[FANFICTION] EXPLODED PAST I

CHAPTER I

TANGLED MYSTERY OF US

cover ep

Cast: Oh Sehun, Park Hyejin, Cho Kyuhyun

Genre: Angst, Tragedy, Romance

NO YAOI. NO BL.

RATED-M

Kaulah kecewa yang dulu kusebut surga

Kaulah hampa yang dulu kusebut nirwana

Kegelapan yang terlalu terlena

Kini kau datang membawa cahaya

Namun kau kutuk aku dengan bahagia

Tak apa

Asalkan luka yang dulu ada

Masih sempurna menganga

HYEJIN POV

Terasa ada yang meledak dalam diriku. Hatiku pecah berkeping-keping menjadi pecahan rasa yang sudah lama tak kukecap. Kekosongan beberapa menit lalu tiba-tiba saja terisi penuh, membuatku limbung dan ingin muntah, sekaligus menggosok mataku untuk memastikan ini bukanlah mimpi, bahwa dia memang ada di sana, sempurna dan utuh.

“Lama tak berjumpa,” sebuah kata standar untuk pertemuan antar teman lama. Bagiku, kalimat itu bukan hanya sapaan. Sapaan itu adalah sebuah awal baru untuk duniaku yang sebelumnya sekarat mencari cahaya. Kini, dia datang kembali.

“Benar,” sahutku tegas dan datar. Bertentangan dengan hatiku yang diguncang gempa dan digulung ombak tsunami.

Dia mengernyit bingung. Mungkin kaget karena keceriaan itu tidak dia temukan lagi. “Kau berubah.”

“Benarkah? Maka itu kemajuan yang bagus, bukan?” tanpa bisa dicegah, aku tersenyum. Bukan senyum yang dulu biasa kubagi dengannya. Senyum ini dingin. Bisa kulihat betapa mata itu terkejut dengan diriku yang baru. Tahukah kau, kepergianmulah yang membuatku seperti ini?

Dia mengernyit semakin dalam dan mengambil kursi di depanku. Tanganku mengepal. Berusaha tidak menghamburkan diri ke dalam pelukannya dan menanyakan ratusan alasan mengapa dia pergi. Tidak, aku tidak akan melakukannya. Sikap dinginnya meninggalkanku cukup menjelaskan semuanya. Dia tidak pernah peduli padaku. Aku hanya orang lain yang kebetulan lewat di hidup sempurnanya sebagai idola. Tidak ada yang pantas diingat mengenai diriku. Kecuali satu fakta itu, aku menyukainya. Dan dia tidak pernah tahu.

“Kau yakin sekali kursi itu tidak ada yang menduduki,” aku menatap langsung ke dalam matanya.

Dia memalingkan wajahnya. Entah karena tatapanku yang bisa melumatnya atau senyum sinisku yang menyakitinya.

“Aku sudah melihatmu sejak 1 jam yang lalu. Dan tidak ada seorangpun yang menemanimu. Jika ternyata ada seseorang yang seharusnyaduduk di sini, dia pasti terlambat,” jawabnya puas. Sialan, dia masih bisa membalik kata-kataku.

Aku diam. Ledakan perasaan itu masih berlangsung dalam diriku. Membuatku ingin menggapai kepingan rasa yang dulu bahagia. Membuatku ingin melempar diri ke masa lalu saat semuanya masih masuk akal. Saat aku masih menjadi diriku. Saat aku tak perlu memasang topeng untuk membohongi dunia tentang siapa aku sekarang.

Saat aku masih bisa mencintai layaknya cinta biasa.

“Kau berubah,” dia berkata sekali lagi. Aku ingin menjawab. Tapi dia kembali menyambung, “Yang ini bukan gayamu, apalagi sifatmu.”

Aku tersenyum tipis. Dia mungkin heran karena tak ada warna yang bisa dia temukan dalam diriku. Kemeja putih ketat yang menampakkan belahan dadaku dengan jelas, rompi hitam, dan rok lipit abu-abu yang hanya bisa diukur dengan sepotong jari dari selangkangan pasti membuatnya terkejut.

Inilah aku yang baru. Hitam, putih, abu-abu. Tak ada goresan warna. Sama seperti dunia tempatku hidup kini.

“Aku ingat dulu kau mengatakan tidak menyukai rok mini.”

“Semua orang berubah. Kau datang terlalu lama untuk melihatnya.”

Continue reading

[FANFICTION] Love In Pain

33

LOVE IN PAIN

Meeting you was fate

 Becoming your friends was choice,

But falling in love with you was beyond my control

Author: rosanera

Main Casts: Kim Jongin & Song Eunhee

Other Casts: Krystal Jung, EXO Members, EXO’s manager

Genre: Romance & Angst

 

Aku memilih jatuh padamu.

Tanpa pegangan.

Tanpa penahan.

