[HEART] Moment of Silence

candle-light

Last Saturday, there was a big concert held somewhere in Jakarta. In the meantime, if you are Indonesian and also EXO-L (would you please tell me people who is giving that stupid simple inelegant name?), you probably screamed here and there, tweeted this and that, updated whatsoever, and cursed anything and/or anyone you can about how unfair it is for you to not being able present among the big mad crowd fangirl in the concert venue. Apparently, in those crowd of mad fangirls who were I am pretty sure forming their mouths screaming as if the state of orgasm, there was a very dearest friend of mine watching the same concert. And do you think I will write something mainstream and perhaps being written too by others about how unfair it is for me to not be in the same place as her? You get busted; I don’t.

So, what the hell am I doing here? Honestly, I don’t even know what to write! Fantastic, huh? But, here is the plot twist, since I don’t know what to write (which is once in a blue moon because mostly I always figure out what to write ten minutes before I type first alphabet in my post), you’ll be surprised. Maybe it has something to do with concert, sincerity, life, love, dreams, or even just about sex.

Continue reading

[HEART] About K-Pop: Believing of Dreams

About K-Pop, “You only have to turn further to reach what you want.”

For my dearest K-Popers,

Kemarin biasa saja. Andai ku lewati dengan kembali bersantai di rumah dengan setumpuk novel, antrian fanfict yang harus ku selesaikan, beberapa drama Korea yang harus ku tonton, dan puluhan suamiku (baca:bias). Namun, kemarin menjadi istimewa. Saat aku berada di tempat itu, berteriak sekeras-kerasnya menyuarakan cinta dan dukungan (walau sebenarnya mereka tengah tertidur pulas di Korea sana), tersenyum dan tertawa bersama puluhan orang yang juga mengerti mereka dan diriku. Percayalah, dimengerti adalah suatu tindakan yang sangat berharga untuk K-Popers. Apalagi K-Popers labil sepertiku.

Maka, kemarin, begitu aku memasuki tempat itu, gelegar beberapa fandom dari SM Entertainment langsung menyambutku. Bazaar pun sudah dibuka. Sangat menggoda iman dan uang sebenarnya. Dan seperti biasa, aku harus selalu berdamai dengan kenyataan ini.

Berada disana, berteriak, bernyanyi, berdansa, dan tertawa bersama sungguh melegakanku. Sebuah tempat bernama rumah serasa hangat menyambutku. Perasaan tergelitik dari ujung kaki sampai ujung rambut. Lalu tanpa ku sadari, aku menangis. Aku tak tahu kenapa. Walau sudah puluhan kali menonton MV mereka di rumah, menonton disana terasa amat berbeda. Mungkin karena kau mempunyai teman berteriak dan teman berbagi kebahagiaan. Atau karena gegap-gempitanya mirip dengan suasana konser. Sampai sekarang, aku tidak tahu mengapa aku menerjunkan diri ke tempat ini. Tempat dimana kegalauan dan kegembiraan hanya dibatasi oleh sekat tipis bernama K-Pop. Mungkin aku bisa memilih menjadi K-Popers yang biasa-biasa saja (seperti yang beberapa orang lakukan), tapi aku lebih memilih mempertanggungjawabkan pilihan ini sebaik-baiknya. Aku yakin sedikit yang akan mengerti. Bagi mereka, “Ayolah, menjadi K-Popers tidak akan menentukan masa depanmu.” Bagiku, aku bisa hidup sampai sekarang karena mereka. Aku bisa mengikuti berbagai acara karena mereka. Tiap aku merasa tidak ada lagi senyum untukku, mengingat senyum mereka, tiba-tba aku menjadi kuat kembali.

Aku tidak bisa membayangkan bagaimana hidupku tanpa mereka. Orangtua ku mengatakan akan lewat masa-masa kegilaanku seperti ini. Saat aku lebih dewasa, aku akan menertawakan diriku pada masa ini. Aku tidak bisa membayangkannya. Hidup tanpa mereka. Tanpa menulis tentang mereka. Tanpa tersenyum dan menangis dengan mereka. Aku lupa bagaimana dulu hidupku sebelum mencintai mereka. Untuk kembali saat ini, terasa begitu sulit. Mereka telah menjadi rumah. Suara mereka telah menjadi obat. Bahkan senyum mereka pun mampu membuatku bahagia sepanjang hari.

