[HEART TO HEART] PERKARA JODOH

Hai, blog yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Kira-kira ada berapa kepala kelurga laba-laba di sini? Apa laba-laba yang ada di sini sudah cukup untuk membuat Negara Laba-Laba? Jika iya, bisakah aku ikut? Aku memang tidak tahu cra menjadi laba-laba, tapi paling tidak aku tidak akan memusnahkan kalian dengan cara menginjak-injak koloni yang sudah dibangun di sini. Baiklah, aku mulai melantur. Salahkan bulan puasa yang setiap tahun tak kusukai dan satu kotak es krim yang sangat ingin kumakan sekarang.

Jadi, untuk apa aku di sini? Aku lelah dengan suara di kepalaku. Berbicara pada orang lain jelas akan mendapat nasehat yang sama, yaitu sabar. Berbicara dengan sumber yang bersangkutan juga tak mungkin karena emosiku pasti akan meledak. Yang saat ini kupercayai hanya Mimi dan Lutung. Sisanya, aku tak yakin.

Aku punya keresahan yang terus menghantui sejak berbulan-bulan lalu. Mungkin ini adalah keresahan para perempuan lajang yang ingin segera dipinang tapi tak kunjung dilamar. Mungkin ini adalah keresahan para perempuan lajang memiliki pacar yang terus-menerus diyakinkan bahwa si pacar itulah yang akan melamar, entah kapan. Mari kita tambahkan semua variabel itu dengan perempuan lajang dengan pacar yang memiliki cinta pertama seorang perempuan yang menurut si pacar itu gambaran wanita sempurna dan dulu selalu diberikan bunga setiap ulang tahunnya. Dan si wanita itu masih lajang (walaupun juga sudah memiliki pacar). Dan si wanitaΒ  masih menjadi daftar akun yang diikuti di beberapa media sosial. Yeah, semua variable itu cukup membuat resah dan ragu.

Apakah kami benar-benar akan menikah? There, I really said that.

Bagaimana jika pasangan jodoh sebenarnya adalah si pacar dan si wanita itu? Bagaimana jika sebenarnya si perempuan lajang ini hanyalah seseorang yang kebetulan lewat di hidup si pacar? Bagaimana jika Tuhan sedang ingin bercanda dan dengan acak dia memilih si perempuan lajang?

Sini, aku berikan satu teori. Hari ini, kalian bisa yakin seyakin-yakinnya dengan sepenuh hati jiwa raga pikiran bahwa pacar kalian sekarang adalah jodoh di masa depan. Entah kalian sudah berhubungan 1 bulan, 6 bulan, 1 tahun, atau bahkan bertahun-tahun. Hari ini, kalian bisa mengatakan tak bisa hidup tanpa dia. Tapi, suatu hari, dia bertemu seseorang. Dia ragu dengan kalian. Dan dia pergi. Dan kalian tinggal sendiri. Kalian pikir bahwa kalian tak akan selamat tanpa dia. Namun, beberapa bulan kemudian, kalian bisa menertawakan betapa bodohnya bertahan patah hati untuk seseorang yang bahkan tak berpikir 2 kali untuk pergi. Nyatanya, kalian bisa hidup tanpa dia. Tak peduli itu hubungan dalam hitungan bulan, tahun, bahkan dekade. Jika kalian tak berjodoh, percayalah, perasaan itu akan hilang tak berbekas.

Jadi, apa jaminannya? Andai aku tahu. Sungguh, andai aku tahu. Satu-satunya jawaban yang kupunya adalah jawaban yang juga sedang ditunggu-tunggu para wanita lajang itu. Iya, itu adalah pernikahan. Namun, entahlah, hati manusia itu cair. Pernikahan pun tak menjamin kalian adalah satu-satunya item di hati mereka.

Apa yang harus kalian lakukan? Kalian punya 2 pilihan. Pilihan pertama, yakinlah pada Dia, Pemilik Perasaan. Apapun keputusannya dan takdirnya, itulah yang terbaik. Susah? Susah bahkan tak cukup menggambarkan bagaimana rasanya menyerahkan keputusan pada orang lain. Namun, itu lebih baik daripada terus bertanya-tanya tanpa arah dan memborbardir dia dengan pertanyaan, “Kamu masih suka sama dia?” Ya sudahlah. Jika kalian berjodoh, kalian akan bersatu. Jika tidak, kalian masih bisa pergi ke Korean dan mencari para Oppa ganteng di sana. Pilihan kedua, putuskan mereka sekarang. Berhenti menunggu jodoh. Lebih baik kalian pikirkan karier dan pendidikan. Percayalah, karier dan pendidikan tidak akan mengkhianati kalian. Karier dan pendidikan tidak akan memiliki “simpanan” lain di hati mereka. Jika kalian setia pada karier dan pendidikan, justru hidup kalian akan bertambah baik. Tambah pintar dan pastinya tambah kaya. Dan yang paling penting, tidak akan ada orang lain yang membuat keputusan untuk kalian.