Tanpa dirimu yang akan menangkapku di bawah sana.

Aku tahu kau hanya mimpi.

Namun, aku tetap tak bisa melepas bayangmu yang selalu pergi dari pandangku.

Kau menghempaskanku berkali-kali.

Tapi, kenapa hati ini tak jua berhenti?

Aku tetap mencintaimu.

Meski itu berarti….

Aku harus terluka lagi

 

EUNHEE POV

Aku menghapus air mata dengan kasar. Mati-matian berusaha menahan butiran air brengsek ini turun kembali. Percuma, air mataku bertambah deras. Seiring dengan cepatnya kilasan gambar itu berputar di benakku. Seiring dengan luka hatiku yang bertambah besar. Seiring dengan kesadaran yang bertambah jelas, bahwa aku begitu bodoh untuk mempertahankannya.

Continue reading

[FANFICTION] 1st Sketch (Believe Till The End)

Yunho memulai coretannya lagi. Kiasan hatinya yang dituangkan ke atas kertas putih. Kumpulan garis hitam tanpa aturan. Hanya mengikuti kemana hati membawanya. Dia tak tahu dimana harus memulainya. Begitu juga bagaimana mengakhirinya. Bahkan, untuk menelusuri permulaan dari titik yan membawanya pada garis selanjutnya, dia tak bisa mengingat lagi.

-Sketch-
Believe Till The End

Cast: DBSK/Yunho, Jaejoong, Changmin

Malam menurunkan selimut hitamnya. Menyelimuti hati manusia dengan kehangatan dengan caranya sendiri. Bukan panas membakar seperti yang dimiliki matahari. Membuat manusia merasa tenang dengan segala sisinya yang tersembunyi.

Seperti hati seorang lelaki yang kini tengah memakukan mata hitamnya ke batas cakrawala yang maha luas. Seakan mengerti, angin pun berhembus pelan, ikut mengiringi hatinya yang kini mengembara ke batas cakrawala lain.

Yunho memejamkan matanya. Otaknya kembali mengirimkan lembar demi lembar kenangan yang datang tanpa diminta. Bagaimana dulu dia tertawa. Bagaimana dulu dia tersenyum. Bagaimana dulu detik yang terdengar di telinganya selalu terdengar lain. Seperti melodi. Seperti harmoni. Seperti bidadari. Dia.

Tanpa diminta pula, kesendirian yang magis itu kembali mendekap Yunho. Mengelilinginya dengan segala kenangan yang membuat akar hatinya tercabik. Lukanya kembali menganga. Andai dia bisa, dia ingin mencabut jantung yang selalu berdetak ini. Jantung yang dulu hanya berdetak untuk tiga hal.

Continue reading

[FANFICTION] Sparkling Pixie – Chapter 2 (Denial of Addiction)

CHAPTER II

DENIAL OF ADDICTION

Cast: Jung Yunho (DBSK), Kim Jaejoong (DBSK), Cassandra (OC), Cylla (OC)

Other Cast: Jessica (SNSD)

Genre: Romance/Fantasy

Warning: Yaoi/Shounen Ai, complicated grammar, a bit of vulgar words

Dislcaimer: The plot of fairy was taken from Wicked Lovely by Melissa Marr. The rest is mine.


Seharusnya, manusia tetap pada pegangan mereka.

Seharusnya, manusia tetap tidak percaya.

Seharusnya mereka tetap bertindak kejam.

Karena kemanusiaan hanya mengungkap kejahatan lain yang ada.

Keingintahuan hanya membuat yang lain tersakiti.

Namun, jika semuanya kembali lagi pada yang bernama bahagia.

Apa segala keindahan tanpa metafora biasa itu tetap harus tersembunyi?

Yunho membuka matanya perlahan saat suhu panas menggelitik seluruh tubuhnya.

“Hah? Kenapa aku bisa ada disini?” Yunho berteriak panik. Dia mendapati dirinya tergeletak sendiri di tengah hutan. Pepohonan rapat mengelilinginya. Walau hutan ini begitu lebat, sinar matahari memancar lembut, sekaligus misterius. Membuat otak Yunho beku sesaat.

Lalu, tiba-tiba potongan gambaran mustahil tercetak di benaknya.

Lentera….

Malam..

Gelap..

Cahaya..

Musik..

Pada bagian ini, Yunho tersenyum aneh.

Dan…..

Sesosok makhluk rupawan..

Minuman..

Dansa….

Tubuh Yunho tersentak. Aliran listrik memenuhi tubuhnya. Kejut aneh membuat Yunho sadar, itu semua bukan mimpi.

Pixie… Entah bagaimana, Yunho sadar, sejak saat ini nama Pixie menjadi awal sesuatu yang dicarinya sedari dulu.