Saat aku memutuskan mencintai mereka, aku tahu akan tinggal selamanya disini. Tidak setelah aku menghabiskan detik-detik dengan hanya mengingat mereka, memahami mereka, malam-malam untuk memimpikan mereka, sampai merajutnya menjadi kata. Tanpa mereka, mungkin sampai sekarang aku tidak tahu apa yang berguna dari diriku. Mereka adalah alasanku untuk tetap hidup. Jika aku sudah bertemu mereka dan menunaikan janji pada diriku sendiri, maka aku akan hidup dengan lebih tenang.

Untuk seorang K-Popers tanpa restu orangtua sepertiku, semuanya menjadi terasa begitu sulit. Mereka menganggap menjadi K-Popers hanya membuang uang, menghabiskan waktu dan tenaga untuk menangis, serta menghambat masa depan. Jika ku jelaskan pun, masa depan ku adalah mereka, mereka tak akan mengerti. Aku tahu semua orangtua ingin anaknya berhasil dan membasmi apapun yang menghalanginya. Menurut mereka, K-Popers  adalah salah satunya. Padahal, tiap hal yang ku lakukan sekarang adalah sedikit langkah untuk bertemu mereka. Konyol memang. Tapi memang itulah tujuan hidupku. Yang ku tahu saat ini, aku akan bahagia.

Saat ini, aku merasa tidaklah banyak yang ku tahu. Aku baru saja bebas dari kurungan bernama SMA. Dunia di luar adalah rimba. Namun, aku hanya ingin menjalaninya dengan caraku sendiri. Bersenang-senang terasa kabur ketika aku mengingat tidak selama aku akan seperti ini. Terasa banyak sekali tanggungan di pundakku. Tapi, ada seseorang yang mengajariku agar tidak pernah menyerah. Dia bahkan tetap tertawa walau ku tahu dia terluka. Dia tetap berkorban demi banyak orang, meski hatinya pasti sudah berdarah-darah. Dan untuk menghormatinya, aku akan melakukan hal yang sama. (Saat menulis ini, aku menangis). Menunda sedikit waktu untuk cita-citaku tidak akan menghapus takdirku, jika ternyata bertemu dengan mereka merupakan salah satu jalan hidupku. Menundanya sedikit hanya memutar dan mengambil jalan yang lebih jauh. Intinya, suatu saat nanti kita akan tiba di tujuan. Waktunya tak pasti, tapi selama kita percaya, aku yakin kita akan sampai disana.

Untuk kalian yang masih merasa mencapai impian merupakan hal yang mustahil, ingatlah ini. Ingatlah yang kalian cintai dan mencintai kalian. Kalian tidak akan tiba di akhir cerita dengan kata “happily ever after.” Namun yang tersisa hanya sebuah halaman kosong. Cerita menggantung. Dan hanya kalian yang mempunyai hak untuk menyelesaikan cerita itu. Ketika semua hal wajib yang kalian lakukan telah berakhir, maka saatnya mengikuti hati kalian. Percayalah, melakukan itu saat tidak ada beban apa-apa, terasa sangat mudah. Lepaskanlah, maka kalian akan memiliki segalanya. Jika kalian merasa memiliki, maka ketika hal itu renggang sedikit saja, kalian akan semakin bernafsu memilikinya. Lepaskanlah, maka mereka akan datang pada kita. Di suatu tempat dan waktu yang tak terduga. Lakukan semua hal untuk diri kalian sendiri. Walau sebenarnya orang lain yang menginginkan kalian melakukan itu. Berdamailah dengan kenyataan. Meratapi diri itu wajar. Tapi jangan buang waktu kalian untuk menangisi hidup. Hidup terlalu berharga untuk itu. Berdamai dengan kenyataan berarti melupakan segala yang pedih dan mengingat hal baik. Sekecil apapun kebaikannya. Peganglah itu. Ingatlah tujuan kalian setelah ini.

Mimpi adalah salah satu anugerah paling berharga. Jagalah mimpi kalian. Jangan biarkan mimpi itu pergi. Jangan pernah putus asa mencoba. Selama kalian tetap mencintai mereka, mereka tidak akan pergi. Keajaiban akan datang pada setiap orang. Believe then you will see. Percayalah, kalian akan mencapai impian kalian. Apapun itu.