((Tapi aku terlalu sayang dengan manusia yang satu itu daripada memilih karier dan pendidikanku. Bisa dua-duanya? Bisa. Setelah menikah. *sigh*))

Bagaimana denganku? Entah. Aku tak tahu harus bagaimana. Rasa sayang yang entah darimana datangnya ini terlalu besar untuk diabaikan dan dibuang ke laut. Semoga saja kami memang berjodoh. Jika jodohnya ternyata wanita itu, aku masih bisa berubah menjadi psikopat dan membunuh si wanita (atau mereka berdua).

 

Regards,

Rosa Azazil

2 comments on “[HEART TO HEART] PERKARA JODOH

  1. halo. hi. first off all..sy kira kamu udah menghilang dari dunia perblogan ini..hihihi..sy mengikuti kmu sejak inseden baekyeon itu remember? dan setelah itu..kamu seperti menghilang. mungkin yeah satu atau dua postingan yang sy temukan? atau mungkin sy yng tidak memperhatikan?
    kedua. sy masih bertanya-tanya apakah kamu masih berkecimpung di dunia perkpopan? but yeah that korean and oppa ganteng menjelaskan semuanya i guess? krna sampe sekarang dunia perkpopan masih menjadi bagian idup sy di usia 23 tahun ini. wkwkwkwkwkw.
    ketiga.perkara jodoh..hmm..pertanyaan pertama yang selalu muncul di kepala sy tentang jodoh adalah apakah sy akan menikah dengan jodoh sy, atau sy akan menikah terlebih dulu lalu mengetahui bahwa orang itu adalah jodoh sy? jujur sj sy adalah orang yang memasrahkan jodoh itu entah di tangan Tuhan ataupun di tangan orang tua sy. sy tidak mau repot-repot berpikir terlalu jauh untuk urasan yang seperti itu, krna sy adalah orang yang berpikiran simple, kalau sy menikah sy bersyukur, tidak pun tidak masalah bekos yeah dunia gk berakhir dengan sy menikah ataupun tidak, tapi tentu sj tidak dengan orang tua dan keluarga besar sy kan? sedikit curhat, setelah melihat kedua pernikahan ibu sy yang terbengkalai, i used to think that marriage wasnt for me, its okay for me to life only with my cats or dogs or maybe birds, but idk, i want to be someone’s wife, sometime. plinplan, i know. tapi gimana ya..perkara jodoh, pernikahan, memiliki anak, dll sebagainya itu bukan hal yang gampang buat d telaah dan jalani, terlebih orang yang tidak mau berpikir rumit seperti sy. terlebih sy juga adalah orang yang mengurus diri sendiripun masih keteteran, gimana mengurus orang lain?
    sedikit curhat lagi, sy memiliki seseorang, seseorang yang bikin sy menunggu dia selama bertahun-tahun, sejak tahun terakhir sy di SMA, dia meminta sy menunggu tanpa kejelasan apapun mengenai hubungan kami, but yeah krna sy terlalu mlas untuk berpikr jauh dan terlalu malas untuk mencari, akhirnya sy menunggu, menunggu, menunggu dan menunggu, pertanyaannya adalah apakah dia seseorang yang pantas untuk ditunggu? jawabannya adalah yes! beribu-ribu yes! he is handsome, he loves sport, he can play instrument, he has a good manner to women and elders, terlebih akhlak dia itu bagus banget. dan sy, seperti yang sy katakan, krna pernikahn ibu sy yang selalu gagal, sy mempunyai krisis kepercayaan kepada laki2. tetapi dia berbeda, dia tanpa melakukan apapun hanya dengan melihat sifat dan permintaannya untuk menunggu dia, sy percaya, sy percaya dia. percaya untuk menunggu. untuk tidak melirik lelaki manapun. yeah kecuali para oppa oppa ganteng di korea sana, well itu lain cerita. dan percaya atau tidak, kami amat sangat jarang berkomunikasi karena sy mengerti tempat dia menuntu ilmu di mesir bermil-mil jauhnya dari indonesia. teman2 sy yang lain ada yang pro dan kontra mengenai keputusan sy menunggu. tapi sy menutup telinga. sy tetap menunggu. jomblo bertahun-tahun tidak masalah buat sy, ada oppa2 ganteng yang mewarnai hari-hariku, tssaaaahhh.
    singkat cerita, kemarin lalu, seorang teman SMA menikah, sy hadir krna sy diundang, sy datang dong bersama teman sy.. and guess what? kupikir dia tidak bakal datang, selama ini kupikir dia masih berada di sana, tetapi dia datang ke pernikahan teman sy bersama seorang teman akrab yang dulu adalah orang yang paling mendukung sy untuk menunggu dia, bergandengan tangan, and i feel nothing, i dont know, tidak ada yang sakit, mungkin hanya sedikit kecewa. melihat sy, teman sy yang selalu kontra dengan keputusan sy, berkata ‘dia sudah di indo sejak akhir tahun lalu lel, and see? dia tidak mengabarimu sama sekali. menunggu my ass.’ itu kata dia, dan sy sedikit terhibur. apa yang terjadi sekarang? pelan-pelan sy memilih untuk move on, krna dia yang membuat sy menjadi berpikir; menikah syukur tidak pun tidak masalah. suatu hari dia bilang, biarkan sy menjalin hubungan dengan orang lain dulu, kamu adalah satu-satunya orang yang akan sy jadikan istri nanti, what a jerk. sy hanya bisa tertawa sebagai respon. pertanyaannya apakah sy menyesal menunggu dia? jawabannya tidak, menunggu dia menyelamatkan sy dari laki2 di luar sn yang juga sma tidak jelasnya, sudah cukup sy kecewa hanya krna dia sj.
    pesan moralnya apa ya? wkwkwkwkwkwk, pokoknya kalau kalian merasa yakin pada seseorang bahwa dia adalah joodh kalian, rutuhkan keyakinan itu, Tuhan punya caranya sendiri untuk mempermukan kalian dengan jodoh. lalu pribahasa ;jagan menilai orang dari sampulnya’ itu sudah gk berguna lagi bagi sy, sekalipun kita sudah mengenal orang itu luar dalam, but yeah people change, orang-orang berubah, entah itu fisik, sifat atau sikap mereka. well, itu aja sih, wwkwkwkw. lebaran tahun lalu sy berhasil lolos dari pertanyaa kapan wisuda, tetapi lebaran tahun ini, apakah sy bisa survive dari pertanyaan kapan merit? fak. mending kalau para pak de bu de yang bertanya seperti itu mau pada patungan beliin rumah -,-. dan terakhir, tips jika ditanya kapan nikah, jawab sj kapan mati? krna jodoh dan ajal hanyala tuhan yang mengetahuinya. sekian, terima kasih sdah mau membaca tulisan panjang ini. see ya.