Hero…

Kalimat itu. Nama itu. Seolah menjadi oksigen untuknya. Persetan siapa dia. Lelaki itu tahu mulai saat ini Hero akan selalu hadir pada bagian tergelap hidupnya. Untuk menjadi cahaya. Lenteranya…

Yunho bangkit berdiri. Dia memandang sekeliling. Tadi malam waktu seolah ikut menari. Mengacaukan simpul yang sebelumnya erat terikat. Dengan pembagian yang kaku, waktu terasa kejam untuk Yunho. Namun, tadi malam, waktu serasa lepas. Hero mungkin menjadi alasan untuk semua keajaiban itu.

Keajaiban? Nama itu terus bergema seiring langkahnya pulang ke rumah. Seakan setiap hari dia melalui jalan ini, kakinya tahu betul kemana harus melangkah. Apa benar keajaiban yang ditawarkan Hero sebagai Pixie berlangsung selamanya? Trauma masa lalu membuat Yunho tidak pernah percaya lagi pada keajaiban. Tapi, matanya, senyumnya, tubuhnya, Yunho tahu itu hanya tercipta untuknya.

Kali ini, apa Yunho harus menyerah pada hatinya yang lemah? Ya, untuk pertama kalinya, Yunho mengakui, hatinya sangat lemah untuk kembali pada apapun bernama keajaiban. Hanya agar dia hidup untuk hari berikutnya. Jika bukan karena Cassandra atau Cylla, Yunho pasti sudah tidak ada.

Yunho mengacak rambutnya yang membiru ditimpa cahaya pagi. Merasa bingung dengan perasaan campur aduk di hatinya juga kepalanya.

Apa aku sudah gila? Menganggap yang tadi malam itu bukan mimpi?

Setelah perdebatan singkat, pertarungan itu dimenangan oleh sosok Yunho yang selama ini bertahan. Ya, dia tidak akan percaya. Tadi malam, dia hanya berjalan sambil tertidur. Tadi malam, dia hanya terlalu lelah berpikir sehingga benang kusut itu terbawa sampai ke dalam mimpi. Ya, Yunho tidak percaya.

“Aku tidak percaya,” Bisiknya bengis saat dia mendapati dirinya sudah berada di depan beranda rumahnya. Yang dia percayai kali ini hanya dirinya sendiri…

Jam di tangannya menunjukkan pukul 06.00 AM. Pada jam seperti ini, Eropa bagian barat memang telah mendapatkan cahaya matahari. Yunho berjalan tergesa memasuki rumahnya. Hari ini, saat mentari menyingkap cadarnya, Yunho kembali memasang topeng yang membuatnya muak.

Continue reading

[FANFICTION] Eyeing The Mind – Chapter 7 (Street Fighter)

CHAPTER VII

STREET FIGHTER

Main Cast: Dyland (OC), Jaejoong, Yunho, Yoochun, Changmin

Other Cast: Rose (OC), Elle (OC)

Genre: Supernatural/Mystery/Romance

Rated: T/PG-13

Disclaimer: I only own the plot and story. They belong to themselves.

Seorang wanita berumur 60-an tengah memandang lurus pada taman yang terhalang oleh kaca tipis di depannya. Gaun merahnya berkibar lembut, walau tidak ada angin di ruangan itu. Hanya sedikit udara yang berstimulasi pada ventilasi. Namun, dalam radius beberapa meter, terasa sebuah getaran udara lembut yang membuat tubuh kita puluhan kali lebih sensitif.

Seperti yang dirasakan Elle sekarang,”Ma, kok tiba-tiba dingin ya?” Dia memeluk lengan putihnya yang telanjang.

“Bagus. Berarti kau masih merasakan apa yang ada di sekitarmu,” Balas Rose, wanita itu, tenang dan dalam. Suaranya selalu membuat Elle tidak bisa memalingkan telinganya pada yang lain. Suara ibunya adalah suara yang menuntut untuk diperhatikan tanpa perintah tersurat. Melalui intonasi dan gerakan mata, Elle sudah tunduk pada ibunya.

“Apa yang sebenarnya terjadi pada Dyland, Ma?” Bibir mungilnya tiba-tiba bergetar. Mengingat anak semata wayangnya itu adalah pekerjaan melelahkan. Karena mengingat Dyland berarti mengingat misi yang akan dijalankannya. Dan Elle tahu misi berarti siap mempertaruhkan pikiranmu untuk mereka yang telah memilihmu. Menjadi seorang penyelamat.

“Bukan saatnya, Elle,” Rose berbisik tajam dan segera memandang mata coklat bening milik Elle. Mata yang juga dimiliki Dyland. “Dyland bisa menjaga dirinya sendiri. Dia lebih kuat dari dugaan kita.”

“Tapi, aku khawatir, Ma. Dia memang menjadi Yang Terpiih. Dia memang mewarisi kekuatan Mama. Tapi dia tetap anakku. Aku tidak bisa membiarkannya dalam bahaya,” Elle berteriak histeris.

