[HEART TO HEART] PATIENCE

Remember how I used to organize my blog so good for my fanfiction, K-pop news article, those good looking all-hail-six-packs-jawline-pretty-face men, poetry, my thoughts about stuffs, and my not-so-important diary. The last one wasn’t the main content of this page, tho. And now, since I know NO ONE will understand how I feel and I will only piss off people if I keep telling them the same stories over and over again, I’ll just write them right here. So yeah, people, if you read this, feel free to judge me and my grammar and whatsoever because honestly I don’t care about judgement anymore. I just want to let everything out because hell… THIS IS SO SUFFOCATING!

Continue reading

[HEART TO HEART] TUAN

Tuan, jika kau pergi, bisa ingatkan aku cara bangun pagi tanpa mengecek pemberitahuan obrolan darimu di telepon pintarku?

Tuan, jika kau pergi, bisa ingatkan aku cara tidak langsung pergi padamu jika aku ingin menceritakan sesuatu?

Tuan, jika kau pergi, bisa ajarkan aku cara lupa dengan rasa nyaman pelukmu?

Tuan, jika kau pergi, bisa ajarkan aku untuk terus hidup tanpa tergugu?

Karena rasanya aku tak mampu.

Andai kau tahu.

[HEART TO HEART] PERKARA JODOH

Hai, blog yang sudah dipenuhi sarang laba-laba. Kira-kira ada berapa kepala kelurga laba-laba di sini? Apa laba-laba yang ada di sini sudah cukup untuk membuat Negara Laba-Laba? Jika iya, bisakah aku ikut? Aku memang tidak tahu cra menjadi laba-laba, tapi paling tidak aku tidak akan memusnahkan kalian dengan cara menginjak-injak koloni yang sudah dibangun di sini. Baiklah, aku mulai melantur. Salahkan bulan puasa yang setiap tahun tak kusukai dan satu kotak es krim yang sangat ingin kumakan sekarang.

Jadi, untuk apa aku di sini? Aku lelah dengan suara di kepalaku. Berbicara pada orang lain jelas akan mendapat nasehat yang sama, yaitu sabar. Berbicara dengan sumber yang bersangkutan juga tak mungkin karena emosiku pasti akan meledak. Yang saat ini kupercayai hanya Mimi dan Lutung. Sisanya, aku tak yakin.

Continue reading

[HEART TO HEART] I Found Him

Around 6 years ago, I was in Soekarno-Hatta airport, just finished my national debate competition. Too bad, we lost.Too much pressure from school and from our region killed our confidence. Thus, I prayed. I know that my prayer had nothing to do with the competition, but somehow it has everything to do with how that competition made me feel.

All my life before that, I had been thinking into being ‘someone’, someone who can change the world and has big impact worldwide. I wanted to inspire many people. I wanted to be the reason why people want to change to be better. But, at that time, on the plane, I changed my dream: I only want to find someone who is worthy enough to change myself to be better.

Years passed by, heartbreak hit, tears poured down, fuckboy everywhere, that someone is still ‘zilch’. Until I arrived to the point when I no longer cared to boys and just be whoever the fuck I wanted to be. I had wild photoshoot, being kinda intimate and a lil sexting with some boys, being att-whore. And I thought to myself, “I won’t let anyone to change who I really am.”

Then, he came along. If you were Indonesian, perhaps you’re familiar with this phrase taken from Avatar cartoon credits, “Sebelum negara api menyerang.” He is my “Negara Api.” My world came tumbling down. He overhauls everything I believed in. Bare skin? Cross that out. Sexy transparent blouse? Cross that out. Hot pants? Cross that out. Wild photoshoot? Cross that out. Smoking and drinking? Cross that out. To be precise, he crosses all the bad things in my and I AM FINE WITH THAT. Once, I hated being told to by someone, even by my mom. But, now? This boy who hasn’t been here for 22 years told me to leave out all my transparent blouse? Yes, Captain! You got that! I am willingly accept it!

He fucking changed everything. Like, literally everything. Even he changed the way I see the world. And yes, people, I love it. And yes, he is the one. And yes, if God does exist, he did answer my prayer 6 years ago.

I tried a few things, whether he really is the one or not. And yes, he is. Nothing in the world can make me feel any better but him, not even Jaejoong nor text from other guys. He practically became the only reason why I am happy.

So, yeah, I found him. I did find him. I do find him.

 

Sign,

Rosa Azazil

[FANFICTION] EXPLODED PAST II

CHAPTER II

PAINTING THE PAIN

cover ep

Telah kucuri sekelumit cahaya

Dari persemayaman jiwa yang kau sebut cinta

Maka larilah dan kejarlah aku sampai kau tiada

Melebur bersama tanya yang kau cipta tiba-tiba

Mengendap dan lebur

Meresap dan mengabur

Dunia tempat kita telah terkubur

Akankah kita masih berdiri di ujung jurang dan saling bertempur?