Saat aku bertemu mereka, aku hanya ingin mengatakan, “Terima kasih, karena telah hidup. Karena telah bertahan untuk kami dan segala hal yang kalian lakukan. Jangan menangis terlalu lama. Sebab senyum kalian akan menghangatkan dunia.”

Sign,

Dylandia Elfyza

Do not miss even the smallest of happiness. Once you get it, just walk with it for the rest of you lives.

[HEART] Yang Hilang

Akhir-akhir ini, tiap satu adegan muncul di kepalaku, biasanya yang harus ku lakukan adalah menguntainya dengan kata, tidak hanya sebuah imaji dalam bayanganku. Tiap adegan yang muncul adalah seseorang yang bicara padaku, atau sebuah film dan aku lebur di dalamnya, saat itulah waktu serasa tak berarti. Kumpulan kata itu tiba-tiba saja berubah menjadi puluhan paragraf, lalu halaman, lalu jumlah buku. Dan aku hanya bisa terpana saat ku baca ulang naskah itu, benarkah aku yang membuatnya?

Setelah ku pikir, diriku dengan dunia utopisku adalah sebuah tempat angan mengawang tanpa cengkeraman takdir, hanya tanya tanpa batas. Dengan tanya itulah, ku rangkai apa yang akan terjadi pada tokoh-tokohku. Haruskah ku buat mereka menangis? Karena rindu? Rindu pada siapa? Tanya tak berkesudahan itu memang tidak akan selesai dan menuju pada penyelesaian masalah. Karena membuat sebuah cerita bukannya menyimpulkannya di akhir halaman, saat cerita itu berakhir, disanalah pertanyaan terbesar timbul. Pertanyaan apakah itu, Anda yang menentukannya.

Sepertinya kali ini aku berperan sebagai penulis yang sangat expert. Sebaliknya, aku hanya seorang manusia yang tak tahu harus bertanya pada siapa, karena itu aku menciptakan diriku sendiri dan berbincang dengannya, lalu menulisnya. Jika boleh dibilang, semua tokohku adalah aku.

Namun, ada yang berbeda. Perbedaan ini bukanlah perbedaan yang biasanya mampu ku abaikan dan ku anggap hanya sebuah bumbu. Ada yang benar-benar berbeda. Serangkaian aktivitasku yang biasanya mampu menetralisir segala rasa tidak nyaman, kali ini kebal dibuatnya. Aku malah semakin tidak tahu apa yang hilang itu.

Ku sadari, seharusnya aku mencari apa yang hilang. Yang ternyata mengendalikan cara berpikirku dulu. Bagaimana ku menyikapi sesuatu. Aku tak bisa mengatakan apa itu hal baik, atau buruk. Atau justru sekarang lebih baik atau lebih buruk dari itu.

Aku ingin sekali menulis. Tapi begitu tanganku hendak menorehkan pena di atas kertas atau jari-jariku mulai melayang lalu menari di atas tuts keyboard, semua itu hilang. Seakan dia ditarik kembali oleh sesuatu dan aku tidak mampu lagi menggapainya. Adegan itu tetap ada. Namun aku tak bisa menulisnya dengan kata yang lain.

Sungguh tidak nyaman berada dalam kondisi ini. Seperti mimpiku dirampas oleh orang lain. Apa ini semacam writer’s block? Yang disebabkan oleh tekanan? Well, mungkin. Begitu banyak hal yang serasa menekanku dan melesak ke dalam kepalaku. Hingga tak ada ruang lagi untuk berlari bebas dalam alam mimpiku.

Atau, itu karena aku tak bisa lagi melakukan sesuatu untuk diriku sendiri? Mungkin. Aku ingat kapan terakhir kali menulis sebuah cerita dan benar-benar terlibat di dalamnya. Walau dengan tata bahasa yang hancur dan menyakitkan mata para editor, setidaknya aku benaar-benar menikmati proses itu. Bahkan aku menjadi autis dengan keadaan sekitar. Saat aku mulai berinteraksi dengan tokoh-tokohku itu, dunia nyata menghilang. Aku seakan ada disana. Merasakan semua yang mereka rasakan. Tidak ada target atau ekspektasi apa-apa, aku menulis, karena aku ingin.