Anehnya, Rose tetap tersenyum.”Tenang saja, dia sudah menemukannya.”

“Maksud Mama? Apa yang ditemukan Dyland?”

Rose menjawab dengan langkah yang ia tujukan pada sebuah lukisan di atas perapian. Sebuah lukisan dengan seorang anak perempuan memakai hanbok dan 2 orang lelaki di sampingnya. Lukisan itu terlihat biasa. Namun tidak bagi mata Rose. Dua lelaki itu mempunyai cahaya… Jalinan spektrum biru yang menyilaukan mata…

^Eyeing The Mind^

DYLAND POV

06.00 AM

Hampir saja aku menjatuhkan gelas yang baru saja ku isi dengan kopi, saat Yoochun berjalan ke arahku menunjukkan senyum penghancur kutub itu. Mungkin jika dia hanya tersenyum, aku hanya akan kejang-kejang di tempat. Sekarang? Dia telah mandi dan wajahnya yang segar serta rambut yang sedikit basah itu membuatku mati kutu. Tidak ada yang bisa ku lakukan, kecuali berdiri tegak dengan wajah tegang dan semerah tomat.

Morning caffein?” Tanyanya lembut. Bisakah dia berhenti melakukan itu? Aku bahkan sudah menjadi gila dengan menontonnya melalui laptop-ku dan memandanginya hambar 2 dimensi yang tersebar di seluruh penjuru kamarku. Kini dia benar-benar nyata di depan mataku. Percayalah, membutuhkan kekuatan setingkat Hercules dan Xena agar aku tidak berlari ke pelukannya dan mengatakan ‘Oppa, saranghaeyo’ ribuan kali.

Yes. Aku selalu meminum ini.” Jawabku buru-buru. Bahkan aku sendiri tidak bisa mendengar suaraku dengan jelas. Seolah menegaskan perkataanku, aku segera meminum kopi hitam itu.

“Uhuk uhuk uhuk….” Aku memukul dadaku panik. Karena tergesa-gesa, aku tersedak. Gila, susah sekali bernafas. Kopi pahit ini meny—

“Kau tidak apa-apa?” Tanpa ku sadari Yoochun sudah berada di depanku. Badannya yang jauh lebih tinggi dariku menunduk dan memegang pipiku. Batukku berhenti tiba-tiba. Kali ini, aku mengalami gagal jantung.

“Aku hanya.. tersedak,” Jawabku malu. Dia bahkan tidak mundur atau menjauh. Apa dia tidak bisa mendengar detak jantungku yang sudah megap-megap minta istirahat?

“Tentu saja kau tersedak. Dengan wajah seperti itu tidak mungkin kau tengah menikmati kopimu kan?” Dia memiringkan kepalanya lucu.

“Eh.. Itu…”

“Ada kopi di bibirmu,” Sebelum aku sempat bereaksi, ujung jarinya sudah membelai lembut bibirku.

Persetan dengan apapun yang tengah terjadi. Aku membaca pikiran, ingat? Aku tahu sebenarnya tidak ada apapun di bibirku. Sifat cassanova Yoochun hanya tiba-tiba kumat. Dan aku adalah perempuan normal, wajar kan jika aku mendekatkan muka kami. Menatap dalam-dalam mata hitamnya yang tadi malam hanya bisa ku nikmati saat terpejam. Merangkul lembut punggungnya. Berjinjit sedikit. Menghembuskan sedikit nafasku yang masih beraroma kopi. Namun ku tahu itulah yang membuat Yoochun semakin gila.

“Apa yang sedang kalian lakukan?” Suara melengking tinggi kembali menyedotku dalam kenyataan. Kepingan magis tadi retak. Meninggalkan hatiku dalam lubangnya semula.

Dyland, kau tahu ini bukan tujuan kau berada di sini!

Continue reading

[FANFICTION] Eyeing The Mind – Chapter 6 (Truth Melody)

CHAPTER VI

TRUTH MELODY

Main Cast: Dyland (OC), Jaejoong, Yunho, Yoochun, Junsu, Changmin

Other Cast: Rose (OC)

Genre: Supernatural/Mystery/Romance

Rated: T/PG-13

Disclaimer: I only own the plot and story. They belong to themselves.

JAEJOONG POV

“Kok aku bisa ada disini sih..?” Aku memandang sekeliling dengan bingung. Tidak yakin dengan ingatan terakhir yang melintas di benakku. Semuanya seakan terjadi hanya beberapa detik yang lalu.