    • Haiiiiiiii πŸ˜€
      Kaget ih ternyata msih ada yang lihatin blog saya πŸ˜€
      Kayaknya bakal sekarang saya juga bakal sering nulis blog lagi. Lelah cuma nulis status galau di media sosial.
      Iya, saya lagi bingung masalah jodoh πŸ™‚ Ini hati isinya cinta semua. Ga ada logikanya. Pertama kali lho cinta sama orang ampun-ampunan kayak gini. Dianya juga kayak gitu ke aku πŸ˜€ Tapi yaaaaa… satu tahap yang diagung-agungnya hampir semua orang di Indonesia itu belum terlaksana, pernikahan. Jadi ini mungkin dinamakan krisis diri menunggu dilamar πŸ˜€ Tapi, ya itu, i’d better wait for him than losing him. Mending saya ditanyain “kapan nikah?” ratusan kali daripada bilang sama dia, “nikahin aku atau kita putus.” Kadang-kadang juga bingung, kenapa bisa sesayang ini? Tapi, ya itulah, misteri ilahi πŸ˜€ Saya sungguh berharap nanti jodoh saya itu dia. Kalo bukan dia, beneran saya mending ga usah nikah sekalian. Sulit rasanya bayangin membangun masa depan sama orang lain.
      Terima kasih juga sudah baca tulisan saya yang sebenarnya ga penting banget πŸ˜€ Nanti saya akan nulis hal-hal yang ga penting lainnya πŸ˜€

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s