Kini, mungkin aku terlalu dibutakan dengan pujian. Dan ingin meraihnya lebih banyak lagi. Lalu aku menulis dengan selera pasar. Menunggu dengan berdebar apa ada yang membaca tulisanku? Ternyata, tidak ada. Tulisan dengan tata bahasa yang tidak buruk, konflik yang dipikirkan sedemikian matang, kata yang romantis sentimentil ternyata tidak mendapat respon.

Apa mulai dari saat itu aku mundur? Merasa tidak dihargai? Dan alam bawah sadarku memerintahkan segala sistem untuk menarik inspirasiku. Karena ada kemauan untuk tidak lagi disakiti disini.

Jika iya, aku ingin disakiti lagi. Walau tanpa tanggapan. Ternyata tidak menulis apapun lebih parah dari berbagai resiko menjadi penulis.

Aku ingin tanda tanya dan sekelumit kata itu kembali hadir. Aku mengenali tandanya. Apapun yang sedang kau lakukan, saat sebuah scene muncul, hanya membutuhkan satu kata, dan kau akan membuatnya tanpa henti. Aku rindu perasaan itu. Adrenalin akan terpacu. Waktu menetes lambat. Indra akan ribuan kali lebih sensitif. Siap menemukan apa saja yang kiranya akan menjadi inspirasi.

Izinkan aku bertanya, apa yang harus ku lakukan?

Sign,

Dylandia Elfyza

[HEART] Created

This whole 3 years I passed, with all the upside-down condition, I made it. In this moment, I’ll think of a victory. A freedom to shout out who I really am. Not only a guinea pig whose everyone used. I am me. This is me.

In the night when the national examination was over, I listen to Westlife. Just like before, they told where I come from. Who I am. And what should I do. And I know that I made it. Three years with various phases in me get me through the rain, rainbow, bright, hurricane, thunder, and so on. Smile then cry or cry then smile. It keeps happening and if it’s not because of my friends, I might be crazy.

I cannot say that I have found what I look for. For this while, let’s say that I know what to do now. For everything will show up next, let it be.

Finding my affection and passion, discovering my dreams, and forgetting my hurt love is the process in my senior high school. From happy of being queen bee till being bullied of everyone, that’s an experience.

And the story from my teacher about wisdom, I really appreciate it.

So, for everyone who had show up in my life, all I can say is thank you. From praising till underestimating my dreamworks, I hope it makes me grow better.

The last, it’s not an end. Maybe we’re gonna meet again when the truth came. I’ll find my path, and you will find yours. If it’s our destiny, our line will meet up and ‘HOLLA’, we know that what happened in the past is wrong. 🙂

 

Sign,

Dylandia Elfyza

[HEART] Westlife…

Yesterday, as usual, I surfered around internet to download or browse something. K-Pop, of course. But thanks God I met my friend and she told she had some of them already, the videos I want to download. My friend went home. And I don’t know what to do. All videos had been downloaded. It rained heavily outside. I don’t like cold. So, suddenly, my fingertips typed “westlife.com” in adress bar.

Then, I was shocking. Westlife realeased the new albums!! Suprisingly, it’s two. And bad news for my pocket. I also wanna but the K-Pop album.

So, I looked for in youtube their new music videos and I found it. I prayed to God to make the download speed faster. Because the videos came in HD.

I realize, I still love Westlife. I know it before. But it’s just really shocking when I still cried watching their videos and listen to their voice as before I met K-Pop.

It’s Lighthouse. And you know what, it takes 3 days or more to memorize K-Pop songs. Yet it needs only 3 times I listen the song and I memorize it all. The lyrics, the beat, the melody. Wow! I am real Westlifer then..

Yeah, no matter how far K-Pop takes me, my port and my destination is always and forever Westlife. Our past is so priceless. They help me find my passion, writing. They help me find my bestfriend, Kingkong. They teach me how to be the real fans, not the fake one. To always appreciate their idol’s work and support them whatever happened. But still not angry with the decision they make.

I’ve been loving Westlife since I was in eleven grader. And that’s the best moment in my life. I met the news world, new people, because of Westlife. Till now, I can’t imagine my life without them.