Seingatku, aku baru saja menyaksikan eksotis nya tubuh Dyland diselubungi cahaya senja dan mata coklatnya yang bersinar ramah padaku. Lalu, setelah itu? Sungguh, aku tidak bisa mengingat apapun. Ada bagian yang kosong dan tidak terisi apapun di memori otakku. Kecuali… mimpi tadi. Mimpi yang terasa sangat jelas. Bahkan aku harus memastikan lagi bahwa aku sudah bangun dan menjauh dari tempat terkutuk itu. Tempat yang serasa menyedot habis seluruh rasa bahagiaku dan merubahnya menjadi dendam serta amarah. Aku ingat dengan jelas terakhir kali merasakan itu semua. Dan aku tidak akan pernah mau merasakannya lagi.

Tiba-tiba, dalam keremangan ruang tamu, aku melihat sesosok tubuh mendekat. Bulu kudukku berdiri. Merasakan aura bahaya yang mengancam. Udara kian menipis. Entah kenapa, aku merasakan sebuah de ja vu. Kakiku tidak bisa digerakkan. Lidah ku kelu. Mulutku hanya mengatup-ngatup tanpa hasil yang berarti. Sebuah desiran aneh tertangkap oleh telingaku. Sosok itu kian mendekat. Hitam sekelam malam. Berasap dan berbau busuk. Asap itu melayang di sekitar tubuhnya seolah dia terpisah dari ruang dan waktu. Namun dia disini! Siap mencabut nyawaku….

Sebuah tangan terjulur ke arahku. Tangan yang hitam. Aku mendongak dan menemukan sepasang mata berwarna merah. Hampir sama seperti mimpi ku sebelumnya. Aku beringsut mundur. Namun sekali lagi aku hanya mematung. Menunggu tangan itu menggapai leher ku.

Tid-tidak…!

Continue reading

[FANFICTION] Eyeing The Mind – Chapter 5 (One Red Eye)

CHAPTER V

ONE RED EYE

Main Cast: Dyland (OC), Jaejoong, Yunho, Yoochun, Junsu, Changmin

Other Cast: Rose (OC)

Genre: Supernatural/Mystery/Romance

Rated: T/PG-13

Disclaimer: I only own the plot and story. They belong to themselves.

Masih di Jakarta, 18.00 WIB

JYJ’s Room

Yoochun POV

“Junsu, kartunya ada padamu kan?” Aku meminta kartu kamar kami pada Junsu yang sudah setengah terpejam di pintu masuk. Butuh waktu beberapa detik untuknya mencerna bahwa dia belum sampai di tempat tidur.

“Oh, iya. Tunggu sebentar.” Junsu merogoh-rogoh kantong bajunya. “Ah, ini dia!”

Aku segera mengambil kartu yang ada di tangannya dengan tergesa-gesa. Aku sudah tak sabar ingin bertemu dengan Dyland.

CEKLEK..

Pintu terbuka. “Jaejoong hyung… Kami pulang..” Aku berteriak. Perasaan ku saja, atau memang tidak ada denyut kehidupan di kamar ini? Jangan-jangan Jaejoong hyung sudah…. Ah, aku menepis pikiran itu. Tidak mungkin dia berbuat macam-macam dengan Dyland. Aku sudah mengancamnya tadi.

“Hyung.. Aku tidur dulu ya.” Junsu langsung pergi ke kamarnya tanpa melihat ke arahku lagi. Aisshh, anak itu, benar-benar.. Apa dia lupa ada seorang yeoja yang butuh perhatian disini? Tapi, ku pikir tidak apa-apa. Paling tidak, saingan ku untuk merebut hati Dyland berkurang.

Tiba-tiba, aku melihat tangan yang terkulai di sofa. Apa itu.. Jaejoong hyung? Perlahan, aku mendekatinya. Benar saja, Jaejoong hyung tengah tertidur pulas. Dia pasti sangat lelah. Dyland sempat demam sebelum ku tinggalkan tadi. Berarti, dia sudah bangun..? Tanpa berpikir apa pun lagi, tubuhku langsung melesat ke kamar tempat gadis itu terakhir ku tinggalkan…

Lho? Kok gelap sih? Aku kebingungan saat sudah memasuki kamar Jaejoong hyung.

KLEK..

Lampu menyala. Aku tersenyum puas sedikit. Aku paling tidak suka dengan kegelapan.

Tapi, Dyland, dimana gadis itu? Bisikku setelah mendapati hanya tumpukan selimut yang ada di atas ranjang.

Lalu, di depan jendela hotel yang sebesar layar bioskop itu, aku melihat Dyland terbaring lemah. Mustahil dia berbaring dengan sengaja. Jangan-jangan… Aku berlari ke arahnya. Hampir saja melompat.

