinya. Buku jarinya memutih memegang pistol. Tapi, dia tahu, sekejam apapun Kyuhyun akan menyiksanya lagi, letusan pistol itu tidak akan berasal dari dirinya. Dia tidak pernah bisa menyakiti Kyuhyun.

“Aku merindukanmu…” Berbanding terbalik dengan matanya yang menyorot dingin, suara Kyuhyun sarat akan kelembutan. “Aku merindukan kesayanganku..” Lanjutnya. Memancing ekspresi jijik dari Hyejin.

“Kau tidak akan mendapatkanku lagi. Aku sudah bebas sekarang.. “ Suara yang keluar tidak sekeras yang dia inginkan. Yang dia dengar hanyalah cicitan pembelaan diri yang ketakutan dari bibirnya.

“Bebas, katamu?” Kyuhyun semakin mengeliminasi jarak antara mereka. Mengintimidasi Hyejin dengan segala yang ada pada lelaki itu. Kakinya berteriak untuk lari. Lari sekarang juga! Berteriak minta tolong! Apapun! Asal tidak berada di satu ruangan dengan Kyuhyun. Karena dia tahu, begitu Kyuhyun menyentuhnya, dia akan kembali kalah. Dengan perasaan aneh agar tidak melawan. Meski dia tahu apapun yang terjadi antara dia dan Kyuhyun tanpa rasa, dia tetap tidak bisa menang. Dia akan menyerah kalah, tanpa perlawanan.

Semakin Kyuhyun mendekatinya, semakin bergetar pula tangannya. Dan saat tangan kekar Kyuhyun meraih pistolnya dengan lembut dan meletakkannya di lantai, Hyejin masih bergeming diam. Seakan dia menantikan apa yang akan Kyuhyun lakukan.

“Jennifer, aku merindukanmu….” Tangan dingin menyergap pipinya dengan lembut. Dingin yang selalu berasal dari Kyuhyun. “Aku merindukanmu…” Bisiknya terakhir kali sebelum melumat bibir Hyejin kasar.

Dan Hyejin, tanpa mengerang, tanpa mendesah, tanpa melakukan apapun, hanya diam ketika Kyuhyun menindihnya. Menyingkirkan selimut yang menghalangi pandangan Kyuhyun dari mulusnya tubuh telanjang Hyejin. Wanita itu memang tidak perlu mengeluarkan suara apapun, karena dia tidak merasakan apa-apa. Saat Kyuhyun merasuki tubuhnya. Ketika lelaki itu mengayunnya dalam tempo lambat dan penuh perasaan. Hyejin tidak melakukan apa-apa. Hanya memalingkan wajahnya ke samping. Muak melihat pantulan dirinya yang begitu menjijikan di mata Kyuhyun.

Walau Kyuhyun membisikan ribuan kata cinta dan janji untuk mereka, Hyejin tahu, Kyuhyun tak pernah mencintainya. Dia tak tahu perasaan apapun selain membenci. Lelaki itu hanya memuja kesempurnaanya sebagai wanita sekaligus pembunuh.

Namun, di antara dengus napas kasar Kyuhyun, Hyejin tersenyum licik. Kyuhyun akan pergi dari kehidupannya. Dua minggu lagi, kepergian Kyuhyun akan menjadi selamanya.

—000—

“Nama?”

“Oh Kyuhyun.”

“Pekerjaan?

“Pembunuh.”

“Wow. Aku tak menyangka ada pembunuh yang setenang dirimu.”

“Untuk apa aku mengelak? Kalian semua memiliki buktinya.”

“Cerdas. Tapi, kecerdasanmu tak akan mengurangi hukumanmu. Nah, mari kita mulai interogasinya.”

(TBC)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s