The feeling is totally different if I listen to K-Pop song. Yeah, I am addicted to it. But, Westlife is the chocolate, and K-Pop is wine. If I eat chocolate, I will stop I think it’s too much. Wine is totally makes you can’t stop whatever happen. It takes you to paradise. The short-time-paradise. Chocolate give me little by little paradise. And it’s so peaceful. Just like they love me back. Just like they are here with me. So, I guess Westlife gives me time to figure out who I really am.

Westlife is the best teacher. Their songs are the best remedy. Their voices are the stongest advice in my gloomy time. Westlife released what I feel inside. I am sad. They help me to cry. And suddenly it healed. I know what to do. Problem solved.

West, thank you for being Westlife. Thank you for being appear in my life. And thank you for being my best friend… I Love You..

Sign, Dylandia Elfyza

“Lighthouse”

This kind of love
Is more than a lifeline
For a man as weak as me
Who has no self believeThis kind of love
Is more than amazing
For a man who lost his way
Who thought it was too late

How did the sea?
How did the sea?
How did the sea?
Get so rough
I would’ve drowned, I would’ve drowned
If you hadn’t given me your love

You’re the light in the dark
You’re the seat in the park
You’re the lighthouse
You’re the lighthouse
That I need
You’re the key to the door
You’re the port in the storm
And I need to find a shore
When I can’t swim anymore
You always guide me back to solid ground
You’re my lighthouse

This kind of love
Is more than a feeling
For a man who really cried
I get all choked up each time
You say you love me
You could’ve walked away
Could’ve give my problems back
Could’ve left
You took the chance

How did the waves?
How did the waves?
How did the waves?
Get so high
I would’ve died, I would’ve died
If you hadn’t loved me just in time

You’re the light in the dark
You’re the seat in the park
You’re the lighthouse
You’re the lighthouse
That I need
You’re the key to the door
You’re the port in the storm
When I need to find a shore
Cos I can’t swim anymore
You always guide me back to solid ground
You’re my lighthouse

Yeah, I owe it all to you
Everything I have right now
I owe it all to you
Everything I didn’t have you found
Everytime take me back to you

You’re the light in the dark
You’re the seat in the park
You’re the lighthouse
You’re the lighthouse
I need You’re the key to the door
You’re the port in the storm
And I need to find the shore
Cos I can’t swim anymore
You always guide me back to solid ground
You’re my lighthouse

“YOU’RE MY LIGHTHOUSE, WEST”

[HEART] Consequence Risked

 

Well, after my gloomy session is over, finally I realize one point. Maybe I won’t think about it without an advice from my friend, but yeah, I confess she is right..

My mark this term is not really good. Besides my dad was not home for a week, and it makes me agitated because usually he cheers me up when my exam came. The videos from my biases are also too good to be abandoned, I didn’t study at all. And the result out. I am death. It’s so contrary with my last term mark. It’s all NINE written in my answer sheet. I am down. I am frustated. I am blaming everyone around me. I even think of a suicide. Crazy? I know. I am just seventeen years old girl who look for whi I am.

But, my friends told me, to be K-PopErs, you have to get ready for the consequence. Yes you’re happy. But your future is risked. And I think deeply..

I am proud to be K-PopErs then. This dark time will be over. I am gonna get my scholarship in Korea because of my madness with k-Pop, or maybe I am gonna meet my biases. Who knows? We have to sacrifice something to get what we desired. Maybe it’s hard to see my mark. But I have friends. And it heals me a lot. They help to laugh. They help me to get back..

So, as long as I am happy with my prestise as K-PopErs, it’s okay….

Ppyong..

Dylandia Elfyza

[HEART] If You Wanna Be A K-PopErs, Then You Have To Get Ready To Run Out Your Money

Well, this is true. This is fact. Undeniable fact. It’s not the fake fact which we call gossip or issue. I’ve been observed my friends in our K-Pop clique, and yes, all we need to keep live is money. A lot of money. To buy original albums, merchandise, t-shirt replica from our bias, or only to buy magazine and download their videos.

Continue reading

[HEART] I Let You Go, Oppa….

 

Mungkin, ini saatnya untukku melepaskan. Apa yang dulu telah membuatku lebih banyak menangis daripada tertawa. Saatnya aku menyerah. Memegang mereka dan berusaha meraih mereka. Saatnya untukku tahu, siapa yang sebenarnya ku cinta. Karena perlahan tak ada lagi yang tersisa.