“Dyland. Hei. Wake up…” Suara ku sarat dengan kecemasan. Dyland yang ada di pangkuan ku terlihat sangat pucat. Aku semakin takut saat ku rasakan suhu tubuhnya sangat tinggi. Ah, Jaejoong hyung… Bagaimana bisa kau mengatakan dia baik-baik saja saat tubuhnya terasa terpanggang seperti ini…

Continue reading

[FANFICTION] Eyeing The Mind – Chapter 4 (Additional Star)

CHAPTER IV

ADDITIONAL STAR

Main Cast: Dyland (OC), Jaejoong, Yunho, Yoochun, Junsu, Changmin

Other Cast: Rose (OC)

Genre: Supernatural/Mystery/Romance

Rated: T/PG-13

Disclaimer: I only own the plot and story. They belong to themselves.

JAEJOONG POV

Kalian punya palu? Atau traktor? Atau benda apapun yang bisa menggilas kepalaku sampai hancur? Aku benar-benar membutuhkan itu sekarang. Ah, satu lagi, aku juga sangat membutuhkan obat yang bisa membuat amnesia. Kejadian di kamar barusan membuatku serasa tidak punya muka lagi.

Pelayan yang mengantarkan makanan kami sudah pergi dari 5 menit yang lalu. Tapi aku masih tidak mempunya nyali untuk segera kembali ke kamar tempat Dyland pasti sedang tersenyum bahagia sekarang.

Continue reading

[FANFICTION] Everlasting Lovers Series – Summary

Cinta. Sebuah kata klise yang membuat Shakespeare membuat ribuan puisi cinta, membuat Juliet rela menyusul kekasihnya ke alam yang bahkan tidak dikenalnya, kematian. Sebuah racun yang mampu menghancurkan logika manusia karena candunya begitu memabukan.

Sebuah cinta yang juga rapuh dan butuh untuk ditemukan. Cinta adalah esensial luar biasa yang diciptakan Tuhan dan membuat manusia begitu kreatif dengan jutaan cara romantis, cara yang akan diceritakan dalam fanfiction ini, Everlasting Lovers Series.

Bercerita tentang empat pasangan dengan segala kerumitan, keromantisan, kekonyolan, dan emosi unik bermula dari pandangan pertama, pertemuan kedua, sampai akhirnya janji di hadapan Tuhan.

Masing-masing individu dalam fanfiction ini terjebak dalam masa lalu mereka sebelumnya, sampai akhirnya mereka berani maju dan mengambil langkah selanjutnya dalam babak kehidupan mereka.

Kim Donghyun dan Kim Hyun Na, pasangan aneh karena sang wanita begitu penuntut, tapi begitu romantis karena sang pria selalu menuruti kemauan wanitanya. Itulah cinta. Ketika teori tak lagi mampu mematahkan perasaan aneh yang bergolak, menerjang, membelit akal manusia. Cinta yang terwujud dengan begitu sederhana, melalui senyum Hyun Na di pagi hari, omelannya tiap malam, namun belaian lembut Donghyun selalu meredam itu semua.

Shim Hyunseong dan Choi Aira, pasangan ini bisa dibilang pasangan yang mampu melelehkan hati Hitler sekalipun. Tatapan mesra mereka berdua tidak bisa terlepas barang sedetikpun. Binar mata mereka mampu menceritakan roman indah antara dua pasang manusia, yang tidak hanya mempunyai cinta, tapi juga kepercayaan dan janji setia. Cinta mereka terkemas dalam indahnya melati, harumnya mawar, dan mekarnya bunga di musim semi. Aira adalah sakura bagi Hyunseong, dan Hyunseong merupakan air untuk Aira. Alam pun sepakat, mereka pasangan abadi yang akan diingat oleh tiap kuntum bunga di taman.

Lee Jeongmin dan Song Rae Ki, pasangan manis bagai coklat dan permen. Saling melengkapi dan menutupi kekurangan masing-masing pasangannya. Jeongmin dengan sikap dewasanya selalu mampu mengontrol sikap Rae Ki yang kekanakan, menjadi hiburan dan kekonyolan tersendiri bagi pasangan lain. Tapi, itulah variasi cinta mereka. Cinta yang bebas dan mengundang tawa. Cinta yang terkadang bisa melukai karena manisnya membuat mereka mabuk. Namun, saat mereka teringat bagaimana pertama kali mata mereka bertemu, semuanya kembali lagi seperti semula. Cinta manis bagai coklat dan permen.

Jo Youngmin dan Kim Eun Hee, cinta mereka begitu lembut, begitu penuh dengan gejolak asmara yang anehnya terasa damai. Eun Hee akhirnya menemukan pelabuhan hatinya setelah luka lama yang begitu menyakitinya, Youngmin menawarkan dunia dimana dia tak perlu lagi menangis, tanpa imbalan apapun. Hanya cinta yang menyertai hari-hari mereka.