Izikan aku menghitam dalam dusta yang kau sebut setia

Izinkan aku merapuh dalam derita jiwa yang sunggu menelan asa

Maka larilah dan kejarlah aku sampai kau tiada

Menggagah ke angkasa menjadi butiran debu semesta

 

Hyejin POV

Ruangan ini tiba-tiba saja menyempit. Menyedot pasokan oksigen bahkan di celah terkecil. Dan yang paling penting, tanganku tak juga berusaha bisa menggapai lengan kokoh Sehun yang terus menjauh. Mengapa dia langsung pergi begitu handphone-nya berdering? Siapa yang meneleponnya? Apa sebenarnya dia sudah memiliki kekasih?

Pertanyaan yang terus beranak-pinak di kepalaku dipecahkah oleh bel di pintu apartemen. Siapa yang datang bertamu kali ini?

Aku melihat di layar monitor di samping pintu. Seraut wajah khawatir di sana langsung membuatku terkejut. Apa lagi yang dia inginkan dariku?

Aku harus membuka pintu untuknya. Terlihat jelas bajunya yang basah. Mungkin dia kehujanan dalam perjalanan ke sini. Lelaki malang, tak seharusnya ia mencintaiku.

“Hyejin!” Matanya langsung berbinar penuh harap saat mata kami bertemu. Bagaimana bisa dia sebahagia itu bertemu denganku saat aku selalu menyakitinya?

“Masuklah, Minho.”

“Mengapa ada musik? Apa kau baru saja berdansa dengan lelaki yang keluar dari apartemenmu tadi?”

“Kau melihatnya keluar?”

“Hanya punggunnya. Kami tidak berpapasan.”

“Syukurlah..”

“Kenapa kau begitu lega aku tidak berpapasan dengannya?”

“Dia….”

Kalimatku menggantung di udara. Ragu untuk memberitahunya. Ragu untuk membawanya lebih jauh ke dalam masa laluku. Namun, mungkin kali ini dia harus tahu.

“Dia sahabatku sejak kecil. Beberapa jam lalu, tiba-tiba kami bertemu. Dan.. aku membawanya ke sini.”

“Apa yang kalian lakukan?”

“Aku tidak melihat alasan harus memberitahumu detil penting.”

“Aku memag tidak pernah menjadi siapapun dalam hidupmu, bukan?”

“Aku senang kau menyadarinya. Aku tak ingin kalian bertemu karena.. kau tahu siapa aku, sedangkan dia tidak. Aku tak ingin masa lalu dan masa kini terhubung. Dia tak boleh tahu siapapun yang kukenal saat ini. Aku takut dia akan menyadari diriku sebenarnya.”

—000—

Author POV

Hening mengambil alih jiwa dua manusia yang tengah duduk berdampingan memandangi hujan. Hening yang dingin dan beku. Menyedot semua, termasuk harapan semu Minho. Dia menatap wanita di sampingnya, wanita yang tidak memiliki apapun, bahkan dirinya sendiri. Wanita yang begitu ajaib di mata Minho, sempurna, menantang, dan memiliki pesona janggal. Sejanggal rasa cintanya yang aneh ini.

Musik yang beberapa saat lalu masih mengalun merdu, kini berhenti. Karena Hyejin tahu, bersama Minho akan sangat berbeda. Bersama Minho, bukanlah dunia yang dia harapkan. Minho tahu apa yang telah menghitamkan dirinya. Tidak. Dia tidak akan bersama Minho. Menatap lelaki itu, mengingatkannya waktu pertama kali dia menemui dunia kelam tempatnya bersemayam.

“Aku hanya ingin melihat keadaanmu,” Minho tidak tahan dengan kebisuan Hyejin.

“Kau sudah mendengar suaraku di telepon tadi,” balas Hyejin datar. Wajah cantiknya hanya menatap kosong keluar.

“Itu tidak akan cukup untukku. Hanya mendengar suaramu untuk membicarakan hal itu terdengar sangat kejam. Aku datang kemari bukan sebagai orang yang menolongmu. Aku kemari sebagai orang yang mencintaimu.” Seiring dengan perkataannya, sinar mata Minho melembut. Menghangat, lalu berpijar terang. Berharap panasnya akan sampai ke hati Hyejin dan menyadarkan wanita itu, dia sangat membutuhkan Hyejin.

“Bagiku, kau selalu sama,” balasan Hyejin membuat binar mata Minho menggelap, dan semakin menggelap saat Hyejin melanjutkan perkataannya. Seperti tidak peduli dengan hati Minho yang carut-marut. “Kau selalu sama, memohon padaku untuk mencintai. Padahal kau tahu, aku tidak bisa mencintai siapapun.” Hyejin menatap Minho tajam.

Continue reading