Mereka memang sempurna. Aku tahu itu. Tidak ada yang menyangkalnya. Mereka pantas untuk selalu dipuja. Namun, ku rasa aku datang di saat yang tidak tepat. Saat mereka berusaha mengumpulkan retakan itu, aku menangis. Saat mereka berbahagia, aku pun menangis. Saat seharusnya aku bahagia untuk mereka, aku menangis. Cinta ku ini membuat egois. Membuat ku melupakan segala yang ada di sekelilingku. Duniaku hanya berputar di antara mereka. Walau sakit aku tetap bertahan. Dulu..

Maaf, aku menyerah mencintai kalian. Aku menyerah. Ini bukan cinta. Hanya obsesi dari gadis kepada dewa. Dewa yang membuat segalanya ada dan tiada. Dewa pencipta senyum juga amarah.

Aku bertanya-tanya, dengan yang lain, kenapa perasaanku tidak seperti ini? Dengan yang lain, aku rela mereka melakukan apa saja. Asal mereka bahagia. Karena mereka juga manusia. Namun, 15 lelaki itu? Aku ingin mereka jadi milikku. Aku ingin dia mengirim salam untukku. Bukan pada gadis pujaannya itu. Ya, aku egois. Tak ada yang boleh memiliki kesempurnaannya, selain aku.

Ku lepaskan mereka. Untuk segala kemarahan yang selama ini terbuang sia-sia. Aku sadar telah mencintai dengan cara yang salah. Mencintai tanpa tahu apa mereka memang harus ku cintai seperti ini. Terlambat untuk merubah. Karena aku tak tahu dimana semua ini bermula.

Karena itu, daripada aku menjadi pemuja bayang kesempurnaan kalian, tidak menerima kalian apa adanya, aku lepaskan kalian.

Terima kasih untuk segalanya. Telah memperkenalkan ku pada Super Junior. Pada Choi Siwon. Pada Yaoi. Pada gemerlap K-Pop. Terima kasih untuk segala pelajaran dan perpisahan. Aku selalu mencintai kalian. Tapi tidak bisa seperti dulu lagi. Aku tetap seorang ELF. Internal, eksternal, dan eternal.

Silakan menjadi diri kalian sendiri. Aku ikhlas. Aku pasrah. Aku rela. Aku tidak akan menjadi seseorang yang akan mendoakan supaya Siwon tidak pernah bersama dengan Agnes. Aku serahkan semua pada kalian.

Terima kasih, telah membuatku menjadi ELF…..

Dan suatu saat nanti aku berharap..

Aku benar-benar menjadi malaikat untuk kalian..

Sign,

Dylandia Elfyza

[HEART] LOVE GALAU

Dengan dipostingnya berita ini, gw tetapkan kalau galau adalah agama gw. Haha.

Is there any worse shit than this curse…??!!!

Laptop gw mati. Total. Ga bisa dinyalain. Sekalinya nyala, beberapa menit kemudian mati lagi. Great! Kaya masalah gw belum cukup aja. Ha!

Well, tapi, gw capek ngasihanin diri gw sendiri. Gw juga ga tahu gimana caranya berusaha buat balikin tuh laptop. Gw udah coba segala cara. Tapi, teteup, hasilnya nihil! Sampai saat ini, laptop gw lagi diperbaikin sama temen babe gw. Semoga sekali ini berhasil deh.

Nah, gw lagi pengen ngelupain tuh laptop laknat (doain laptop gw ya guys), gw mau nulis sesuatu nih.

Cinta. Klise banget, kan. Ga tahu deh. Gw lagi kecanduan banget sama kata itu. Karena gw lagi jatuh cinta!!! Indah banget rasanya.. Siapakan manusia beruntung itu? Haha.

Yang gw tahu mencintai adalah rasa yang dimiliki seorang manusia. Salah satu rasa yang mewakili segalanya. Rasa yang bahkan bikin gw lupa kalo laptop gw dalam keadaan sekarat.

Yang gw tahu, gw selalu mau sama dia. Gw mau terus sama dia. Satu rumah kalo bisa.

Ga, gw ga deg-degan kalo deket sama dia. Malah, gw ngerasa nyaman banget. Dan gw tahu, itulah yang gw cari selama ini…

Love u, honey

Sign,

Dylandia Elfyza