Jo Kwangmin dan Park Hye Jin, pasangan yang dipertemukan karena permainan Tuhan. Takdir yang tidak pernah mereka sangka sebelumnya membawa mereka ke sebuah dimensi dimana cinta adalah segalanya. Kwangmin yang selalu tersihir oleh senyum Hyejin, dan Hyejin yang selalu tidak mampu menolak pesona pancaran mata Kwangmin. Mereka adalah kutub utara dan selatan, mabuk akan mantra masing-masing pasangan.

Begitulah mereka mencintai. Begitulah cinta mengenal dirinya sendiri. Sesederhana itu. Seharum itu. Semanis itu. Seromantis itu. Segila itu.

NEXT CHAPTER

Bagaimana mereka menikah?

Stay tune, Readers..

Ppyong.. ^^

 

[FANFICTION] Everlasting Lovers – Play Our Love

Play Our Love

Pairing: Jo Kwangmin & Park Hye Jin (KwangHye)

Genre: Romance

Rated: T

Highlight: The time is frezeed at the moment our eyes locked to each other

HYE JIN POV

Apa??!! Appa dan Umma akan pulang malam ini?? Aku masih memandang iPhone-ku dengan pandangan hendak bunuh diri, mulut menganga, dan mata melotot lebar. iPhone yang beberapa detik lalu membawa kabar buruk bagi hidup berantakanku akhir-akhir ini.

Aiisshh… Orangtua ku akan pulang malam ini setelah menyelesaikan pekerjaan mereka di Virginia. Meninggalkanku dengan kedua oppa­-ku, Yoochun dan Yoohwan. Pilihan yang salah. Karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing.

Aduh, bagaimana ini? Dewa akan turun dari langit! Dengan pikiran yang baru setengah waras, aku segera menelepon Yoohwan oppa, satu-satunya oppa yang mungkin saja bisa  kuandalkan saat ini, Yoochun oppa pasti sedang sibuk.

Dengan kecepatan melebihi kilat aku segera meluncur pulang ke rumah menggunakan taksi. Ya, aku baru saja pulang berlibur dari rumah Kim So Eun, temanku. Dia baru saja membeli sebuah villa baru.

Aku pulang…..” Seketika sesosok tubuh hampir tanpa busana menyambutku.

“Yoohwan oppa! Gawat!! Appa dan Umma akan datang malam ini!” Aku melihat jam di ruang tamu.

“Ralat! Satu jam lagi!” Ternyata ini sudah mendekati malam.

Mwo?! Mereka datang? Siapa yang memberitahumu? Tidak mungkin. Bukannya mereka masih kerja?”

Aku memutar mataku malas. “Mereka sudah meninggalkan kita dua bulan, Oppa. Kemana aja sih Oppa selama ini? Sibuk mengejar cewek?”

“Hey, aku tidak menanyakan berapa lama mereka pergi.” Perdebatan mulai terjadi lagi.

“Oke oke. Asisten mereka memberitahuku tadi.”

“Aduh. Bagaimana ini?!” Ralat sekali lagi! Lelaki berumur tiga tahun lebih tua dari aku ini juga tidak bisa diandalkan. Otaknya berpikir beberapa tahun lebih lamban dariku.

“Bagaimana?! Cepat ganti baju dan segera temani aku menjemput Umma dan Appa!” tiba-tiba aku tersadar pada pemandangan ganjil di sekelilingku. Ruang tamu yang penuh dengan popcorn bertebaran, DVD, bungkus coklat berserakan, dari tempatku berdiri juga terlihat dapur yang sudah menyerupai kandang hewan.

Oppa… apa yang kau lakukan pada rumah kita?” tanyaku panik.

“Apa? Aku tidak melakukan apa-apa. Hanya sedikit bersenang-senang.” Aku hanya bisa bersungut. Oppa-ku yang satu ini memang sangat tidak bisa diandalkan.

“Apa kita benar-benar harus menjemput Umma dan Appa sekarang? Tapi, aku sedang bersama…..”

Yeobo~ ah.” suara perempuan yang entah siapa itu menghampiri aku dan Oppa.

“ARRGHH!! Jadi kau berani membawa perempuan ke rumah ini. Oppa…. Kau benar-benar keterlaluan! Cepat bereskan dia! Lalu siapkan mobil dan berpakaian rapi! Cepaaaattt….!!!!”

Arasseo. Tunggu aku. Aku mesti….”

“Sekarang kau sedang tidak berhak memberikan alasan. Cepat! Atau ku beritahu Appa kau baru saja membeli apartemen.”

“Iya iya iya. Aku kalah. Puas?”

Kepalaku hampir pecah. Yoohwan oppa berulah lagi. Kalau sampai Appa tahu pasti dia akan dihukum habis-habisan. Kenapa dia tidak pernah bisa menggunakan akal sehatnya. Padahal kemarin aku sudah mewanti-wantinya sepanjang jalan kenangan sebelum aku pergi agar dia tidak membuat hal-hal aneh. Aku tidak mau kalau sampai Appa melakukan hal yang mengerikan pada Yoohwan Oppa. Walaupun dia sungguh sangat teramat menyebalkan, tapi aku sangat menyayanginya.

Aku segera membersihkan ruang tamu dengan kecepatan turbo. Dengan satu tangan menenteng high heels dan tas, satu tangan lain memasukkan berbagai jenis bungkus makanan ke tempat seharusnya. Aku memutuskan untuk mengganti sepatuku dengan pump shoes, tapi, kemana benda satu itu? Aku menggeram marah. Andai saja sepatuku itu ku pasang radar, pasti lebih mudah mencarinya.

Tin! Tin!

Aduh, ternyata Yoohwan oppa sudah siap. Ah, sebodo amat. Biarlah aku membusuk bersama high heels ini. Aku memastikan penampilanku sekali lagi di cermin di samping pintu. Dan segera melesat ke dalam mobil yang dikendarai Yoohwan oppa, kepunyaan Yoochun oppa.

Mobil yang sebenarnya diperuntukkan untuk medan balap ini membelah lalu lintas yang padat. Aku melirik ke samping. Kakak ku ini pasti merasa seperti James Bond. Yeah, James Bond yang harus menjemput orangtuanya karena takut hukuman tidak boleh menggunakan kartu kreditnya lagi.

Setengah jam setelahnya, kami tiba di Incheon International Airport. Aku segera berlari menuju pintu kedatangan. Sementara Yoohwan oppa, biasa, dia harus menebar pesona dulu pada gadis seksi di sekitar bandara.

“Mereka sudah sampai?” Yoohwan oppa rupanya sudah berdiri di belakangku.

“Sudah selesai urusannya bersama para gadis, Tuan?” Balasku sinis.

“Kenapa? Kau cemburu?” Yoohwan oppa membalikkanku ke hadapannya dan mulai mencubit pipiku.

“Iiih, ga usah cemburu. Aku kan tetap Oppa-mu yang paling ganteng.”

Aku memasang tampang hendak muntah. “Yoochun oppa jauh lebih tampan darimu. Bwee..!” Aku menjulurkan lidahku.

“Yoohwan? Hyejin?” Tiba-tiba, suara lembut yang ku kenal sejak kecil menginterupsi kebiasaan kami berdua, saling meledek.

“Kalian belum berubah rupanya. Hahaha…” Appa merentangkan tangannya dan memeluk kami. Aku baru sadar, aku sangat merindukan mereka.

“Iya. Yoohwan oppa masih jelek seperti biasa.”

“Hahaha. Hye Jin-ah, ayo peluk Umma. Umma sangat merindukanmu.”

Beberapa asisten orangtuaku datang dan mengangkat tas mereka. Kami pulang dengan mobil terpisah. Appa dan Umma dengan mobil kesayangan mereka, sementara kami dengan mobil balap tadi. Untungnya, Yoohwan oppa tidak lagi merasa dirinya James Bond, bisa-bisa Appa kena serangan jantung melihat anak lelakinya mengemudi dengan brutal.

“Ah, home sweet home,” Teriak Appa begitu kami tiba di rumah. Asisten beliau kembali menurunkan koper-koper. Umma menggandengku masuk.

“Hye Jin, Umma sudah membelikanmu pakaian dengan stok terbatas di Channel dan Gucci. Kita bisa mencobanya sama-sama malam ini.” Umma menjentik hidungku gemas.

Tiba-tiba saja, saat kakiku sudah menginjak bagian dalam rumah, atmosfer berubah hening. Appa menatap heran pada gantungan mantel, bukan, bukan pada mantelnya. Tapi pada….

Appa mendekati gantungan mantel “Jaket siapa ini? Dan aromanya tidak seperti salah satupun dari anak Appa.

Wah, rupanya jaket lelaki itu tertinggal di rumah ini. Sial!

“Dan apa itu? Telunjuk umma mengarah pada lampu di atas meja. Bukan lampunya yang menarik perhatian Umma. Tapi…

WHAT THE FUCK?! Sebuah bra merah marun dengan model terawang dan renda-renda seksi membuat kepalaku pusing. Umma  di sampingku pun terlihat shock, beliau segera mengambil bra laknat itu. Mataku segera mengarah ke arah Yoohwan oppa dengan pemindai laser.

“Hye Jin-ah.. Ini, ini bukannya milikmu, Nak?” Umma berkata dengan suara bergetar. Pertanyaannya pun juga menggetarkan hatiku.

“Ap-Apa?! Bukan, Umma, itu bukan punyaku. Itu punya….”

“I-Itu. Aku bisa menje – “

“Permisi… Aku harus mengambil jaketku yang ketinggalan…” Tiba-tiba, ada seseorang di belakangku. Suara lelaki. Yang ku tahu pasti siapa dia….

Aku memejamkan mataku. My life is officially over…

Continue reading